Sekuel novel Rain & Sunny
Cinta itu berhak memilih kepada siapa ia akan berlabuh dan juga cinta itu tidak memandang status.
Begitulah yang dirasakan pemuda bernama Cyril Orion Stevenson. Ya, ia merasakan cinta itu tumbuh dalam hatinya secara tak sadar.
Jantungnya seakan digedor paksa oleh sesuatu yang bernama cinta kala melihat Irene Cassiopeia Jonathan sang sepupu.
“Jika cinta berhak memilih, lantas mengapa cinta kita seolah ada yang menghalangi?"
- Cyril Orion Stevenson -
“Aku tahu bahwa aku juga mencintaimu, tapi aku juga tahu bahwa perasaanku padamu adalah sebuah kesalahan."
- Irene Cassiopeia Jonathan -
Akankah mereka dapat bersatu?
Atau justru menemukan cinta yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Claudia Diaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gegana (Gelisah, Galau, Merana)
Jika malam ini sangat berkesan bagi Leander dan Stephanie. Maka lain halnya dengan Orion, yang sedang berguling-guling di atas kasur.
Ia merasa mati karena kebosanan. Tidak tahu ingin melakukan apa.
“Hari yang membosankan!" keluhnya seorang diri, “tidakkah ada kegiatan yang menarik? Perutku sudah mulai kelaparan, mereka butuh bahan bakar pengisi perut."
Dia segera beranjak dari tempat tidur, menuju ruang makan.
“Semoga saja Daddy sudah memasak untuk pagi ini. Tidak mungkin dia membiarkan anaknya yang tampan bak pangeran kerajaan ini kelaparan," Orion berkata sambil mengusap perutnya yang keroncongan.
Terlihat di atas meja sudah tersaji berbagai macam hidangan.
“Daddy, aku mencintaimu!" pekik Orion senang. Oh, daddy-nya ini memang, Daddy terbaik sedunia.
Dengan secepat kilat, tangannya mengambil piring, kemudian mengambil nasi dan sayur serta lauk-pauk dan mulai ambil posisi yang pas, lalu makan dengan tenang.
Orion makan dengan lahapnya, tidak mengacuhkan tatapan para pelayan yang menatapnya sembari mengelus dada mereka. Tuan muda mereka seperti seorang bayi yang kelaparan.
“Bibi, apakah Mommy ada jadwal malam hari ini?" tanya Orion setelah selesai menyantap makan malamnya.
“Nyonya sedang ada operasi hari ini. Beliau sudah berpesan. Mungkin beliau akan pulang larut nanti," jawab sang pelayan.
Orion memandang malas kepala pelayan. Ya ampun, ia benar-benar ditinggalkan sendirian. Apa orang tuanya itu lupa, jika anak sulung mereka itu kesepian karena tidak memiliki pasangan? Miris sekali!
Usai menyantap makan malam sendirian, Orion langsung kembali ke kamarnya, tempat ternyamannya. Namun, hanya keheningan dan rasa sepi yang menyelimutinya.
“Aku bingung ingin melakukan apa?" gumam Orion, “jika ikut balap liar, bisa-bisa Mr. Black disita oleh Daddy, tapi kalau berdiam diri di rumah, aku akan mati kebosanan."
Orion hanya bergeming sembari menatap langit-langit kamar, tetapi tiba-tiba saja ia seperti mendapatkan Ilham. Bola lampu yang terang seakan muncul dari dalam kepalanya, “Aku main ke tempat Uncle Rain saja, semoga Pak Tua itu berada di rumah."
Dengan cepat, tangannya meraih sebuah ponsel yang berada di atas nakas. Lalu men-dial nomor yang dituju.
“Halo," sapa seseorang di seberang telepon.
“Uncle, Uncle berada di rumah, sekarang?"
“Tentu aku sedang di rumah saat ini. Ada apa?"
“Aku ingin ke rumah Uncle. Di sini sepi. Daddy dan Mommy sedang berada di rumah sakit. Leander sedang keluar entah ke mana."
