"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Sandiwara
Kekuasaan seorang Damara Lexander Veldens bukanlah sebuah bualan kosong. Pria itu membuktikan ucapannya dengan efisiensi yang mengerikan. Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah Kayna menyetujui pertunangan paksa di ruang kerja obsidiannya, seluruh badai yang mencekik keluarga Kayna mendadak reda tanpa bekas, seolah-olah semua kekacauan itu hanyalah ilusi semata.
Pagi itu, di Butik LiLYRa Jogja, pihak bea cukai tiba-tiba mengantarkan sendiri gulungan kain sutra premium dari Lyon yang sebelumnya disita, lengkap dengan surat permohonan maaf resmi atas "kesalahan teknis birokrasi." Di saat yang sama, semua denda penalti dari klien VVIP dibatalkan karena para investor raksasa baru mendadak menyuntikkan dana segar dalam nominal fantastis ke rekening perusahaan Kayna.
Sementara itu, segel di seluruh cabang restoran Sunny Bless milik ayahnya dilepas dalam waktu semalam. Media massa yang sebelumnya gencar menyudutkan keluarga Kayna kini berbalik arah, menayangkan berita pembersihan nama baik secara masif.
Kayna berdiri di koridor rumah sakit swasta tempat ayahnya dirawat, menatap layar ponselnya dengan tawa hambar yang sarat akan keputusasaan. Satu jentikan jari Damara bisa menghancurkan hidupnya, dan satu jentikan jari pria itu pula yang bisa mengembalikannya. Kekuatan mutlak itu terasa begitu nyata, begitu pekat, dan begitu mengerikan.
Dua minggu berlalu.
Kondisi Erick perlahan-lahan membaik setelah melewati masa kritis di ruang ICU. Dokter spesialis jantung terbaik yang entah bagaimana tiba-tiba didatangkan langsung dari Belanda akhirnya mengizinkan Erick untuk dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
Siang itu, pintu kamar rawat VIP terbuka perlahan. Sosok jangkung Damara melangkah masuk dengan keanggunan tirani yang biasa ia tunjukkan. Pria itu menanggalkan mantel wol hitamnya, menyisakan kemeja putih mahal yang lengannya digulung hingga sebatas siku, memberikan kesan pria sukses yang rendah hati namun berwibawa. Wajahnya yang sekeras marmer kini dihiasi oleh senyuman hangat—sebuah topeng kemunafikan paling sempurna yang pernah Kayna lihat seumur hidupnya.
"Selamat siang, Om Erick, Tante Liliana," sapa Mara dengan suara baritonnya yang terdengar begitu lembut dan penuh hormat. Ia melangkah mendekati ranjang rumah sakit, membawa buket bunga segar dan keranjang buah-buahan eksklusif.
Erick yang masih tampak agak pucat langsung menegakkan tubuhnya dibantu oleh Liliana. Wajah kedua orang tua Kayna seketika berbinar penuh rasa syukur saat melihat kedatangan pria yang mereka anggap sebagai malaikat penolong tersebut.
"Nak Mara..." Erick mengulurkan tangannya yang masih terpasang jarum infus dengan gemetar. "K-kami tidak tahu harus berkata apa lagi. Dokter dari Belanda, pembersihan nama baik restoran, hingga masalah butik Liliana... pengacara Anda yang menyelesaikan semuanya. Anda telah menyelamatkan seluruh hidup dan kehormatan keluarga kami."
Mara menyambut uluran tangan Erick, menggenggamnya dengan kedua tangan kekarnya dengan sikap tubuh yang sangat sopan. "Om Erick tidak perlu sungkan. Sudah menjadi kewajiban saya untuk melindungi dan menjaga keluarga calon istri saya. Segala hal yang terjadi kemarin hanyalah ujian kecil, dan saya bersyukur bisa berada di sini untuk membantu Anda semua."
Liliana menyeka sudut matanya yang basah karena air mata haru. "Ibu Johanna sangat beruntung memiliki putra sepertimu, Mara. Kayna... lihatlah calon tunanganmu ini. Dia begitu tulus membantu kita tanpa memikirkan imbalan apa pun."
