NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 8

Ruang sidang itu senyap, hanya deru pendingin ruangan yang terdengar konsisten. Sang Anggota Dewan, yang kini tampak ringkih tanpa setelan jas mahalnya, duduk di kursi pesakitan dengan tangan terborgol di bawah meja. Di seberangnya, di bangku penonton paling depan, Aryo duduk tegak. Ia tidak lagi memakai jaket kulit penuh goresan, melainkan kemeja hitam bersih yang pas di tubuhnya.

Di sampingnya, Sinta menggenggam tangan Aryo di bawah kursi. Sebuah dukungan bisu yang jauh lebih kuat daripada teriakan massa di luar gedung pengadilan.

"Berdasarkan bukti digital yang dipulihkan dari peladen Grup Hitam serta dokumen fisik asli milik keluarga Baskoro," suara Hakim mengetuk palu keadilannya, "maka terdakwa dinyatakan bersalah atas tindak pidana korupsi, pencurian identitas, dan percobaan pembunuhan."

Saat vonis dibacakan, Sang Anggota Dewan menoleh ke arah Aryo dengan tatapan benci yang murni. Namun, Aryo tidak membalasnya dengan amarah. Ia hanya mengangkat flashdisk merah yang dulu ia ambil dari brankas, lalu memasukkannya kembali ke saku.

"Kejahatanmu tidak berakhir di penjara," bisik Aryo saat mereka berpapasan di lorong pengadilan yang dijaga ketat. "Seluruh asetmu sudah dialihkan untuk membangun kembali panti asuhan yang kau ratakan dulu. Anak-anak di sana tidak akan lagi tumbuh menjadi alat politikmu."

Keluar dari gedung pengadilan, cahaya matahari sore menyambut mereka. Ratusan motor dari The Great Mawar berjejer rapi di sepanjang jalan, knalpot mereka menderu rendah sebagai bentuk penghormatan. Warga desa juga ada di sana, membawa spanduk ucapan terima kasih yang dibuat dengan tangan.

Aan menghampiri dengan tabletnya yang masih menyala. "Yo, dana pembangunan panti sudah cair. Arsitek bilang kita bisa mulai peletakan batu pertama minggu depan."

Dio muncul dari balik motor besar Aryo, melemparkan kunci motor itu ke arah pemiliknya. "Dan bengkel di desa sudah siap buka. Nama papannya sudah kupasang: Mawar Mekanik."

Aryo tersenyum, kali ini senyumnya sampai ke mata. Ia menatap Sinta yang sedang tertawa bersama ayahnya di antara kerumunan warga. Kehidupan yang dulu ia pikir hanya bisa dicapai melalui kecepatan dan kekerasan, kini terasa begitu tenang di bawah kaki langit desa yang sama.

"Ayo pulang," ujar Sinta sambil menepuk jok belakang motor Aryo.

Aryo memakai helmnya, menyalakan mesin yang suaranya kini terdengar seperti melodi kemenangan, dan memacu motornya menuju jalanan desa yang kini bukan lagi jalur perang, melainkan jalan pulang yang paling indah.

Tiga tahun kemudian.

Suara denting kunci pas yang beradu dengan blok mesin menjadi musik harian di bengkel "Mawar Mekanik". Bengkel itu bukan lagi sekadar tempat servis motor rongsok, melainkan pusat pelatihan mekanik bagi anak-anak muda panti asuhan yang baru dibangun kembali di perbatasan desa.

Aryo menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang masih belepotan oli. Di sudut bengkel, sebuah layar monitor besar menampilkan grafik keamanan wilayah yang dikelola oleh Aan.

"Yo, ada pergerakan aneh di koordinat lama, jalur sungai," suara Aan terdengar melalui speaker gantung.

Aryo tidak langsung melompat ke motornya. Ia hanya melirik layar sebentar, lalu kembali mengencangkan baut mesin di depannya. "Biarkan unit patroli baru yang urus. Kita bukan lagi satu-satunya penjaga di sini."

