NovelToon NovelToon
BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Nina Jaya

Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak Jantung Pertama

Jam dinding di ruang tengah kediaman Menteng berdentang sebanyak dua belas kali, menandakan bahwa malam telah resmi berganti menjadi hari baru.

Jam dua belas malam terakhir bagi Alena untuk menyandang status sebagai seorang wanita yang bebas dari ikatan pernikahan sipil telah berlalu beberapa jam yang lalu. Kini, di bawah selimut tebal kamar sayap barat, ia terbangun bukan karena alarm ponsel atau ketukan panik dari Siska yang menuntutnya menghadiri jadwal syuting. Ia terbangun oleh sunyi yang pekat, dan sebuah rasa bergejolak yang familier di dasar perutnya.

Alena menyibak selimut, melangkah tergesa-gesa menuju kamar mandi dengan tangan membekap mulut. Di atas wastafel porselen, ia kembali memuntahkan cairan bening. Tubuhnya gemetar hebat, sisa-sisa tenaga dari hari kemarin seolah menguap bersama rasa mual yang enggan pergi.

Setelah membasuh wajahnya dengan air dingin, Alena menatap pantulan dirinya di cermin. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak semakin jelas. Sembap sisa tangis kemarin belum sepenuhnya hilang. Namun, ketika ia menunduk dan melihat kedua garis merah pada alat tes yang masih ia simpan di dalam pouch kecilnya, rasa lelah itu perlahan terkikis oleh sebuah desakan insting yang kuat. Ia harus bertahan. Demi nyawa kecil yang kini menggantungkan seluruh hidupnya pada kekuatan tubuh Alena.

Pukul tujuh pagi, Bi Asih mengetuk pintu kamar Alena dengan sopan.

"Nona Alena, maaf mengganggu waktu istirahatnya. Tuan Adrian meminta saya menyampaikan bahwa tim dokter spesialis dari Rumah Sakit Pusat Keluarga Dewangga sudah tiba di lantai bawah. Mereka sedang mempersiapkan peralatan medis di ruang pemeriksaan darurat."

Alena yang sudah selesai mandi dan mengenakan gaun rumah berpotongan longgar berwarna krem segera membuka pintu. "Baik, Bi. Saya segera turun."

Ketika Alena menuruni tangga utama, suasana rumah terasa sangat berbeda dari kemarin. Di ruang tengah yang luas, dua orang perawat berseragam medis rapi tampak sedang merakit sebuah mesin USG portabel berspesifikasi tinggi yang dibawa khusus dengan koper pelindung. Di samping mereka, seorang wanita paruh baya dengan jas dokter putih dan kacamata berbingkai emas sedang berbicara dengan Adrian.

Adrian hari ini tampil santai, hanya mengenakan kemeja katun biru muda dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku dan celana kain hitam. Begitu melihat Alena turun, Adrian langsung menghentikan pembicaraannya dan melangkah mendekat.

"Bagaimana kondisimu pagi ini? Masih mual?" tanya Adrian, suaranya terdengar berat namun sarat akan perhatian yang tulus sebagai rekan tim.

"Sedikit. Tapi sudah jauh lebih baik setelah minum air hangat," jawab Alena pelan, agak canggung karena diperhatikan oleh beberapa staf medis di ruangan itu.

Dokter paruh baya itu tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya. "Selamat pagi, Nona Alena. Ah, maaf, maksud saya Nyonya Adrian. Saya Dokter Saraswati, spesialis obstetri dan ginekologi yang ditunjuk langsung oleh keluarga Dewangga untuk memantau perkembangan kehamilan Anda selama beberapa bulan ke depan. Seluruh staf yang saya bawa hari ini telah menandatangani pakta integritas dan sumpah kerahasiaan medis yang sangat ketat, jadi Anda tidak perlu khawatir tentang privasi."

"Terima kasih, Dokter Saras," ujar Alena, merasa sedikit lega mengetahui bahwa Adrian benar-benar menjaga detail kerahasiaan ini dengan sangat profesional.

