Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.
Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.
Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.
Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.
Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.
Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berharap
Nazwa menarik napas panjang.
“Oke. Bisa. Ini cuma rak. Bukan tebing Himalaya.”
Ia menaruh tasnya di lantai, menyingsingkan lengan sedikit lebih tinggi—seolah itu akan menambah dua sentimeter tinggi badan. Lalu kembali berjinjit.
Ujung jarinya menyentuh punggung buku yang ia incar.
"Yakk sedikit lagi..."
Buku itu bergeser.
Dan dalam sepersekian detik yang terasa seperti slow motion dramatis khas sinetron sore hari, satu buku miring.
Lalu dua. Lalu tiga.
“Eh—eh—eh—”
Bruk.
Buku pertama jatuh, disusul dua lainnya yang seperti ikut-ikutan demo solidaritas. Tumpukan tipis itu meluncur dari rak atas dan mendarat di wajahnya. Lalu meluncur ke lantai keramik dengan suara yang menurut Nazwa, terdengar seperti ledakan bom literasi.
Seluruh tubuhnya membeku.
Suara halaman yang dibalik berhenti.
Seseorang terbatuk kecil.
Nazwa menangkupkan tangan ke wajahnya. Untuk meredakan sakit, dan mungkin... berusaha bersembunyi dari sorot mata tajam yang pasti menatapnya.
Tiga pengunjung di meja dekat lorong itu menoleh ke arahnya. Seorang bapak berkacamata, dua mahasiswa dengan headphone tergantung di leher.
Dia mengintip dari balik sela jari. Pupilnya membesar. Bergerak ke kanan dan ke kiri.
Beberapa pengunjung sebenarnya hanya terkejut saja. Bukan sedang membentuk rapat darurat untuk membahas insiden “Gadis Perusak Rak”.
Tapi otak Nazwa sudah berlari terlalu jauh.
"Ya Tuhan. Mereka pasti mikir aku gak pernah ke perpustakaan. Pasti dikira barbar buku. Besok namaku masuk papan pengumuman: 'DILARANG BERJINJIT TANPA PENGAWASAN'.”
Paniknya naik dua tingkat.
Ia buru-buru jongkok, mengumpulkan buku-buku itu dengan gerakan kikuk. Satu buku hampir lepas lagi dari tangannya.
“Maaf… maaf…” bisiknya pelan, padahal tidak ada yang benar-benar menegurnya.
Seorang mahasiswa kembali memakai headphone. Bapak berkacamata sudah kembali membaca koran. Semuanya kembali normal.
Kecuali detak jantung Nazwa.
Ia merapikan tumpukan itu, meniup pelan debu tipis yang sebenarnya tidak ada. Tangannya sedikit gemetar—bukan karena takut, tapi karena malu pada dirinya sendiri.
“Kenapa sih aku gak bisa cool dikit?” gerutunya pada lantai.
Ia berdiri pelan. Rak itu masih menjulang tenang, seolah tidak merasa bersalah sama sekali. Buku yang ia butuhkan memang sudah aman di tangannya. Tapi lima buku tebal yang tadi jadi korban efek domino masih tergeletak di lantai, seperti saksi bisu kebodohannya sendiri.
Ia menatapnya.
Lalu menatap rak tinggi itu lagi. Lalu kembali menatap buku-buku di lantai.
Paniknya yang tadi sudah mau turun, sekarang naik dua kali lipat.
“Oke. Oke. Tenang.”
Ia menarik napas dalam-dalam. Satu. Dua. Hembus. Detak jantungnya masih belum kooperatif.
Nazwa jongkok lagi, mengumpulkan lima buku tebal itu ke dalam pelukannya. Beratnya langsung terasa di lengan. Ia berdiri perlahan, nyaris oleng.
Pandangan mendongak ke rak paling atas.
“Gimana nih?” gumamnya pelan. “Aku aja gak nyampe. Mana harus ngembaliin semuanya lagi?”
Ia berjinjit sedikit, mencoba mengira-ngira jarak. Jelas tidak masuk akal. Bahkan kalau ia tambah satu tingkat keberanian pun tetap tidak akan sampai.
Dan di saat paling tidak tepat, sebuah suara muncul di kepalanya.
Kenapa gak diletakkan aja di meja pengembalian? Atau taruh sembarang dulu, nanti petugas yang rapikan.
Suara itu. Suara si kurir kikuk itu. Disertai tawa licik penuh gema yang sebenarnya tak pernah dilakukan.
Nada santainya. Cara dia bicara seolah semua hal bisa disederhanakan.
Nazwa terdiam.
Iya juga sih… Toh ini bukan rak pribadinya. Ada pustakawan. Ada jobdesk.
Tangannya sedikit bergerak, hampir saja menerima opsi itu.
Namun, sisi lain dalam dirinya langsung bangkit.
Perfeksionis Nazwa membuka mata.
“Tidak.”
Ia menggeleng pelan pada pikirannya sendiri.
“Kalau tadi jatuhnya karena aku, ya aku yang harus balikin ke tempatnya.”
Bayangan Bu Lina dengan tatapan tajamnya melintas cepat. Bayangan papan aturan perpustakaan. Bayangan dirinya sendiri yang selalu kesal kalau melihat buku tidak pada tempatnya.
“Lagipula…” gumamnya pelan, menggeser buku di pelukannya agar tidak jatuh lagi, “kalau aku asal taruh, nanti orang lain yang susah.”
Ia mendesah.
Ini bukan cuma soal rak. Ini soal harga diri. Masalahnya… harga dirinya tingginya cuma seratus lima puluh sekian sentimeter.
Nazwa mendongak lagi.
Rak atas itu tetap tidak tersentuh.