Sinta muncul dari pintu belakang yang menghubungkan bengkel dengan kedai nasi liwet ayahnya yang kini sudah direnovasi menjadi lebih modern. Ia membawa dua gelas es teh manis dan sepiring pisang goreng hangat.

"Masih urusan 'Grup Hitam' sisa-sisa dulu?" tanya Sinta sambil meletakkan gelas di meja kerja Aryo.

"Bukan. Hanya anak-anak muda kota yang tersesat mencari jalur balap liar," jawab Aryo tenang. "Tapi mereka akan segera tahu kalau desa ini punya aturan main sendiri."

Tiba-tiba, sebuah motor sport merah berhenti tepat di depan gerbang bengkel. Pengendaranya membuka helm, menampakkan wajah seorang pemuda yang tampak sangat familiar bagi Aryo. Pemuda itu memiliki bekas luka kecil di alisnya, persis seperti bekas luka yang didapat Aryo saat pertama kali masuk panti asuhan dulu.

"Aku mencari pria bernama Baskoro," ujar pemuda itu dengan nada menantang namun penuh rasa hormat. "Katanya, dia adalah orang yang mengubah rantai besi menjadi alat perlindungan, bukan senjata."

Aryo berdiri, menatap pemuda itu dalam-dalam. Ia melihat dirinya yang dulu—marah, bingung, dan mencari tempat untuk pulang.

"Baskoro sudah lama pensiun," sahut Aryo sambil melemparkan sebuah kunci pas ke arah pemuda itu, yang ditangkap dengan sigap. "Tapi kalau kau mau belajar cara merawat mesin agar tidak rusak di tengah jalan hidup yang keras, ambil posisi di samping Dio. Kita punya banyak pekerjaan hari ini."

Sinta tersenyum, menyadari bahwa warisan Aryo bukan lagi tentang ketakutan atau dominasi jalanan, melainkan tentang memberikan kesempatan bagi mereka yang selama ini dianggap "sampah" oleh dunia.

Malam pun jatuh di desa. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, menerangi jalanan aspal yang kini halus. Tidak ada lagi deru mesin yang memekakkan telinga sebagai tanda perang. Yang ada hanyalah suara tawa dari kedai Sinta dan denting alat-alat kerja dari bengkel Aryo.

Di atas bukit yang menghadap ke desa, sebuah plakat kayu tua yang dulu menjadi simbol The Great Mawar masih berdiri tegak, namun kini di bawahnya tertulis sebuah kalimat baru:

> "Mawar tidak lagi berduri untuk melukai, tapi untuk melindungi akar yang memberinya hidup."

>

Aryo dan Sinta berdiri di ambang pintu bengkel, menatap bintang-bintang yang mulai bermunculan. Perjalanan panjang dari seorang "brandalan" menjadi "pelindung" telah usai, namun babak baru sebagai "pembangun" baru saja dimulai.

Dan kali ini, mereka tidak perlu berlari lagi. Mereka sudah sampai di rumah.

Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah helikopter hitam tanpa logo melintas rendah di atas desa, memecah kesunyian malam yang seharusnya damai. Angin dari baling-balingnya menggoyang papan nama "Mawar Mekanik" hingga berderit keras.

Aryo dan Sinta saling berpandangan. Insting mereka, yang telah terasah oleh bertahun-tahun konflik, berteriak bahwa ini bukan sekadar tamu nyasar.

Sang Utusan dari Pusat

Helikopter itu mendarat di lapangan bola desa. Tak lama kemudian, seorang wanita dengan setelan jas abu-abu metalik berjalan mendekati bengkel. Langkah kakinya yang menggunakan high heels terdengar tajam di atas aspal. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap dengan earpiece mengikuti dengan sigap.

"Aryo Baskoro," suara wanita itu dingin, formal, dan penuh otoritas. "Saya dari Konsorsium Nusantara. Kami tidak peduli dengan urusan tanah atau dendam pribadimu dengan politikus kecil itu."

Wanita itu melemparkan sebuah tablet ke atas meja kerja Aryo yang masih penuh oli. Di layarnya, terlihat pemetaan satelit yang menunjukkan titik-titik merah di seluruh pegunungan yang mengelilingi desa mereka.

