Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Sampaikan ucapan terima kasihku sama Pak Radit. Terima kasih banyak," ucap Aqilla, seraya membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, sebagai ucapan terima kasih.
"Baik, nanti saya sampaikan sama beliau," jawab Dion dengan senyum kecil.
"Ibu, ini makanan punya siapa?" Suara Kaila seketika mengejutkan mereka berdua, baik Aqilla maupun Dion sontak menoleh dan memandang wajah anak itu.
"Kamu udah bangun, Sayang?" tanya Aqilla, melangkah mendekati putrinya, yang tengah berdiri tepat di depan meja.
Kaila mengeluarkan makanan yang berada di dalam kresek putih, menatanya rapi di atas meja. "Eu ... semua makanan ini punya siapa, Bu? Kayaknya enak. Boleh aku makan?"
"Tentu saja boleh, semua makanan ini buat kamu," jawab Dion dengan ramah.
Kaila terdiam, memandang pria itu dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan wajah datar, kelopak matanya nampak berkedip pelan, wajahnya yang tanpa ekspresi sedikit pun terlihat polos, lucu dan menggemaskan ditambah rambut panjangnya yang sedikit berantakan.
"Om siapa?" tanyanya dengan polos.
Dion tersenyum lebar, melangkah mendekat lalu mengulurkan telapak tangan, memperkenalkan diri. "Perkenalkan, Om temannya Ibu kamu, panggil aja Om Dion," ucapnya.
Kaila seketika tersenyum lebar lalu menerima uluran tangan Dion seraya menyebutkan namanya sendiri. "Aku Kaila, Om. Makanan ini pasti dari Om Dion, 'kan?"
"Dih, kalau sama Pak Dion aja senyumnya lebar banget. Kemarin sama Pak Radit, juteknya minta ampun. Kaila-Kaila," decak Aqilla dalam hatinya, seraya memandang lekat wajah sang putri.
"Semua makanan ini Om beliin buat kamu, Kaila," jawab Dion, masih dengan senyuman yang sama. "Tapi, sebelum kamu makan semua makanan ini, cuci muka dan minum air putih dulu, ya. Kamu 'kan baru bangun tidur."
"Siap, Om Dion. Terima kasih makanannya," jawab Kaila, kedua sisi bibirnya semakin mengembang sempurna, tersenyum dengan begitu lebarnya.
Aqilla merangkul pundaknya Kaila dengan lembut. "Cuci muka dulu yu. Mumpung adikmu masih tidur."
Kaila menganggukkan kepala, seraya mengalihkan pandangan matanya kepada sang ibu.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu, Mbak Aqilla," pamit Radit, hendak melangkah, tapi kedua kakinya seketika terhenti dan kembali memandang wajah Aqilla, seraya merogoh saku celana yang ia kenakan, meraih sesuatu dari dalam sana. "O iya, saya hampir saja lupa. Pak Radit menitipkan ponsel ini buat Anda, Mbak. Kata beliau, kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi beliau. Nomornya ada di sini."
Dion menyerahkan ponsel canggih keluaran brand ternama pemberian atasannya untuk Aqilla. Ponsel tersebut bahkan sudah siap untuk digunakan. Namun, Aqilla sama sekalian bergeming dengan perasaan bingung, ia sudah menerima terlalu banyak dari pria bernama Raditya, uang yang diberikan oleh pria itu bahkan belum ia gunakan sepeserpun.
"Eu ... tak usah, Pak Dion. Saya bisa beli hp pake uang yang tadi Anda berikan. Rasanya gak enak terus-terusan merepotkan Pak Radit," jawabnya seraya menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal.
Akan tetapi, Kaila tiba-tiba meraih ponsel canggih tersebut seraya tersenyum lebar. "Sini, hpnya buat aku aja kalau gitu. Tidak baik lho Bu menolak rejeki. Ibu 'kan pernah bilang, rejeki itu datangnya dari Tuhan. Jadi, jangan pernah menolak rejeki pemberian Tuhan. Gimana sih!"
"Astaga, Kaila," decak Aqilla, merasa malu sendiri. "Ibu gak enak nerima hp itu, Kai. Berikan lagi sama Om Dion. Nanti kita beli pake uang Ibu aja, ya."
