Menikah muda tidak selalu berakhir dengan tragis, meskipun banyak yang berjalan tak manis. Semua itu hanya tentang bagaimana kita menyikapi dan mempertahankannya.
Jadi, tidak perlu takut untuk menikah muda, karena tidak semua pernikahan berakhir dengan kegagalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Kejujuran Pandu
Tidak ada yang curiga dengan kedekatan Lyra dan Pandu, karena pada dasarnya mereka memang berteman selain sama-sama orang terpenting di OSIS, juga mereka semua tahu bahwa Lyra tak jarang meng-klaim Pandu sebagai miliknya. Pandu juga merasa tak keberatan selama ini, laki-laki itu masih tetap datar dan dingin seperti biasanya.
Jam istirahat kedua, Lyra, Devi, Luna dan Amel duduk di satu meja, melahap mie ayam mereka masing-masing sambil di temani dengan obrolan-obrolan seputar artis korea atau artis-artis dalam Negeri. Tak lama, Leo, Pandu, dan Dimas datang menyusul dengan masing-masing membawa makanan juga minuman. Lyra duduk diampit oleh Leo dan Pandu, dan di kursi depannya ada Devi, Luna, Amel juga Dimas.
“Ly, cincinnya kok udah beda? Beberapa hari lalu gue masih liat cincin yang permatanya warna biru, tapi sekarang jadi putih. Cincin lo luntur?” tanya Leo meneliti dengan seksama cincin yang tersemat di jari manis kanan Lyra.
“Lo kira baju luntur!” Lyra menjitak kepala Leo cukup keras. Semua ikut menatap Lyra, dan meneliti cincin yang dikenakan gadis itu.
“Iya-lah udah ganti. Statusnya juga kan udah ganti.” Santai Lyra menjawab.
“Bukannya lo bilang nikahannya baru minggu depan?” Amel mengernyitkan keningnya.
Lyra menggaruk kepalanya salah tingkah. “Di percepat karena nanti kan gue pasti sibuk banget ngurusin buat acara ulang tahun sekolah. Makanya Daddy usulin buat pas tanggal merah kemarin.”
“Lo, kok, gak ngasih tahu kita-kita, jahat banget!” protes Devi cemberut.
“Sorry acaranya ngedadak dan gue gak sempat pegang hp, karena sehabis pulang dari sekolah, gue langsung di bawa Daddy ke Bandung.”
Ada rasa tidak enak di dalam hati Lyra karena telah membohongi teman-temannya, tapi mau bagaimana lagi, Pandu ingin ini menjadi rahasia meskipun kepada teman-teman terdekatnya sekalipun. Sekilas Lyra melirik ke arah Pandu yang terlihat biasa-biasa saja membuat Lyra sedikit merasa kesal karena bisa-bisanya pria itu tenang di saat dirinya bingung mencari alasan.
“Jadi, sekarang lo tinggal berdua dong sama suami lo?” tanya Amel. Lyra mengangguk.
“Laki lo ganteng gak? Udah kerja apa masih kuliah? Apa justru udah Bapak-Bapak?” cepat Lyra melayangkan sendok mie ayamnya ke kepala Luna.
“Sembarangan aja lo kalau ngomong. Suami gue masih muda, sepantara malah,” ucap Lyra sambil melirik sekilas ke arah Pandu yang masih juga tenang menyantap makananya.
“Maksud lo suami lo masih sekolah kayak kita?” Lyra mengangguk mendengar pertanyaan Devi.
“Sekolah mana?”
“Kepo lo ah. Nanti juga tahu kalau udah waktunya.” Dengus Lyra yang sudah tidak tahu harus menjawab apa.
“Kenapa lo, Le?” tanya Amel heran melihat diamnya Leo yang seperti habis putus cinta.
“Galau gue, Mel. Kalau Lily udah punya laki terus gue sama siapa?” kata Leo dengan wajah murung yang di buat-buat.
“Gitu aja lo galau. Tenang kali 'kan masih ada gue,” ucap Amel mengedipkan sebelah matanya genit.
“Dih ogah gue sama lo! Yang ada nanti gue malah di omelin mulu dari pada di sayang-sayang.” Sendok melayang mengenai kepala Leo membuat laki-laki itu meringis, sedangkan yang lain tertawa kecuali Pandu, si tanpa ekspresi.
🍒🍒🍒
Rara menyerahkan daftar belanjaan untuk kebutuhan acara kepada Lyra dan Pandu, lalu setelah itu meninggalkan ruang OSIS. Tersisa Pandu, Lyra dan Luna juga Rindu sebagai bendahara.
“Uangnya lo bawa kan, Lun?” perempuan cantik dengan rambut terurai dan sedikit di curly itu mengangguk.
“Berangkat sekarang aja biar gak ke maleman nanti pulangnya.” Semua mengangguk dan mengikuti Pandu menuju Parkiran. Menaiki mobil jazz hitam milik Lyra.
