"Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk mencintai ku, dan jika pun cinta segitiga ini tetap harus berlanjut maka aku akan pastikan bahwa aku akan menjadi pemenang nya. apapun yang terjadi nantinya." ucap Daisy yang sudah putus asa karena tidak bisa melepaskan diri dari cinta yang terus membelenggu nya.
Dengan luka dan tetes air mata gadis cantik itu melanjutkan langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Daisy bahkan tidak sadar dengan penampilan nya saat ini yang terlihat begitu seksi, dia sibuk mencuci mobil nya itu dengan telaten hingga saat seseorang menghampiri nya dan meraih selang air yang kini Daisy pergunakan untuk membersihkan body mobil nya dari busa pembersih mobil tersebut.
"Tuan," lirih Daisy saat sadar bahwa seseorang disamping nya saat ini adalah pria yang kemarin malam telah menyatakan cintanya pada Daisy.
"Kenapa tidak pergi ke tempat cuci mobil saja."ucap Aksa.
"Saya bukan orang kaya yang bisa buang-buang uang untuk hal yang tidak terlalu penting, selama saya mampu saya akan mengerjakan nya sendiri." ucap Daisy yang kini hendak merebut selang air itu dari tangan Aksa, tapi tiba-tiba.
"Wah ini sih pemandangan yang bagus ya, kalian bisa langsung akrab."ucap Tiana yang kini membawa nampan berisi tiga gelas jus, dan juga dua toples camilan yang Tiana ambil dari dalam rumah Daisy yang sudah seperti rumah nya selama ini.
"Dia tidak tega melihat ku cuci mobil sendiri katanya, calon suami mu baik sayang kamu harus bangga bisa mendapatkan cintanya."ucap Daisy yang kini meraih jus di nampan yang diletakkan Tiana di meja yang tidak jauh dari tempat ia mencuci mobil.
"Dia tampan dan sangat baik hati, jadi tidak ada alasan untuk menolak cintanya."ucap Tiana yang kini membuat Daisy tersedak minuman nya sendiri, hingga akhirnya ia berlari kedalam dan entah pergi kemana.
"Yank dia sangat cantik, tapi tidak usah terlalu peduli padanya dia gadis keras kepala, dan selalu merasa mampu melakukan semua sendiri dan itu lihat dia bahkan tidak mau ada asisten pribadi di rumah nya, padahal dia bukan orang susah."ucap Tiana yang kini mengambil alih selang air tersebut dan menggantikan posisi Aksa membersihkan busa di mobil Daisy yang kini terlihat kinclong dan hanya perlu mengeringkan nya dengan kanebo.
"Ini mobil keluaran terbaru, gila dia sudah dapat saja, entah siapa simpanan nya?" ucap Tiana yang kini terkekeh sendiri.
"Itu pemberian tuan Wijaya Tiana sayang jangan fitnah, aku tidak akan pernah menjadi simpanan siapapun sekalipun dia adalah pria kaya."ucap Daisy yang kini sudah mengganti tanktop nya dengan t-shirt longgar nya yang kini menutupi hotpants nya.
"Aku tau itu sayang, aku hanya bercanda, aku lapar boleh sarapan masakan mu aku rindu."ucap Tiana.
"Pergilah nona, bibi sudah masak sejak pagi tadi."ucap Daisy yang kini mulai mengeringkan mobil nya dengan telaten.
"A siap bibi, ayo sayang bukankah kita belum sarapan?"ujar Tiana dengan santainya.
"Dasar kau,"ucap Daisy yang kini melajukan pekerjaan nya itu.
Sementara Aksa menatap datar kearah Daisy yang kini fokus pada mobilnya, ingin rasanya dia berteriak keras memaki gadis cantik yang kini terus bersikap cuek terhadap dirinya. Tapi dia sadar saat ini tidak mungkin membuat Daisy dibenci oleh Tiana.
Sementara kedua orang itu masuk kedalam rumah Daisy pun menghela nafas berat, dia tidak tau sampai kapan bisa bersabar saat bertemu dengan pria yang sejak tadi curi-curi pandang padanya.
Daisy seperti tengah berada di tengah-tengah masalah saat bertemu dengan pria itu.
