NovelToon NovelToon
Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Status: tamat
Genre:Duda / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Tamat
Popularitas:559.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Anissah

Ceria Skalane Waktu, wanita karir berusia dua puluh lima tahun. Ia terjebak perasan nyaman dengan seorang duda beranak satu, yang memiliki selisih usia enam belas tahun lebih tua darinya. Sejak kecil, ia kehilangan sosok ayahnya, membuatnya begitu rindu dan mengidamkan sosok dewasa dan kebapakan seperti Kenandra.

Sayangnya, Kenandra sudah memiliki kekasih idamannya. Wanita dewasa, berusia tiga puluh delapan tahun dengan jejak pendidikan yang membuat Kenandra semakin berat pada Putri.

Sedangkan Ria, ia mampu berada di posisi tertinggi dalam perusahaan keluarga kakak iparnya karena kepercayaan keluarga saja. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, bahkan ia tidak pernah bersekolah karena keadaan keluarganya yang begitu rumit saat itu.

Bertambah rumit usahanya untuk mendapatkan Kenandra, karena kerumitan-kerumitannya semakin menjadi, dengan masalah kian bermunculan. Hal tersebut membuatnya berpikir untuk terus maju mengejar cinta Kenandra, atau mundur dengan segenap rasa kecewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MD8. Mengobrol hangat

“Tak, sama Om Arman.“

Aku langsung menegang. Benarkah ini Arman mantan kekasihku saat di novel Canda Pagi Dinanti?

Aku langsung memakai hijabku asal, kemudian keluar dari kamar. Arman tengah berdialog dengan Ra dan Chandra, di belakang mereka ada ibu yang membawa senampan kue kering dan dua gelas teh yang asapnya mengepul.

Aduh, baru juga aku ingin beristirahat.

“Ria, maaf ganggu.“ Ia tersenyum lebar.

Saat usiaku empat belas tahun dan baru menjajal rasanya berpacaran, ya dialah pacar pertamaku. Di mana mbak Canda terus melarangku untuk bertemu dengannya, karena mbak Canda memintanya untuk datang ke rumah. Sedangkan, Arman yang masa itu masih kelas tiga SMA, dia tidak berani untuk berkunjung ke rumah wanita.

“Tak apa.“ Aku mencoba ramah dengan membalas senyumnya.

“Aku besok udah berangkat lagi ke Banda Aceh. Aku ke sini cuma mau minta nomor WA kau aja, Dek.“ Ia memberi kantong plastik berlogo minimarket.

“Tadi kau bawa buah, sekarang bawa lagi. Tak usah repot-repot kalau mau main tinggal main aja, Man.“ Ibu menaruh senampan sajian itu di atas meja.

“Ayo pulang, Dek?“ Chandra mengajak Ra dengan nada lembutnya.

“Mau minta ciki dulu.“ Ra menunjuk kantong plastik yang baru berpindah tangan padaku.

Aku selalu istighfar pada satu anak itu. Aku membuka isi plastik berwarna putih ini, dengan Ra yang langsung memilih isi di dalamnya.

“Udah, dadah….“ Ia langsung pergi mendahului kakaknya.

Ibu terkekeh dan ikut turun dengan Chandra dan Ra. Jadi, aku sendirian di sini dengan Arman?

“Duduk, Bang.“ Lumrah di sini panggilan abang dan adek.

Arman mengangguk dan duduk di sofa dobel, aku menaruh kantong plastik tersebut di dekat meja dan aku duduk di sebelahnya.

“Gimana kabarnya?“ Sebenarnya aku malas berbasa-basi, tapi ia sudah mau sopan dan bolak-balik ke sini untuk menemuiku.

“Baik, kau?“ Arman selalu memasang senyum simpulnya.

“Baik juga. Kerja apa di rantau orang?“ Lapangan pekerjaan di sini banyak, tapi entah kenapa ia malah memilih merantau.

Aku dulu berpacaran dengannya, sampai ia lulus dan bekerja sebagai kurir paket. Ia dibayar perpaket dan ia banyak mengeluh dulunya, karena ia merasa tidak cocok dengan pekerjaannya.

