Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 LONE WOLVES
Gua menyusuri lorong-lorong SMK PGRI Cikampek yang bising. Suara derak meja, teriakan antar-lorong, hingga bau asap rokok yang menyeruak dari toilet siswa bikin suasana tempat ini bener-bener liar. Langkah gua terhenti di depan sebuah pintu kayu bertuliskan papan kusam: KELAS 2-A.
Gua menggeser pintu itu santai.
Seketika, puluhan pasang mata anak-anak kelas 2-A tertuju ke arah gua. Bersiul, kekehan mengejek, sampai tatapan memusuhi langsung menyambut. Beberapa anak bertubuh bongsor bahkan sudah pasang muka sok sangar sambil menggebrak meja, berniat mencari ribut sama siswa baru. Tapi gua? Gua sama sekali nggak menghiraukan raungan para pecundang itu.
Gua melangkah ke sudut paling belakang kelas, lalu mendudukkan badan di bangku kosong dekat jendela.
Tiba-tiba, cowok berkacamata tebal yang duduk di depan bangku gua menoleh dengan muka tegang. Dia berbisik pelan, "Woy, Siswa Pindahan... sebaiknya lu hati-hati kalau mau duduk di situ. Ini peringatan buat lu ya. Kalau pemilik bangku itu masuk hari ini... bisa-bisa lu mati dihajar sama dia."
Gua cuma menaikkan sebelah alis, bersandar santai tanpa membalas ucapan cowok itu. Peringatan kayak gitu sama sekali nggak menarik perhatian gua.
Nggak lama kemudian, pintu kelas digeser kasar. Seorang cowok bertubuh tegap dengan seragam berantakan melangkah masuk. Pandangannya lurus mengunci keberadaan gua yang sedang menduduki bangkunya. Dia berjalan mendekat, berhenti tepat di hadapan meja gua.
"Minggir. Ini bangku gua," ucapnya dingin.
Gua menyandarkan punggung, menatap matanya santai. "Aturannya siapa cepat dia dapat, kan?"
Mata cowok itu membelalak kesal. SREET! Tanpa canggung, dia langsung mencengkeram kerah seragam gua keras-keras.
Gua tidak bergeming. Gua menatap cengkeraman tangannya, lalu menatap mukanya. "Apa? Mau ribut?"
Seketika, seisi kelas meledak dalam gelak tawa.
"Anjir! Bodoh banget nih anak baru!"
"Dia gak tahu apa lagi berurusan sama siapa?!"
"Cari mati lu, Bocah!"
Tepat saat ketegangan makin memuncak, seorang guru pria paruh baya masuk ke dalam kelas sambil membawa buku absen. "Woy! Ada apa ini ribut-ribut?! Lepasin tangan kamu!"
Cowok itu mendesis kesal, melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah gua, lalu mundur selangkah.
Guru itu berdeham pelan. "Karena hari ini kita kedatangan siswa pindahan baru, ayo maju ke depan dan perkenalkan diri kamu."
Gua menghela napas, berdiri, lalu berjalan santai ke depan papan tulis. Semua siswa menatap gua penuh rasa penasaran. Ini pertama kalinya gua bakalan menyebutkan identitas gua di kota ini.
"Nama gua Ryuka Wijaya. Gua pindahan dari SMA 1 Jakarta," ucap gua tegas. Gua jeda sejenak, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Tujuan gua ke sini... gua mau menguasai kota ini seperti yang dilakukan oleh Abang—"
Belum sempat gua menyelesaikan kata 'Abang', seorang siswa di barisan tengah mendadak menyela sambil tertawa mengejek.
"Eh! Lihat nih orang! Hahaha! Gak mungkin lah lu bagian dari Keluarga Wijaya yang terkenal itu, kan?! Pasti lu cuma bercanda! Lagian Keluarga Wijaya di luar sana juga bukan cuma satu keluarga doang, kocak!"
Prok! Prok! Gelak tawa riuh kembali membahana di dalam ruangan.
"Anjir, ngaku-ngaku Keluarga Wijaya dia!"
"Muka kayak gini mau ngaku klan elit, halu lu!"
Padahal, beberapa detik sebelumnya murid-murid sempat tercengang pas denger nama 'Wijaya'. Tapi ejekan siswa tadi langsung meruntuhkan atmosfer tegang itu. Gua sendiri refleks membungkam mulut. Gua teringat pesan wanti-wanti Sebas semalam kalau gua nggak boleh sembarangan menjajakan nama besar keluarga di tempat umum.