Setelah Daisy selesai mencuci mobil dan kini sudah kembali ke garasi mobil nya itu pun lanjut kedalam rumah, dia tidak sengaja melihat kemesraan mereka berdua dengan posisi Tiana yang menyuapi Aksa.
Daisy pun pura-pura tidak melihat itu dan berjalan menuju tangga untuk kelantai dua karena harus membersihkan diri.
Daisy masih mencoba untuk menetralkan pikiran nya, dia bergegas menuju kamar mandi dan menyalakan shower, tidak peduli dengan pakaian yang kini ia kenakan, Daisy langsung mengguyur seluruh tubuh nya dengan air dingin.
Untuk beberapa saat dia memejamkan matanya dan bayangan Aksa saat menyatakan cinta padanya membuat Daisy kembali menggelengkan kepalanya, dia ingin melupakan semua itu.
Daisy pun bergegas untuk menyelesaikan mandi nya, dia juga merasa lapar karena tadi hanya minum kopi hitam tanpa gula.
Daisy yang sudah selesai mandi, dia langsung berpakaian dengan pakaian santai, yaitu t-shirt lengan panjang berwarna putih dan celana jeans selutut dengan rambut tergerai sehabis keramas dan wajahnya tidak menggunakan makeup sedikit pun, namun dia terlihat lebih cantik alami.
Rambut panjang nya digerai begitu saja, dia menghampiri Tiana dan Aksa yang masih berada di meja makan meskipun piring mereka sudah tidak ada lagi di hadapannya, Daisy meraih piring, dan mengambil satu buah telur rebus, dengan salad sayur dan ayam goreng tanpa ada nasi seperti yang tadi dimakan oleh kedua orang yang kini menatap kearah nya.
"Dy aku tau kamu itu calon dokter, tapi makan dengan porsi seperti itu, lihat tubuh mu,"ucap Tiana yang begitu khawatir.
"Kenapa memangnya yang penting sehat bukan, tidak masalah mau langsing atau pun gemuk, yang jauh lebih penting itu kesehatan tubuh kita."ucap Daisy sambil menyendok salad sayur yang dia mix dengan ayam goreng dan juga telur rebus tadi.
"Oh my God, tapi Dy kamu itu kurusan sekarang aku takut kamu terkena anoreksia jika seperti ini terus."ucap Tiana.
"Sayang kamu nyumpahi aku,berat tubuh aku masih stabil kok, hanya penglihatan mu saja yang bermasalah."ucap Daisy yang kini melanjutkan suapannya.
Sementara Aksa kini hanya menatap kearah keduanya, Daisy begitu cuek terhadap nya dan itu membuat Aksa kesal.
"Yank kamu setuju dengan ku kan, dia kurus?"ucap Tiana.
"Aku tidak tau honey, apa dia kurus atau tidak bukankah kami baru bertemu."ucap Aksa yang kini membuat Daisy menghentikan pergerakan tangan nya.
"Bagaimana aku bisa lupa." ucap Tiana yang kini menyingkirkan rambut Daisy yang keriting itu dan menyelipkan nya di kuping Daisy, hingga wajah cantik itu terlihat jelas oleh Aksa.
"Sayang aku lagi sarapan, kalau kalian ingin mengobrol sebaiknya di ruangan lain."ucap Daisy yang kini merasa tidak nyaman dengan tatapan Aksa.
"Ah aku lupa sayang lanjutkan sarapan pagi mu yang hampir terlewat ini."ucap Tiana.
Daisy pun hanya mengangguk pelan dan kembali fokus pada sarapan pagi nya yang hampir tidak habis karena merasa sangat kenyang padahal porsi makan nya sangat sedikit.
Sampai saat Daisy selesai sarapan pagi, dia pun membawa piring dan gelas miliknya dan langsung mencuci peralatan makan tersebut, hingga selesai.
"Dy boleh aku dan Aksa menginap disini?"ujar Tiana yang kini dibalas gelengan kepala oleh Daisy.