Mendengar ucapan ibunya, Kayna yang sejak tadi berdiri mematung di sudut ruangan dekat jendela merasakan gelombang rasa mual yang luar biasa hebat menghantam perutnya. Ia mengepalkan tinjunya di dalam saku celana hingga kuku-kukunya memutih.
"Tulus? Tanpa imbalan?" Kayna menatap lurus ke arah Mara. Di balik senyuman sopan dan tatapan hangat yang pria itu berikan kepada orang tuanya, sepasang mata elang abu-abu milik Mara sempat melirik ke arah Kayna, memancarkan kilat kepuasan yang dingin. Mara sedang merayakan kemenangannya tepat di depan mata Kayna, menikmati bagaimana gadis itu terpaksa menelan seluruh kebenaran pahit sendirian demi menjaga kesehatan jantung ayahnya.
"Terima kasih banyak, Pak Mara," suara Kayna terdengar sangat datar, hampir seperti bisikan mati yang dingin. "Bantuan Anda... sungguh tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya."
Mara menaikkan satu alisnya, tersenyum lebih lebar seolah sangat menikmati sarkasme yang tersembunyi di balik kalimat calon istrinya. "Sama-sama, Kayna sayang. Aku melakukan semua ini... hanya karena aku tidak tahan melihatmu menderita."
"Bajingan gila," umpat Kayna dalam hati, menahan diri setengah mati agar tidak berteriak dan menjambak rambut pria manipulatif di hadapannya itu.
Setelah memastikan kondisi fisik Erick benar-benar stabil, Damara tidak membuang waktu lagi. Sesuai dengan kontrak yang telah disepakati, hari pertunangan itu segera dilangsungkan dengan skala yang teramat megah di Jakarta. Mara ingin seluruh dunia tahu bahwa Kayna Ramida kini telah resmi menjadi properti eksklusif milik keluarga Veldens.
Grand Ballroom dari salah satu hotel bintang lima paling elite di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, telah disulap menjadi sebuah istana sutra yang megah. Dekorasi dipenuhi dengan ribuan bunga mawar putih impor, aksen emas yang glamor, serta lampu kristal raksasa yang menggantung mewah di langit-langit, menciptakan atmosfer yang luar biasa megah namun terasa sangat mencekik bagi Kayna.
Ratusan tamu undangan dari kalangan bisnis, pejabat tinggi negara, hingga selebritas papan atas memadati ruangan. Puluhan kilatan lampu dari kamera wartawan media nasional dan internasional terus-menerus menerangi ruangan setiap kali nama kedua calon mempelai disebut.
Di dalam ruang rias eksklusif, Kayna menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia mengenakan gaun malam berbahan premium berwarna putih—warna yang sengaja dipilihkan oleh Mara—yang melekat sempurna di tubuh indahnya, memberikan kesan elegan namun sarat akan misteri. Rambut panjang gelapnya di tata dengan begitu indah. Sepasang matanya yang bulat kini tampak begitu dingin, kehilangan seluruh binar binar kehidupan yang biasanya terpancar di sana.
"Nona Kayna, Tuan Veldens sudah menunggu di luar," ucap sang perias dengan nada penuh kekaguman dan rasa iri akan keberuntungan Kayna.
Kayna menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menguatkan fondasi mentalnya yang rapuh. Ia berdiri, membuka pintu ruang rias, dan langsung berhadapan dengan Damara yang sudah menunggunya.
Pria itu tampak luar biasa tampan—bagaikan dewa kematian yang turun dari langit—dalam balutan setelan tuksedo hitam premium rancangan desainer ternama Italia. Garis rahangnya yang tajam tampak begitu dominan di bawah pencahayaan lampu koridor. Saat melihat Kayna melangkah keluar, sepasang mata abu-abu Mara menggelap, dipenuhi oleh binar obsesi dan rasa lapar akan kepemilikan yang murni.
