Menikah karena perjodohan, membuat Shera meminta perceraian setelah dua tahun menikah.
Begitu juga dengan Daren yang menuruti, lantaran keduanya tidak memiliki ketertarikan dan tidak adanya benih cinta yang tumbuh.
Namun semua terasa berbeda setelah tiga tahun perceraian itu.
apakah keduanya akan memiliki ketertarikan dan cinta setelah bertemu kembali???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Humaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PMI_BAB 8
"Tuan berkas yang harus di tanda tangani." Asisten Erik memberikan berkas pada Daren yang saat itu masih sibuk.
"Apa masih ada jadwal lagi?" Tanyanya tanpa melihat lawan bicara, Daren fokus pada berkas ditangannya.
"Pukul tujuh sampai sepuluh ada pertemuan dengan klien di restoran xxx dan hotel xxx." Jelas asisten Erik melihat jadwal kerja Daren.
Daren mengangkat wajahnya menatap asistennya. "Klien dari mana saja, yang tidak penting tunda ." Ucapnya tanpa bisa di bantah.
Asisten Erik mengerutkan keningnya, namun dia tetap menjelaskan. "Klien dari perusahaan tekstil dan,_" Asisten Erik menjelaskan detail.
"Majukan dengan perusahaan Artex, yang lain batalkan. Kalau mereka tidak sanggup datang lebih awal batalkan." Tegas Daren tanpa bisa ditawar.
Wajah asisten Erik tampak terkejut, "Tapi Tuan ini klien-"
"Lakukan, atau kau berhenti bekerja." Tukas Daren tajam.
Asisten Erik menelan ludah, nadanya tampak gugup. "Ba-baik Tuan."
Asisten Erik keluar ruangan Daren, dengan wajah pias. "Kenapa tiba-tiba berubah, biasanya dia selalu menjadi Workaholic," Gumam asisten Erik yang tampak bingung dengan perubahan Daren. Karena selama bekerja hampir lima tahun Daren tidak pernah membatalkan pertemuan bisnis kecuali memang jika tidak ada kendala.
Sedangkan Daren menatap layar ponselnya yang sudah menunjukan setengah tujuh malam.
Pertemuan dengan klien yang seharunya ada empat, kini Daren hanya mau menemui satu, itupun Daren harus sabar menunggu lantaran sebelum pukul tujuh Daren sudah lebih dulu datang di tempat.
"Maafkan kami Sir. Kami terlambat." Ucap klien dari Artex. Tampak mereka berlari tergopoh-gopoh melihat keringat basah di kening mereka dan napas yang terdengar ngos-ngosan.
"Saya masih ada urusan penting, jika tidak keberatan kita mulai sekarang." Ucap Daren santai namun tidak bagi kliennya.
"Ba-baik sir."
Asisten Erik menatap tak percaya, meskipun Daren terkenal dingin dan profesional, namun kali ini terlihat berbeda.
"Apa yang membuatnya seperti ini." Batin asisten Erik.
Setelah satu jam lebih mereka melakukan pertemuan, kini Daren lebih dulu pamit tanpa mencicipi makanan yang terhidang.
Alhasil asisten Erik pun hanya bisa mengikuti kemanapun tuanya pergi, meskipun perutnya tampak keroncongan.
"Tuan, kita mau kemana?" Tanyanya setelah duduk dibalik kursi kemudi.
"Bar Ceremoni"
Asisten Erik semakin menatap tak percaya, "Ba-bar Ceremoni?"
"Ya, apa kau tuli."
Glek.
Lagi-lagi asisten Erik menelan ludah kasar. "Ba-baik Tuan."
"Lebih cepat sedikit!" Titah Daren seteleh mobil yang dikendarai asisten Erik melaju membelah jalanan malam.
"Ada apa di bar Ceremoni? Atau jangan-jangan." Asisten Erik membulatkan matanya, dia ingat tentang perayaan divisi desain tadi sore. Dimana Daren mendapat undangan dari divisi desain untuk merayakan keberhasilan mereka.
"Astaga, jangan-jangan tuan sedang ada misi." Batin Erik lagi yang mulai memikirkan banyak hal tentang atasannya.
Tak sampai tiga puluh menit mobil sudah sampai di parkiran Bar, bukan hal baru bagi Daren maupun asisten Erik mengunjungi bar seperti ini, karena mereka pun sering bertemu klien yang meminta pertemuan di bar maupun restoran.
Daren keluar dari mobil, dengan kemeja putih dan bagian lengan di gulung, jasnya ia tinggalkan di mobil sehingga membuat penampilan Daren begitu maskulin. Tak lupa kancing bagian atas ia lepas, menunjukan sedikit dada bidangnya yang di tumbuhi bulu. Matanya yang tajam dengan rahang tegas, Daren berjalan menuju pintu masuk dan menunjukan kartu keanggotaan. Tanpa kesulitan berarti keduanya masuk.
