Selama ini Mamaku nampak sehat-sehat saja, namun hari ke hari tubuh mama nampak kurus dan sakit-sakitan. Entah karena menahan sakit atau karena isu perselingkuhan Papa yang membuat Mama sakit.Tapi Mama tidak tahu siapa selingkuh Papa, yang sebenarnya ada di depan batang hidungku sendiri, ibarat musang berbulu domba itulah yang dihadapi keluargaku, dan aku baru tahu siapa selingkuh Papa setelah Mama tiada.
cerita ini sangat menarik penuh intrik dan pengkhianatan yang tak terduga datang dari orang terdekatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daesy.Rf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 PEMAKAMAN BUNGA
Tangis pilu di keluarga Rudiansyah nampak dari anak-anak yang kini ditinggalkan oleh Buk Bunga. Dinar dan Dut masih menangis, terutama Dut sangat histeris sekali atas meninggalnya sang Mama.
Para warga sibuk membantu dirumah tersebut, memasang tenda dan persemayaman Buk Bunga.
Pak Sukri yang sudah dikenal warga disana, menghandle setiap hal persiapan untuk pemakanan Buk Bunga esoknya.
Sementara Pak Rudiansyah yang sedari tadi mematikan Handphone saat bercinta dengan Meta akhirnya membuka Handphone, ditengah malam tersebut beliau bangun, sementara Meta ketiduran di sampingnya.
Rentetan pesan masuk di Whatsapp pesannya, 1akhirnya Pak Rudiansyah membaca pesan itu satu persatu dari kantor dan temannya dengan santai. Sampai giliran pesan dari Dinar putriku. Rudiansyah membaca pesan tersebut yang dikirim dari Jam sembilan malam tadi.
Pa... Mama sudah meninggal, di mana Papa sekarang tolong segera pulang"
pak Rudiansyah gemetar sehabis membaca pesan tersebut tiba-tiba saja air mata disudut matanya muncul.
"Meta..... Meta bangun"
"Apa Mas"
"kita harus balik Malam ini"
"Ko gitu Mas?
Meta yang masih kepompong an dari tidurnya nampak masih mengantuk.
" Kenapa sih Mas"
"Harus semalam ini pulang ...besok pagi aja subuh Mas,kan cuma dua
jam perjalanan.
" Bunga meninggal Meta"
"Istriku meninggal"
Rudiansyah menangis sambil. menahan perasaan nya "
Meta berlahan bangkit dari tidurnya.
"Apa Mas Tante meninggal? "
"Ya Allah"
"Iya Meta"
"Aku turut berduka cita Mas"
"Aku berdosa saat diakhir hidupnya aku tak di sisinya"
"Jangan menyalahkan diri Mas, ini sudah takdir Mas"
"Kita harus balik. malam ini juga Meta"
"Jangan Mas besok Pagi saja kita balik, karena kondisi Mas masih kaget, takut kenapa-kenapa dijalan"
"Tenang kan diri Mas dulu, nanti baru kita berangkat subuh dan pagi kita sudah sampai"
Meta dengan otak liciknya membujuk Rudiansyah tidak pulang, adegan yang direkayasa dengan kepura-puraan nya. Rudiansyah menerima perkataan Meta yang akan pulang subuh ke rumahnya. Rudiansyah pun tidak berpikir untuk menelpon siapapun yang pasti besok pagi dia akan segera pulang.
Sementara Dinar dan Dut selalu duduk di samping Jenazah Mamanya, Dut nampak memeluk Kakaknya, matanya merah saat masih menahan tangisnya.
"Pak Rudi, gimana Pak ?, kasihan anak-anak
Tanya Bik Ani kepada suaminya.
"Tuh lah Bapak jadi ngak mengerti dengan Pak Rudi sekarang banyak keluar dan nampak tidak perduli"
"Jangan-jangan ada apa-apa dengan Pak Rudi Pak"
"Maksud ibuk"
"Bapak Rudiansyah selingkuh kali Pak"
"Ust, nanti kedengaran sama Anak-anak dan orang di luar Buk"
"iya aku tahu Pak dari Buk Bunda sendiri Pak"
"Biarlah sekarang kita memikirkan agar posesif pemakaman Buk Bunga lancar setelah Kakaknya datang nanti"
***
Waktu pagi pun tiba-tiba saat semua penglayat mulai datang satu persatu mengunjungi jenazahnya Buk Bunga. Para ustazah pun sibuk menyiapkan kain Kafan untuk Buk Bunga.
"Assalamualaikum"
"Meta....?"
"Dinar.... "
Meta memeluk Dinar yang nampak Koyu dan pucat.
"Maaf Dinar aku baru tahu dari Nenek kemarin menelpon aku, kemarin aku pergi survei untuk skripsiku dan malam baru kembali jadi tidak sempat kesini"
"Tidak apa Meta, aku mengerti"
Meta melihat jenazah Buk Bunga dan menatapnya.
"Akhirnya kamu tewas juga wanita tua dan suamimu bisa aku kuasai"
Mobil Pak Rudiansyah memasuki halaman rumahnya yang mulai rame dengan tetangga dan penglayat.
