NovelToon NovelToon
Gairah Cinta Sang Mafia

Gairah Cinta Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Sugar daddy / Mafia / Romansa / Chicklit / Tamat
Popularitas:88.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ibu.peri

Arsenio Wickley, seorang mafia yang berusia 39 tahun. Semenjak kejadian kekasihnya pergi karena kesalahan pahaman, semenjak itu Arsenio menutup hatinya untuk semua wanita. Tapi, kehadiran seorang gadis mengubah pendiriannya. Clara datang kepadanya, dan berniat menjadi sugar baby Arsen. bukan karena uang tapi karena ia butuh kasih sayang yang tidak ia dapat dari orang tuanya.
" Om, aku mau jadi sugar Baby om" ucap Clara sambil menatap wajah Arsen.

" Apa kau tahu, apa yang dilakukan Sugar Baby?" Arsen mendekati wajah Clara, membuatnya sedikit gugup.

" Memang apa yang harus aku lakukan?" tanya Clara yang penasaran, ia hanya tahu sugar baby itu hanya menemani makan, dan jalan-jalan.

" kau harus menemaniku tidur, apa kau mau?" Arsen semakin memojokkan tubuh Clara.

" tidak!! aku tidak mau.." Clara berlari saat mendengar ucapan Arsen.

" Dasar bocah ingusan" ucap Arsen seraya menggelengkan kepala.

Nantikan kisah kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu.peri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tinggal Di apartemen

Pukul sepuluh malam, seluruh karyawan kafe bersiap untuk pulang. Clara yang baru saja berganti pakaian mengambil tasnya dari loker, bersiap meninggalkan tempat kerja.

“Ayo, kita pulang,” ujar Hana yang sudah berdiri di depan pintu, menunggu Clara.

Clara mengangguk pelan. Namun saat ia baru saja melangkah, Dion tiba-tiba muncul dan tanpa banyak bicara, meraih tas dari tangannya.

“Kali ini, tolong jangan menolak. Biar aku yang mengantar,” ujar Dion, suaranya tenang namun sedikit memohon. Ia melangkah lebih dulu, lalu berhenti saat menyadari Clara tak mengikutinya.

“Ada apa, Clara? Ayo,” ajaknya lembut.

Clara mendekat, menarik tas itu kembali dari genggaman Dion. Ia menatapnya dengan ekspresi sungguh-sungguh.

“Maaf, Pak. Saya tahu Bapak orang yang sangat baik, dan saya sangat menghargainya. Tapi… kebaikan Bapak bisa membuat orang salah paham. Saya hanya ingin bekerja dengan tenang di sini tanpa menimbulkan kecemburuan atau gosip dari rekan-rekan kerja lainnya. Jadi, mohon maaf… saya pulang sendiri malam ini.”

Dion menatap Clara tanpa berkata apa-apa. Ekspresi wajahnya sendu, tapi tak menunjukkan kemarahan. Ia mengangguk pelan, seolah mengerti sepenuhnya.

Clara menunduk sedikit, lalu menarik lengan Hana dan melangkah cepat keluar dari area kafe.

“Clara… kalau nanti kamu dipecat, bagaimana?” bisik Hana cemas di sampingnya.

“Aku tidak peduli. Daripada orang-orang mulai bersikap tidak enak padaku karena perhatian Pak Dion, lebih baik aku jujur dari awal. Aku yakin, beliau akan mengerti,” jawab Clara mantap, meskipun hatinya ikut resah.

“Ya, mungkin dia akan mengerti… kemudian memecatmu. Terus kau jadi pengangguran, tidak bisa bayar kuliah, dan jangan lupa… kau bilang akan mencari kontrakan baru, dan itu buruh biaya besar" gumam Hana sambil menarik lengan Clara agar berhenti berjalan.

Clara mendesah panjang. “Hana… bagaimana ini? Aku tidak punya uang untuk bayar kuliah, belum lagi ganti rugi sama om-om itu. Mati aku kalau dipecat! Ayo temani aku kembali, aku harus minta maaf sama Pak Dion!”

Namun langkahnya tertahan oleh suara berat seorang pria dari arah belakang.

“Mau ke mana kau?”

Clara sontak menoleh. Matanya membesar ketika melihat sosok Arsen berdiri di samping mobilnya—mengenakan kemeja hitam yang digulung sampai siku, kedua lengannya menyilang di dada, dan tatapan matanya tajam menusuk.

