Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Malam itu, suasana di mansion Zyan terasa sangat mencekam bagi Alexa. Setelah acara syukuran yang berakhir dengan penyitaan kunci motor secara sepihak, Alexa tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya mengurung diri di kamar, menatap nanar ke arah garasi dari balkon lantai dua. Di sana, motor ZX-nya terparkir lesu, seolah ikut sedih karena dipisahkan dari tuannya.
"Gue nggak bisa diem aja. Besok pagi ada kelas praktikum, kalau gue dateng pake mobil jemputan kayak anak TK, mau ditaruh mana muka gue di depan anak-anak teknik?" gumam Alexa sambil mondar-mandir di kamar.
Ia melirik ke arah pintu kamar mandi. Suara kucuran air shower menandakan Zyan sedang mandi. Ini adalah kesempatan emas. Alexa tahu, Zyan selalu meletakkan segala barang bawaannya—dompet, jam tangan, dan kunci-kunci—di atas meja nakas atau di dalam saku celana kerjanya yang ditaruh di keranjang baju kotor.
Dengan langkah berjinjit seperti ninja, Alexa mendekati tumpukan baju kerja Zyan di pojok ruang ganti. Ia merogoh saku celana bahan hitam milik suaminya itu.
"Kosong? Sial!" umpatnya pelan.
Ia beralih ke meja nakas di samping tempat tidur sisi Zyan. Di sana hanya ada jam tangan mewah dan sebuah ponsel. Kunci motor itu tidak ada. Alexa menggigit bibir bawahnya. " Berarti kunci itu ada di dalem tas kerjanya atau... dibawa masuk ke kamar mandi? Enggak mungkin."
Tiba-tiba, suara shower berhenti. Alexa panik dan langsung melompat ke atas kasur, pura-pura tidur dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut sampai ke kepala.
Pintu kamar mandi terbuka. Zyan keluar dengan hanya mengenakan celana training abu-abu, membiarkan dadanya yang bidang terbuka lebar dengan sisa-sisa tetesan air yang mengalir di perutnya yang six-pack. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sambil menatap gundukan di balik selimut di sisi kasur Alexa.
Zyan tahu istrinya tidak sedang tidur. Ia bisa melihat ujung selimut yang gemetar. Zyan tersenyum miring, lalu berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan, memasukkan sesuatu ke dalam laci terkunci, dan mengantongi kuncinya ke dalam saku celananya.
"Selamat tidur, Pencuri Kecil," ujar Zyan dengan suara beratnya yang tenang, lalu mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang remang-remang.
Dua jam berlalu. Jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari.
Alexa memastikan napas Zyan sudah terdengar teratur dan berat—tanda bahwa pria itu sudah terlelap. Dengan sangat hati-hati, Alexa menyibakkan selimutnya. Ia merangkak pelan melewati "Tembok Besar Bantal" yang masih ia pasang sebagai pembatas.
Targetnya sekarang adalah saku celana training Zyan.
Alexa menahan napas. Jantungnya berdegup sangat kencang, lebih kencang daripada saat ia sedang balapan di sirkuit. Ia bisa melihat wajah Zyan dari dekat dalam keremangan lampu tidur. Ternyata, kalau lagi tidur begini, muka si Om Duda ini nggak kelihatan galak. Malah kelihatan... hm, tampan yang membuat Alexa sempat bengong selama tiga detik.
" Fokus, Lex! Fokus! Motor lo lebih penting daripada muka duda ini!" batinnya menyemangati diri sendiri.
Tangan Alexa perlahan menjangkau saku celana Zyan. Ia merasakan ada benda keras berbentuk kunci di sana. Dengan gerakan sehalus mungkin, dua jarinya masuk ke dalam saku tersebut. Begitu ujung jarinya menyentuh gantungan kunci motornya, Alexa merasa menang.
Namun, tepat saat ia hendak menarik kunci itu keluar, Zyan tiba-tiba bergerak.
"Mmm..." Zyan bergumam dalam tidurnya.
Alexa membeku. Ia tidak berani bergerak sedikit pun. Namun, hal yang paling tidak terduga terjadi. Alih-alih bangun, Zyan justru membalikkan badannya ke arah Alexa dan secara refleks melingkarkan tangan besarnya ke pinggang Alexa, lalu menarik gadis itu masuk ke dalam dekapannya.
"Eh?!" Alexa terpekik pelan, namun suaranya tertahan karena wajahnya sekarang terbenam di dada bidang Zyan.
Posisi mereka sekarang sangat intim. Alexa terperangkap dalam pelukan kuat Zyan. Lengan Zyan mengunci tubuhnya sehingga Alexa tidak bisa bergerak mundur. Yang lebih parah, tangan Alexa masih berada di dalam saku celana Zyan, terjepit di antara paha pria itu.
"Woy, Om! Lepasin!" bisik Alexa panik sambil mencoba meronta pelan.