"Grup Hitam yang kau hancurkan hanyalah pion kecil yang mencoba mencuri apa yang ada di bawah tanah desa ini," lanjutnya. "Ada kandungan mineral langka yang nilainya bisa membiayai sepuluh kota seperti ini. Kami punya mandat nasional untuk mengekstraksinya."

Pilihan Mustahil

Sinta melangkah maju, wajahnya merah padam. "Mandat nasional? Ini tanah kami! Kalian baru saja melihat bagaimana kami mempertahankan desa ini dari preman. Jangan pikir kalian bisa datang dengan helikopter dan kertas resmi lalu mengusir kami!"

Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih mengerikan daripada ancaman Baron. "Nona Sinta, kami bukan preman. Kami adalah sistem. Jika Anda menolak, desa ini akan dihapus dari peta secara administratif. Listrik akan diputus, akses jalan akan ditutup, dan kalian akan dianggap sebagai pemberontak."

Ia menatap Aryo. "Pilihannya sederhana, Baskoro. Kerja sama dengan kami sebagai kepala pengamanan proyek ini, atau lihat desa yang kau cintai ini mati perlahan tanpa perlu kami melepaskan satu peluru pun."

Reaksi The Great Mawar

Aan yang memantau dari dalam bengkel segera mengirim sinyal darurat. Dalam hitungan menit, raungan mesin motor mulai terdengar dari segala penjuru. Dio dan unit elit lainnya mengepung area bengkel, namun kali ini lawan mereka bukan orang dengan pisau, melainkan orang-orang yang memiliki hukum di saku mereka.

Aryo mengambil tablet itu, melihat data-data yang ada, lalu menatap wanita itu tepat di matanya. Ia tidak menunjukkan ketakutan, hanya sebuah ketenangan yang mematikan.

"Kalian punya teknologi, kalian punya hukum," kata Aryo pelan. "Tapi kalian tidak punya satu hal yang kami miliki di sini."

"Oh ya? Apa itu?" tanya wanita itu meremehkan.

"Akar," jawab Aryo singkat.

Aryo memutar tablet itu kembali ke arah si wanita. Tanpa ia sadari, saat ia memegang tablet tersebut, Aan telah menyuntikkan virus pelacak balik ke dalam sistem Konsorsium. Di layar tablet, kini muncul data pribadi sang wanita, termasuk aliran dana ilegal yang digunakan Konsorsium untuk menyuap pejabat agar desa ini ditetapkan sebagai zona tambang.

"Sampaikan pada atasanmu," bisik Aryo. "Kami sudah tidak lagi bertarung di jalanan. Kami bertarung di dalam sistem kalian sekarang."

Perang Dingin Dimulai

Wanita itu terperangah melihat datanya bocor dalam hitungan detik. Ia mundur selangkah, memberi isyarat kepada pengawalnya untuk bersiap. Namun, ia melihat ratusan warga desa keluar dari rumah mereka, masing-masing memegang ponsel, melakukan siaran langsung (live streaming) ke seluruh platform media sosial.

Dunia sedang menonton desa ini secara real-time.

"Pergilah sebelum namamu menjadi trending topic sebagai pengkhianat negara," ujar Sinta tegas.

Helikopter itu lepas landas dengan terburu-buru, meninggalkan debu yang menyelimuti bengkel. Aryo menatap ke langit, menyadari bahwa musuh kali ini tidak bisa dipukul dengan kepalan tangan. Ini adalah awal dari perang informasi dan kedaulatan.

"Aan," panggil Aryo tanpa menoleh.

"Ya, Bos?"

"Aktifkan protokol 'Mawar Hitam'. Hubungi semua jaringan kita di kota. Jika mereka ingin bermain dengan hukum, kita akan tunjukkan bagaimana hukum rakyat bekerja."

Aryo kemudian menggandeng tangan Sinta. Kedamaian yang mereka impikan ternyata hanyalah jeda singkat sebelum badai yang lebih besar.

Konflik bergeser dari fisik ke politik dan teknologi tingkat tinggi!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!