Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Pagi ini Shela sudah bersiap untuk pulang, dia tidak sabar untuk menghirup udara segar di luar sana. Shela di bantu oleh mbok Inah yang selalu siap sedia merawatnya selayaknya ibunya sendiri.
Saat ini Shela memakai hoodie over size berwarna putih dengan celana jeans berwarna biru muda yang pada bagian lututnya terdapat robekan, tak lupa rambut panjangnya dia kuncir asal.
Setelah semuanya selesai, Shela mulai melangkah keluar dari rumah sakit, ia berjalan melewati lorong-lorong panjang menuju ke luar gedung. Sesampainya di luar dia segera masuk ke dalam mobil hitam yang merupakan mobil keluarganya. Setelah dia dan Mbok Inah masuk, mobil itu mulai melaju menuju rumah besarnya.
Beberapa menit kemudian dia sudah sampai di rumah megah milik keluarga Pradipta,yang tak lain adalah rumah ayahnya. Shela keluar dari mobil, untuk beberapa saat dia memandang bangunan besar itu lalu menghela napasnya. Kehidupan baru sudah dimulai.
"Ayo,non kita masuk," ujar mbok Inah sambil menuntunnya masuk ke dalam rumah itu.
Shela mengangguk lalu berjalan perlahan di sampingnya wanita tua itu. Ketika pintu utama dibuka, dari jarak beberapa meter dia melihat beberapa orang laki-laki dan seorang perempuan sedang berkumpul di ruang tamu. Mereka sedang mengobrol sambil sesekali tertawa, entah apa yang mereka bicarakan, namun terlihat sangat bahagia terlihat dari cara mereka berbicara satu sama lain.
Shela memandang satu persatu orang itu, mereka adalah inti geng Black Eagle dan Flora, selain mereka ia juga melihat Anggara, kakak tertuanya ikut bergabung. Juga Sagara kakak keduanya juga ikut bergabung.Shela tersenyum miring, ketika dirinya berjuang dirumah sakit, mereka malah senang-senang di sini. Jadi sebenarnya siapa yang tidak punya hati?
Setelah cukup lama memperhatikan mereka, dengan wajah datar Shela melanjutkan kembali langkahnya menuju kamarnya, hingga sebuah suara menghentikan pergerakannya.
" Gak punya sopan santun banget ya lo, main masuk aja."
"Mbok,mbok langsung lanjut kerja aja ya, Shela bisa ke kamar sendiri," ujar Shela lembut.
"Tapi neng.."
Shela tersenyum lembut." Gak apa-apa,mbok lanjut kerja aja."
Mbok Inah menghela napas lalu mengangguk." Baik neng, kalau ada apa-apa langsung panggil mbok ya."
Shela mengangguk." Iya mbok, makasih."
Setelah mbok menjauh darinya, sebuah suara kembali tertangkap oleh indra pendengarannya." Lo tuli ya?!" Ujar orang itu yang tak lain adalah Dika.
Shela berbalik menatap datar semua orang di sana termasuk dengan Dika lalu ia tersenyum miring. " Gue emang gak punya sopan santun, kenapa? Gak usah pura-pura keget deh, lagipula sedari dulu gak ada yang pernah ngajarin gue buat sopan santun, gue rasa Lo juga tau," ujer Shela dengan nada datar, setelahnya dia berbalik lalu melenggang pergi begitu saja.
Sontak semua orang yang berada adi sama terkejut bukan main dengan apa yang baru saja terjadi.
Shela, gadis itu tidak pernah berbicara dengan nada seperti itu pada kakak-kakaknya, dia pasti akan berbicara dengan raut manja untuk mencari perhatian mereka. Juga selama ini Shela selalu menggunakan aku-kamu, bukan lo-gue, hari ini Shela benar-benar terlihat berbeda dari sebelumnya.
Selain itu penampilan gadis itu berubah seratus delapan puluh derajat, dari pakainya yang seksi dan terlihat feminim, menjadi terlihat tomboy dengan pakaiannya. Wajah Shela yang biasanya ditutupi oleh make up tebal, kini tampil tanpa riasan sedikitpun,terlihat natural dan sangat berbeda dari biasanya.
Tampang datar dan dingin juga menarik perhatian mereka sehingga membuat mereka yang ada di sana benar-benar terkejut.
Tak jauh berbeda dengan mereka semua, Marvin yang sedari tadi menyaksikan perubahan Shela juga sangat terkejut. Biasanya jika gadis itu melihat dirinya berduaan dengan Flora, gadis itu akan menghampirinya dan mengamuk tidak jelas,lalu menimbulkan keributan. Atau setidaknya gadis itu akan menyingkirkan Flora darinya dan menggodanya. Tapi kali ini, gadis itu hanya memandangnya sekilas dan terlihat seperti tidak peduli sama sekali.
Mereka semua sempat dari hipnotis untuk beberapa waktu, begitu melihat wajah cantik Shela tanpa riasan sama sekali. Marvin tidak menyangka, wajah tanpa riasan Shela begitu menawan.
Ketiga kakaknya juga sama terkejutnya, mereka yang hampir setiap hari melihat adiknya di rumah,tidak pernah melihat Shela yang seperti ini. Untuk pertama kalinya, Mereka melihat Shela yang bersikap biasa saja saat ada mereka, apalagi sekarang ada Anggara yang merupakan kakak tertua. Biasanya Shela akan berusaha mencari perhatian Anggara dengan mengikutinya kemanapun, ditambah dengan cara berbicara Shela juga tampang datarnya. Sangat di luar ekspektasi.
" Itu beneran Shela kan?", tanya Satria pada semua orang yang masih diam.
