"Aku ingin menikah lagi, Diah!"
Ucapan Mas Ruli bagai petir yang menyambar Diah di siang bolong.
Berdalih bosan dan merasa kurang diperhatikan oleh Diah Apriani, Ruliansyah tiba-tiba minta izin untuk menikah lagi dengan seorang gadis yang lebih muda yang bernama Siska Maharani.
Hubungan pernikahan Diah dan Ruli yang sudah berjalan selama lima tahun serta kehadiran sepasang malaikat dalam pernikahan Diah dan Ruli, rupanya tetap tak menyurutkan niat Ruli untuk menikah lagi.
Bahtera rumah tangga Diah dan Ruli seakan terombang-ambing tak tentu arah setelah permintaan konyol Ruli tersebut.
"Aku janji akan berlaku adil," Janji Ruli pada Diah.
Apakah pada akhirnya Ruli benar-benar akan bersikap adil pada Diah dan Siska?
Lalu alasan apa yang menjadi pertimbangan Diah, hingga akhirnya ia rela membagi cinta Mas Ruli dan membiarkan sang suami menikah lagi dengan gadis pujaan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JATAH
Jam di dapur baru menunjukkan pukul dua dinihari. Diah sudah mulai menimbang tepung dan bahan kue lainnya untuk persiapan membuat pesanan 100 buah kue putu ayu.
Sebisa mungkin, Diah memang tak menolak pesanan kue apapun yang datang kepadanya. Meskipun waktu istirahat Diah harus berkurang, tapi itu tak masalah. Bukankah Diah harus menabung demi masa depan si kembar?
Tok tok tok!
"Diah!"
Suara ketukan di pintu belakang disertai suara dari Mas Ruli langsung membuat Diah kaget.
"Diah! Buka pintunya!" Panggil Mas Ruli sekali lagi.
Ya, tentu saja suami Diah itu sudah hafal kalau jam segini Diah pastilah ada di dapur. Makanya dia sengaja mengetuk pintu belakang yang memang langsung tembus ke dapur.
Diah membuka grendel pintu belakang, dan Mas Ruli langsung menghambur masuk begitu pintu terbuka.
"Hhhh! Dingin!" Gumam Mas Ruli seraya menggosok-gosokkan kedua tangannya.
"Ngapain kesini malam-malam, Mas? Udah kayak maling saja," tanya Diah yang sudah kembali menutup pintu belakang dan menguncinya.
"Kamu sama suami ngomongnnya kok gitu? Mbok tanyanya baik-baik, gitu!" Mas Ruli tiba-tiba sudah melingkarkan kedua lengannya di pinggang Diah seolah sedang mencari kehangatan.
"Mas ini apa?" Tanya Diah merasa kegelian karena Mas Ruli yang sudah ganti menciumi leher Diah. Kedua tangan suami Diah tersebut juga sudah mulai aktif bergerak dari pinggang naik ke atas.
"Aku mau minta jatah, Diah!"
"Udah nggak kuat ini," mas Ruli menunjuk ke arah sarung yang membalut bagian bawah tubuhnya.
"Lah, bukannya baru saja belah duren sama Siska, Mas? Kok udah minta jatah ke Diah lagi?" Tanya Diah bingung.
Tubuh istri pertama Ruli itu masih menggeliat-geliat karena tangan Ruli yang sudah menjelajah kemana-mana.
"Siska sedang datang bulan!"
"Asem tenan!" Umpat Mas Ruli kesal yang sesaat membuat Diah ingin tertawa terbahak-bahak.
"Udah siap-siap mau belah duren. Malah ada tamu tak di undang!" Gerutu Mas Ruli lagi.
Sebelumnya....
"Udah yang makan, Mas?" Tanya Siska seraya membereskan piring yang bekas dipakai Mas Ruli untuk makan.
"Alhamdulillah udah kenyang. Bisa langsung lanjut ke kamar ini, Sis!" Jawab Mas Ruli dengan wajah yang berseri-seri.
"Udah siap kamu, aku encot-encot sampai pagi?" Tanya Mas Ruli lagi seraya melingkarkan lengannya di pinggang Siska yang masih mencuci piring sebiji tadi.
"Siap nggak siap ya harus siap, Mas! Kan udah kewajiban," jawab Siska sok diplomatis. Tangan siska masih belum selesai menyabuni piring di tangannya sejak tadi.
"Udah itu nyabuninnya, Sis! Ayo buruan masuk kamar!" Ajak Mas Ruli mengingatkan Siska yang klemar-klemer saat mencuci piring.
"Eh, iya!" Siska buru-buru membilas piring beling motif bunga-bunga hadiah dari sabun cuci tersebut, lalu menaruhnya di rak piring.
"Sudah, Mas!" Lapor Siska seraya mengelap tangannya yang basah dengan serbet.
"Ayo ke kamar! Mas udah nggak tahan ini, Sis!"
"Hhhh!" Mas Ruli menangkup gemas dada Siska yang menonjol dan lebih menantang ketimbang punya Diah.
