NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 : Balas Budi Level Maksimal

Tepat jam lima sore, Sael telah menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas keluar dari area kantor.

Arka yang sedang merapikan meja, menatap punggung Sael yang mulai menjauh dan melihat kubikel gadis itu, dompet Sael tertinggal di sana.

Buru-buru ia mengemasi barang-barangnya dan segera menyusul Sael yang ternyata masih di area parkiran.

Sael yang baru saja mau membuka pintu mobilnya, langsung bertaut rapat alisnya. "Ngapain?" begitu melihat Arka yang kehabisan napas sedang menghentikan ia membuka pintu mobilnya.

"Nih dompetmu ketinggalan," Arka menyerahkan dompet Sael.

"Makasih" Sael menerima dompet dari Arka.

"Minggir, aku mau masuk" menepis tangan Arka yang masih di pintu mobilnya.

"Sael, kamu tahu kan aku ini orangnya tahu balas budi?" Arka tersenyum kecil.

Sael mendengus, langsung paham arah pembicaraannya. "Kenapa? Mau nebeng?"

Arka mengangguk pelan, "Bukan karena aku malas nunggu taksi, Sael. Pengen traktir kamu makan aja, tadi di kantin keliatannya kamu nggak nafsu makan," ucap Arka jujur.

Sael berpikir sejenak, sambil menghembuskan napasnya. "Masuklah."

Arka masuk ke dalam mobil dengan senyuman yang lebar.

Perjalanan di dalam mobil SUV hitam milik Sael berjalan lebih tenang. Hanya ada suara radio yang memutar lagu pop bervolume rendah. Arka sibuk mendekap tas kerjanya, sesekali mencuri pandang ke arah Sael yang fokus menyetir.

"Punggungmu," suara Sael tiba-tiba memecah keheningan saat mobil berhenti di lampu merah. "Kenapa tadi kamu kelihatan ketakutan banget waktu Pak Surya menyuruhmu lepas baju? Bukan cuma karena malu, kan?"

Arka tertegun. Ia tidak menyangka Sael menyadarinya. Arka mengalihkan pandangan ke luar jendela.

"Ada bekas luka. Lumayan banyak," jawab Arka lirih. "Bekas kecelakaan waktu kecil. Agak mengerikan kalau dilihat orang-orang. Aku cuma nggak mau aja jadi bahan gunjingan satu kantor."

Sael diam sesaat. Ia tidak bertanya lebih lanjut.

"Pak Surya itu cuma pengecut yang butuh validasi," kata Sael sambil menginjak pedal gas saat lampu berubah hijau. "Lain kali kalau dia macam-macam lagi, tendang saja tulang keringnya. Biar aku yang mengurus urusan birokrasinya nanti."

Arka tertawa lepas, "Keren juga caramu mengancam dia tadi. Menuduh dia suka sesama jenis di depan umum itu beneran nekat, Sael."

"Dia pantas mendapatkannya," sahut Sael santai.

Beberapa menit berlalu dalam mobil, perut Arka berbunyi nyaring, memecah kesunyian kabin.

Sael melirik jam di dasbor. Sudah pukul lima lebih seperempat. "Kamu belum makan siang dari tadi, kan?"

"Belum sempat beli gara-gara insiden kopi, makanya ini aku ngajak kamu makan bareng" jawab Arka sambil memegangi perutnya.

"Mau makan di mana?" tanya Sael, matanya menelusuri pinggir jalan mencari tempat makan.

"Di depan ada pertigaan, belok kiri aja. Ada warung sate kambing langgananku yang buka dari sore," tunjuk Arka, matanya berbinar menatap papan nama warung sederhana di sudut jalan.

Sael membelokkan setir, begitu mobil terparkir, aroma gurih bumbu bakar langsung menyambut mereka.

Warung itu cukup ramai, kepulan asap pembakaran yang membubung tinggi di bagian depan menyambut mereka.

Mereka duduk dekat dengan kipas angin dinding. Arka langsung mengambil alih menu, memesan dua porsi sate tanpa lemak, satu porsi tongseng, dan dua gelas teh manis hangat.

"Katanya mau traktir, tapi pesannya barbar ya," sindir Sael, melihat Arka mulai melonggarkan dasinya.

"Ini porsi balas budi level maksimal, Sael. Tadi siang kamu udah menyelamatkan harga diriku, sekarang giliran aku menyelamatkan perutmu yang tadi siang cuma masuk beberapa suap," sahut Arka riang.