Satu jam dalam perjalanan karena sedikit terjebak macet, akhirnya keempat orang itu sampai di sebuah mall besar di kota ini. Memasuki toko perlengkapan pesta ulang tahun dan membeli bahan-bahan yang mereka butuhkan sesuai dengan apa yang sang sekretaris catat.
Selesai dengan itu, Lyra mengusulkan mampir terlebih dulu ke Cafe untuk mengisi perut, setelah itu barulah ke empatnya pulang. Satu per satu Pandu antarkan hingga depan rumah masing-masing. Dan kini tinggal-lah Lyra dan Pandu berdua di dalam mobil dengan keheningan, hanya suara mesin mobil dan napas keduanya yang terdengar.
“Ra, boleh gue jujur tentang sesuatu?” tanya Pandu membuka suara tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan di depan.
“Bilang aja, gue bakal dengerin kok.” Kata Lyra menoleh sekilas pada laki-laki di sampingnya.
“Gue tahu dan sadar kalau kita udah menikah, tapi gue juga gak bisa menghilangkan perasaan ini gitu aja. Lo tahu kan kalau pernikahan ini gak sama sekali gue inginkan?" Lyra mengangguk kecil, ia cukup sadar akan hal itu. "Sebenarnya waktu itu Mama sama Papa gue gak larang jika memang gue keberatan dengan pernikahan ini, tapi lo tahu, gue gak kuasa untuk hanya sekedar bilang ‘tidak’ sama mereka. Maaf kalau kejujuran gue menyakiti lo,” ucap Pandu tak enak hati, menatap sekilas pada Lyra yang duduk di jok sebelahnya. Tatapan gadis itu lurus ke depan, membuat Pandu tidak bisa mengartikan raut wajahnya.
“Gue suka sama seseorang, Ra. Dia perempuan pertama yang buat gue terpesona, perempuan pertama yang buat dada gue berdebar, dan dia perempuan pertama yang gue cintai hingga detik ini ...” Pandu kembali melirik Lyra sekilas. Masih tidak ada respons. Pandu menghela napasnya terlebih dulu sebelum melanjutkan ucapannya. "maaf gue udah buat lo kecewa dan mungkin marah. Gue gak ada maksud apa-apa bicara ini sama lo, gue cuma pengen jujur dengan perasaan gue sendiri.”
“Gak apa-apa kok, Pan. Terima kasih udah mau jujur.” Senyum tipis Lyra berikan, meski ketara sangat di paksakan.
“Boleh gue tahu siapa perempuan itu?” tanya Lyra menatap tepat mata Pandu.
“Dia ... Amel, teman lo.”
Deg.
Lyra mematung, mencera ucapan Pandu. Beberapa menit terdiam karena keterkejutannya. Lyra menampilkan senyum tipis, mencoba tegar walau sebenarnya di dalam sana hatinya sudah retak bahkan pecah. Dadanya sesak hingga membuat Lyra susah bernapas. Namun kemudian tawa sumbang itu Lyra keluarkan.
“Udah gue kira sih, siapa coba yang gak suka sama Amel. Dia cantik, baik, pintar, calon dokter. Di bandingkan sama gue mah gak ada apa-apanya.” Sekuat tenaga Lyra menahan agar air matanya tidak lolos saat ini juga.
“Ra ...?"
“Lo kalau emang suka sama dia gak apa-apa, itu hak lo. Toh kita juga nikah karena di jodohin, usia kita masih muda dan masa depan kita masih panjang. Gue bukan gak menghargai sebuah pernikahan, tapi gue juga sadar lo pengen penikmati masa muda lo. Gue gak akan larang kalau emang lo niat pacaran sama Amel. Dengan kejujuran lo aja gue udah bersyukur, karena setidaknya gue gak terlihat bodoh," kembali senyum tipis ia berikan. Mobil sudah berhenti di depan garasi, tapi belum juga ada yang berniat keluar.
“Maaf karena waktu itu gue gak nolak perjodohan ini. Mungkin kalau lo bilang ini lebih awal, gak akan gini pada akhirnya. Sorry karena gue, lo jadi terjebak oleh pernikhan ini. Sekali lagi makasih atas kejujurannya, gue menghargai itu. Lo bebas mau lakuin apa aja, status kita saat ini gak perlu menjadi penghalang buat lo maupun gue untuk menikmati masa remaja. Toh belum tentu juga 'kan kita akan bertahan dengan pernikahan ini? Siapa tahu nanti kita menemukan orang yang tepat dan kita inginkan untuk menemani sisa hidup kita.”
Setelah mengucapkan itu Lyra keluar lebih dulu dari mobil, berjalan memasuki rumah baru yang disiapkan orang tuanya, meninggalkan Pandu seorang diri di dalam mobil.
Ada perasaan bersalah di hati Pandu saat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Lyra. Ia tahu istrinya itu kecewa, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah terlanjur, ia juga tidak mau terus-terusan menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, karena itu akan lebih menyakiti Lyra jika kemudian hari perempuan itu tahu.
@ ank ips jga😎