NovelToon NovelToon
Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Identitas Tersembunyi / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 08

Hari libur Kirana tidak terasa seperti libur.

Ia mencuci seragam dapur di kamar mandi, menjemur di depan kontrakan, lalu memasak nasi sedikit untuk makan siang. Raka duduk di ruang depan, membaca dokumen di laptop pinjaman sambil sesekali mengetik.

Kirana melewati layar dan berhenti.

"Itu laporan keuangan?"

Raka menutup laptop sedikit. "Dokumen kerja."

"Kamu bisa baca laporan keuangan?"

"Sedikit."

"Sopir pribadi biasanya baca laporan keuangan?"

"Sopir yang ingin naik jabatan."

Kirana menatapnya datar. "Kamu semakin kreatif."

Raka tersenyum tanpa rasa bersalah.

Ponsel Kirana berdering. Nama Laras muncul di layar. Sahabatnya sejak masa pelatihan di Bandung itu baru dua bulan bekerja di Jakarta sebagai staf pemasaran minuman. Suaranya terdengar berantakan sejak kata pertama.

"Ki, kamu sibuk?"

Kirana langsung duduk. "Kenapa?"

"Aku boleh ke tempatmu?"

"Kamu nangis?"

Di seberang, Laras terdiam. Itu cukup sebagai jawaban.

Satu jam kemudian, Laras datang dengan mata sembap, rambut dikuncir asal, dan tote bag yang hampir jatuh dari bahunya. Kirana membawanya masuk, memberi air minum, lalu duduk di sampingnya.

Raka berdiri. "Saya keluar dulu."

Kirana menahan. "Tidak perlu. Ini Raka."

Laras menatap Raka sekilas, lalu berbisik pada Kirana, "Ini yang di video itu?"

Kirana menghela napas. "Iya."

Raka mengangkat alis. "Senang akhirnya dikenal karena prestasi."

Laras yang sedang sedih pun hampir tertawa.

Kirana menepuk lutut Laras. "Ceritakan."

Air mata Laras langsung jatuh.

Ia bercerita tentang Danu, pacarnya selama dua tahun, yang ketahuan jalan dengan seorang perempuan bernama Viona. Bukan hanya selingkuh, Danu juga meminjam uang Laras berkali-kali dengan alasan modal usaha, lalu memamerkan jam baru di media sosial.

"Aku bodoh banget, Ki."

"Kamu tidak bodoh."

"Aku sudah lihat tanda-tandanya. Tapi setiap kali aku tanya, dia bilang aku curigaan. Dia bilang aku perempuan kampung yang tidak paham dunia kerja Jakarta."

Kirana menggenggam tangan Laras. "Dia yang brengsek."

Laras mengusap pipi. "Besok ada acara launching produk di lounge hotel. Danu dan Viona pasti datang. Aku harus kerja di sana. Aku tidak sanggup kalau mereka mempermalukanku."

"Lounge hotel mana?"

"Hotel Wijaya."

Kirana terdiam.

Raka menatapnya.

"Jam berapa?" tanya Kirana.

"Malam. Aku sebenarnya ingin minta kamu temani setelah shift, tapi kalau merepotkan..."

"Aku temani."

Laras menggeleng cepat. "Jangan kalau kamu capek."

"Aku temani," ulang Kirana.

Raka berkata, "Saya ikut."

Kirana menoleh. "Untuk apa?"

"Menjaga."

"Kamu pikir ini perang?"

"Kadang iya."

Laras menatap mereka bergantian. "Kalian lucu."

Kirana langsung berkata, "Tidak."

Raka berkata bersamaan, "Belum."

Kirana menatapnya tajam.

Laras menunjuk mereka dengan mata sembap. "Nah, itu yang kumaksud. Orang bertengkar saja biasanya tidak sekompak itu."

Kirana mengambil gelas dan mendorongnya ke tangan Laras. "Minum. Kamu sedang patah hati, jangan mengarang cerita orang."

Malam berikutnya, lounge Hotel Wijaya ramai oleh musik pelan, lampu hangat, dan orang-orang yang berpakaian seperti semua masalah hidup bisa diselesaikan dengan kartu kredit. Laras bekerja di salah satu booth minuman. Kirana datang setelah shift dapur, masih memakai kemeja putih sederhana dan celana hitam. Raka datang dengan jaket gelap, terlihat seperti sopir yang menunggu majikan.

Danu muncul pukul delapan lewat sedikit.

Ia tampan dengan cara yang terlalu percaya diri. Di sebelahnya, Viona memakai gaun pendek dan tersenyum sambil menggandeng lengannya.

Laras langsung kaku.

Danu melihatnya dan tersenyum. Bukan senyum bersalah. Senyum menang.

"Laras, kamu kerja di sini?" katanya keras, cukup agar beberapa orang mendengar. "Rajin banget. Bagus, kamu memang cocok kerja event begini."

Viona tertawa kecil. "Oh, ini Laras?"

Kirana bisa melihat tubuh Laras mengecil.

Ia maju selangkah.

Danu menoleh. "Siapa ini?"

"Temannya," jawab Kirana.

"Oh. Teman yang viral itu?" Danu menyeringai. "Jakarta memang sempit."

Raka yang berdiri sedikit di belakang Kirana mengangkat wajah.

Kirana menahan tangan Raka dengan satu gerakan kecil.

Ia bisa menyelesaikan ini.

"Danu," kata Kirana. "Kalau kamu datang untuk minum, silakan pilih. Kalau datang untuk menghina staf, pintu keluar ada di sana."

Danu tertawa. "Keras juga. Pantas cocok sama Laras."

Laras menggigit bibir.

