Dikhianati oleh kekasihnya tak membuat seorang gadis muda terpuruk dalam kesedihan yang mendalam.
Rossy, sang ratu bisnis berusia muda tiba-tiba saja membeli sebuah novel misterius saat dirinya baru saja kembali merasakan pengkhianatan. Siapa sangka novel itu membawanya bertemu dengan Alexander, sang pangeran tokoh favoritnya, yang merupakan tokoh pria kedua dalam novel romansa tragedi tersebut, guna menuntaskan sebuah misi agar ia bisa kembali ke dunianya berasal.
Akankah Rossy mampu menuntaskan misi tersebut untuk kembali, ataukah ia memilih untuk tetap berada di dunia novel bersama sang pangeran kedua, pria fiksi sempurna yang takkan pernah ada di dalam dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Fi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Penyihir yang Tersihir
"Kamu kenapa terus memperhatikan aku? Apa ada yang salah?" Rossy tampak bingung saat melihat Adele terus menerus melihat dirinya dengan kedua mata yang berbinar-binar.
Gadis yang baru melaksanakan debutante itu tersenyum sumringah lalu dengan memuji guna mengungkap seluruh yang ada di dalam pikirannya.
"Astaga, Anda sangat cantik, Nona! Bahkan saya tidak menyangka jika warna hitam bisa seindah itu," ucap Adele yang terus menerus terkagum-kagum dengan surai hitam Rossy yang terlihat berkilau dan juga lembut.
Adel mulai meraih beberapa gaun yang baru saja diberikan oleh kepala dayang di istana. Lalu memilihkan salah satunya untuk Rossy kenakan.
"Bagaimana kalau Anda memakai yang ini, Nona?" ucap Adele sambil menenteng gaun berwarna merah muda bercampur putih.
Rossy yang tidak mengerti soal mode busana jaman itu pun tampak pasrah, ia menyerahkan semua urusan kepada Adele tanpa menuntut yang merepotkan.
"Saya percayakan semua urusan ini padamu," ucap Rossy.
"Ya ampun, terima kasih banyak, Nona. Ini semua sungguh kehormatan untuk saya."
***
Brak!
"Lady Rossy telah tiba!"
Pintu rumah kaca pun terbuka, memperlihatkan Rossy dengan gaun mewah yang ia kenakan.
Kecantikan dan keanggunan yang terpancar dari gadis itu tampak ya cukup membuat Alexander pun kembali terpukau, bahkan pria itu nyaris tak berkedip melihat penampilan Rossy yang sangat cantik dan menawan.
"Salam untuk Yang Mulia Pangeran Alexander," ucap Rossy membungkuk seraya sedikit mengangkat ujung gaun yang dikenakan oleh dirinya.
Untuk pertama kalinya jantungnya berdegup begitu cepat, Alexander merasakan dengan pasti sesuatu yang berbeda dan menggelitik hatinya. Perasaan yang bahkan tak ia rasakan ketika dulu ia pernah jatuh hati kepada mendiang putri mahkota.
"Silahkan duduk, Lady!" titah Alexander mempersilahkan Rossy menduduki kursi yang berada di hadapannya.
Pangeran Alexander tanpa sungkan menuangkan secangkir teh pada cangkir milik Rossy, lalu kembali duduk dengan pandangan mata yang tak terlepas pada gadis itu.
Bunga mawar merah yang tumbuh subur di rumah kaca itu, seolah-olah selaras dengan rambut hitam legam milik Rossy, hal tersebut seakan membuat perpaduan di antara keduanya begitu mempesona dan indah.
"Bunga-bunga di sini sangat indah, bahkan mawar ini lebih besar dibandingkan ukuran pada umumnya," ucap Rossy yang tengah mengagumi keindahan rumah kaca dengan berbagai bunga yang tumbuh bermekaran walaupun musim semi telah usai.
Alexander tersenyum lalu memetik setangkai mawar dan memberikannya kepada gadis itu.
"Rumah kaca ini diselimuti oleh sihir, sehingga bunga-bunga ini akan terus bermekaran walaupun musim dingin menjelang," ucapnya.
Tiba-tiba kelopak bunga muncul secara misterius bak butiran salju, tepat setelah Alexander menjentikkan jarinya. Rossy terperangah akan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Waw! Ini sihir?" tanya Rossy tersenyum.
"Ya, sebuah sambutan kecil dariku. Lady, terima kasih karena Anda sudah ingin membantuku untuk menyembuhkan putra mahkota."
"Yang Mulia terlalu berlebihan. Tidak perlu berterima kasih karena itu memang tujuan saja untuk kembali ke dunia saya berasal, lagi pula saya belum melakukan apapun," ucap Rossy seraya menengguk perlahan secangkir teh hangat.
Keduanya pun kembali saling berbincang dengan hangat walaupun butiran salju mulai turun pada sore itu.
***
"Nona, Nona mau kemana? Pakai selendangnya dulu!"
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Rossy sama sekali tidak bisa terpejam. Dirinya pun memilih untuk berjalan-jalan tanpa tujuan, guna membuat tubuhnya menjadi lelah agar ia bisa segera tidur dengan nyenyak.
"Aku cuma mau berjalan-jalan saja kok. Lagi pula istana ini hangat dan aku gak merasa kedinginan sama sekali," ucap Rossy kepada Adele yang terus saja mengikuti dirinya.
"Tapi Anda bisa tersasar, Nona!" seru Adele semakin panik.
Melihat wajah panik Adele semakin membuatnya ingin terus menggoda. Rossy tertawa kecil dan melangkahkan kaki semakin cepat.
"Aku bisa bertanya penjaga, kamu gak usah khawatir."
Gadis itupun dihadapkan dengan jalan bercabang, tanpa berpikir panjang Rossy langsung berbelok ke kanan sebelum Adele berhasil mencegahnya.
"Nona jangan berjalan ke sana!" seru Adele.
"Apa?"
Brak!