"Pak Rudi baru datang"
Bisik tetangga yang ada disana"
Setelah parkir diujung jalan masuk rumahnya, Pak Rudiansyah pun bergegas turun dari mobilnya. Langkahnya gemetar memasuki rumah. Dilihatnya Dinar dan Dut saling peluk.
"Ma..... Mama"
Rudiansyah nampak menangis melihat istrinya dengan diam, dia memeluk istrinya. Entah tangis penyesalan atau apa yang ada di diri pria separuh baya itu.
"Sudah Pak Rudi"
Pak Ustadz Hamzah menghampiri Rudiansyah.
Dinar kemudian Bangkit dari duduknya, mukanya merah pada melihat Papanya. Dinar menarik tangan Papanya.
"Jauhkan Mama Dinar, Dinar mau bicara dengan Papa"
Pak Rudiansyah kaget melihat reaksi anak sulungnya itu.Pak Rudiansyah pun mengikuti anaknya.
Mereka berdua menuju kamar,semua nampak melihat reaksi Dinar kepada Papanya.
"Kenapa kamu mempermalukan Papa didepan Pak. Ustad dan tamu"
"Sudah....Papa masih memikirkan muka, saat istri Papa sudah meninggal dan Papa ditelpon kemana..., Papa sudah jangan macam-macam Papa sudah Tua dan anak-anak Papa sudah besar"
"Tutup mulutmu, kamu. jangan melawan Papa"
"Papa yang sebagai suami sudah berubah saat Mama sakit, Papa mengabaikan Mama, Ingatlah penyesalan akan datang ke diri Papa kelak"
Dinar meninggalkan Papanya, Pak Rudiansyah terdiam, dia tak menyangka putrinya akan melawan kepadanya.
Dinar sangat sedih karena perlakuan Papanya sangat menyakiti dirinya.
penglayat semakin banyak datang Pak Rudiansyah menunggui para tamu yang datang melayat Buk Bunga.
Menjelang zuhur Buk Bunga dimandikan dan dikafani.
Dinar dan Dut menangis, saat melihat jenazah Mamanya.Sampai di pemakaman air mata Dinar dan Dut tak henti-henti.
"Mama tenang disana ya, kami akan selalu mendoakan Mama"
"Yang kuat ya Nak" Para tetangga memberikan dukungan kepada Dinar dan Dut. Sementara Pak Rudiansyah hanya banyak diam. Sesekali Meta melirik kekasih gelapnya itu dengan senyum kemenangan.
Setelah pemakaman selesai semua kembali kerumah dan nampak lelah. Tamu-tamu mulai pamit termasuk Meta dan Neneknya. Keheningan terjadi dirumah itu. Dinar dan Dut masuk Kekamarnya dan Pak Rudiansyah pun memasuki kamarnya dengan istrinya. Dia duduk termenung diatas kasur.
Sementara Nanti malam pengajian dari mesjid yang akan takziah disiapkan oleh Pak Sukri dan Bik Ani.
"Pak sukri, bik Ani bagaimana persiapan untuk nanti malam?"
pak Rudiansyah tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Sudah dipersiapkan Pak"
"Baiklah kalau begitu"
Malamnya warga dan pengurus mesjid datang berkunjung untuk takziah sesudah Magrib. warga yang datang cukup ramai. Bapak-Bapak dan Ibuk-ibuk kampung disana nampak kompak Takziah dilaksanakan sampai menjelang Isya.
ini adalah hari pertama dimana Buk Bunga sudah tidak ada lagi. kesepian nampak dirumah tersebut, Dinar tidak banyak bicara dengan Papanya begitu juga Dut.
Kepedihan hati Dinar kepada Papanya sangat terasa, dia kecewa sangat karena sampai Mamanya menghembuskan Nafasnya Papanya yang tak pernah ada disisi Mamanya.
Dua hari Takziah dirumah keluarga Rudiansyah berjalan lancar dan hikmat. Rasa kehilangan bagi anak-anak Buk Bunga nampak terasa. S, osok yang mereka sayangi, dan kesibukan rumah yang dulu setiap pagi terasa saat sarapan pagi. panggilan dan ingatan Mama selalu terngiang-ngiang ditelinga Dinar dan Dut.
Sudah tiga hari dirumah sejak meninggalnya sang istri, pagi ini Pak Rudiansyah kembali bekerja masuk. Kantornya. Bersama Dut yang diantar disekolah mereka berdua berangkat pagi, setelah sarapan dibuat oleh Bik Ani.
"Kak, Dut pergi dulu"
"Iya hati-hati Ya Dut, ingat pesan Mama ya kamu harus rajin belajar, harus sukses dan jangan nakal. Kini kita sudah tak punya Mama lagi, sedangkan Papa sibuk dengan diri sendiri"
Muka Pak Rudiansyah nampak merah mendengar sindiran anak gadisnya.Tapi tak dapat berkata apa-apa lagi, memang kesalahan ada pada dirinya saat istrinya merenggang nyawa dia tidur dengan wanita yang bukan istrinya.
Saat-saat terakhir menjelang akhir nafasnya Pak Rudiansyah tidak ada disisi wanita yang sangat dia cintai. Tapi kenapa entah bagaimana bisa terjadi. antara kesadaran atau keinginan yang dia rasakan pada akhirnya jatuh pada penyesalan.