Siska menjerit kecil dan segera mengikuti langkah Mas Ruli untuk masuk ke kamar.
Mas Ruli sudah mulai melakukan gerakan foreplay untuk memancing Siska. Hingga di akhir foreplay, saat Mas Ruli menarik turun underwear Siska, pria itu terkejut bukan kepalang.
"Sis, ini apa?" Tanya Mas Ruli seraya menunjuk bercak kemerahan di dalam underwear istri keduanya tersebut.
"Apa, Mas?" Siska sudah bangun untuk melihatnya.
"Kamu sedang ada tamu bulanan?" Tanya Mas Ruli menyelidik.
"Kemarin iya, Mas! Siska kira sudah selesai, ternyata belum, ya?" Siska meringis dan Mas Ruli langsung berdecak kesal.
Hasrat sudah naik ke ubun-ubun, tapi tak jadi tersalurkan karena Siska masih ada tamu.
Asem! Asem!
"Mas jangan marah, ya!" Bujuk Siska seraya mengusap lengan Mas Ruli dan sedikit merayu suaminya tersebut.
"Kan kita masih bisa bobok sambil pelukan, Mas!" Lanjut Siska lagi yang masih berusaha merayu Mas Ruli.
Meskipun kesal, Mas Ruli akhirnya tetap naik ke atas tempat tidur dan berbaring seraya memeluk Siska. Namun hingga lewat tengah malam dan Siska sudah terlelap, rasa kantuk Ruli masih belum datang.
Milik Ruli bagian bawah masih terasa senut-senut dan kepala Ruli juga sedikit pening karena hasratnya belum tersalurkan tadi. Saat itulah tiba-tiba Ruli ingat pada istrinya yang lain, Diah.
Ya,
Kenapa Ruli tidak minta jatah ke Diah saja?
Diah kan juga istri Ruli.
Akhirnya Ruli bangun dan keluar dari rumah secara mengendap-endap agar Siska tidak terbangun. Ruli merapatkan sarungnya dan berjalan cepat menembus dinginnya udara malam menuju ke rumah Diah yang berjarak sekitar tiga ratus meter.
****
"Mas, jangan di dapur begini!" Cegah Diah pada Mas Ruli yang sudah menyibak dasternya.
"Iya makanya buruan kamu cuci tangan, terus kita selesaikan di kasur. Aku udah nggak tahan ini, Diah!" Perintah Mas Ruli memaksa.
Ck!
Diah hanya berdecak dan buru-buru mencuci tangan, meskipun bibir ibu dua anak itu sedikit merengut.
Mau menolak kok ya kewajiban. Mau dituruti juga Diah masih jengkel.
"Diah, cepat!" Panggil Mas Ruli lagi agar Diah bergegas.
"Iya, Mas!" Diah mengelapkan tangannya yang masih basah ke daster dan segera menyusul Mas Ruli masuk ke dalam kamar untuk menunaikan kewajibannya.
****
"Sudah, Mas?" Tanya Diah pada Mas Ruli yang sudah terlihat kepayahan. Padahal belum ada sepuluh menit.
Tadi yang pertama malah cuma lima menit udah langsung nyembur.
"Sudah dua ronde ya sudah, Diah! Aku ngantuk!" Ujar Mas Ruli seraya memakai kembali sarungnya.
"Aku tidur sebentar, nanti kamu bangunkan sebelum subuh, ya!" Pesan Mas Ruli pada Diah.
"Nggak pulang sekarang, Mas? Nanti Siska ngamuk kalau Mas nggak ada di rumahnya," tanya Diah mengingatkan dengan sinis.
"Hawanya masih dingin! Nanti saja sebelum subuh kamu bangunkan aku, sekalian jerangkan air panas buat aku mandi! Biar aku bisa jamaah subuh ke Masjid dulu, baru pulang ke rumah Siska," pesan Mas Ruli panjang kali lebar.
"Iya, iya!" Jawab Diah seraya membenarkan dasternya lalu keluar dari kamar untuk mandi wajib sekalian.
Menyebalkan memang suami Diah itu!
Minta jatah pas Diah mau membuat kue pesanan.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
kasian Diah berakhir
tapi gk gitu mereka berdua gak akan sadar dengan kesalahan masing²
sudah cukup dia selama ini menderita dari sejak kecil sampai rumah tangganya kandas
mungkin dengan dia meninggal dia bisa tersenyum 🥺
kenapa Diah gk minta² uang dia punya penghasilan sampingan hanya andalkan kamu mana cukup
sedangkan Siska gk kerja mikir jadi laki emang gk ada akhlaknya
Diah saja beban saja lebih berat masih waras 🤭
kok betah e ta 😂
mama mu Gimana kabarnya katanya punya istri baru hidupnya terurus yang ada tamah mumett.... 😂😂😂
setia dengan satu wanita istri pertama .setelah istri meninggal pun disuruh menikahi felli jangan dibandingkan² gak cocok 🤣🤣🤣