Perjalanan celah dimensi antar ruang angkasa, seorang pangeran kerajaan menjadi pengamat takdir dari sang Penjaga cahaya dari kegelapan absolute yang terus melahap semuanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Khaidar Ali Fathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketidaktahuan Akan Ancaman yang Nyata
Beralih ke Kirana yang sedang bersiap-siap merapikan barang untuk pergi menginap di rumah Alexa. Saat melewati koridor, tanpa sengaja telinganya menangkap percakapan para pelayan mengenai Kinanti yang akan pergi berkemah malam ini di Gunung Eclipse.
"Bi, itu di luar kok ada gerobak kuda?! Bukannya Ayah sudah pergi tadi siang?!" tanya Kirana, menghentikan langkah pelayan yang lewat.
"Oh, bukan Tuan Putri Kirana. Gerobak kuda itu dipersiapkan untuk Tuan Putri Kinanti. Tuan Putri Kinanti ingin berkemah dengan temannya, Bi Eni, sama dua prajurit di Gunung Eclipse," jelas pelayan itu sopan.
"Bocah sialan itu lagi..." Kirana menggertakkan giginya kesal. Namun, sedetik kemudian ia terdiam. (Tunggu... Hmmm.)
Sebuah ide mendadak melintas di kepalanya. Jika Kinanti tidak ada di istana, berarti situasi kerajaan akan sangat sepi dan bebas. Kirana berpikir, daripada dia yang menginap di rumah Alexa, jauh lebih baik jika Alexa yang disuruh menginap di kerajaan.
"Kayanya bagus nih Alexa saja yang diajak. Baiklah, akan kukirim pesan agar dia menginap di sini," gumam Kirana.
Kirana pun segera menulis sepucuk surat, lalu memanggil salah satu pengawal untuk mengantarkannya. "Maaf, Pak Prajurit, tolong sampaikan surat ini ke temanku, Alexa. Rumahnya ada di dekat pasar Central, coba tanya-tanya saja orang di sana."
"Baik, Tuan Putri. Saya akan kirimkan pesan Tuan Putri sekarang," jawab prajurit itu patuh.
Tak lama kemudian, prajurit itu langsung menunggangi kudanya, memacu derap langkah hewan tersebut dengan cepat demi mengirimkan pesan dari Putri Kirana kepada Alexa.
Selang beberapa lama di dekat pasar Central, Alexa tampak sedang berdiri menunggu kedatangan Putri Kirana di depan rumahnya.
Tiba-tiba, derap langkah kuda berhenti tepat di hadapannya, menampakkan prajurit utusan istana.
"Permisi, apakah ini benar rumah Nona Alexa?" tanya prajurit itu memastikan.
"Ya, dengan saya sendiri, Pak Prajurit," sahut Alexa.
"Maaf, ini ada surat dari Tuan Putri Kirana." Prajurit itu menyodorkan selembar kertas yang terlipat rapi.
"Surat?"
Alexa menerima kertas tersebut. Begitu sang prajurit berbalik, ia langsung membuka dan membaca isi suratnya:
*Hai Alexa, di kerajaanku ternyata sepi. Si bocah sialan itu lagi gak ada di kerajaan, dia lagi berada di barat di Gunung Eclipse. Aku berencana mengundangmu menginap di kerajaan, nanti aku ajak mengelilingi kerajaan. Aku tunggu ya di kerajaan. Salam teman sohib, Kirana*
Raut wajah Alexa seketika berubah. Sebuah senyuman lebar yang sarat akan kelicikan terkembang di bibirnya. Sang Pengintai benar-benar tidak menyangka jalan menuju sumber informasi utama terbuka begitu cepat tanpa hambatan. Namun, di tengah kesenangannya, otaknya yang cerdas mulai menganalisis situasi.
(Wah, awalnya aku hanya berusaha menggali informasi dengan berpura-pura berteman dan bercerita dengan dia, tapi malah diundang langsung ke sumber informasi. Siapa juga yang bisa menolak, hehe. Tunggu, tapi Raja ini sebenarnya pergi ke mana ya?! Apakah dia menemukan pesawatku? Ah, tidak mungkin sih. Seharusnya kalau cuma di daerah Central, dia gak akan pergi lama sampai tiga hari. Lagipula aku sudah mengaktifkan mode kamuflase. Berarti rencana matang yang kubuat bisa dimulai lebih awal dari perkiraanku. Besok akan jauh lebih menarik!)
Alexa melipat kembali surat itu, lalu menatap prajurit yang masih berjaga di dekat kudanya.
"Baiklah, Pak Prajurit, saya akan pergi ke kerajaan nanti diantar sama Ayah saya."
"Baiklah kalau begitu." Prajurit itu mengangguk, lalu memacu kudanya kembali menuju istana.
Tanpa membuang waktu, Alexa segera melangkah masuk ke dalam rumah untuk meminta izin kepada kedua orang tua korbannya.
"Ayah, Mama, aku diundang ke istana! Tuan Putri Kirana mengajakku menginap di kerajaan untuk satu malam. Kumohon izinkan aku ya," pinta Alexa dengan nada manja yang dibuat-buat.
Sang ayah yang sedang bersantai langsung menegakkan tubuhnya, bangga. "Wah, Tuan Putri mengajak kamu menginap di kerajaan?! Ayah perbolehkan, tapi kamu harus bersikap baik. Jangan sampai membuat Putri Kirana kecewa."
"Aman, Ayah..."
"Pakai pakaian tercantikmu. Oh ya, kamu berangkat sama siapa? Apa perlu Ayah yang antar?" tanya ayahnya penuh perhatian.
"Prajurit sudah menunggu di persimpangan sana kok," bohong Alexa demi menghindari kecurigaan. "Sebentar ya Yah, Mah, aku siap-siap dulu."
Alexa pun melesat masuk ke dalam kamarnya. Di ruang tengah, sang ayah menatap istrinya dengan senyuman lebar.
"Oke, Nak. Anak kita beruntung ya, Mah, dapat teman sebaik dan sehebat Tuan Putri Kirana."
"Ya, Pah," sahut sang mama, ikut merasa bahagia.
Beberapa menit kemudian, Alexa keluar dari kamarnya. Ia telah selesai berdandan, mengenakan sebuah gaun merah yang melekat cantik di tubuhnya.
"Wah, cantiknya! Anak Ayah memang cantik," puji sang ayah.
"Yaudah, Mama, Ayah, aku berangkat dulu ya," pamit Alexa sembari melangkah keluar rumah menuju ke arah persimpangan jalan desa.
"Ya, dadah! Bersenang-senang ya, Nak!" seru kedua orang tua itu melepas kepergiannya.
Begitu tubuhnya menjauh dari jangkauan pandangan rumah, senyuman manis Alexa langsung luntur, berganti dengan senyuman dingin yang mengerikan di dalam hatinya.
(Hehe, saatnya memulai rencana ini.)
Ketidaktahuan Putri Kirana telah menjadi gerbang utama yang mengundang ancaman terbesar masuk ke dalam jantung pertahanan kerajaan. Kira-kira, malapetaka apa saja yang akan dilakukan oleh Alexa si mata-mata di dalam istana malam ini?