Assalamu'alaikum.. Maaf yah novel ini ngak di lanjut lagi jadi mending ngak usah di baca🥲
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SENJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IKTM_08
Deg
Bruk..
Evan menarik pergerlangan tangan Araya hingga Araya terjatuh tepat di samping Evan. Sudah dua kali Evan melarang Araya untuk pergi membuat Araya sangat gugup.
"Apa yang harus saya lakukan" batin Araya. Dia bingung harus berbuat apa pada Evan.
"Jangan tinggal kan aku" pinta Evan sembari memeluk tubuh kecil Araya.
Wajah Araya tenggelam dalam dada bidang milik Evan. Araya tidak bisa bergerak sama sakali dan hanya pasrah saat sebuah tangan besar melinggar di pinggang nya.
Araya merasa canggung namun di satu sisi ada perasaan nyaman saat Evan memeluk nya dengan kehangatan hingga tanpa sadar mereka berdua tenggelam dalam mimpi mereka masing-masing.
****
Pagi pun menyambut dengan sinar mentari yang masuk di sela-sela jendela kamar dan membangun kan seorang gadis yang masih terlelap dalam mimpi nya.
Araya menggeliat setelah mengumpul kan puing-puing kesadaran. "Hoaaamm" Araya menguap namun Araya lupa jika dia sedang berada di kamar Tuan Muda Evan.
"Kamar ini.." Araya menatap sekeliling. "Ini kamar Tuan Muda". Araya sangat terkejut saat sadar bahwa diri nya sedang berada di dalam kamar Tuan Muda Evan dan untung nya Evan sudah tidak ada di samping Araya.
Namun saat ingin berdiri Araya mendengar suara pintu terbuka dan segera menarik kembali selimut untuk menutupi tubuh nya lalu berpura pura kembali tertidur.
Suara langkah kaki membuat Araya sedikit mengintip dari balik selimut dan alangkah terkejut nya Araya saat melihat Evan yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk untuk melilit pinggang nya.
Evan berjalan menggunakan tongkat sembari meraba-raba beberapa barang dan saat sampai di depan lemari Evan berhenti sejenak.
Mata Araya membola sempurna melihat pemandangan di pagi hari yang sangat indah dan seksi menurut nya. Araya tidak perna menyangkah jika Evan memiliki tubuh berotot serta perut kotak-kotak.
"Wah.." Tanpa sadar Araya mengeluarkan suara membuat Evan menghentikan aktifitas nya dan menoleh ke arah suara.
Dengan cepat Araya menutup kembali mata nya dan menarik selimut untuk munutupi seluruh tubuh nya. "Ehh kok aku panik padahal kan Tuan Muda tidak bisa melihat" batin Araya Merasa bodoh.
Araya yang nakal pun kembali membuka sedikit selimut dan mengintip Evan namun ternyata Evan sudah tidak ada di sana. "Kemana dia" lirih Araya sembari mencari sosok Evan.
"Kau mencariku" suara Evan yang begitu jantan membuat jantung Araya ingin terlepas sangking terkejut nya. Entah sejak kapan Evan sudah berdiri di samping ranjang Araya.
Araya hanya diam terpaku menatap wajah sang suami yang terlihat lebih segar dan sangat tampan. "Keluar dari kamar ku" suara Evan seketika membuyarkan lamunan Araya dan dengan cepat Araya menggeleng menepis semua bayang-bayang Evan.
"I_iya Tu_ttuan Muda" Araya menjawab dengan gugup lalu segera berdiri dan turun dari ranjang lalu segera keluar dari kamar Evan namun suara Evan kembali menghentikan langkah Araya.
"Jangan perna masuk ke dalam kamar ku"
Araya tidak menjawab ucapan Evan dan segera meraih gagang pintu lalu keluar meninggal kan Evan yang angkuh.
Araya kembali ke dalam kamar nya dengan perasaan campur aduk. "Nona" Lili yang sedang sibuk memasuk kan beberapa barang kedalam koper merasa bahagia saat Araya datang dengan keadaan selamat.