"Baiklah, mari kita mulai pemeriksaan pertamanya. Silakan berbaring di sofa khusus yang sudah kami siapkan, Nyonya," panggil Dokter Saras seraya mengarahkan Alena menuju area yang telah disterilkan.

Alena berjalan mendekati sofa panjang, lalu berbaring perlahan. Jantungnya mendadak berdegup kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia melangkah di atas karpet merah Grand Indonesia kemarin sore. Ini adalah momen pembuktian nyata. Momen di mana ia tidak lagi melihat dua garis merah di atas sebatang plastik, melainkan melihat eksistensi fisik dari anak yang dikandungnya.

Adrian berjalan mengikuti di belakang, lalu mengambil posisi berdiri di samping kepala sofa, tepat di sebelah Alena. Pria itu menatap layar monitor mesin USG yang masih menampilkan layar hitam kosong dengan ekspresi yang sangat serius, seolah-olah sedang menunggu pengumuman hasil tender proyek bernilai triliunan rupiah.

"Permisi ya, Nyonya. Kemejanya tolong diangkat sedikit sampai sebatas bawah dada, dan kain roknya diturunkan sedikit ke batas pinggul. Kulit perut Anda akan saya olesi gel khusus. Rasanya agak sedikit dingin," jelas Dokter Saras dengan lembut.

Alena mengikuti instruksi tersebut. Ketika gel transparan yang dingin menyentuh kulit perutnya yang masih rata, tubuhnya sempat tersentak kecil. Dokter Saras mengambil alat pemindai transduser, menekannya perlahan di atas perut Alena, dan mulai menggerakkannya dalam gerakan memutar yang lambat.

Pandangan semua orang di dalam ruangan itu seketika tertuju pada layar monitor digital. Pada awalnya, hanya tampak gumpalan abu-abu dan hitam yang bergerak acak, membuat Alena menahan napasnya karena cemas.

Apakah bayiku baik-baik saja? Apakah stres berat yang kualami dua minggu ini memengaruhi perkembangannya? pikiran buruk mulai berkecamuk di kepala Alena.

Namun, beberapa detik kemudian, Dokter Saras menghentikan gerakan tangannya di satu titik spesifik di bagian bawah rahim. Ia memutar beberapa tombol pada mesin USG, memperbesar tampilan gambar di layar.

"Nah, lihat ini," Dokter Saras menunjuk ke arah sebuah lingkaran hitam kecil di tengah-tengah struktur rahim Alena. Di dalam lingkaran hitam tersebut, tampak sebuah titik putih yang sangat kecil, berukuran tidak lebih besar dari sebutir kacang hijau. "Ini adalah kantung kehamilan Anda. Dan titik kecil di dalamnya... itu adalah janin Anda. Usianya tepat memasuki minggu kelima pagi ini."

Alena menatap titik kecil itu tanpa berkedip. Air matanya mendadak menggenang di pelupuk mata, mengaburkan pandangannya selama beberapa saat. Di dalam sana, di dalam tubuhnya yang ringkih, kehidupan itu benar-benar ada. Titik kecil yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi agensi, tentang tuntutan lima puluh miliar, atau tentang konferensi pers penuh sandiwara kemarin sore.

"Dokter, apakah janinnya berkembang dengan normal?" tanya Adrian tiba-tiba. Suaranya yang biasanya terdengar dingin dan penuh wibawa kini terdengar sedikit bergetar, menyiratkan rasa emosional yang kuat yang berusaha ia sembunyikan.

"Sangat normal dan sehat, Tuan Adrian. Posisinya di dalam rahim juga sangat bagus, melekat dengan kuat di dinding rahim," jawab Dokter Saras dengan senyuman lebar. "Sekarang, mari kita dengarkan hal yang paling penting dari pemeriksaan pertama ini."

Dokter Saras menekan sebuah tombol berlambang gelombang suara pada mesin USG. Ruang tengah yang sunyi itu mendadak dipenuhi oleh sebuah suara baru—sebuah suara ketukan yang sangat cepat, ritmis, dan bergaung konstan melalui pengeras suara mesin medis tersebut.