“Lalu kau sendiri sedang apa di rumah?"
“Aku sedang rebahan. Aku tak tahu mau apa, dan apa yang harus kulakukan."
“Tumben kau tidak keluar malam?"
“Dengan siapa? Teman saja sibuk semua, hanya aku yang tidak."
“Suaramu terlihat tidak bertenaga. Kau ini kenapa?"
“Aku sedang galau karena kekurangan vitamin C dan K."
“Vitamin C dan K?"
“Vitamin Cinta dan Kasih sayang. Makanya aku galau."
“Ha-ha-ha ... dasar jomlo mengenaskan!"
“Terserah, dasar orang pamer. Sukanya pamer status!"
“Suka-suka dong. Nyatanya Uncle, kan laku. Tidak sepertimu, seorang jomlo mengenaskan," ledek penerima telepon.
“Aku ke sana sekarang ya, Uncle?"
“Hem. Kutunggu!"
“Wah, gomawo uri Samcheon. Saranghae, Chagiya."
“Kau ... dasar Bocah menggelikan!"
Sambungan terputus, dengan secepat kilat, Orion bangun dari tempat ternyamannya itu dan meraih kunci kehidupan Mr. Black.
“Bibi!" serunya pada Kepala Pelayan.
“Ya, Tuan Muda?" jawab sang bibi.
“Aku akan pergi ke rumah Uncle Rain. Tolong bilang pada Mommy jika nanti Mommy bertanya," pesan Orion.
“Baiklah Tuan Muda. Akan saya sampaikan pada Nyonya, atau Tuan Besar nanti," jawab sang pelayan lagi.
Orion langsung menuju garasi dan mengambil motor kesayangannya, kemudian men-starter motornya dan pergi.
Kelamnya langit dan dinginnya udara yang menusuk hingga ke tulang menemani Orion kala membelah jalanan kota malam ini.
Deru mesin yang bersahut-sahutan seakan berteriak untuk segera cepat sampai ke tempat tujuan turut menemani perjalanan Orion ke kediaman sang paman tercinta.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Orion sampai juga di kediaman Rain.
Ia langsung menekan bel rumah, tak lama kemudian terlihat pelayan rumah membukakan pintu untuk Orion dan mempersilahkan masuk.
“Uncle!" serunya dengan suara yang menggema memenuhi ruang tamu.
“Jangan berteriak, telingaku belum tuli, Anak Muda!" peringat Rain.
Terlihat Rain yang sedang duduk berdampingan dengan sang istri tercinta, tengah menikmati acara drama korea favorit aunty-nya.
Meski sudah berusia hampir 50 tahun. Namun, tubuhnya masih tampak prima, terlihat juga gurat usia di wajahnya. Namun, semua itu tak mengurangi ketampanan yang dimiliki oleh orang tua dihadapan Orion ini.
“Orion, tumben kau kemari?" tanya Sunny lembut.
“Aku kesepian, Aunty. Leander sedang pergi dan teman-teman yang lain sepertinya juga demikian," jawab Orion.
“Kasihan, makanya cari pacar," ledek Rain.
“Belum ada wanita yang beruntung mendapatkan hati dan ragaku," jawab Orion pongah.
Rain hanya mendengus mendengar jawaban penuh percaya diri dari keponakannya, kemudian berkata, “Tak kusangka jika percaya diri overdosis yang dimiliki daddy-nya sekarang menurun pada bocah itu."
Sunny hanya mendengus geli saat suaminya menggerutu.
“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya kan, Sayang?" ucap Sunny.
“Itu benar, tapi aku cukup bersyukur, sifat playboy-nya tidak menurun pada anak itu," sahut Rain.
“Memang dulunya Daddy itu playboy?" tanya Orion penasaran sekaligus ingin tahu.
“Begitulah daddy-mu, Nak. Sering bergonta-ganti pasangan dengan dalih belum menemukan jodoh yang pas, atau karena ia tak ingin kekasihnya illfeel saat mereka mengerti apa pekerjaannya," jelas Rain.