Ia menimbang-nimbang. Menggigit bibir bawahnya pelan. Menoleh ke kanan. Ke kiri. Beberapa pengunjung sudah kembali sibuk. Tidak ada yang benar-benar memperhatikannya.
Tapi tetap saja.
Meminta bantuan?
Big No!
Ia mencoba sekali lagi. Mengangkat satu buku, berjinjit setinggi mungkin, hampir memeluk rak seperti sedang mencoba memanjat tebing akademis.
Ujung buku menyentuh sisi rak. Hampir masuk.
Nazwa menahan napas.
“Please! Jangan jatuh lagi. Ku mohon!”
Buku itu berhenti miring, setengah masuk, setengah menggantung.
Dia berjalan mundur perlahan. Dengan tangan terayun seperti tukang parkir yang mencoba untuk memandu kendaraan agar terparkir rapi.
"Oke. Satu sudah selesai."
Mata dibalik kacamatanya melirik ke buku yang ia taruh sembarang pada rak yang bukan pada tempatnya. Masih menunggu untuk dikembalikan.
"Ngembaliin buku keknya gak se-effort inii deh."
Dia merengek dalam diam. Meratapi nasibnya yang sebenarnya tak terlalu sulit. Tapi baginya, dia ingin sesegera mungkin hilang dari dunia ini saja.
“Perlu bantuan?”
Suaranya hangat berbicara dibelakangnya.Tenang. Tidak terdengar mengejek. Tidak terdengar terganggu.
Nazwa langsung membeku.
Matanya membulat. Sudut matanya bergerak memandang bayangan seseorang yang berdiri di belakangnya. Tetapi masih terlalu takut untuk menoleh.
Itu dia?
Refleks, harapan kecil itu menyala tanpa izin. Ada perasaan ringan yang tiba-tiba naik ke dada, seperti balon yang baru ditiup.
Ia menormalkan ekspresi wajahnya sebiasa mungkin. Lalu menoleh cepat.
Dan—
Bukan.
Bukan lelaki dengan ekspresi kikuk dan tatapan canggung yang tersimpan di memorinya.
Yang berdiri disana adalah seorang pemuda lain. Kemejanya rapi. Senyumnya hangat dan sopan. Cukup sempurna.
"Ganteng sih. Tapi kok perasaanku kek biasa aja ya?" batinnya menyelidik.
Pemuda itu mengangkat alisnya.
"Kenapa, Kak? Ada yang salah?" ucapnya.
Mata pemuda itu melirik ke buku yang diletakkan asal. Sebagai bukti bahwa ada seseorang yang sedang berjuang, namun terlalu malu untuk meminta tolong.
“Oh—eh—iya… maksudnya, enggak—eh… iya sih,” jawabnya, kalimatnya berantakan seperti tumpukan buku tadi.
Ia merasakan kekecewaan kecil yang tidak bisa ia cegah. Halus. Tipis. Tapi nyata.
Oh. Bukan dia.
Dan ia langsung kesal pada dirinya sendiri.
Kenapa aku berharap?
“Rak atas ya? Tingginya emang gak manusiawi sih. Nanti aku protes sama tukang kayunya deh, biar gak bikin rak tinggi banget," celetuknya menenangkan.
Nazwa terkekeh kecil, lebih karena tersindir daripada lucu.
“Iya. Tadi jatuh… dan sekarang harus balikin.”
“Boleh saya?” tanyanya santai, sudah mengulurkan tangan.
Nazwa ragu sepersekian detik, lalu menyerahkan satu buku.
Pemuda itu dengan mudah menjangkau rak tertinggi tanpa perlu berjinjit dramatis seperti dirinya. Buku pertama kembali ke tempatnya. Lalu kedua. Ketiga. Gerakannya ringan, efisien, hampir seperti adegan slow motion versi iklan kampus.
Harusnya ini momen. Harusnya ada kupu-kupu atau belalang yang terbang diantara rak buku. Atau kunang-kunang mungkin biar suasana semakin romantis.
Tapi tidak ada apa-apa.
Ia hanya berdiri di sana, memperhatikan dengan sopan.
“Sudah,” ujar pemuda itu setelah buku terakhir tersusun rapi. Ia menepuk tangan pelan seolah baru menyelesaikan misi kecil.
“Makasih ya, Mas.” Kata Nazwa tulus. “Tadi hampir jatuh lagi.”
“Untung gak,” ia tersenyum. “Kalau jatuh lagi, mungkin satu rak ikut tumbang.”
Nazwa tertawa kecil. Kali ini lebih natural.
Pemuda itu benar-benar menarik. Wajahnya bersih, garis rahangnya tegas, sorot matanya lembut. Bahkan aromanya samar—seperti sabun citrus yang segar.
Tapi tetap saja. Tidak ada percikan. Tidak ada rasa aneh yang membuat pipinya panas. Tidak ada suara dalam kepala yang tiba-tiba berisik.
Berbeda sekali dengan seseorang yang bahkan namanya saja belum ia tahu.
“Lain kali hati-hati ya,” ujar pemuda itu sebelum melangkah pergi, masih dengan senyum hangatnya.
“Iya. Makasih,” balas Nazwa.
Ia memperhatikan punggungnya menjauh di antara rak. Adegan itu jelas sama dengan pertemuannya dengan kurir misterius. Kelemahan dari tinggi badannya yang tak sampai untuk meraih buku di rak tertinggi, dan bantuan datang pada saat-saat genting, sama persis dengan tempor hari.
Tapi entah mengapa, tak berkesan dihatinya. Tak seperti dengan dirinya.
“Aneh,” gumamnya pada dirinya sendiri.
Ia akhirnya mengakui satu hal kecil yang mulai sulit dibantah—
Sepertinya, yang membuat jantungnya berisik bukan soal penampilan. Tapi soal siapa yang berdiri di balik rak itu tempo hari.