NovelToon NovelToon
Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Balas dendam. / Peningkatan diri -peningkatan kecantikan / Tamat
Popularitas:192.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rasti yulia

Bagaimana rasanya jika seorang wanita terlahir dengan bentuk badan tambun, berwajah dan berkulit kusam? Pasti akan sangat menyedihkan bukan?

Dewi Sekar Kemuning, wanita berusia 27 tahun yang berprofesi sebagai penyanyi orkes melayu, selalu saja mendapatkan perlakuan diskriminatif dari orang-orang yang berada di sekelilingnya. Meski memiliki suara yang khas namun tidak lantas membuat orang-orang di sekitarnya memuji ataupun memberikan apresiasi. Ia justru dijadikan bahan caci maki dengan fisik yang ia miliki. Ditambah lagi, di usia yang terbilang matang ia sama sekali belum pernah menjalin hubungan kasih yang membuat cemoohan demi cemoohan itu semakin datang menyerang.

Hingga pada akhirnya ia nekad pergi ke kota untuk berusaha mengubah takdir hidupnya.

"Akan aku buktikan bahwa aku bisa menjadi sang dewi yang bersinar yang dielu-elukan. Dan akan aku buat mulut orang-orang yang menghinaku terbungkam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Kekacauan Di Atas Panggung

Wajah Amir dan sang istri nampak berseri layaknya mentari pagi kala melihat para tamu undangan sudah tiba di kediamannya. Rumah megah seluas lima ratus meter itu sudah mulai ramai dikunjungi oleh para tamu undangan dari berbagai macam kalangan. Kalangan pengusaha, sosialita sampai kepala desa dan juga camat turut serta datang memenuhi undangan. Tidak lupa, para tetangga yang tinggal di sekitar rumah Amir juga turut serta dalam acara yang diadakan.

Layaknya seorang ayah yang sedang mengadakan acara resepsi pernikahan untuk putrinya, acara syukuran ini juga tidak kalah mewah. Tenda gelombang sentris berwarna coklat susu nampak terpasang di depan halaman. Tangkai-tangkai bunga mawar kuning juga menghiasi dan nampak mengesankan. Kursi-kursi tamu dengan cover berwarna putih dengan hiasan pita berwarna emas juga nampak berjajar rapi yang semakin menegaskan jika acara ini merupakan acara besar.

Meja prasmanan juga nampak memanjang. Dihiasi oleh berbagai menu sajian nusantara yang pastinya akan memanjakan lidah hingga perut terasa kenyang. Para tamu dapat menikmati hidangan yang tersaji sepuasnya bahkan boleh juga untuk dibawa pulang.

Sebuah panggung berdiri megah di depan bagian teras yang mana merupakan tempat Amir dan sang istri akan memberi sambutan. Di sebelah panggung utama juga terdapat sebuah panggung yang berukuran lebih kecil yang akan menjadi tempat Dewi menunjukkan kepiawaiannya.

Rasa gugup tiba-tiba saja menyerang Dewi. Hari ini, untuk kali pertama ia menunjukkan kebolehannya di hadapan orang-orang besar. Ia yang biasanya menunjukkan kelebihannya di depan orang-orang biasa kini di hadapan orang-orang penting.

Sesekali Dewi menghela napas panjang kemudian ia hembuskan perlahan. Ia buang jauh rasa gugup itu kemudian ia ganti dengan satu keyakinan. Keyakinan bahwa penampilannya di atas panggung nanti akan berjalan lancar tanpa halangan.

"Dew, bersiap-siaplah. Kita akan segera tampil!"

Satya memberikan sebuah instruksi kepada Dewi agar wanita itu bersiap-siap, mengingat susunan acara demi acara sudah selesai diselenggarakan. Kini tiba saatnya untuk menikmati sajian hiburan. Di mana Dewi akan mendendangkan lagu-lagu sesuai dengan tema yang diadakan.

"Baik Bang."

Dewi kembali menghela napas panjang. Ia berjalan tegap dengan membusungkan dada. Mencoba untuk percaya bahwa segalanya akan berjalan dengan sempurna. Ia pun berjalan di belakang Satya untuk segera naik ke atas panggung.

"Kamu yakin Ra jika rencana kita ini akan berhasil?"

Adelia bertanya dengan sedikit keraguan yang masih nampak di raut wajahnya. Untuk kali pertama ia melakukan rencana seperti ini, sehingga wajar saja jika ia masih sedikit merasa sanksi akan tingkat keberhasilannya.

Langit, Amara dan Adelia duduk di sebuah kursi yang berada di belakang panggung. Ketiga orang itu nampak berbincang-bincang sembari menikmati kudapan yang diberikan oleh salah seorang pelayan yang bekerja di kediaman Amir.

