Tara yang tidak tega melihat sang kakak selalu saja menangis setiap malam karena akan dijodohkan oleh kedua orang tua mereka dengan laki-laki yang tidak mereka kenal sama sekali membuatnya bertekad untuk menggantikan sang kakak.
Akan tetapi, disaat Tara sudah siap dengan gaun putih dan riasan wajah yang sudah langkap tiba-tiba saja gadis yang baru saja berusia 19 tahun itu malah ingin membatalkan niatnya untuk menjadi pengantin pengganti sang kakak.
Apakah yang akan terjadi? Apa Tara berhasil membatalkan acara yang sangat sakral itu? Apa malah sebaliknya Tara akan tetap menjadi pengantin pengganti untuk sang kakak?
Cuss!! Langsung dibaca saja kalau penasaran! Jangan lupa tekan bintang lima supaya ramah lingkungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Pengantin Pengganti
Setelah makan malam selesai Tara membiarkan Gio pergi begitu saja tanpa melarang laki-laki itu.
"Lho, kenapa kamu tidak melarang suamimu pergi, Tara?" Yana terlihat begitu heran dengan tingkah laku putrinya.
"Tidak apa-apa Tante, aku tadi di dalam kamar sudah berpamitan dengan Tara," sahut Gio sambil berlalu pergi, setelah tadi sempat berpamitan dengan Arzan dan Yana. Dan entah kemana arah tujuan laki-laki itu saat ini.
"Tuh, Mama dengar sendiri apa yang dia katakan. Jadi, biarkan saja dia pergi." Tara menatap sang ibu ketika ia mengatakan itu. "Sudahlah, aku juga sudah sangat ngantuk Ma." Tara lalu berniat ingin segera naik ke lantai dua. Tapi suara Arzan membuat gadis itu terdiam.
"Ikut dengan suamimu, karena mungkin dia malu berada disini, di saat malam ini adalah malam pertama kalian." Arzan sebagai lagi-lagi yang berpengalaman malah mengatakan itu kepada putrinya. "Segera susul dia, karena sepertinya suamimu jalan kaki," lanjut Arzan.
"Iya, Tara, mungkin saja memang benar saat ini suamimu malu. Cepetan gih, susul dia," ujar Yana menimpali ucapan sang suami yang meminta Tara untuk menyusul Gio, laki-laki yang baru tadi siang menjadi menantunya itu.
Tara yang merasa dipojokkan oleh kedua orang tuanya menggelang kuat. "Tidak, aku tidak mau ikut dengannya," tolak Tara secara langsung. "Aku ini masih putri Mama dan Papa, tapi kenapa Mama maupun Papa seolah-olah mengusirku dari rumah ini secara halus, hanya karena laki-laki itu." Tara berpikir Yana dan Arzan telah mengusir dirinya.
Arzan menggeleng. "Kamu sudah bukan tanggung jawab Papa lagi, oleh sebab itu Papa memintamu untuk mengikuti suamimu. Karena yang berhak sekarang atas dirimu hanya dia bukan Mama ataupun Papa." Arzan menjelaskan kepada Tara. "Sebab ketika ijab qabul diucapkan oleh Gio, sejak saat dan detik itu juga Papa sudah melepas kewajiban Papa terhadapmu, Tara. Sehingga Papa tidak berhak lagi memintamu untuk tetap tinggal disini kalau bukan atas persetujuan suamimu."
Tara menunduk. "Seharusnya Papa katakan ini kepada Kak Tika, karena dia pengantin yang sesungguhnya. Sedangkan aku hanya pengantin pengganti yang terpaksa menjadi istri laki-laki itu," ucap Tara.
"Kamu sekarang istrinya Gio, ini juga atas permintaan kamu sendiri. Jadi, untuk apa kamu mengatakan itu semua sekarang?!"
"Pa, jangan kencang-kencang nanti tetangga mengira kita sedang bertengkar malam-malam begini," kata Yana saat ini brusaha menahan Arzan supaya laki-aki itu tidak berbicara terlalu lantang dengan putri mereka. "Mama yakin, Gio juga pasti akan kembali tanpa perlu Tara susul," sambung wanita yang paling tidak bisa melihat Tara bersedih dalam keadaan begini.
"Papa sedang menjelaskan kepada Tara, Ma. Agar dia tidak menganggap pernikahan ini hanya permainan saja." Pandangan Arzan tidak berpaling sedikitpun dari Tara. "Ingat Gio adalah suamimu yang sah secara agama maupun negara. Jadi, Papa minta tolong dengan sangat, kamu patuhi apa saja yang dikatakan oleh suamimu itu."
Tara tidak berani mengangkat wajahnya karena jika Arzan sudah berbicara serius seperti saat ini maka tidak ada satupun orang di rumah itu yang berani membantah laki-laki itu.
"Sekarang susul lah suamimu, karena Papa tahu kamu tadi sudah mengusirnya."
Tara merasa tenggorokannya tercekat ketika Arzan ternyata sudah tahu kalau dirinya telah mengusir Gio, sang suami.
*tara beruntung dapat gio sedangkan gio musibah dapat tara
*tara adalah istri laknat berkali2 dia meminta cerai, melukai perasaan suaminya, pembangkang, durhaka, kasar, tidak sopan sama sekali, inti tata tidak ada bagus nya sama sekali jadi istri yang lebih parah tata tidak pernah merasa bersalah dan minta maaf dan novel ini juga selalu membela kelakuan tara
*gio karakter dibuat bodoh, diperlakukan semena2 oleh tara tapi kayak lelaki bodoh yang selalu mengemis cinta kayak tidak ada wanita lain saja
*realita tidak akan ada mertua yang mau menantu kayak tara
*coba survey lelaki pasti 100% bakalan nggak akan mau punya istri kayak tara
sara saya bagi novelis wanita kalian belajar dulu bedakan mana salah mana benar dan kalian introveksi diri dulu akui kalau kalian juga bisa salah, belajar minta maaf dan belajar peka terhadap perasaan pasangan kalian baru buat novel
soalnya di novel kalian pemeran utama wanita selalu berbuat semaunya dan banyak melakukan kesalahan tapi kesalahan itu kalian bela bahkan kalian benarkan, bahkan kat maaf pun kalian tidak berani buat, dalam novel pemeran utama wanita adalah cerminan pemikiran kalian dan sudut pandang kalian (novelis) kalian kalian selalu menempat diri kalian diposisi pemeran utama wanita
renungkan lah
kk bikin emosi jiwa nie.q udh pngn berhnti bc tp ya bgni cerita kk sllu bikin q penasaran.lm2 bs dartink nie😃😃😃
😄😄😄😄sia2 udh berlari jauh smpe berasa 5L.mlah ketemu sm clon suaminya
hadeeh jngn smpe di siksa sm gio