"Emangnya Ibu punya uang?"
Aqilla tersenyum cengengesan seraya menggaruk kepalanya sendiri. "I-Ibu punya uang ko."
"Uang dari mana? Ibu 'kan nggak kerja," celetuk Kaila lalu mengalihkan pandangan mata kepada Dion. "Terima kasih hpnya, Om Dion. Aku seneng banget karena aku bisa main game pake hp ini. Pokoknya, terima kasih buanyaaaaak. Semoga rejeki Om Dion semakin dimurahkan sama Tuhan Yang Maha Esa."
Dion tersenyum lebar, tingkat Kaila benar-benar lucu dan menggemaskan. "Berterima kasihlah sama Om Radit, Kaila, karena hp itu beliau yang beliin."
Kaila seketika merubah raut wajahnya seraya menarik napas dalam-dalam. "Ya udah, bilangin sama Om Dion aja," ujarnya singkat, lalu menatap ponsel canggih di telapak tangannya dengan perasaan gembira.
***
Tiga hari kemudian, Keano dinyatakan sembuh. Anak berusia lima tahun itu sudah diperbolehkan pulang hari ini, meskipun harus banyak beristirahat dan tidak melakukan aktivitas fisik yang berlebihan. Aqilla benar-benar lega, tapi hatinya seketika dilanda gelisah karena tidak tahu harus pulang ke mana. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal dan ia tidak memiliki tempat tujuan.
"Ya Tuhan, ke mana aku harus pergi? Masa iya aku pulang ke rumahnya Pak Radit? Beliau juga belum ke sini lagi," batinnya, seraya duduk di tepi ranjang, memandang wajah Kaila dan Keano secara bergantian.
"Ko Ibu diem aja? Ibu kenapa?" tanya Kaila, memandang wajah sang ibu dengan tatapan polosnya.
"Nggak ko, Sayang. Ibu gak apa-apa," jawab Aqilla, mengusap kepala sang putri dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Kita mau pulang ke mana, Bu? Apa kita akan pulang ke rumah Ayah?" tanya Keano, kedua matanya nampak sayu menatap wajah sang ibu.
Aqilla terdiam sejenak seraya menarik napas dalam-dalam, kembali mengingat uang pemberian Radit yang belum sempat ia gunakan. "Apa aku cari kontrakan aja, ya? Kebetulan aku masih punya uang pemberian Pak Radit. Tak masalah ngontrak di kontrakan biasa, yang penting ada tempat berteduh buat anak-anak," batinnya seraya mengangguk-anggukkan kepala.
Pintu kamar tiba-tiba dibuka dari luar, Aqilla dan kedua buah hatinya sontak menoleh dan menatap ke arah pintu di mana Radit dan asisten pribadinya melangkah memasuki kamar dengan wajah ramah.
"Pak Radit," gumam Aqilla, sontak berdiri tegak, sementara Kaila dan Keano hanya bergeming, duduk di atas ranjang.
Radit tersenyum lebar seraya melangkah mendekat. "Saya dengar dari Dokter, katanya Keano sudah boleh pulang, ya?" tanyanya, memandang wajah Keano dengan lekat.
Aqilla tiba-tiba saja merasa gugup dan canggung. "I-iya, Pak. Alhamdulillah, Keano sudah boleh pulang. Rencananya, aku akan cari kontrakan buat tempat tinggal baru kami."
Radit menghentikan langkah tepat di depan Aqilla, hal yang sama pun dilakukan oleh Dion, berdiri tepat dibelakang majikannya.
"Ko ngontrak sih? Mulai sekarang, kalian akan tinggal di rumah saya, Aqilla," ujarnya, lalu mengalihkan pandangan mata kepada Kaila dan Keano. "Kaila, Keano, kalian mau 'kan tinggal di rumah Om Radit? Rumah Om guedeee banget, ada kolam renangnya lho. Rumah itu akan menjadi rumah kalian juga."
"Kenapa kita gak pulang ke rumah Ayah aja, Bu? Ayah pasti khawatir banget karena kita nggak pulang-pulang. Aku kangen sama Ayah," rengek Keano, seketika menundukkan kepala dengan wajah sedih.
Bersambung ....