"Kamu tenang saja Del. Serbuk bening yang aku masukkan ke dalam air mineral itu memiliki pengaruh yang dahsyat untuk suara Dewi. Aku yakin suara Dewi akan hilang secara tiba-tiba."

Sembari memasukkan potongan buah segar ke dalam rongga mulut, Amara menjawab segala keraguan Adelia perihal serbuk yang ia masukkan ke dalam air mineral yang diberikan kepada Dewi. Sebuah serbuk yang seketika bisa mengganggu cara kerja pita suara Dewi dan pada akhirnya tidak berfungsi sama sekali.

"Apakah pengaruh serbuk itu bersifat permanen?"

Kali ini Langit lah yang dibuat penasaran. Karena sejatinya baru kali ini ia mengetahui ada sebuah serbuk yang bisa merusak fungsi pita suara.

Amara menggelengkan kepala. "Tidak Bang. Suara Dewi akan kembali dalam waktu satu minggu. Namun setidaknya saat ia tampil di hadapan orang-orang besar seperti ini penampilannya hancur berantakan, hal itulah yang membuat mereka tidak lagi percaya akan kemampuan yang Dewi miliki. Dengan begitu, Aku dan Adelia akan menjadi satu-satunya penyanyi yang dimiliki oleh Magatra. Dengan serbuk itu, juga merupakan salah satu cara menyingkirkan Dewi di dunia hiburan seperti ini."

Langit nampak tertawa penuh kemenangan. Lelaki itu seakan puas dengan serbuk yang dimasukkan oleh Amara. Meski sejatinya tidak ada keuntungan apa-apa bagi dirinya membuat Dewi kehilangan suara namun harga dirinya seakan dicabik-cabik saat mengetahui seorang penyanyi yang ia caci maki justru memiliki nilai jual tinggi. Maka, dengan melihat kehancuran yang akan Dewi hadapi, membuat lelaki itu puas dan menyunggingkan senyum tiada henti.

Ketiga orang itu kembali tertawa lepas. Hingga tawa mereka terdengar membahana bahkan hampir menandingi suara alat musik perkusi yang mulai memanjakan para tamu undangan. Langit, Amara dan Adelia benar-benar sudah tidak sabar untuk menunggu kejutan yang sebentar lagi akan mereka dapatkan.

***

Amir nampak begitu girang kala melihat penampilan Dewi di atas panggung. Ia sangat bersyukur karena acara yang ia selenggarakan diisi oleh seorang penyanyi yang menjadi favoritnya bersama sang istri. Seorang penyanyi orkes melayu yang begitu sopan dalam berpenampilan dan memiliki suara khas yang terdengar begitu menenangkan. Meski bentuk tubuh Dewi tidak seperti dua penyanyi lainnya, namun Amir dan sang istri begitu puas menikmati tiap bait lirik lagu yang Dewi nyanyikan. Tidak hanya Amir dan sang istri saja yang nampak begitu menikmati penampilan Dewi. Para tamu undangan pun juga turut larut dalam suara khas milik Dewi.

Terima kasihku padaMu Tuhanku

Tak mungkin dapat terlukis oleh kata-kata

Hanya diriMu yang tahu, besar rasa cintaku padaMu.

Awal Dewi tampil semua berjalan lancar dan semestinya. Namun baru beberapa lirik bagian reff yang Dewi nyanyikan tiba-tiba tenggorokannya terasa gatal. Ia mencoba untuk melawan rasa gatal itu dan ia coba untuk melanjutkan lirik lagu yang ia nyanyikan.

Kedua bola matanya terbelalak lebar di saat rasa ingin batuk itu tidak terhindarkan lagi.

Uhuk ... uhuk ... uhuk...

Suara khas orang yang sedang terbatuk terdengar jelas melalui microphone yang dipegang oleh Dewi. Hal itulah yang membuat personil Magatra dilanda oleh perasaan cemas. Untuk mengendalikan keadaan yang mulai sedikit riuh, Satya bergegas memberikan air mineral yang disediakan di sisi panggung ke arah Dewi.

"Ada apa denganmu Dew? Mengapa kamu bisa batuk-batuk seperti ini?"

Dewi menggeleng pelan sembari menerima air mineral yang diberikan oleh Satya. Perlahan, Dewi menegak air mineral yang berada dalam genggamannya. "Tidak tahu Bang, tiba-tiba tenggorokanku terasa gatal."

"Bisa kita mulai lagi?" Satya bertanya dengan nada cemas.

Dewi mengangguk. "Bisa Bang!"

Sebelum melanjutkan penampilannya, terlebih dahulu Dewi meminta maaf atas ketidaknyamanan yang sempat terjadi. Dan ia pun bersiap untuk bernyanyi lagi. Namun baru beberapa lirik ia nyanyikan, suara miliknya terdengar serak. Dewi masih mencoba untuk memaksakan diri melanjutkan lirik lagu yang ia nyanyikan. Sampai di satu titik betapa terkejutnya ia karena tiba-tiba saja suaranya menghilang, tiada bersisa sama sekali.