“Jualan bihun gulung, tau tak? Bihun yang disiram telur itu, terus digulung di tusuk sate?“ Ia duduk sedikit serong ke arahku. Membuat lututnya bersentuhan dengan pahaku.

Aku mengangguk. Aku tahu, karena banyak yang berjualan bihun gulung juga di sini.

“Kenapa tak jualan di sini aja?“ Memang di sini banyak yang berjualan bihun gulung, tapi aku yakin ia pasti laku jika berjualan di sini juga. Karena di pasar malam pun, yang diburu adalah bihun gulung dan telur gulung. Itu seperti makanan best seller-nya pasar malam, bahkan seperti flash sale. Karena sudah mengantri, kadang kehabisan juga dan kami harus menunggu pedagangnya merendam bihunnya lagi.

“Mentalnya tak siap kalau di depan orang kenal.“ Ia memamerkan giginya.

Jangan disangka, pedagang kecil seperti itu bisa mendapat untung besar. Karena apa? Karena permintaan pasar yang besar.

“Sehari habis berapa kilo bihun?“ Aku bisa menghitung omsetnya dari jumlah bahan baku yang ia gunakan dalam sehari.

“Paling sepi itu, sekilo bihun. Kalau lagi hujan aja gitu, atau datang ke sekolahnya telat. Kalau Jum'at aku libur jualan, bingung sih tanggung sholat Jum'at. Kena razia, nanti malah repot lagi.“ Arman tertawa kecil. Tapi, menurutku tidak lucu.

“Satu gulungnya seribuan kah?“ Umumnya sih seribu setahuku, tapi aku ingin memastikan saja.

“Iya, seribuan.“

Aku yakin uangnya banyak, karena menurut hitungan dalam pikiranku. Pendapatan kotornya sebulan bisa sampai lima belas juta, mungkin bersihnya sekitar dua belas jutaan. Karena ia pedagang keliling, ia tidak membayar tempat untuk lapaknya berjualan.

“Sebulan dapat ya lima belas jutaan sih?“ Jika obrolan bisnis, menurutku tidak terlalu sensitif obrolan tentang seperti ini. Tapi entah, jika Arman tidak ke sini lagi, berarti ia ilfeel padaku.

“Kotor.“ Ia mengangguk. “Aku tuh mikirin kedepannya, Dek. Aku tak bisa pegang uang, tak bisa atur uang. Jujur ya? Di orang tua aja, keknya tuh tak jelas tabungan aku ini buat apa. Sedangkan, aku udah pengen nikah.“

Sesi curhat dimulai.

“Terus kau berpikir, cari istri untuk atur keuangan kau?“ Tidak disangka, Arman malah mengangguk.

“Aku kepengen punya usaha ayam petelur. Tapi aku tak punya ilmunya, Dek. Aku sore tadi main ke teungku haji, katanya tak punya usaha ayam petelur, punyanya ternak puyuh dan telurnya. Aku kan pernah dengar, kalau teungku haji di kampung punya usaha peternakan. Aku kira ayam petelur atau ayam potong gitu, ternyata bukan.“

Aku manggut-manggut. Aku mengerti, ia ingin memiliki teman yang berwawasan. Sepertiku contohnya, agar bisa membantunya untuk dirinya membuka usaha.

“Kau punya dana berapa, Bang? Mau ditujukan untuk nikah dulu atau untuk usaha dulu?“ Aku mengerti, ia tidak mau seumur hidupnya berpindah-pindah tempat terus untuk berdagang.

Mamah Dinda dan papah Adi adalah patokan masa tua yang diinginkan semua orang, termasuk aku juga. Tapi tidak di masa tua saja sih, mamah Dinda dan papah Adi sedari muda sudah di bawah atap yang mewah.

“Sekarang ada lima puluh jutaan, aku bilang ke orang tua kalau uang aku untuk beli ruko di Banda Aceh. Tapi aku pikir lagi, omset di ruko pasti tak sebesar keliling ke sekolah. Karena kalau keliling kan, kita langsung datang konsumen gitu. Kalau di ruko, pasti kita malah nungguin konsumen datang.“

Pemikirannya ada cerdasnya juga, tapi resiko berkeliling lebih besar. Ya contohnya kecelakaan, karena barang bawaan untuk berkeliling cukup banyak.

