NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Terbuang

Pembalasan Istri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bangkit,Untuk Pembalasan

Suara detak jam dinding yang monoton menjadi satu-satunya suara yang menemani kesunyian di dalam kamar kayu yang sederhana.

Aroma minyak kayu putih dan ramuan herbal menyeruak, memenuhi indra penciuman Alana yang perlahan kembali berfungsi. Matanya terasa sangat berat, seolah kelopaknya telah direkatkan oleh beban ribuan ton. Dengan usaha yang menyakitkan, ia mencoba membuka mata.

Langit-langit kamar itu bukan lagi plafon gipsum mewah dengan ukiran emas seperti di rumah Rendy. Yang ia lihat adalah jajaran kayu reng dan genteng tanah liat yang beberapa bagiannya memperlihatkan celah cahaya matahari pagi. Alana mengerang pelan. Setiap inci tubuhnya terasa seperti baru saja digilas oleh truk besar. Tulang rusuknya nyeri, kulitnya perih, dan kepalanya berdenyut seirama dengan detak jantungnya.

"Kau sudah bangun?"

Sebuah suara bariton yang tenang namun dalam mengejutkannya. Alana mencoba menoleh, namun rasa sakit di lehernya membuatnya meringis. Seorang pemuda muncul dari balik tirai kain yang berfungsi sebagai pintu. Ia membawa sebuah mangkuk kecil yang mengepulkan uap panas. Pemuda itu mengenakan kemeja flanel sederhana dengan lengan yang digulung, memperlihatkan lengan yang kokoh. Tatapannya tajam namun memiliki binar ketulusan yang sudah lama tidak Alana temui.

"Di ... di mana aku?" suara Alana keluar dalam bentuk bisikan parau. Tenggorokannya terasa seperti baru saja menelan pasir.

"Di gubukku. Dekat pinggiran hutan di hilir sungai," jawab pemuda itu singkat. Ia meletakkan mangkuk di meja kecil samping tempat tidur. "Namaku Arka. Aku menemukanmu tersangkut di akar pohon. Kau hampir saja menjadi santapan ikan jika aku terlambat semenit saja."

Alana tertegun. Ingatannya kembali berputar seperti film rusak. Wajah kejam Rendy, tawa sinis Lisa, dan sensasi jatuh ke dalam air yang membekukan. Ia menyentuh lehernya sendiri, teringat bagaimana air masuk dan merenggut kesadarannya.

"Kau sangat beruntung, atau mungkin sangat keras kepala untuk mati," lanjut Arka sambil membantu Alana duduk dengan sangat hati-hati.

Alana meringis saat punggungnya bersentuhan dengan sandaran tempat tidur. Ia melihat tangannya yang dibalut kain kasa bersih. Luka-luka memar di sekujur tubuhnya telah dibersihkan. Tiba-tiba, rasa takut menyergapnya. Ia menarik selimutnya dengan gemetar, menatap Arka dengan penuh kecurigaan.

"Jangan takut. Aku bukan bagian dari orang-orang yang mencoba melenyapkanmu," ujar Arka seolah bisa membaca pikiran Alana. Ia menyodorkan mangkuk berisi bubur hangat. "Tali di tanganmu ... itu bukan bekas bunuh diri. Seseorang ingin kau mati secara paksa."

Alana terdiam, air mata perlahan mengalir di pipinya yang masih bengkak. Kenyataan menghantamnya lebih keras daripada arus sungai. Suaminya sendiri laki-laki yang ia cintai dan layani sepenuh hati,benar-benar berniat membunuhnya. Ia dianggap sampah yang harus dibuang agar jalan cinta suaminya dengan perempuan lain menjadi mulus.

"Kenapa kau menyelamatkanku?" tanya Alana lirih di sela isak tangisnya. "Seharusnya kau biarkan saja aku pergi. Aku tidak punya apa-apa lagi. Tidak ada rumah, tidak ada keluarga, tidak ada harapan."

"Jangan seperti itu sebaiknya kamu makan dulu dan istirahat,aku mau ambil alat pancingku yang tertinggal di pinggir sungai,"

"Terimakasih,namaku Alana Adiguna,kamu siapa ?"

"Raka Wijaya ,panggil aja Arka, aku kesungai dulu,kamu jangan kemana -mana,dan istirahat,disini kamu aman."

******

Setelah mengambil alat pancing,Arka segera kembali ke gubuk .