"Huuuuu .... penyanyi apaan itu? Penyanyi abal-abal saja sok-sokan tampil di atas panggung!"

"Turun ... turun .... turun ... Merusak gendang telinga saja!"

Keadaan berubah menjadi riuh dan gaduh saat para penikmat acara yang diselenggarakan oleh Amir ini mulai kecewa dengan penampilan Dewi. Mereka bahkan bersorak lantang meminta Dewi turun panggung. Wajah wanita itu nampak memerah karena malu. Seperti ada dua bongkahan batu besar yang terasa begitu menghimpit dada. Hal itulah yang membuat dada Dewi terasa begitu sesak. Begitu malu akan keadaan yang ia alami, wanita itu hanya bisa meluruhkan tubuhnya sembari menenggelamkan wajahnya di sela-sela lutut. Wanita itu menangis tergugu seakan menumpahkan segala rasa kecewa dan malu yang bercampur menjadi satu.

1
Sri Wahyuni
kisah yang mengharukan, namun akhirnya berakhir dengan kebahagiaan yang hakiki, adalah dikehidupan nyata akhir yg seperti itu... 🤔🤔🤔😘😘😘🌹🌹🌹👍👍👍💪💪🖕
Sri Wahyuni
hanya satu kata terucap, bahagia...
Naraa 🌻
idih najis gatau malu
Naraa 🌻
Dasar iblis EMG si Wenda, bisa jamin dah pasti dia terlibat dalam kecelakaan mamanya Bhumi, bego nya bapaknya mungut dan nikahin dia, mana udh di kasih clue nenek ga paham juga, parah bgt
Naraa 🌻
Jahat licik bgt para benalu
Wanda Pratiwi
good
Tina
Biasalah....iya kan thoorrrr , namanya jga kumpulan ibu2 julid hihihihihihi apalagi kerjaannya coba , kalau nggak menggosip & menjulid 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tina
Akhirnya.... mudah2an cita2mu segera tercapai ya Wi....💪💪💪💪 Wi.
Tina
Terima kasih ya thor, banyak pesan moral & kehidupan yg disampaikan disini, tp ceritanya tetap menarik 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰. ❤️ U thor 🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗👍👍👍👍👍👍👍
Tina
Bener jga kata Radit Ga , perlu dipertimbangkan, walau bentuk fisik bukan yg utama ,tapi kesehatan jga penting Ga.
Tina
Wuaaahhhh selamat ya Wi ,udah mau buat pertunjukan di TMII, akhirnya buah kebaikan, pengorbanan & kesabaranmu membuahkan hasil, & jgn lupa jga memberi khabar ibu & adikmu ya Wi. Dan teruntuk author moga lekas sembuh & bisa lekas menyapa penggemarmu lgi ya.....sehat selalu thor
Tina
Maaf thor,🙏🙏🙏🙏🙏🙏sekali, nggak sengaja thor...padahal aq bukannya mau kasih 1 bintang lho, tp pas mau tekan bintang berikutnya, padahal udah tak tekan2 masih nggak bisa, eee tau2nya muncul notif penilaian berhasil,akhirnya ini deh hasilnya...sekali lgi maaf ya thor, nggak sengaja 🤗🤗🤗🤗 padahal ceritanya lumayan lho, typo jga nggak terlalu tu.... cuma aq nya aja yg buru2 nekan itu bintang, sekali lgi maaaaaffff ya thor,mungkin author akan kecewa , tp tolong jgn marah ya....🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Tina
Yang sabar ya Dewi , semoga buah cinta & kesabaranmu membuahkan hasil .
Yora Fitriani86
hahahahahh
Sriza Juniarti
ternyata bhumi adalah arga...keren oi..🥰💕
Sriza Juniarti
bagus...tapi likenya kok sediikit ya
semangat kk💕🥰🥰
Sriza Juniarti
jahatnya.. balas thor...😤😤🤲
Maliqa Effendy
ga heran daerah Kampung Rambutan dan sekitarnya...harus extra hati2. kalo ga penting bngt jngn keluarin HP atau dompet.siapin uang secukupnya dikantong celana ..
Maliqa Effendy
lagian Dewi gampang banget sih percaya.kan jatohnya jadi gini...
Maliqa Effendy
Covernya bagus banget,Thor...semoga ceritanya jg bagus..baru mau baca ini....
Rasti Yulia: alhamdulillah... makasih kak.. tapi ini termasuk novel yang sedikit gagal karena pop nya gak naik-naik dan sepi pembaca 😂😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!