“Tu… Tuan…” Clara tergagap.

“Masuk.” Suara Arsen tenang, namun penuh tekanan, sambil membuka pintu mobil.

“Tuan… tapi ini belum tiga hari. Saya masih punya waktu, dan saya—”

“Kalau kau menunggu tiga hari, bisakah kau membayarnya?” bisik Arsen tajam di telinganya.

Clara menunduk. “T-tidak, Tuan…”

“Masuk. Atau… kau ingin aku menggendongmu, sekarang juga?” ucapnya tenang, tapi ancamannya jelas.

Clara menoleh ke arah Hana yang masih melongo, terperangah melihat sosok Arsen dari dekat.

“Hana, maaf… aku pergi dulu,” ucap Clara pelan, lalu masuk ke dalam mobil tanpa menunggu jawaban.

Hana masih terpaku, tak mampu berkata-kata. Matanya mengikuti mobil mewah itu melaju, hilang di tikungan.

Ternyata, disana bukan hanya ada Hana. Dion dan karyawan lainnya melihat Clara yang pergi dengan mobil mewah. Terlihat Ayu juga makin meradang, tapi senyum sinis tiba-tiba muncul.

Di dalam mobil, Clara hanya bisa diam sambil memeluk tasnya. Ia tak berani menatap Arsen yang menyetir dengan rahang mengeras. Suasana dalam mobil terasa sunyi dan menegangkan, seolah setiap detik menggerus ketenangannya.

Hingga akhirnya mobil berhenti di depan sebuah gedung apartemen.

“Keluar,” perintah Arsen singkat setelah turun lebih dulu.

Clara menggeleng pelan. “T-tuan, saya… saya harus pulang. Papa pasti marah kalau saya tidak sampai di rumah.”

Arsen menatapnya tajam. “Kau yakin, tuan Wijaksono mencarimu?,"

Clara menelan ludah. Jantungnya berdebar cepat. Ia tahu pria didepannya ini bukan orang biasa, sudah pasti ia sudah tahu mengenai dirinya. Begitupun dengan dirinya yang sudah di usir dari mansion.

Tanpa menunggu jawaban dari Clara, Arsen langsung berjalan menuju lift. Suara langkahnya terdengar mantap, sementara matanya sesekali menoleh ke belakang, mengamati Clara yang masih berdiri terpaku dengan wajah gugup. Keringat mulai membasahi pelipis gadis itu, namun ia tak bergerak, seolah kakinya berat untuk melangkah.

Ting...

Pintu lift terbuka.

Arsen menghela napas pelan, kemudian kembali menghampiri Clara. Tanpa banyak bicara, ia meraih lengan gadis itu dengan cepat.

“Kau begitu lambat. Sepertinya aku benar-benar harus menggendongmu,” ucapnya dingin, namun terselip nada menggoda dalam suara baritonnya.

Mata Clara membelalak. “ Tidak, Tuan! Saya bisa berjalan sendiri!”

Dengan gugup, ia menepis pegangan tangan Arsen dan berjalan cepat, nyaris setengah berlari. Namun baru beberapa langkah, sebuah tangan menarik kerah belakang bajunya.

“Bukan ke situ. Tapi ke sini.” Arsen menunjuk sebuah pintu apartemen mewah di ujung lorong. Suaranya tenang, tapi tegas.

Clara terdiam sejenak, lalu buru-buru berlari ke depan pintu yang ditunjuk. Tangannya gemetar saat Arsen membuka pintu dengan kartu akses, memperlihatkan interior apartemen yang megah dan maskulin.

“Ayo masuk,” ucap Arsen sambil menoleh ke arahnya. “Apa kau takut?” Ia mendekatkan wajahnya hingga hanya tinggal beberapa sentimeter dari wajah Clara.

Clara mundur perlahan, matanya berkedip cepat. “Ti… Tidak, Tuan…”

Arsen menatap ekspresinya, lalu terkekeh pendek. “Masuklah. Aku tahu kau tidak punya tempat tinggal. Dan kau tidak akan terus menyusahkan temanmu yang… bahkan untuk dirinya sendiri saja masih berjuang,” ucap Arsen sambil membalik badan, melangkah masuk.

Perkataan itu menusuk dada Clara. Ia ingat betul bagaimana Hana berjuang keras, bekerja siang malam demi biaya kuliah. Ia tidak ingin merepotkan siapa pun.