"Bagaimana keadaanmu ?"

"Agak mendingan,seharusnya kamu tidak menolongku,dan membiarkan aku mati di sungai itu ."

Arka menarik sebuah kursi kayu dan duduk di hadapan Alana. Ia menatap perempuan itu dengan intensitas yang membuat Alana tertegun. "Alana,Tuhan memberimu kesempatan kedua bukan tanpa alasan,Jika kau mati di sungai itu, mereka menang. Orang yang berniat melenyapkanmu itu akan hidup bahagia di atas penderitaan dan darahmu.

Apa kau rela?"Suamimu Rendi?"

Alana tersentak saat Arka menyebut "Kau tahu ...?"

"Aku menemukan dompetmu yang tersangkut di lipatan gaunmu sebelum air menghanyutkannya. Ada kartu identitasmu di sana. "Alana Adiguna". Tidak sulit mencari tahu siapa kau di internet. Istri dari pengusaha properti sukses yang dikabarkan menghilang karena depresi menurut berita pagi ini," jelas Arka sambil menunjukkan layar ponselnya yang retak.

Alana melihat layar itu. Benar saja, ada foto dirinya dengan keterangan berita: #Duka Menyelimuti Keluarga Adiguna, Istri Sang Pengusaha Diduga Terjun ke Sungai Akibat Gangguan Mental.#Di bawah foto itu, ada kutipan singkat dari Rendy yang menyatakan betapa ia merasa hancur dan memohon privasi

"Hancur?"Alana tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar menyakitkan. "Dia sangat pandai bersandiwara. Dia yang mendorongku, dan sekarang dia berakting sebagai suami yang berduka."

"Itulah sebabnya kau harus tetap hidup," kata Arka tegas. "Dunia menganggapmu sudah mati. Dan itu adalah senjata terbesarmu saat ini. Orang mati tidak bisa dikejar, tapi orang mati bisa menghantui."

Setelah Alana sadar,dan keadaan membaik,Arka mengajak Alana untuk tinggal bersamanya,awalnya Alana ragu ,tapi Arka memberinya keyakinan,saat ini Nyawa Alana juga masih terancam,tidak ada tempat bersembunyi selain ikut Arka,dan Arka berjanji akan melindungi dan membantunya.

****

Selama seminggu berikutnya, Alana tinggal di rumah Arka. Ia belajar bahwa Arka bukanlah sekadar pemuda biasa,tapi seorang pengusaha sukses yang di segani.

Arka memiliki ketenangan yang luar biasa dan pengetahuan medis yang cukup untuk merawat luka-luka Alana tanpa harus membawanya ke rumah sakit yang berisiko terendus oleh anak buah Rendy.

Pagi itu, Alana mencoba berjalan ke arah jendela. Ia melihat pantulan wajahnya di sebuah cermin yang ada di tempat itu,Wajah yang dulu selalu dirias dengan kosmetik mahal kini tampak pucat dengan bekas luka yang mulai mengering. Namun, di balik mata yang dulu sayu karena kesedihan, kini mulai muncul api yang baru. Api dendam yang murni.

"Arka," panggil Alana tanpa menoleh.

"Ya?" Arka yang sedang merokok di luar,segera masuk ke dalam

"Aku butuh bantuanmu. Bukan hanya untuk sembuh, tapi untuk menghilang sepenuhnya. Aku ingin Alana yang lama benar-benar mati di sungai itu."

Arka menyandarkan kapaknya di dinding. "Apa yang kau rencanakan?"

"Rendy ingin hartaku. Dia ingin rumah orang tuaku, saham perusahaan atas namaku, dan segalanya. Selama dia mengira aku mati, dia akan mulai mengurus surat kematian untuk mencairkan segalanya," Alana berbalik, menatap Arka dengan tatapan dingin yang tak pernah ia miliki sebelumnya. "Aku ingin kau membantuku masuk kembali ke kotaku tanpa jejak. Aku harus menghentikannya, tapi bukan dengan cara memunculkan diri sekarang. Aku ingin menghancurkan mereka dari dalam kegelapan."

Arka terdiam sejenak, menimbang-nimbang risiko yang ada. "Melawan orang seperti Rendy membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Kau butuh uang, identitas baru, dan kesabaran."

"Aku punya simpanan," bisik Alana. "Ibu memberiku sebuah brankas kecil di bank swasta yang bahkan Rendy tidak tahu keberadaannya. Isinya adalah perhiasan antik dan sertifikat tanah luar kota yang belum pernah diproses. Itu modal awalku."