Namun, cowok pemilik bangku yang tadi mengajak ribut gua malah menanggapi ucapan gua dengan sangat serius. Matanya menajam.
"Jadi... lu benar-benar dari Keluarga Wijaya?" tanyanya dingin. "Kalau gitu, buktikan nama besar itu lewat pukulan lu!"
Suasana kelas yang tadinya riuh menertawakan gua seketika hening total. Semua anak menahan napas. Cowok itu melangkah maju, berdiri tepat di hadapan muka gua dengan aura bertarung yang membuncah.
"Sudah! Sudah! Jangan bikin keributan di jam pelajaran saya!" lerai Pak Guru dengan suara melengking. "Kalian berdua duduk sekarang!"
Cowok itu mendesis tipis, menatap gua tajam sebelum akhirnya berbalik dan berjalan ke bangkunya. Pelajaran pun dimulai.
Saat bel istirahat berbunyi, cowok yang tadi mengajak gua ribut malah cabut bolos keluar kelas gitu aja. Gua sama sekali nggak peduli. Gua tetap bertahan di dalam kelas, menyandarkan badan di kursi dekat jendela sambil menyulut sebatang rokok.
Tiba-tiba, cowok berkacamata yang tadi memberi peringatan berjalan mendekati meja gua.
"Sebaiknya lu jangan cari urusan sama orang itu," bisiknya serius.
Gua mengembuskan asap rokok ke atas. "Kenapa?"
"Nama dia cukup terkenal di kota ini," jelas cowok kacamata itu. "Pas masa SMP dulu, dia itu monster. Dia berhasil menguasai satu sekolah SMP yang paling terkenal dan terkuat di Cikampek. Nama dia Gazela Hanantastiwi... atau biasa dipanggil Zela."
Gua menaikkan alis. "Zela?"
"Iya. Bahkan kalau dia mau, dia bisa aja menguasai seluruh angkatan kelas 2 ini dengan mudah. Tapi pas masuk SMK, dia malah milih menyendiri dan jadi lone wolf tanpa terikat sama fraksi mana pun."
Gua mematikan puntung rokok gua di asbak darurat dari kaleng bekas. Gua menyunggingkan senyum tipis. "Baiklah kalau gitu. Makasih buat penjelasannya."
Saat bel pulang sekolah berbunyi, gua melangkah santai keluar dari gerbang utama Bayoer. Jalanan di depan sekolah mulai lengang. Tapi tepat di dekat persimpangan jalan, langkah gua terhenti.
Seseorang sedang berdiri bersandar di tiang listrik sambil bersedekap dada. Gazela.
"Kemari lah, outsider culun," panggil Zela tanpa menoleh.
Gua menghampirinya santai, menyengir tipis. "Ada apa? Mau ngajak ribut lagi?"
Zela menoleh, menatap gua datar. "Nggak. Gua nggak mau ribut."
"Terus?" balas gua singkat.
"Kenalin, nama gua Zela," ucapnya lempeng.
Gua agak kaget. Gua meresponsnya canggung, "Oke... Gua Ryuka."
Dalam hati gua membatin heran: 'Katanya nih orang lone wolf yang dingin dan gak mau bergaul... Nape malah ngenalin diri duluan? Apa jangan-jangan ada maksud tertentu?'
Zela mengembuskan napas pelan, lalu melanjutkan ucapan dengan nada serius. "Besok... ada murid baru yang bakalan masuk ke sekolah ini. Dan setiap kali ada gelombang pindahan baru, sekolah ini bakalan menggelar tradisi tahunan."
"Tradisi?"
"Ya. Tradisi pertarungan buat memperebutkan gelar Penguasa Angkatan," papar Zela. "Diawali dari angkatan murid baru kelas 1, terus lanjut ke angkatan kita kelas 2, dan diakhiri sama angkatan kelas 3. Dan pas tradisi itu dimulai besok... jangan sampai lu lengah dan kalah. Soalnya lu... bakalan berhadapan langsung sama gua."
Gua terkekeh pelan. "Ya udah kalau gitu. Makasih infonya, Zela."
