Aku terbangun di tubuh anak perempuan yang beusia 5 tahun, merupakan anak kandung Lucas Alexandro yang mengalami hidup yang teragis sebagai anak yang tidak di inginkan. Sang ayah memilih anak angkat untuk di jadikan putri dan aku malah di bunuh dengan tangan ayah ku sendiri karena hasutan sang pembantu anak angkatnya.
Bagaimana kelanjutan cerita ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dekapan Lucas
Lucas menoleh dengan tatapan tajam dan nyalang pada Rosa, merasa wanita itu terlalu berisik membahas hal yang dianggapnya tidak penting. Namun, tatapan itu luntur seketika saat ia melihat tubuh mungil Shopia yang memberontak tidak terkendali di atas kasur.
"Jangan sentuh Shopia! Jangan sakiti Shopia! Lepaskan!" teriak Shopia histeris.
Tentu saja hal itu membuat Lucas menarik napas panjang. Dengan cepat ia mendekati ranjang dan sedikit menyingkirkan Lisa yang masih berada di samping tubuh gadis kecil itu. Perlahan ia mencoba mendekap tubuh Shopia, meski caranya masih kaku dan terasa tidak nyaman bagi Shopia.
"Tuan, bukan seperti itu cara memeluknya yang benar," celetuk Rosa lagi.
"Cih... sangat merepotkan," decak Lucas kesal.
Lucas kemudian mencoba lagi agar posisinya terlihat lebih nyaman. Kali ini Lucas bersandar pada kepala ranjang dan sedikit mendorong tubuhnya ke belakang agar kakinya juga bisa naik ke atas kasur empuk itu. Kemudian, ia menarik sedikit tubuh putrinya agar bisa bersandar dengan tenang di dada bidangnya, sementara tangannya melingkar memeluk pinggang gadis kecil itu dengan erat namun lembut.
"Apakah seperti ini sudah cukup?" ucap Lucas dengan nada yang terdengar sedikit menggerutu.
Rosa tersenyum puas karena saat ini Shopia sudah mulai tenang dan tidak memberontak lagi. "Sudah sangat cukup, Tuan," jawabnya.
Perlahan Rosa mendekat dan memasukkan jarum infus itu ke tangan mungil Shopia. Gadis kecil itu sedikit menggeliat karena merasakan sensasi menyengat di tangannya. Namun, dengan sigap Lucas menepuk-nepuk punggung Shopia layaknya seorang ayah yang benar-benar sigap menenangkan anaknya.
Rosa kembali melakukan pekerjaan dengan memasang selang infus dan juga cairannya serta menyuntikkan beberapa obat kedalam wadah yang berisi cairan infus tersebut.
"Nah sekarang sudah selesai," ujar Rosa memasukkan kembali perlengkapan medis kedalam kotak yang dia bawa sebelumnya.
Lucas menarik nafas lega sebab akhirnya bebas dari perasaan menyesakkan ini. Baru saja dia ingin menurunkan kakinya dan meletakkan kembali Shopia di atas kasur, malah Shopia tidak ingin melepaskan tangan Lucas yang terasa hangat baginya.
Lucas menoleh pada Lisa seolah mengatakan apa yang harus di lakukan sekarang. Dengan sigap Lisa mengerti yang diinginkan oleh tuannya itu. Lisa perlahan membantu Lucas untuk melepaskan tangan nya dari genggaman tangan Shopia. Lisa juga tidak berani terlalu kasar sebab Shopia baru saja tertidur karena lelah menangis.
Lisa terdiam ketika Lucas menoleh dengan mata tajamnya, wanita itu mengelengkan kepalanya, "Tuan, seperti nya sulit di lepaskan,"
Lucas murka mendengar jawaban yang tidak dia inginkan itu. Seketika itu tangan Lucas yang cukup besar melayang kearah Shopia, dengan tujuan membangunkan gadis kecil itu dengan kasar.
Namun, tangannya tertahan oleh suara sumbang yang sedari tadi mengomelinya, "Jangan! Jangan Tuan ganggu Nona, Nona sudah mengalami hari yang buruk selama ini biarkan Nona beristirahat sejenak," tegur Rosa.
"Tapi, Dia?..."
"Saya permisi dulu Tuan, bye... Ayah tidak becus," bisik Rosa dengan pelan kemudian meninggalkan tempat itu.