"Kenapa dia bisa masuk ke Bar seperti ini m" Pikir Daren, yang mengingatkan latar belakang Shera dulu. Tanpa Daren ketahui jika teman kerja Shera memiliki hubungan kerabat dari pemilik bar tersebut.
Saat masuk matanya disuguhi keramaian dan suara musik yang cukup membuat telinga berdengung. Daren masih berdiri ditempat memindai sekitar mencari sesuatu.
"Tuan, bukanya itu Nona Shera." Ucap asisten Erik didekat telinga Daren. Suara musik yang keras membuat mereka tidak bisa bicara dalam jarak yang jauh.
Mata Daren menyorot tajam pada satu titik, dimana Shera tampak bicara dengan pemilik Bar.
Tepat saat Daren berdiri tak jauh dibelakang mereka, tiba-tiba Shera di tarik untuk dipeluk Theo yang ternyata teman lama Shera.
Daren mendekat, lebih dekat hingga membuat pria itu berdiri tepat dibelakang tubuh Shera tanpa jarak, membuat Theo menyadari kehadiran Daren lebih dulu.
"Tuan Daren! Anda di sini!" Katanya dengan suara sedikit meninggi.
Shera yang berdiri membelakangi tentu saja berbalik, dan saat itu juga tubuhnya hampir limbung karena tubuh Daren yang begitu dekat dengannya.
Akkh
Shera hampir terjengkang kalau tangan besar Daren tidak merangkul pinggangnya, membuat Shera jatuh didada Daren.
Untuk sesaat keduanya saling tatap, mata keduanya terpaku tanpa berkedip, jangan di tanya jantung Shera saat ini, tentu saja sudah berdebar kencang.
"Ka-kak Daren." Lirih Shera sambil mendorong dada Daren membuat rengkuhan tangan Daren terlepas.
Shera berdiri mencoba menetralisir jantungnya agar tidak gugup.
"Pak Daren! anda datang!" Rindu terlihat begitu senang dan antusias. "Wahh.. asisten Erik juga." Katanya sambil melirik asisten Erik dibelakang Daren.
"Kalian kenal?" Tanya Theo sambil menunjuk dua wanita itu.
Kepala Rindu mengangguk, "Dia atasan Rindu di kantor Kak." jelasnya tanpa melunturkan senyumnya.
"Oh.. kalau begitu kita keruang privat saja." Theo mengajak semua ke ruang privat di lantai dua. Sehingga mereka bisa mengobrol leluasa tanpa harus mendengarkan musik keras.
Shera tampak masih kikuk, dan menyeret langkah kakinya mengikuti Rindu.
"Sumpah ya Shera, semenjak ada kamu sepertinya keberuntungan selalu di sekeliling ku." Ucap Rindu sambil berbisik di telinga Shera, karena takut jika terdengar Daren dibelakang mereka.
"Mungkin kebetulan Rin," Balas Shera dengan bibir menipis.
"Gila, kalau mereka tau kita bersama pak Daren dugem, pasti si Vivi mukanya kayak kesemek terus." Rindu tertawa cekikikan dengan tangan menutupi mulut.
Membayangkan bagaimana teman alias rival mereka pasti sudah seperti kebakaran jenggot.
Dibelakang Daren tampak berjalan santai, melihat lurus dimana Shera berjalan didepannya.
Sedangkan Shera sendiri merasa bulu kuduknya merinding seperti merasakan sesuatu yang bisa menembus kulitnya.
"Nah.. kalian bisa having fun di sini." Theo membukakan pintu dan mempersilahkan tamunya masuk.
"Tuan Daren, seperti biasa." Theo tersenyum pada Daren dengan tatapan penuh arti, namun kepala Daren hanya menggeleng.
Mereka semua duduk disofa, dua wanita sudah lebih dulu duduk, disusul Daren dan asisten Erik. Daren memilih didekat Shera dengan jarak satu meter.
Tanpa sungkan Theo duduk ditengah-tengah Shera dan Rindu membuat Daren meliriknya dengan tajam.
"Shera Tuan Daren ini adalah tamu VIP disini, kalian sudah pasti kenal." Ucap Theo dengan santainya.
Shera hanya tersenyum dan mengangguk, tak lama seorang waiters laki-laki datang, membawakan beberapa minuman dan makanan ringan. Theo tentu tahu apa yang boleh diminum Rindu dan Shera, hanya saja minuman beralkohol juga ada lantaran ada Daren dan asisten Erik.
"Shera.. bagaimana kabar orang tua mu?"
Pertanyaan Theo membuat kening Daren berkerut, ada hubungan apa mereka sampai Theo mengenal orang tua Shera, mantan istrinya.
ekonomi pas"an tpi gila sm judi....
bner" g waras....