Dug-dug-dug-dug-dug-dug-dug..

Suara itu terdengar seperti suara derap langkah kuda yang berlari kencang di kejauhan, atau seperti suara detak jam dinding yang berputar dengan kecepatan ganda. Itu adalah suara detak jantung pertama dari sang bayi.

Mendengar suara itu, pertahanan batin Alena runtuh sepenuhnya. Air matanya tumpah mengalir membasahi pipinya.

Ia menutup mulutnya dengan tangan kiri, mencoba menahan isak tangisnya agar tidak pecah di depan tim medis. Suara detak jantung itu adalah melodi paling indah, paling murni, dan paling menyentuh yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya. Semua piala penghargaan aktris terbaik yang pernah ia raih di atas panggung megah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehormatan mendengarkan detak kehidupan dari darah dagingnya sendiri.

Secara tidak sadar, tangan kanan Alena yang tergeletak di samping tubuhnya bergerak mencari pegangan. Dan sebelum ia sempat menyadarinya, sebuah tangan yang besar dan hangat sudah terlebih dahulu menyambut jemarinya. Adrian menggenggam tangan Alena dengan sangat erat. Alena menoleh ke arah Adrian dan melihat pria itu juga sedang menatap layar monitor dengan mata yang berkaca-kaca.

Ada sebuah gumpalan rasa haru yang besar yang terpancar dari wajah tegas sang aktor. Pada detik itu, di bawah gaung suara detak jantung anak mereka, Alena tahu bahwa ikatan di antara mereka bukan lagi sekadar kontrak hukum di atas kertas pranikah Baskara. Mereka telah resmi menjadi orang tua dari satu nyawa yang sama.

Setelah pemeriksaan selesai dan Dokter Saras memberikan beberapa resep vitamin asam folat serta penguat kandungan, tim medis pamit meninggalkan rumah Menteng dengan pengawalan yang sama.

Alena duduk di sofa ruang tengah, memandangi selembar kertas foto hitam-putih hasil cetakan USG yang baru saja diserahkan dokter. Di sana, titik kecil itu dilingkari dengan garis putih, lengkap dengan tulisan indikator medis di bagian tepinya.

Adrian berjalan kembali dari teras setelah mengantar dokter, lalu duduk di kursi tunggal di seberang Alena. Ia mengambil gelas kopinya yang sudah mulai mendingin.

"Dokter Saras bilang kamu harus menaikkan berat badanmu sebanyak dua kilogram dalam bulan ini, Alena," buka Adrian, memecah keheningan pasca-pemeriksaan yang emosional tadi. "Mulai besok, aku akan meminta seorang ahli gizi khusus untuk menyusun menu makanan harianmu di rumah ini. Tidak ada lagi diet ketat ala aktris. Kesehatan anak itu dan kesehatanmu adalah prioritas nomor satu kita sekarang."

Alena mengangguk pelan, jemarinya masih mengusap permukaan foto USG. "Aku tahu, Adrian. Aku akan mematuhi semua saran dokter. Aku tidak akan membiarkan egoku merugikan pertumbuhan anak ini."

Alena menjeda kalimatnya, lalu mendongak menatap langsung ke arah Adrian. "Adrian... tentang genggaman tanganmu tadi... terima kasih. Aku sempat merasa sangat takut sebelum mendengar detak jantungnya."

Adrian meletakkan cangkir kopinya di atas meja kaca, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Pandangan matanya melembut. "Kamu tidak perlu berterima kasih untuk hal-hal seperti itu, Alena. Kita sudah sepakat bahwa di dalam rumah ini kita adalah rekan tim. Mendengar detak jantungnya tadi... itu membuatku menyadari bahwa tanggung jawabku bukan lagi sekadar menyelamatkan reputasimu atau membayar denda penalti ke Star Media. Ada sebuah kehidupan nyata yang menuntutku untuk menjadi seorang ayah yang sesungguhnya."