"Kayaknya bukan deh, dari cara berpenampilan dan bicara aja jelas berbeda dari biasanya. Lihat aja wajahnya tadi datar juga pembawaannya yang tenang tapi menyakitkan. Biasanya dia akan teriak-teriak gak jelas. Di sini juga ada Marvin dan Flora, biasanya dia akan ganggu mereka, terus-" ucapan Sagara terhenti ketika Anggara memanggil mbok Inah.
"Mbok?"
Merasa di panggil Mbok Inah menghampiri Anggara." Iya, kenapa den?"
"Yang tadi beneran Shela kan? Maksudnya bibi gak ngerasa aneh sama Shela yang keliatannya berubah gitu. Apa terjadi sesuatu selama dia di rumah sakit?" tanya Anggara penasaran.
" Mbok juga gak tau,den. Mbok juga bingung, setelah sadar dari koma, neng Shela lebih banyak diam," jelas mbok Inah yang juga merasa bingung dengan sikap Shela.
Mendengar penjelasan Mbok Inah barusan, sontak membuat mereka semua terkejut. Apalagi ketika mengetahui jika Shela sempat mengalami koma, selama ini mereka mengira jika Shela hanya sekedar mencari perhatian mereka dengan cara berlama-lama di rumah sakit.
" Shela sempat koma,mbok?" tanya Anggara dan dijawab oleh anggukan oleh mbok Inah.
"Iya den,non Shela baru sadar kemarin lusa tapi langsung minta ke dokter untuk segera pulang katanya gak betah. Mbok juga lupa non Shela udah berapa hari koma di rumah sakit."
Penjelasan Mbok Inah membuat ketiga kakak Shela cukup tertohok, pasalnya mereka sama sekali tidak mengetahui bagaimana kondisi sebenarnya Shela di rumah sakit.
Tak jauh berbeda dengan ketika kakaknya dan juga teman-temannya yang terkejut dengan kondisi Shela. Marvin juga ikut terkejut dan sedikit merasa bersalah, karena Shela berakhir di rumah sakit akibat ulahnya juga.
" Mbok permisi dulu ya, Den. Masih banyak pekerjaan." Mbok Inah pamit kamu pergi ketika mendapatkan anggukan dari Anggara.
"Gue gak nyangka kalau Shela sampai koma, mana lama juga komanya. Berarti lo dorong dia terlalu kuat,Vin," ujar Satria kepada Marvin yang hanya diam sambil menatap ke lantai dengan tatapan kosong.
"Jangan-jangan Shela juga berubah karena benturan itu," sahut temannya yang lain.
"Bisa jadi, dia juga marah sama kita. Kalau di pikir-pikir kita keterlaluan juga sama dia kemarin," ujar Satria lagi.
" Itu kan salah dia juga yang udah tega dorong Flora sampai celaka, kalian jangan langsung percaya gitu aja sama dia, bisa jadi kan dia lagi buat drama untuk cari perhatian kita. Lo semua tau kan gimana liciknya dia," ujar Dika yang masih belum percaya dengan perubahan adiknya.
"Bis jadi si, Shela kan cinta mati sama Marvin. Bisa jadi ini teknik baru dia untuk merebut perhatian kita terutama Marvin."
----
Shela memasuki kamarnya yang sudah cukup berubah. Dengan desain yang terlihat lebih simpel dan tidak terlalu banyak barang membuat kamarnya terlihat lebih luas dari sebelumnya.
Ia lalu berjalan menuju ke arah lemari pakaiannya, semua isi lemarinya sudah berubah seperti yang dia pinta.
" Sial, gue lupa sesuatu." Shela menepuk jidatnya. Dia lupa meminta mbok Inah membelikan seragam baru, dia sudah tidak mau memakai seragam ketat itu lagi.
"Yaudah gue beli di koperasi aja besok."
Shela merebahkan tubuhnya di atas kasur, akhirnya dia bisa berbaring di ranjang empuknya. Mungkin dia akan tidur dulu, nanti sore dia akan bangun untuk membeli beberapa barang-barang lain. Shela Pradipta hidup baru akan segera di mulai.
...
Setelah beberapa jam terlelap, Shela bangun karena merasa lapar. Tadi pagi sebelum pulang, dia hanya memakai bubur saja jadi wajar jika perutnya sekarang merasa lapar.
Shela menuju wastafel untuk mencuci wajahnya, setelahnya dia pergi ke bawah untuk memakan sesuatu. Setidaknya mengganjal perutnya sampai makan malam.
Shela menuruni tangga satu persatu menuju dapur, ketika berada di tangga terakhir Dika mendorong bahunya. Shela menoleh ke arah Dika lalu berdecak, tak mau ribut ia memilih untuk berjalan lebih cepat menuju ke dapur.
Dika menganga dibuatnya, padahal ia sengaja mendorong bahu gadis itu, ia ingin mengetes apakah Shela benar-benar berubah atau hanya pura-pura. Yang dia lihat jelas gadis itu benar-benar berubah.
Di dapur Shela melihat kakak pertamanya sedang berada di dapur sedang mengambil air minum dari dalam kulkas. Anggara menatap sekilas adiknya lalu pergi menuju ke meja makan. Sedangkan Shela juga menatap sekilas kakaknya itu kamu berjalan menuju ke arah kulkas untuk mengambil apapun yang bisa ia makan untuk mengganjal perutnya.
Pilihannya jatuh pada buah-buahan yang ada di sana. Akhirnya ia mengambil beberapa buah, setelahnya ia kembali ke dalam kamar tanpa mempedulikan Anggara yang tengah menatapnya.
Anggara benar-benar merasa takjub dengan perubahan besar adiknya, tapi seperti yang dikatakan Dika, dia jangan terlalu percaya pada Shela. Karena bisa jadi itu adalah taktik gadis itu untuk mencari perhatian.