Dengan langkah pelan, Clara mengikuti Arsen masuk ke dalam apartemen. Namun karena menunduk terlalu dalam, ia tak menyadari pria itu berhenti mendadak di depan, hingga tubuhnya membentur punggung Arsen yang keras seperti tembok.

“Akhh… Maaf, Tuan…” Clara meringis sambil mengelus dahinya.

Arsen menoleh. Matanya menatap wajah polos Clara yang memucat. Bibir gadis itu sedikit bergetar. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja ia mendekatkan wajahnya dan memasang senyum nakal.

“Kau sudah tak sabar ingin satu kamar denganku, ya?”

Clara tersentak. “T-Tuan… Tidak, jangan seperti ini… Nafasku sesak…”

Suara Clara nyaris seperti bisikan, gemetar dan nyaris memohon. Tubuhnya menggigil ketika Arsen tiba-tiba menghimpitnya ke dinding, kedua tangan pria itu menahan di sisi kepalanya.

Tatapan Arsen berubah. Dari menggoda menjadi tajam dan dalam. Matanya turun menatap bibir Clara yang merah natural, lalu naik lagi menatap kedua mata bening gadis itu.

Clara memalingkan wajah, jantungnya berdetak tak karuan. Ia bisa mencium wangi parfum mahal yang melekat di tubuh Arsen—hangat dan memabukkan.

Tiba-tiba Arsen menarik diri. Ia menoleh cepat, suaranya dalam dan tertahan. “Tinggallah di lantai atas. Aku tidak yakin bisa menahannya kalau kau terus ada di dekatku seperti ini.”

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah masuk ke kamar mandi, lalu menutup pintu dengan satu hentakan.

Brak!

Clara terlonjak. Nafasnya memburu, tangannya menempel di dada, mencoba menenangkan detak jantungnya yang melesat tak terkendali.

“Ya Tuhan… pria itu benar-benar seperti… singa kelaparan,” gumamnya lirih.

Ia buru-buru keluar kamar, berniat kembali ke luar apartemen. Tapi saat tangannya memutar gagang pintu utama, pintu itu tak bergerak sedikit pun.

Terkunci.

“Aduh… bagaimana ini?” Clara mondar-mandir di depan pintu, panik. “Terkunci… terkunci! Jangan bilang aku benar-benar terjebak di tempat pria dingin itu… sendirian pula!”

Clara memeluk dirinya sendiri, kebingungan antara harus menangis atau memaksa tidur agar melupakan kejadian tadi.

Suara pintu kamar mandi terbuka pelan.

Clara yang masih berdiri di depan pintu utama, langsung menoleh refleks. Matanya membelalak begitu melihat sosok Arsen keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggang. Rambutnya masih basah, tetesan air jatuh perlahan dari ujung helai rambut ke dadanya yang bidang dan kekar. Pemandangan itu membuat Clara membeku di tempat.

“T-Tuan…” Clara mundur satu langkah. Wajahnya merah padam.

Arsen menyibakkan rambutnya dengan tangan, lalu memandang Clara santai, seolah dirinya tidak sedang dalam kondisi memancing badai dalam dada gadis itu.

“Kau masih di situ?” tanyanya dengan nada datar, namun suaranya terdengar lebih berat dari biasanya, mungkin karena dingin setelah mandi. “Kupikir kau sudah kabur lewat jendela.”

Clara memalingkan wajah dengan cepat. “T-Tidak, pintunya… terkunci.”

“Memang sengaja,” ucap Arsen santai sambil mengambil handuk kecil lain di sofa untuk mengeringkan rambutnya. “Aku tidak ingin kau kabur,"

Clara menelan ludah. Ia tetap memalingkan wajah, tidak berani sedikit pun melirik ke arah Arsen. Tapi dari sudut matanya, ia masih bisa melihat tubuh pria itu bergerak, mengeringkan rambut, dan berjalan perlahan ke arah dapur terbuka.

“T-Tuan… bisakah Anda memakai baju dulu sebelum bicara denganku?” ucap Clara dengan suara nyaris seperti semut.

Arsen tertawa pelan. “Kenapa? Kau tidak tahan melihatku seperti ini?”

Clara menggigit bibir bawahnya, malu bukan main. “Saya… saya hanya merasa… tidak sopan…”

“Tenang saja, Clara,” ujar Arsen sambil menyender di meja dapur. “Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku ingin kau tahu, kau bukan tawanan di sini. Hanya saja, sampai hutangmu lunas… aku yang bertanggung jawab atasmu."

