Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seseorang dari Masa Lalu (8)
Langit sore tampak cerah setelah beberapa hari hujan mengguyur kota.
Bel pulang berbunyi tepat pukul tiga. Koridor sekolah kembali dipenuhi langkah para siswa yang bergegas menuju kegiatan masing-masing. Sebagian menuju lapangan basket, sebagian lagi berkumpul di aula untuk latihan Festival Seni.
"Nay, cepetan!" Tasya melambaikan tangan dari depan pintu kelas.
"Kalau telat lagi, nanti Kak Arga ngomel." Naya terkekeh kecil sambil memasukkan buku terakhir ke dalam tas.
"Iya, bentar." Mereka berdua berjalan menuju ruang OSIS sambil sesekali bercanda.
Di sepanjang perjalanan, beberapa siswa yang mengenal Tasya menyapa mereka. Naya hanya membalas dengan senyum kecil, sementara pikirannya sudah melayang pada rapat sore ini.
Sesampainya di ruang OSIS, hampir semua anggota panitia sudah hadir. Arga berdiri di depan papan tulis sambil membagikan lembar evaluasi kepada setiap divisi.
"Nay."
"Iya, Kak?"
"Tolong catat perubahan jadwal gladi bersih, ya."
"Siap." Tanpa banyak bicara, Naya langsung membuka buku notulensinya. Pemandangan itu sudah menjadi hal biasa.
Bahkan tanpa perlu diminta dua kali, Naya selalu tahu apa yang harus dikerjakan. Arga pun mulai terbiasa mempercayakan banyak hal kepadanya.
---
Rapat berlangsung hampir satu jam. Ketika semua pembahasan selesai, Bu Rina masuk ke ruang OSIS.
"Anak-anak." Semua menoleh.
"Minggu depan sekolah kita kedatangan beberapa alumni untuk membantu Festival Seni."
"Wah..." Beberapa siswa langsung terdengar antusias. Bu Rina tersenyum.
"Ada juga mantan pengurus OSIS yang akan membantu koordinasi sponsor." Arga mengangguk pelan.
"Siap, Bu."
"Namanya pasti masih kalian ingat." Bu Rina melihat daftar di tangannya.
"Talia Amanda." Ruangan mendadak sedikit riuh.
"Eh, Kak Talia?"
"Yang dulu ketua cheerleader?"
"Iya."
"Katanya sekarang sekolah di Bandung, kan?" Bu Rina mengangguk.
"Dia sedang kembali ke kota ini untuk beberapa minggu." Naya tidak terlalu mengenal nama itu. Ia hanya pernah mendengar dari cerita teman-temannya. Namun berbeda dengan yang lain, Arga hanya diam. Ekspresinya tidak berubah.
"Kalau nggak ada pertanyaan, rapat selesai."
---
Keesokan harinya. Suasana sekolah terasa sedikit lebih ramai dari biasanya. Beberapa siswi tampak berkumpul di depan lobi.
"Itu dia..."
"Masih cantik banget."
"Serius balik?" Bisik-bisik mulai terdengar.
Naya yang baru datang hanya melihat sekilas ke arah kerumunan. Seorang perempuan berambut panjang berdiri di sana.
Seragamnya berbeda karena berasal dari sekolah lain, tetapi senyumnya tetap menjadi pusat perhatian.
"Itu siapa?" bisik Naya kepada Tasya.
Tasya langsung menoleh. "Oh..."
"Itu Talia."
"Mantan Kak Arga." Langkah Naya terhenti sejenak.
"Mantan?"
"Iya."
"Dulu mereka pacaran." Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah kenapa...
Ada sesuatu yang terasa mengganjal di hati Naya.
---
Jam istirahat. Naya diminta Bu Rina mengantarkan beberapa dokumen ke ruang OSIS. Saat hendak masuk, langkahnya kembali berhenti. Dari balik pintu yang sedikit terbuka, terdengar suara seseorang tertawa.
"Masih sama aja." Suara perempuan.
"Masih sibuk ngurus sekolah." Naya mengintip tanpa sengaja. Arga berdiri di dekat meja.
Di depannya, Tasya tersenyum sambil menyilangkan kedua tangan.
"Kamu juga masih suka telat." jawab Arga santai. Talia tertawa kecil.
"Berarti kamu masih ingat."
"Masih." Percakapan itu terdengar ringan. Seperti dua orang yang pernah saling mengenal cukup lama.
Naya menundukkan kepala. Ia baru sadar bahwa ada banyak bagian dari kehidupan Arga yang tidak pernah ia ketahui ternyata ia sejauh itu. Ia mengetuk pintu pelan.
"Permisi..." Arga langsung menoleh.
"Oh, Nay, masuk aja." Naya masuk sambil menyerahkan map kepada Bu Rina.
"Ini proposal yang kemarin."
"Terima kasih." Saat hendak keluar, suara talia menghentikannya.
"Kamu Naya, ya?" Naya menoleh.
"Iya."
"Aku Talia." Perempuan itu tersenyum ramah.
"Aku sering dengar nama kamu." Naya membalas senyum kecil.
"Oh..."
"Salam kenal."
"Salam kenal." Tidak ada nada sinis. Tidak ada tatapan meremehkan.
Namun entah mengapa, Naya merasa tidak nyaman. Bukan karena sikap Talia.
Melainkan karena ia baru mengetahui bahwa perempuan di hadapannya pernah menjadi bagian penting dalam hidup Arga.
---
Sepulang rapat sore itu, steven berjalan di samping Arga. "Talia balik, ya." ucapnya sedikit ada nada jahil
"Iya."
"Gimana rasanya?" Arga mengangkat bahunya.
"Biasa aja."
"Yakin?"
"Ngapain dipikirin." Steven hanya mengangguk pelan.
Namun sebelum mereka berpisah, ia sempat melirik ke arah Naya yang sedang berjalan bersama Tasya di depan gerbang sekolah.
"Lagian..."
gumam Steven pelan. "Sekarang perhatianmu udah ke orang lain."
"Apa?"
"Nggak ada." Steven tertawa dan segera berlari menuju motornya. Arga hanya mengernyit.
Ia tidak mengerti maksud ucapan sahabatnya. Baginya...
Hari itu tidak ada yang berubah. Tasya datang sebagai mantan yang kini hanya menjadi teman.
Naya tetap sekretaris yang selalu bisa ia andalkan. Semuanya tampak baik-baik saja.
Namun Arga tidak tahu...
Di hati Naya, untuk pertama kalinya sejak menjadi bagian dari Festival Seni, muncul sebuah rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bukan marah.
Bukan kecewa.
Melainkan takut.
Takut bahwa ia sedang berharap pada seseorang yang ternyata masih menyimpan masa lalu padahal dia bukan siapa-siapa.