Arka mengangguk pelan. Ada sesuatu pada Alana yang membuatnya tidak bisa berkata tidak. Mungkin karena ia melihat pantulan dirinya sendiri pada perempuan itu seseorang yang dikhianati oleh sistem dan orang-orang yang dipercayainya.

"Baiklah. Kita akan mulai besok. Tapi kau harus tahu satu hal, Alana. Begitu kita melangkah di jalan ini, tidak ada jalan pulang. Kau tidak bisa lagi menjadi perempuan lembut yang penuh belas kasihan. Kau harus menjadi predator."

Alana mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Perempuan lembut itu sudah tenggelam di sungai, Arka. Yang tersisa hanyalah sisa-sisa kehancuran yang siap meledak."

****

Malam harinya, Alana tidak bisa tidur. Ia membayangkan wajah Rendy dan Lisa yang mungkin saat ini sedang merayakan kematiannya dengan sampanye di kamar utama mereka. Kamar yang dulu ia hias dengan penuh cinta. Ia membayangkan bagaimana Lisa memakai baju-bajunya, memakai perhiasannya, dan tidur di samping suaminya.

Setiap rasa sakit di tubuhnya ia jadikan pengingat. Luka di bibirnya adalah pengingat akan tamparan Rendy. Lebam di pinggangnya adalah pengingat akan tendangan pria itu. Dan sesak di dadanya adalah pengingat akan air sungai yang mencoba membunuhnya.

"Kalian pikir air sungai itu bisa menghapus keberadaanku?" bisik Alana pada kegelapan malam. "Kalian salah. Air itu justru membasuh semua kelemahanku."

Ia kemudian mengambil sebuah gunting tua dari kotak menjahit milik Arka. Di depan cermin, ia memegang rambut panjangnya yang selama ini selalu dipuji oleh Rendy sebagai mahkota kecantikannya. Dengan satu gerakan mantap, ia memotong rambut itu hingga pendek di atas bahu. Potongan-potongan rambut hitamnya jatuh ke lantai, seperti beban masa lalu yang ia lepaskan.

Kini, yang menatap balik dari cermin bukan lagi Alana sang istri yang terbuang. Namun seorang wanita dengan rambut pendek yang tajam, mata yang berkilat penuh rencana, dan jiwa yang sudah terbakar habis oleh pengkhianatan.

"Babak pertama baru saja dimulai, Rendy," gumamnya. "Selamat menikmati kemenangan sementaramu. Karena saat aku kembali, aku tidak akan hanya mengambil hartaku. Aku akan mengambil setiap kebahagiaan yang kau punya, sampai kau memohon agar kau yang berada di dasar sungai itu menggantikanku."

Arka, yang berdiri di balik pintu, melihat transformasi itu dengan rasa kagum sekaligus ngeri. Ia tahu, ia baru saja membangunkan macan betina yang sangat terluka. Dan dunia belum siap menghadapi apa yang akan dilakukan Alana selanjutnya.

Penderitaan Alana telah mencapai puncaknya, dan kini, gravitasi penderitaan itu berbalik arah. Ia bukan lagi korban. Ia adalah badai yang sedang mengumpulkan kekuatan di balik pegunungan, menunggu waktu yang tepat untuk menyapu bersih segala pengkhianatan yang telah menodai hidupnya.

Kesempatan kedua ini tidak akan ia sia-siakan untuk menangis. Ia akan menggunakannya untuk menari di atas puing-puing kehancuran musuh-musuhnya

1
sunaryati jarum
Emak ingin tahu hasilnya
MayAyunda: ditunggu 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah dah dig dug Rendy.Kau sebenarnya belum pandai berbisnis dan memimpin perusahaan,tapi sifat tamakmu membawamu sampai tahap ini Kamu belum menikmati harta yang kau rampas, sudah masuk penjara.
MayAyunda: He he
total 1 replies
MayAyunda
siap kak ,ditunggu kak 😍🙏
sunaryati jarum
Ayo lekas beraksi ,Elena
MayAyunda: ok siap beraksi kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Kutunggu langkah pembalasan kamu,Elena
MayAyunda
terimkasih kak
sunaryati jarum
Nah jangan nangis bangkit dan atur strategi untuk membalas mereka serta merebut kembali semua harta milikmu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!