Audrey mengira hari pernikahan yang ada di depan matanya saat ini akan membawa kebahagiaan. Menikah dengan kekasih yang begitu dicintainya adalah mimpinya sejak dulu. Namun, dalam sekejap mata, hari yang dinanti adalah hari yang begitu menyakitkan baginya. Dimana dia harus menerima kenyataan jika kekasihnya malah memilih bersanding dengan Kakak tirinya. Hatinya rapuh, disaksikan gaun pengantin yang melekat indah di tubuhnya. Seorang Kakak yang ia sayang dengan tega mengkhianatinya tanpa perasaan.
Bagaimana kisah Audrey selanjutnya? Akankah wanita cantik itu depresi atau malah melakukan hal yang tidak bisa di bayangkan. Baca yuk!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhaya Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GTJ 8
Brakk...
Brakk...
"Apaan kamu ini? Kenapa malah marah sama barang-barang ku?" cecar Aura marah ketika melihat make up nya hancur lebur di tangan Jay, suaminya. Sejak kepulangan dari kediaman Jason Lou, Jay jadi uring-uringan dan tak sekalipun menghiraukan istrinya. Bagaimana tidak, jika Jason mengambil keputusan sepihak padanya. Sejak dulu hingga sekarang, tak sekalipun Pamannya itu bertindak demikian padanya. Jason menyayangi Jay seperti anak kandungnya sendiri setelah kepergian orang tuanya dulu.
Mendengar suara Aura, pria itu berusaha tenang sembari menghembuskan nafasnya secara kasar. Tangannya meremas rambutnya dengan kuat, berusaha menghilangkan beban pikiran yang tiba-tiba hadir padanya. "Paman gila, bagaimana mungkin dia bertingkah egois seperti itu?" sergah Jay menatap lurus kedepan, tangannya terkepal dengan kuat sembari menatap lurus kedepan dengan penuh api amarah. "Tidak sepantasnya dia bertingkah seperti itu sedangkan dulu orang tua ku juga sangat berjasa padanya," lanjutnya tak habis pikir.
"Kamu itu jangan bodoh, Jay. Harusnya kamu mikir kalau perbedaan Paman mu ada sangkut pautnya sama seseorang," timpal Aura yang sedari tadi hanya diam menyimak dengan penuh kejelian. "Aku yakin kalau Audrey adalah orang yang membuat Paman mu menjadi seperti itu," tuduhnya dengan penuh keseriusan.
Dalam benak Aura, sedari tadi hanya nama Audrey yang bersarang. Meskipun tidak memiliki bukti yang jelas, Aura sangatlah yakin jika perubahan sikap Jason ada sangkut pautnya dengan Audrey. "Apa kamu lupa waktu Pamanmu bilang kalau semua asetnya sudah menjadi namanya? Dari situ saja aku paham kalau Audrey lah biang keroknya." Lagi, Aura semakin membuat Jay berekspektasi jika apa yang di bicarakan Aura adalah kebenarannya.
"Iya, kamu benar!"sahut Jay paham, ia menganggukkan kepalanya dengan pelan-pelan karena ia pun mulai mengerti.
"Dan aku yakin, kalau lambat laun Audrey bakalan membuat Pamanmu bangkrut dan pada waktu itu pula, Audrey meninggalkannya," paparnya lagi yang membuat Jay semakin mengepalkan tangannya. Emosi, itulah yang dirasakan Jay mendengar penuturan demi penuturan yang di layangkan Aura untuknya.
Kini, tatapan wajah Jay mengarah pada Aura. Tatapan memerah penuh dengan kemarahan disana. "Dia tidak begitu!" sangkalnya, ia masih berusaha membela Audrey karena yang ia kenal sedari dulu, wanita itu tidak seperti yang diceritakan Aura padanya. "Dia baik," lanjutnya yang membuat hati Aura teriris mendengarnya.
"Jay, kamu itu memang bodoh. Audrey memang baik, tapi setelah merasa dikhianati kamu, orang baik akan berubah menjadi jahat, Jay. Lihatlah sekarang, dia bertingkah seperti itu untuk apa? Aku yakin dia dendam padamu," cetus Aura merasa tak terima, dadanya naik turun ketika suaminya sendiri membela wanita lain di depannya, apalagi wanita yang di belakang berstatus mantan kekasihnya.
"Berhenti berbicara, Aura. Kamu membuatku semakin pusing," bentak Jay, pria itu lebih memilih berlalu pergi meninggalkan Aura yang terlihat begitu emosi disana. Yah, rasanya ia semakin emosi ketika harus mendengarkan celotehan dari Aura. Pikirannya yang sedari tadi kacau semakin bertambah kacau hanya karena ulah Aura yang terus mengomporinya.
"Mau kemana kamu, Jay?" tanya Aura dengan suaranya yang lantang, melihat langkah kaki Jay yang semakin menjauh, membuat emosi Aura semakin menjadi. Hatinya meletup-letup layaknya gunung yang hendak meletus di tempat. Sungguh, Aura saat ini merasa geram dengan tingkah Jay yang masih memperdulikan Audrey daripada dirinya.
Bersambung...