“Ah begitulah resiko menjadi ahli jiwa," sahut Orion.
“Tetapi Triton pernah berkata bahwa kau mirip uncle-mu, tidak pernah memiliki kekasih meski banyak wanita yang menaruh hati padanya," timpal Sunny.
“Sungguh?!" pekik Orion.
“Mommy-mu yang mengatakannya. Ah, ada juga daddy-mu, Jupiter, dan Titan juga," lanjut Sunny.
“Kenapa bisa begitu, Uncle. Apa alasannya?"
“Aku hanya menjaga tubuh dan hatiku agar istriku tidak kecewa. Istriku yang berhak memilikinya, istriku yang seharusnya menyentuhku untuk pertama kalinya dan untuk seterusnya," jelas Rain.
“Wow! Aku setuju dengan Uncle untuk masalah ini," sahut Orion, “jika kita menginginkan pasangan kita masih virgin, tentu saja kita juga harus bisa menjaga diri supaya kita masih perjaka secara keseluruhan pastinya."
“Aku benar, kan?" kata Rain.
“Kau pun pernah ditaksir oleh Kak Aurora," celetuk Sunny tiba-tiba.
“Siapa itu Aurora?" tanya Orion.
“Dia hanya pegawaiku ... tapi itu dulu. Lagipula aku juga tidak menyukainya. Dia terlalu murah untuk ukuran seorang wanita. Bukankah seharusnya harga diri wanita itu sangat tinggi?"
“Itu betul Uncle. Tidak ada sel telur yang mengejar sel sperma," sahut Orion.
“Mungkin sekarang zaman sudah mulai berubah, tetapi pria seperti kami, aku, daddy-mu, Galaksi, Jupiter, dan Titan lebih suka mengejar daripada dikejar. Jangankan aku, mungkin daddy-mu saja melirik wanita seperti Aurora pun enggan," ucap Rain.
“Memangnya dia perempuan seperti apa, Uncle?"
“Dia perempuan yang sangat agresif. Selalu menempel ke mana-mana bagai seekor lintah, aku saja risih jika dia berada di dekatku."
“Kupikir dirimu juga akan terpesona oleh kecantikannya," goda Sunny.
“Justru aku terpikat padamu sejak kita bertemu pertama kali secara tidak langsung di kantin kantor. Saat itu kau sedang mengobrol dengannya," kata Rain dengan jujur.
“Benarkah, berarti pertemuan kita pertama bukan di komplek perumahan waktu itu?" tanya Sunny tak percaya. Rain hanya menghela napas, mencoba bersabar dengan kelemotan istrinya ini.
“Lupakan saja, mungkin saja kau benar-benar lupa, atau kau tak menyadarinya bahwa kau pernah melihatku meski hanya sekilas," ucap Rain pada akhirnya.
Sejenak Orion berusaha menahan tawa, melihat interaksi pasangan suami-istri di hadapannya ini. Ia begitu kagum dengan kesabaran sang uncle dalam menghadapi tingkah istrinya yang ajaib.
Bahkan daddy-nya pun sampai dibuat heran oleh perilaku uncle-nya ini. Karena menurut sang daddy, uncle-nya ini bukanlah orang yang penyabar. Namun, lihatlah sekarang, Uncle menjadi sosok yang berbeda, penyabar dan lemah lembut.
“Aigoo ... hentikan kemesraan kalian sebelum aku menderita diabetes. Apa kalian tidak kasihan terhadap keponakan kalian yang jodohnya belum ditemukan dan entah sedang tersesat di tempat antah-berantah ini?" interupsi Orion.
“Bilang saja kalau kau iri. Kau tidak punya partner hidup yang bisa diajak untuk berbagi kasih, bukan? Kasihan sekali nasibmu, Nak," ucap Rain telak menonjok hati Orion.
“Aku saja tidak tahu, kapan datangnya jodohku," sahut Orion merana.
ak bacanya nyicil hehe
aku suka banget gaya bahasanya