“Menurut aku, cantolin ke tanah dulu. Aku ada makelar tanah yang biasa nawarin ke bang Givan. Nanti aku tanya-tanya ke dia deh, barangkali ada tanah kosong yang murah. Tapi saran aku, kumpulkan aja dulu uangnya.“ Karena menurutku, lima puluh juta tidak cukup untuk sebuah tanah ukuran peternakan.

“Kalau gitu, aku nitip kartu ATM ya? Aku nanti nabung dari buku tabungan aja.“

Aku cenderung berpikiran jelek. Ia kira aku tidak tahu, jika zaman sekarang sudah ada penarikan tanpa kartu dan bisa juga penarikan dari buku tabungan.

“Maaf, Bang. Abang pegang sendiri aja, karena aku pun pegang kartu perusahaan.“ Bukan aku sombong, tapi memang aku pun memiliki akses untuk itu.

“Aku tuh tak bisa pegang uang, Dek. Malah nanti habis tak jelas. Dikirimkan ke orang tua, mereka malah main pakai untuk nikahi-nikahin adik aku pakai biaya aku. Tak sukanya di situ aku, Dek. Dilangkahi, pakai biaya aku. Apa ada ijab mau ganti? Kan tak ada. Dikiranya aku tak pengen nikah juga.“ Aku menangkap ekspresi kesalnya.

“Memang udah ada perempuannya?“ Aku mendengarnya mengatakan ingin menikah, sepertinya lebih dari sekali.

Ia melirikku. “Lah, kan dulu aku pernah bilang kan? Kalau,….

...****************...

1
Lismardiana
hhh
Lismardiana
ingat bg givan banyak sdah memperingatkan kau ria.
Lismardiana
ia disini aq jadi emosi ke laki2 nya
Lismardiana
benar itu
Lismardiana
aq suka sikap ria. jngan mau d mapaat kn.
Yunia Spm
Luar biasa
Yunia Spm
ampun.... mbak nisa....
pengen gigit mbak nisa deh 😁
Batriani Betty
kkk. pelangi diawan seseorang udah tayang kah?
IG : anissah_31: sudah kak. langsung aja ketikan judulnya di pencarian.
total 1 replies
Yulia Dewi Arizki Yulia
menghibur dan cukup mendidik. semangat terus Thor. saya sangat suka ceritanya.
Rosita💖
Suka banget sama ceritanya...
Ga bosen2 aku bacanya....
Love you Thor...😘
Red Velvet
jangan sampai ketinggalan nih cerita cerita seru dari kak Nisa😌
Wilyani
udah selesai aja kisah cinta riut,bang Ken,ayang avin👍👍👍
Hi Dayah
aduh lupa kalo sudah tamat , masih di buka aja😁
nengLomon😍
happy ending 👏😘
Red Velvet
jd ingat mamah Dinda yg hamil kembar ditahun yg sama setelah melahirkan Ghifar😁
Red Velvet
Syukurlah baby triplets lahir dgn sehat dan selamat🥰🥰🥰
Windarti
makasih kak nissa.bener bener bagus ceritanya.mabuk janda udah mabuk duda udah.kayaknya cerita poligami belum kak nisssa.poligami yg berhasil .poligami yg sama sama memberi dan menerima.bukan poligami kayak papah adi ghafi itu.aku penasaran dengan perkawinan poligami yg rukun2 itu.bener rukun atau cuma pura pura.ada ditempatku tapi cenderung tertutup kehidupan mereka
Edelweiss🍀
Akhir bahagia yg begitu manis... Perjalanan penuh lika liku Ria akhirnya membuahkan hasil, mendapat suami yg lebih muda tp sosok idaman bagiku sebagai perempuan. Meski lelaki tetap aja plus minus nya ada😅
HIATUS NYONYA Ris
masih ada cerita mama Dinda dong... sama papah Adi...

ceritain singkat singkat dong.... kisah ghavi waktu pdkt ke Tika seblum Tika mualaf....

kisah ghava yg sempat cerai dari Winda...

kisah icut bisa dapat jodoh orang jauh
Mafa
yahhhh tamat padahal blm liat kerepotan gavin menuhin janjinya😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!