"Lalu, apa langkah kita selanjutnya terkait Siska?" tanya Alena, beralih ke topik yang lebih serius yang terus membayangi pikirannya. "Aku melihat puluhan notifikasi pesan masuk di ponselku sebelum tim keamanarmu memblokirnya. Siska tampaknya sangat marah karena denda penaltinya dibayar lunas secara mendadak."

Wajah Adrian kembali berubah menjadi serius dan kalkulatif, ekspresi khas seorang eksekutif muda dari keluarga Dewangga Group. "Siska memang sedang marah, dan dari informasi yang didapatkan oleh tim intelijen cyber perusahaanku, dia mencoba mencari celah untuk menyerang kita melalui jalur bawah tanah. Dia tahu dia tidak bisa menggunakan media massa arus utama karena perisai hukum dari Baskara sangat kuat. Jadi, kemungkinan besar dia akan menggunakan platform forum diskusi anonim atau media sosial luar negeri untuk menyebarkan rumor."

Adrian bangkit berdiri, berjalan menuju meja kerjanya yang terletak di sudut ruangan dan mengambil sebuah dokumen baru. "Tapi aku tidak akan memberikan dia kesempatan untuk membangun momentum. Sore ini, tim humas Dewangga Group akan merilis foto-foto dokumentasi resmi dari akad nikah tertutup kita yang digelar pagi tadi ke seluruh media nasional. Kita akan mengunci narasi publik bahwa pernikahan ini adalah sebuah acara sakral yang intim dan hanya dihadiri oleh keluarga dekat demi menjaga kekhidmatan."

Adrian menyerahkan sebuah tablet digital kepada Alena, menampilkan draf rilis berita dan pilihan foto yang akan disebarkan. Di sana tampak foto saat Adrian sedang mengucapkan janji pernikahan sambil memegang tangan Alena, diambil dari sudut yang sangat artistik oleh fotografer internal mereka.

"Dengan merilis foto-foto ini, publik akan melihat bahwa pernikahan kita adalah hal yang sah, nyata, dan resmi," lanjut Adrian. "Setiap rumor yang disebarkan Siska setelah foto-foto ini keluar hanya akan dianggap oleh netizen sebagai bentuk sakit hati atau gosip murahan dari mantan manajemen yang kehilangan artis terbaiknya. Kita membuat Siska kehilangan kredibilitasnya di mata publik."

Alena meneliti foto-foto di layar tablet tersebut. Strategi Adrian sangat rapi dan tanpa cela. Pria ini tahu bagaimana cara mengendalikan persepsi jutaan orang hanya dengan satu rilis gambar. "Kamu benar-benar hebat dalam hal ini, Adrian. Tidak heran ayahmu mempercayakan banyak lini bisnis media kepadamu."

"Ini hanya manajemen krisis dasar di dunia korporasi, Alena," jawab Adrian dengan nada merendah, meskipun ada kilat kebanggaan yang tersembunyi di matanya. "Yang paling penting sekarang adalah kamu fokus pada pemulihan fisikmu. Mulai minggu depan, aku juga harus kembali ke lokasi syuting untuk menyelesaikan beberapa adegan sisa dari drama kita yang sempat tertunda karena masalah ini. Kamu akan tetap tinggal di rumah ini di bawah penjagaan Bi Asih dan tim keamanan. Jangan keluar rumah tanpa seizinku, demi keselamatanmu sendiri."

Alena menarik napas panjang, menyadari bahwa kebebasannya untuk berjalan-jalan di tempat umum kini telah resmi dicabut untuk sementara waktu. Namun, demi titik kecil yang detak jantungnya baru saja ia dengar bergaung dengan begitu perkasa di dalam ruangan ini, Alena rela menukar kebebasan itu dengan keamanan di dalam sangkar emas Menteng ini. Jam dua belas malam terakhir telah membawa hidupnya ke sebuah takdir baru yang penuh dengan intrik, namun di dalam sunyinya rumah besar ini, Alena tahu ia telah memulai langkah pertamanya sebagai seorang ibu dengan kepala tegak.

1
Jessica
manager nya berkuasa banget
Aisyah
hamil tiba tiba
Aisyah
novel nya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!