"Mungkin jika kamu sendiri aku bisa mengijinkan itu, tapi ada laki-laki di rumah tanpa adanya ikatan resmi, aku tidak ingin membuat Mama sedih. Kamu tau sendiri kenapa aku tidak pernah berpacaran seperti mu dan yang lainnya, semua karena aku terlalu menyayangi Mama ku, dia selalu bilang bahwa jodoh terbaik akan datang suatu saat nanti jika waktu itu tiba meskipun tanpa berpacaran."ujar Daisy menirukan ucapan sang Mama.
"Ya sayang maafkan aku, semoga aunty tenang di alam sana."ucap Tiana yang kini berjalan lebih dulu menuju ruang santai.
"Amin"ucap Daisy dan Aksa bersamaan.
...*****...
Ketiganya masih berada di rumah Daisy yang kini tengah sibuk dengan gadget nya masing-masing, Daisy sendiri kini tengah menghubungi bi Cece yang sempat mengirim pesan padanya.
Daisy terlihat berjalan mondar-mandir dan sesekali mengusap wajahnya yang mungkin basah dengan air matanya.
"Sayang kamu ngobrol dengan siapa?"tanya Tiana.
Daisy tidak menjawab dan tetap fokus pada pembicaraan dengan seseorang di sebrang sana, sementara Aksa sejak tadi diam-diam memperhatikan gerak-gerik Daisy yang kini memunggungi nya.
"Honey sepertinya teman mu sedang tidak baik-baik saja."ujar Aksa yang kini meminta Tiana untuk menghampiri Daisy.
"Dy, kamu bicara dengan siapa dan kenapa kamu menangis?"tanya Tiana.
"Ah baiklah bi, mungkin besok aku ke tempat Mama."ucap Daisy yang kini berpamitan dan mengakhiri telpon nya.
"Ada apa hmm... siapa itu?"ucap Tiana pada Daisy.
"Bi Cece, dia bilang semalam dia bermimpi mama datang padanya dengan wajah terlihat kecewa karena bi Cece pergi ninggalin aku sendiri disini. Aku juga tidak tau apa itu hanya mimpi atau memang mama khawatir terhadap ku, tapi yang pasti saat ini aku sangat merindukan nya."ucap Daisy yang kini terisak dalam pelukan Tiana.
"Bagaimana kalau kita kemakam aunty?" ujar Tiana.
"Ini sudah terlalu siang, apa kamu tidak punya acara dengan nya?"balas Daisy.
"Tidak kita memang akan menghabiskan waktu bersama mu, tadinya aku mau ngajak kamu ke bioskop."ucap Tiana.
"Aku harus bersiap untuk pergi ke luar kota besok sayang."ucap Daisy.
"Kamu mau ke luar kota, tapi besok kan acara pertunangan ku?"ujar Tiana yang kini terlihat sangat sedih.
"Aku akan usahakan untuk datang meskipun mungkin sedikit terlambat, tapi jika tidak sempat yang terpenting acara lancar bukan, dan doa ku semoga kalian berdua bahagia."ucap Daisy yang kini mengusap lembut punggung tangan Tiana.
"Aku tidak mau, pokonya kamu harus hadir di pesta, jika tidak aku tidak akan menganggap mu saudara lagi."ucap Tiana yang kini membuat hati Daisy mencelos.
"Tapi aku janji akan datang meskipun terlambat, please ini juga sama pentingnya dengan mu."ucap Daisy yang kini dibalas anggukan kepala oleh Tiana.
"Senyum dong, masa yang mau tunangan cemberut gini,"ucap Daisy yang kini membuat Aksa mengepalkan tangannya erat-erat.
"Ayo ke makam aunty, sekalian aku mau minta maaf karena tidak bisa datang di hari terakhir nya."ucap Tiana.
"Tunggu disini aku ganti baju dulu."ucap Daisy yang dibalas anggukan pelan oleh Tiana.
Daisy pun pergi meninggalkan mereka berdua, dia berjalan meniti anak tangga hingga punggung nya tidak terlihat lagi oleh Aksa, Tiana pun menghampiri Aksa dan mengatakan bahwa ia dan Daisy akan pergi ke makam, dia juga tidak lupa bertanya apa Aksa akan ikut dengan nya atau tidak.