Kalimat itu terdengar lembut, tapi sarat makna.

Clara akhirnya menoleh, meski dengan kepala tertunduk. “Tapi saya tidak terbiasa hidup begini, Tuan. Saya… saya takut...”

Arsen menatap wajah gadis itu yang tampak kebingungan dan rapuh. Ia mendekat, kali ini dengan langkah perlahan, tidak menggertak seperti sebelumnya.

Saat jarak mereka tinggal satu meter, ia berhenti. “Kau bisa tidur di kamar atas. Pintu bisa kau kunci dari dalam. Aku takkan menyentuhmu, Clara. Aku bukan monster.”

Clara mendongak, dan untuk pertama kalinya, mata mereka bertemu tanpa kemarahan, tanpa ketakutan. Hanya hening… dan detak jantung masing-masing yang terasa begitu keras di dada mereka.

“Terima kasih… Tuan,” lirih Clara.

Arsen mengangguk sekali. “Sekarang naiklah. Ganti pakaianmu. Dan istirahat.”

Clara pun melangkah pelan menuju tangga, namun sebelum benar-benar menaiki anak tangga pertama, ia menoleh sebentar.

“Tuan…”

“Hm?”

“Anda… akan tidur di bawah, kan?”

Arsen mengangkat alis, lalu tersenyum miring. “Kenapa? Kau takut aku memanjat ke atas?”

Clara buru-buru menoleh lagi dan berlari kecil menaiki tangga. “Tidak! Saya cuma… memastikan saja!”

Arsen tertawa kecil, namun tawanya cepat menghilang, berganti dengan tatapan kosong ke arah tangga yang baru saja dilalui Clara. Ia mendesah pelan.

“Apa yang sebenarnya kulakukan?” bisiknya pada diri sendiri, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju kamarnya.

1
Nani Te'ne
Suka
Ndha: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
cerita buat matt thor..harus ada! gw maksa🙂
Ndha: Waadduhh..😁
nanti diusahakan ya kak
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
lahhh🙃
vj'z tri
kenapa di akhir taruh bawang banyak banget loh 😭😭😭😭🤧🤧🤧🤧🎉🎉🎉🎉
Ndha
Hai.. ceritanya selesai ya😊
jangan lupa mampir di cerita baru author.
MEMBAWA BENIH SANG CASSANOVA

🥰🥰🥰
vj'z tri
sah sah sah 🎉🎉🎉🎉🎉🎉
partini
Jodi minta ma author lah dapat wanita yg cinta ma kamu setulus hati 🤭
partini: 🤣🤣🤣🤣 ga lah
total 2 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
walaupun anton tdk menjadi ayah yg baik buat clara ttp dia adalah keluarga satu"nya, anton sdh mendapatkan balasan meski luka clara tdk sepenuhnya sembuh dan memaafkan bisa cukup membuat hatinya lega meski sulit menerima kembali.
Ndha: tull.. kak👍👍
total 1 replies
vj'z tri
🎉🎉🎉🎉🎉🎉 lanjut Thor 🎉🎉🎉🎉
keira
👍👍👍👍👍semangat thor
Siti Amyati
sahabat jadi ibu tiri
Ndha: judulnya : Istri ayahku adalah sahabatku 🤭
total 1 replies
partini
om Arsen kan kaya bisa beli rumah lagi dong biar kenangan baru tercipta yg lama di kubur ajahhhhh
Ndha: mereka mau nostalgia kak🤭
total 1 replies
Muchamad Ridho
akhrnya muncul jg cerita vanya
Ndha: iya kak, hampir kelupaan 🤭
total 1 replies
vj'z tri
mommy Dady lagi lagi lagi lagi apa ya ?coba princess tanya author 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 lupa kalau ada princess di sana 😅😅😅
Ndha: lagi ngemut permen wkwkwk
total 1 replies
vj'z tri
ehm ehm sesuatu 🤧🤧🤧
Siti Amyati
kan sekarang sudah beda ngga bisa bebas ada yg bakal ngangguin
Ndha: iya kak🤭 pasti digangguin terus Ama Ariel😆
total 1 replies
vj'z tri
papa Dedi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 Arsen ganti nama jadi Dedi 😅😅😅😅🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ndha: wkwkwkwkw
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
mewek🤧
Tamima II
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ollyooliver🍌🥒🍆
sabar..otw dpt jodoh lu😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!