Tapi bukannya lepas, Zyan malah semakin mempererat pelukannya. Ia menyandarkan dagunya di atas kepala Alexa, menghirup aroma rambut wolfcut Alexa yang wangi stroberi. "Jangan berisik... tidur..." gumam Zyan setengah sadar.
Alexa merasa wajahnya panas luar biasa. Ia bisa merasakan detak jantung Zyan yang tenang dan kuat, serta kehangatan kulit pria itu yang bersentuhan langsung dengan lengannya. Di satu sisi, ia merasa sangat malu, tapi di sisi lain, pelukan ini terasa begitu nyaman dan... aman.
"Sialan, ini orang tidurnya meluk-meluk banget sih! Kayak nggak pernah dapet kasih sayang aja," umpat Alexa dalam hati, meski ia sendiri tidak bisa menolak rasa nyaman itu.
Alexa mencoba menarik tangannya dari saku celana Zyan dengan sangat perlahan. Tapi setiap kali ia bergerak, Zyan akan mengerang pelan dan mempererat kunciannya. Setelah berjuang selama hampir tiga puluh menit tanpa hasil, Alexa mulai merasa kelelahan. Udara di dalam pelukan Zyan begitu hangat, dan aroma maskulin pria itu perlahan-lahan membuat Alexa merasa mengantuk.
"Bentar aja deh... gue istirahat bentar, nanti kalau dia udah bener-bener pules, gue coba lagi," pikir Alexa yang akhirnya menyerah pada rasa kantuknya.
Tanpa sadar, mahasiswi rebel itu akhirnya tertidur lelap dalam dekapan sang duda dingin yang paling ia benci.
Pagi harinya, cahaya matahari kembali menyerbu kamar mereka.
Zyan membuka matanya lebih dulu. Ia merasa ada beban yang cukup berat di dadanya. Begitu ia menunduk, ia melihat kepala dengan rambut acak-acakan yang sedang mendengkur halus di pelukannya. Zyan tertegun sejenak. Ia melihat posisi tangan Alexa yang masih tersangkut di sakunya.
Zyan menyeringai. Ia sebenarnya sudah bangun sejak semalam saat Alexa mencoba merogoh sakunya. Ia sengaja menarik Alexa ke dalam pelukannya untuk mengerjai gadis itu sekaligus memberinya pelajaran agar tidak macam-macam lagi. Tapi ia tidak menyangka kalau Alexa justru akan tertidur senyenyak itu di pelukannya.
"Bocah nakal," gumam Zyan pelan. Ia mengusap helai rambut Alexa dengan lembut, sebuah gerakan yang sangat tidak mencerminkan sosok Direktur kaku.
Tiba-tiba, Alexa menggeliat. Ia membuka matanya perlahan, melihat otot dada di depannya, lalu mendongak dan melihat wajah Zyan yang sedang menatapnya dengan senyum miring yang penuh kemenangan.
"AAAAAA!"
Alexa langsung menendang Zyan sampai pria itu hampir jatuh dari tempat tidur. Ia melompat mundur, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya seolah-olah baru saja dirampok.
"LO! APA YANG LO LAKUIN KE GUE?!" teriak Alexa dengan wajah merah padam sampai ke telinga.
Zyan duduk dengan santai, merapikan rambutnya yang berantakan. "Saya tidak melakukan apa-apa. Kamu yang semalam merangkak masuk ke wilayah saya, mencoba mencopet saku saya, lalu berakhir tertidur di pelukan saya karena merasa terlalu nyaman, bukan?"
"Nggak! Fitnah! Gue... gue cuma... gue tadi malem cuma mau ambil kunci!"
Zyan merogoh sakunya, mengeluarkan kunci motor ZX itu dan memutar-mutarnya di jarinya. "Kunci ini? Sayang sekali, rencanamu gagal total, Alexa. Kamu malah memberikan 'bonus' pelukan semalaman untuk saya."
Alexa ingin rasanya menghilang dari muka bumi saat itu juga. Harga dirinya hancur berkeping-keping. "Gue benci lo! Balikin kunci gue!"
"Aturan tetap aturan. Seminggu tanpa motor. Dan karena kamu sudah melanggar privasi tidur saya semalam, hukuman kamu ditambah: mulai hari ini, kamu harus sarapan bareng saya setiap pagi tanpa ada acara protes atau cemberut."
"LO KIRA GUE ANAK KECIL?!"
"Bukan. Kamu itu istri saya yang sedang dalam masa percobaan sopan santun," ujar Zyan sambil berdiri dan berjalan menuju kamar mandi dengan gaya tenang, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Alexa melempar guling ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. "Duda mesum! Licik! Awas lo ya, gue bakal bikin lo jatuh cinta sampe gila sama gue, terus gue bakal tinggalin lo biar lo tahu rasanya sakit hati!" teriak Alexa asal, tanpa menyadari bahwa kata-katanya itu bisa menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Di dalam kamar mandi, Zyan yang mendengar teriakan itu hanya tersenyum tipis di depan cermin. "Bikin saya jatuh cinta, ya? Mari kita lihat siapa yang akan jatuh duluan, Alexa."
Bersambung.....