Zela cuma menyunggingkan senyum tipis. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, dia berbalik dan berjalan pergi seraya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang.
Gua menatap punggungnya yang makin menjauh. "Orang yang aneh... Tapi baik juga sih dia mau ngasih tahu info soal tradisi besok."
Nggak lama kemudian, mobil mewah hitam Sebas berhenti tepat di samping gua. Gua langsung masuk ke dalam mobil dan meluncur pulang ke kediaman.
Malam harinya di Sukaseri.
Gua merasa gelisah di dalam kamar. Ucapan Zela soal 'Tradisi Penguasa Angkatan' terus berputar-putar di kepala gua. Darah di tubuh gua serasa mendidih penuh antisipasi. Karena gak betah diam di rumah, gua akhirnya memutuskan buat keluar sendirian.
Gua berjalan kaki menuju warung kelontong kecil tempat dompet gua sempat kecolongan kemarin malam. Gua membeli sebungkus rokok, lalu duduk di bangku kayu panjang depan warung sambil menghisap batang rokok gua.
Baru dua kali isapan... KREK.
Seseorang baru saja keluar dari warung membawa sebotol minuman dingin dan sebungkus rokok. Gua menoleh. Orang itu juga menoleh.
Mata kami berdua berbenturan.
"LU?! Kenapa lu ada di sini?!" teriak gua kaget setengah mati.
Orang itu—Zela—melongo, lalu mengumpat kesal. "Lu yang harusnya kenapa ada di sini, sialan?! Rumah gua deket sini!"
"Hah?! Yang bener aja lu!" seru gua gak percaya.
Zela mendesis, lalu dengan santai mendudukkan badannya di bangku yang sama dengan gua—tepat di sebelah gua. Dia menyulut rokoknya.
Gua memberanikan diri membuka percakapan duluan. "Seingat gua... isu yang beredar bilang kalau lu gak tertarik sama sekali sama pertarungan. Kenapa mendadak sekarang lu tertarik ikut tradisi besok?"
Zela mengembuskan asap rokoknya ke udara malam. "Soalnya ada orang kuat yang datang."
Gua mengerutkan dahi, bingung. Dalam pikiran gua, gua menyangka orang kuat yang dimaksud Zela adalah murid baru kelas 1 yang bakalan masuk besok. Padahal... yang dimaksud Zela saat itu sebenarnya adalah sosok gua yang ada di sebelahnya.
Gua bertanya lagi, "Tapi kenapa lu gak mau bertarung dari awal masuk SMK? Padahal bertarung itu seru menurut gua. Lu juga bukannya dulu pernah jadi pentolan paling ditakuti pas waktu SMP? Kenapa pas masuk SMK lu malah milih jadi culun begini?"
Zela seketika menoleh penuh emosi. "Gua gak culun, bodoh! Gua cuma gak tertarik sama pertarungan yang udah jelas hasilnya kalau gua yang bakalan menang!"
Gua membatin dalam hati sambil menyengir miring: 'Sombong amat nih orang...'
Zela melirik gua sinis. "Lu banyak omong juga ya orangnya."
Gua tertawa lepas. "HAHAHA! Mungkin karena gua tertarik sama lu!"
Muka Zela langsung berubah jijik. "Ogah banget gua disukain sama lu, Bangsat!"
Gua langsung membelalakkan mata dengan nada bercanda. "BUKAN ITU MAKSUD GUA, KOCAK! Maksud gua tertarik bertarung atau temenan sama lu!"
HAHAHAHA!
Kami berdua mendadak tertawa bersama di remangnya lampu warung kelontong itu. Ketegangan yang tadi pagi sempat ada di dalam kelas mendadak cair begitu saja di atas bangku kayu sederhana ini.
Gak lama setelah rokoknya habis, Zela berdiri dari bangku dan merapikan jaketnya. "Gua balik duluan."
"Yo," balas gua.
Zela berjalan menjauh, dan seperti biasa, dia melambaikan tangannya santai tanpa berbalik menoleh ke belakang.
Gua menatap punggungnya sambil tersenyum miring. 'Seru juga kalau gua bisa temenan sama tuh orang... Ah, mending gua balik juga deh.'
Gua mematikan rokok gua, berdiri, lalu melangkah santai menyusuri jalanan malam Sukaseri menuju rumah. Besok... arena pertarungan Bayoer sudah menanti.