Lucas berdecak kesal dan kini hanya bisa pasrah mengikuti perintah dari seorang dokter. Dia memang orang yang sangat berkuasa, namun di tangan dokter itu Lucas tidak bisa berkutik sebab Rosa adalah sahabat yang selalu membantu setiap kali ada insiden pada dirinya dan para bawahannya.
"Tuan, saya permisi dulu untuk mengambil air hangat. Saya harus mengompres Nona," pamit Lisa sembari membungkukkan tubuhnya sedikit di samping Lucas.
Sepeninggalnya Lisa hanya ada ayah dan anak itu, suasana menjadi hening dan canggung. Terlihat Shopia masih tertidur lelap dengan pipi yang berbantalkan tangan Lucas sedangkan pria itu masih menatap Shopia dengan wajah datarnya.
Lucas tidak bergerak sedikit pun, Lucas takut kalau dia bergerak maka gadis kecil itu akan terbangun dari tidurnya. Seolah kini dia tidak menyadari bahwa dirinya adalah Lucas sang CEO yang di anggap orang-orang monster berdarah dingin dan berbahaya.
Mata Lucas kemudian menelusuri wajah Shopia yang ternyata mirip sekali dengan mendiang istrinya, dari mulai hidungnya, bibirnya dan bulu mata nya yang lentik. Semua itu mengingatkannya pada istrinya.
Dia ingat betul ketika wanita itu hamil Shopia, dia duduk di tempat biasa sembari memandangi indah bunga bermekaran yang selalu dia rawat, "Aku berharap putri kita akan sama seperti kamu, dan berlarian di taman bunga itu,"
Namun Lucas menepis perkataan istrinya sebab Rosa mengatakan tubuh istrinya sangat lemah, dan kandungan di dalamnya juga bermasalah. Jika janin itu terus di pertahankan maka Lucas harus merelakan salah satunya di saat persalinan nanti. Dan istrinya pun menolak untuk menghilangkan janin itu dan memilih untuk melahirkannya ke dunia.
"Anak itu akan membunuh mu, Helena!" geram Lucas yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Belakangan ini dia sibuk dengan pekerjaan meskipun masih mengawasi istrinya yang tidak di perdulikan selama ini setelah mendengar penjelasan dari dokter pribadi mereka. Lucas ingin menunjukkan pada istrinya bahwa dia sangat membenci anak itu, meskipun anak sebelumnya dia juga benci. Namun, yang satu ini dia sangat tidak menginginkannya.
Helena hanya bisa menunduk lesu, tak menyangka kata jahat itu keluar dari mulut suaminya padahal selama ini suaminya itu sangat menyayanginya. Begitulah, saat terakhir Lucas melihat wajah istrinya yang selalu di cintai dengan brutal.
"Tuan, Anda kenapa?" tanya Lisa memandangi wajah Lucas.
Mendengar suara Lisa sontak saja membuat Lucas terlepas dari lamunannya. "Aku... Tidak ada," sahut Lucas.
Lucas kemudian menoleh pada tangannya yang kini sudah terlepas dari genggaman Shopia. Karena, saat ini mungkin gadis kecil itu sudah makin terlelap dan lebih dalam masuk kedalam mimpi. Lucas dengan cepat menarik tangan, tak ingin terus di kendalikan oleh perasaan nya.
"Segera urus dia, aku tidak ingin direpotkan," titah Lucas pada Lisa yang masih berdiri di samping nya dengan satu baskom air hangat serta handuk kecil untuk di letakkan ke kening Shopia.
"Baik Tuan," jawabnya sembari membungkukkan badan.
Lucas melewati Lisa degan cepat kemudian melangkahkan kakinya dengan lebar, berharap tubuh kecil itu tidak merubah perasaan tak perduli yang selama ini dia bangun.
Lisa masih sedikit mengintip kearah luar, 'Ternyata Tuan masih ada perasaan pada Nona,' gumamnya dalam hati, meskipun kaku dan tidak tersenyum tetapi di dalam hati Lisa merasa bahagia dengan sikap tuannya itu.
Selepas melihat kepergian tuannya, Lisa mulai melakukan pekerjaannya dengan mengompres kening Shopia. Dia mulai memasukkan handuk itu kedalam baskom, kemudian memerasnya hingga tetesan air tidak keluar lagi di handuk yang dia gunakan.
Kemudian dengan perlahan meletakkan handuk itu di kening sang Nona, sembari menepuk punggung nya sedikit agar tidak terbangun dari tidurnya, "Cepat sehat ya, Nona, semoga Anda bisa tinggal disini seterusnya,"