"Kamu mau ikut kan Yank?"tanya Tiana.
"Hmm..."lirih Aksa yang kini fokus pada ponselnya.
"Syukurlah, aku takut Daisy tidak kuat saat berada disana dan tidak ada yang membantu ku untuk menenangkan nya."ucap Tiana yang kini menahan air mata nya.
Jujur dia sendiri merasa kehilangan sosok wanita yang sudah seperti ibu kedua baginya karena ibunya sendiri bahkan tidak pernah bersikap selembut itu terhadap dirinya.
Nyonya Amelie bahkan selalu memberikan perhatian yang sama terhadap dirinya dan Daisy putrinya setiap kali dia tinggal di rumah yang sudah seperti rumah kedua baginya.
Tiana akhir-akhir ini memang sudah jarang bertemu dengan Daisy, tapi sesekali dia akan menyempatkan diri untuk menemani Daisy mengantar nyonya Amelie melakukan cek up ke rumah sakit.
"Sayang aku saja yang pergi kalian berdua bisa lanjut jalan."ucap Daisy yang kini turun dengan menggunakan kemeja berwarna hitam dan juga pasmina berwarna senada dengan kemeja dan celana kargo yang kini ia gunakan, tidak lupa dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung nya itu.
"Tidak Dy kita pergi bersama."ucap Tiana.
"Kalau begitu tunggu disini, aku akan temui pak ustadz untuk minta air doa."ucap Daisy.
"kita pergi bersama sayang."ucap Tiana yang kini menyambut Daisy dengan uluran tangan yang kini disambut oleh Daisy.
Mereka pun berjalan keluar dan Daisy menutup pintu yang langsung terkunci otomatis tersebut."Aku keluarkan mobil ku dulu ok,"ujar Daisy yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Tiana.
"Mobil Aksa saja."ucap Tiana yang kini dibalas anggukan kepala oleh Aksa yang sedari tadi lebih banyak berdiam diri.
"Apa tidak merepotkan?"ujar Daisy yang kini dibalas gelengan kepala oleh Tiana.
Mereka pun masuk kedalam mobil, dan Tiana duduk di samping Aksa yang kini sudah mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Dimana tempat nya?"tanya Aksa dengan pelan.
"Hanya terhalang tiga rumah dari rumah ini."jawab Daisy.
"Hmm..."lirih Aksa yang kini mulai melaju kan mobilnya dengan kecepatan sedang karena saat ini tujuan nya sangat dekat.
Tidak sampai lima menit, Daisy pun meminta mereka menunggu di mobil, dan gadis itu turun sendirian dengan membawa botol air mineral.
Tidak lama Daisy masuk karena pintu pagar terbuka dan seseorang yang terlihat begitu ramah menyambut nya dengan senyuman.
Daisy pun langsung bisa bertemu dengan pak ustadz yang ternyata sedang ada tamu yang sama tujuannya dengan Daisy yaitu minta doa untuk almarhum keluarga nya.
Daisy pun langsung menyodorkan botol kaca berisi air mineral tersebut, dan pak ustadz langsung membacakan doa sambil memegangi botol yang tutup nya sudah dia buka sebelumnya, hingga akhirnya selesai dan dia pun menutup botol tersebut lalu memberikan nya pada Daisy yang kini berucap terimakasih sambil memberikan sebuah amplop yang sempat ditolak oleh pak ustadz, tapi Daisy berkata itu untuk amal jariah dan pahalanya untuk sang Mama.
Akhirnya ustadz pun menerima itu untuk disumbangkan ke mesjid, Daisy pun pamit dan saat dia kembali ke mobil suasana terasa hening, Tiana terlihat diam seribu bahasa begitu juga dengan Aksa yang kini kembali menggunakan sabuk pengaman nya.
"Dy sepertinya aku tidak jadi pergi, maaf ya dirumah sedang ada masalah."ucap Tiana beralasan.
"Oh tidak apa-apa sayang aku bisa pergi sendiri kok, aku turun ya."ucap Daisy yang bersiap untuk turun, tapi Aksa langsung tancap gas dan itu membuat Daisy bertanya-tanya dalam hatinya.