Tanpa meminta izin, Mara melangkah maju dan melingkarkan tangan kekarnya yang kokoh di sekeliling pinggang ramping Kayna, menarik tubuh mungil gadis itu dengan protektif dan posesif dari belakang hingga punggung Kayna menempel erat pada dada bidangnya.
"Kau terlihat sangat menakjubkan malam ini, mijn engel (malaikatku)," bisik Mara tepat di samping telinga Kayna, aroma parfum sandalwood yang maskulin langsung mengunci indra penciuman Kayna. "Warna putih ini memang ditakdirkan untuk kulit indahmu."
Kayna tidak bergerak, tubuhnya menegang kaku seperti es. Ia menolak untuk menyandarkan tubuhnya pada pria itu. "Lepaskan tanganmu, Damara. Kita belum berada di depan kamera," desis Kayna, suaranya sarat akan racun kebencian yang mendalam.
Mara justru mempererat cengkeraman tangannya di pinggang Kayna, mengabaikan penolakan tersebut dengan seringai dingin di sudut bibirnya. "Mulai malam ini, seluruh dunia akan tahu bahwa kau adalah milikku, Kayna. Jadi, biasakan dirimu dengan sentuhanku."
Pintu kayu jati raksasa menuju ballroom dibuka lebar oleh para pelayan. Gemuruh tepuk tangan dan kilatan lampu kamera langsung menyambut kedatangan mereka berdua. Mara menuntun Kayna berjalan di atas karpet merah menuju altar pertunangan dengan langkah kaki yang penuh keanggunan seorang penguasa sejati.
Di sepanjang acara, Mara memainkan perannya dengan sangat luar biasa. Di hadapan ibunya, Johanna Marelia, serta kedua orang tua Kayna yang duduk di kursi utama, Mara terus-menerus menunjukkan perhatian yang teramat manis kepada Kayna. Ia memotongkan daging steik untuk Kayna, mengambilkan minuman, dan sesekali mengecup lembut punggung tangan gadis itu dengan tatapan mata yang seolah-olah dipenuhi oleh rasa cinta yang mendalam.
Namun, bagi Kayna, setiap sentuhan lembut dari tangan Mara terasa seperti siraman air raksa yang membakar kulitnya. Sepanjang malam yang mewah itu, Kayna tidak tersenyum sedikit pun. Wajah cantiknya mengeras dingin, dan sepasang matanya terus-menerus menatap Mara dengan sorot mata penuh kebencian murni yang menusuk tajam. Ia ingin semua orang melihat—atau setidaknya pria itu menyadari—bahwa meskipun Mara berhasil membeli tubuh dan statusnya dengan uang dan kekuasaan, pria itu tidak akan pernah bisa mendapatkan rasa hormat atau jiwanya.
Saat sesi bersulang bersama para kolega bisnis raksasa, Mara mendekatkan gelas sampanyenya ke gelas milik Kayna, membiarkan kaca tipis itu berdenting pelan. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, berbisik rendah di sela-sela kebisingan musik orkestra yang elegan.
"Tatap aku dengan kebencian itu sesukamu, Kayna," desis Mara, matanya berkilat penuh kegilaan posesif yang semakin membara akibat penolakan diam-diam dari tunangannya. "Karena semakin besar kebencian yang kau tunjukkan di matamu... semakin besar pula rasa puas yang kurasakan saat aku berhasil membuatmu memohon di bawah kendaliku nantinya."
Kayna membalas tatapan itu tanpa rasa takut sedikit pun, dagunya terangkat angkuh. "Nikmati sandiwaramu selagi bisa, Damara. Karena suatu hari nanti, aku sendiri yang akan memastikan istana megah yang kau bangun di atas penderitaan keluargaku ini akan runtuh menjadi abu, bersamamu di dalamnya."
Mara terkekeh rendah—sebuah tawa maskulin yang terdengar teramat seksi sekaligus mengerikan. Pria itu meneguk sampanyenya hingga tandas, menatap sang merpati kecil yang kini telah resmi masuk ke dalam sangkar sutranya yang mematikan.
...●Bersambung●...