"Nona baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka kan?" terlihat raut wajah khawatir di wajah Lili.
Araya menatap Lili. "Kau tau aku dari mana?" tanyak Araya dengan menautkan kedua alis nya.
"Kamar Tuan Muda" jawab lili polos.
"Lantas mengapa kau sangat khawatir? Aku hanya ke kamar suami ku bukan ke kandang singa jadi tidak usah berlebihan" Araya merasa kesal karena perkataan Evan yang melarang nya untuk masuk ke dalam kamar nya namun kekesalan itu Araya lampiaskan pada asisten pribadi nya.
"Maaf Nona" Lili menunduk merasa bersalah pada Araya. "Anda belum tau saja Nona jika kamar Tuan Muda Evan lebih menyeramkan di banding kandang singa" Lili hanya membatin tanpa berani bersuara.
"Kenapa pakaian ku di masukan ke dalam koper" tanyak Araya saat melihat pintu lemari yang masih terbuka dan ada koper serta pakaiaan Araya di dalam nya.
"Malam ini anda akan kembali ke mansion utama bersama Tuan Muda Evan untuk merayakan kedatangan Nona Vina sekaligus Acara penyambutan Tuan Muda Evan"
Araya tidak menjawab ucapan asisten nya dan malah duduk di sofa dengan wajah yang susah di artikan.
Araya merasa takut saat bertemu dengan keluarga Abraham apalagi di pertemuan itu pasti Nyonya Lusy juga akan hadir membuat Araya merasa ragu untuk datang ke mansion utama.
Namun di satu sisi Araya merasa senang karena akan kembali bertemu dengan Varrel. Laki-laki pertama yang membuat nya jatuh hati.
****
Di sebuah mansion mewah yang terletak di pusat kota nampak keluarga Abraham yang sedang menikmati sarapan pagi nya sembari membahas acara yang akan berlangsung malam ini untuk menyambut kedatangan putri kesayangan mereka yaitu Vina Abraham sekaligus memperkenalkan Evan pada beberapa orang sebagai pewaris keluarga Abraham.
"Apakah kak Evan juga akan hadir malam ini?" tanyak Vina dengan raut wajah penuh harap.
"Tentu" jawab Tuan Abraham dengan seulas senyuman.
"Apa!!" pekik Nyonya Lusy membuat seluruh mata menatap nya.
"Tidak bisa!! Evan tidak bisa ikut karena dia hanya akan mempermalukan keluarga kita" Nyonya Lusy sangat menolak kehadiran Evan di acara penyambutan putri kesayangan nya.
Tuan Abraham sempat terdiam menatap sang istri lalu menghela napas. "Kita tidak punya pilihan lain. Semua orang sudah tau jika kita mempunyai putra yang buta dan mau tidak mau Evan akan hadir di acara malam ini sekaligus aku akan memperkenal kan Evan pada beberapa klien agar mereka bisa saling mengenal" jelas Tuan Abraham membuat Nyonya Lusy terbelalak.
"Yang benar saja! mana mungkin kita mengundang Evan, apalagi memperkenalkan nya pada klien!! yang ada reputasi keluarga kita bisa hancur begitu saja!!" protes nyonya Lusy dengan tatapan tajam nya.
"Ayah benar. Lagi pula kak Evan adalah putra pertama keluarga Abraham dan sudah sepantas nya kak Evan mendapatkan hak nya" Jawab Varrel dengan santai.
"Sampai kapan Kak Evan akan di asing kan? Kak Evan juga putra ibu dan sudah kewajiban ibu untuk menerima bagaimana pun kondisi kak Evan" lanjut Vina yang juga mendukung keputusan ayah nya
Brak!!
Nyonya Lusy yang merasa terpojokan membanting gelas yang berada di atas meja dengan wajah yang sangat marah. "Terserah kalian!!" kata Nyonya Lusy berdiri lalu meninggalkan ruang makan dengan perasaan emosi.
****
klo bisa, sebaiknya Evan dan araya pergi dari rmh org tuanya dan menjalani kehidupan mereka biar mereka bahagia