Viona mengambil satu gelas sample dari meja. "Mas, jangan ribut. Kasihan. Mungkin mereka capek kerja."

Kirana menatap jam di tangan Viona. Jam itu familiar. Laras pernah menunjukkan foto struk pembelian jam yang dibeli dari uang pinjaman.

"Jamnya bagus," kata Kirana.

Viona tersenyum bangga. "Danu yang belikan."

Laras menunduk.

Kirana melanjutkan, "Pakai uang Laras?"

Senyum Viona hilang.

Danu mengeras. "Jaga mulut."

"Aku hanya bertanya. Laras punya bukti transfer. Beberapa kali. Totalnya berapa, Ras?"

Laras gemetar. Tapi kali ini ia mengangkat wajah.

"Tiga puluh dua juta."

Beberapa orang di sekitar mulai menoleh.

Danu mendekat. "Kamu mau bikin malu?"

Raka bergerak satu langkah. Danu berhenti tanpa sadar.

Kirana berkata, "Yang bikin malu itu meminjam uang pacar, lalu membelikan jam untuk selingkuhan."

Viona memerah. "Aku tidak tahu."

"Sekarang tahu."

Danu mencoba tertawa. "Itu utang pribadi. Tidak perlu dibahas di tempat umum."

Laras tiba-tiba berkata, "Kamu membahas aku di tempat umum tadi."

Suaranya pelan, tapi jelas.

Danu menatapnya. "Laras..."

"Kembalikan uangku."

"Kita bicara nanti."

"Tidak. Sekarang."

Kirana hampir tersenyum. Laras masih gemetar, tapi ia berdiri.

Viona melepas gandengan Danu. "Mas, kamu benar pinjam uang dia?"

"Jangan ikut campur."

"Aku tanya!"

Pertengkaran kecil itu mulai menarik perhatian tamu lain. Staff keamanan mendekat, tetapi sebelum mereka ikut campur, seorang manager lounge datang.

"Ada masalah?"

Kirana mengenalnya sebagai Pak Dimas.

Danu langsung berkata, "Staf kalian membuat keributan."

Laras pucat.

Kirana membuka ponsel Laras, menunjukkan bukti transfer dan pesan Danu yang menjanjikan pengembalian setelah proyek cair.

"Masalah pribadi, Pak. Tapi dia yang mulai menghina staf saat bekerja."

Pak Dimas melihat bukti, lalu menatap Danu. Ia mungkin tidak peduli soal utang, tapi ia peduli soal reputasi lounge.

"Bapak bisa menyelesaikan di luar area acara. Jika mengganggu staf kami lagi, kami minta Bapak keluar."

Danu tidak menyangka tidak dibela. "Saya tamu."

Suara Raka terdengar rendah. "Tamu juga harus punya adab."

Danu menoleh. "Kamu siapa?"

Raka menatapnya tanpa ekspresi. "Orang yang tidak suka laki-laki pengecut."

Danu maju, tapi dua petugas keamanan langsung berdiri di antara mereka.

Viona melepaskan jam dari tangannya, menaruhnya di meja dengan wajah marah.

"Aku tidak mau barang dari uang perempuan lain."

Ia pergi.

Danu memanggilnya, tapi Viona tidak menoleh.

Laras menatap jam itu, lalu menatap Danu.

"Aku kasih waktu tiga hari. Kalau uangku tidak kembali, aku lapor polisi."

Danu menatapnya, seperti baru pertama kali melihat Laras punya tulang.

Kirana berdiri di samping sahabatnya.

Raka berdiri di belakang mereka.

Danu akhirnya mengambil ponsel dan keluar dengan wajah gelap.

Setelah acara selesai, Laras menangis lagi. Tapi kali ini tangisnya berbeda.

"Aku tadi gemetar sekali."

"Tapi kamu bicara," kata Kirana.

"Karena kamu ada."

Kirana memeluknya. "Lain kali, kamu harus ada untuk dirimu sendiri juga."

Laras mengangguk.

Raka menunggu di dekat pintu. Saat mereka keluar, ia menawarkan jaketnya pada Kirana karena malam mulai berangin.

Kirana menerima tanpa banyak bicara.

Dalam perjalanan pulang menggunakan ojek online untuk Laras dan taksi murah untuk mereka berdua, Kirana menatap Raka.

"Tadi kamu hampir memukul Danu."

"Hampir."

"Jangan mudah terpancing."

"Saya tidak suka dia menghina kamu."

"Yang dihina Laras."

"Dia juga menghina kamu."

Kirana menoleh ke jendela.

Suara itu membuat dadanya hangat dan tidak nyaman sekaligus.

"Aku sudah biasa dihina."

"Saya belum biasa mendengarnya."

Kirana diam.

Di rumah Nadira, sebuah pesan masuk ke ponsel Nadira dari teman yang hadir di lounge.

Video pendek memperlihatkan Kirana berdiri membela Laras, dengan Raka di belakangnya. Raka tidak banyak bicara, tetapi tatapannya pada Danu terlihat tajam.

Teman Nadira menulis: Ini cowok yang kamu buang? Kok auranya beda banget ya?

Nadira menatap kalimat itu lama.

Ia membalas: Jangan lebay.

Namun setelah mengirim pesan, ia memutar ulang video itu.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Raka dalam video itu tidak terlihat miskin.

Ia terlihat seperti orang yang sedang sengaja menyembunyikan diri.

1
sukensri hardiati
ni mereka dah nikah belum sih....?
Leha Rahman
lanjut Thor 😊
Syahdu: Halo kak, yuk baca novelku I Love You Brutally🫶🏻🤍 Kisah gadis yang blak-blakan banget ke cowo yang ditaksir. Mohon Dukungannya ya😆🫶🏻🤍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!