Tak butuh waktu lama sampai hidangan panas itu tersaji di meja. Asap mengepul dari kuah tongseng yang kaya rempah, bersanding dengan sate kambing yang berkilat karena kecap dan taburan bawang merah mentah. Arka langsung menyantapnya dengan lahap, membuat Sael yang awalnya hanya berniat menemani, perlahan ikut tergiur dan mulai menyuap nasinya.

Di antara kunyahan mereka, Sael tiba-tiba meletakkan sendoknya sebentar, menatap Arka yang mulutnya masih penuh.

"Bekas luka itu... apa masih sering terasa sakit?" tanya Sael, suaranya pelan.

Arka sempat tertegun, lalu menelan makannya dengan susah payah. Ia tersenyum tipis "Nggak sakit lagi secara fisik, Sael. Cuma ya itu bekasnya melebar di punggung."

Sael hanya mengangguk kecil, kembali fokus pada sate di piringnya. "Baguslah. Berarti otakmu masih berfungsi untuk tidak memikirkan omongan orang bodoh seperti Pak Surya."

"Mulutmu itu ya, Sael. Antara mau menghibur atau mau ngajak berantem," gerutu Arka, tapi tawa kecilnya tak bisa disembunyikan.

*****

Selesai makan, Arka bersikeras membayar semua makanan sesuai janjinya, sementara Sael hanya menunggu di dekat pintu keluar sambil memainkan kunci mobilnya.

Saat mereka berjalan kembali ke parkiran, Arka diam-diam melirik ke arah Sael. Kancing teratas kemeja Sael terbuka, dan lengan bajunya digulung hingga sikut.

𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢, batin Arka, menahan senyumnya sendiri.

"Kenapa senyum-senyum?" tanya Sael. "Aneh."

"Nggak apa-apa," sahut Arka cepat buru-buru masuk ke kursi penumpang begitu Sael membuka pintu mobil.

Di dalam perjalanan pulang, Arka lebih banyak diam.

Di bawah penerangan lampu jalan yang remang, gurat lelah di wajah Sael terlihat jelas.

"Sael," panggil Arka pelan.

"Hmm?"

"Kamu... tidur jam berapa semalam?"

Sael menaikkan sebelah alisnya, heran dengan pertanyaan Arka yang tiba-tiba melembut. "Jam dua, mungkin. Kenapa?"

"Pantas saja mukamu kusut banget kayak kertas gorengan," celetuk Arka, mencoba menutupi rasa khawatirnya dengan candaan seperti biasa. "Besok-besok jangan begadang terus. Kalau kamu tumbang, siapa yang mau bantuin aku mikir taktik 'kotor' buat lawan senior toxic kayak Pak Surya?"

Sael terkekeh pelan, "Aku nggak selemah itu, Arka. Lagian, mengurus kasus kecil begitu tidak bikin aku tumbang."

"Sombongnya keluar lagi," gumam Arka,

Ketika mobil akhirnya berhenti di depan lobi apartemen tempat Arka tinggal. Ia membuka tas kerjanya, mengambil sebuah botol vitamin berbentuk kapsul yang belum dibuka, lalu meletakkannya di atas dasbor mobil Sael.

Sael melirik botol itu, lalu menatap Arka dengan pandangan bertanya-tanya. "Apa ini? Kamu mau meracuniku?"

"Itu vitamin C, bodoh," gerutu Arka sambil membuka sabuk pengamannya. "Dari dokter pribadiku. Minum satu tiap pagi biar matamu nggak kayak panda. Aku nggak mau ya dicap menang saingan di kantor cuma karena lawanku masuk rumah sakit akibat tipes."

Sael menatap botol, tersenyum tipis. "Makasih."

Arka mematung sejenak. Sial, senyuman Sael barusan entah kenapa membuat jantungnya mendadak berdegup sedikit lebih cepat. Buru-buru Arka membuka pintu mobil agar Sael tidak melihat semburat merah yang tiba-tiba muncul di pipinya.

"Ya udah, aku turun. Hati-hati nyetirnya, jangan merem!" seru Arka sambil menutup pintu mobil agak kencang, lalu melangkah terburu-buru masuk ke dalam lobi apartemen.

Dari balik kaca spion, Sael menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arka, lalu mengambil botol vitamin itu dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya.

Sementara itu, di dalam lift, Arka memegangi dadanya yang masih berdebar aneh. Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift, lalu mengacak rambutnya sendiri dengan frustrasi.

𝘎𝘪𝘭𝘢 𝘺𝘢, pikir Arka. 𝘚𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘪 𝘳𝘰𝘣𝘰𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!