NovelToon NovelToon
As Long As I Met You

As Long As I Met You

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Contest / Patahhati / Angst / Romansa / Tamat
Popularitas:20.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sin Cera

Hope memutuskan untuk tinggal di rumah kakeknya di desa Bibury—Inggris Selatan, setelah ia dipecat dari pekerjaannya. Di sana, Hope bertemu dengan Blue Hawkins. Pria muda, kaya dan bertalenta yang memilih untuk mengurung diri di rumah almarhum kakeknya.

Pertemuan pertama mereka tidak berjalan dengan baik. Blue tidak suka diganggu oleh orang asing dan Hope berusaha masuk ke dalam hidup Blue.

Saat Blue Hawkins bertemu dengan Hope Miller, di situlah ia sadar bahwa beberapa rencana dalam hidup tidak akan berjalan sesuai rencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sin Cera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8: Makan Malam untuk Blue

[Aku bersumpah hanya aku yang bisa memberikan kenangan ini kepadamu. —Hope Miller]

Hari sudah gelap saat bel rumah Blue tidak berhenti berbunyi. Blue berusaha memejamkan matanya dan mengabaikan suara bel. “Aku bersumpah akan memutus bel rumahku besok!” geramnya dalam hati sambil menutup kepalanya dengan bantal.

Semakin lama suara bel rumah Blue bukannya semakin menghilang malah semakin terus berbunyi. Bahkan sekarang sudah terdengar suara gedoran pintu.

Blue akhirnya bangkit dari kasurnya dengan kesal. Samar-samar ia mendengar teriakkan dari luar rumahnya. Suara Hope yang memanggil namanya ssambil membunyikan bel dan menggedor pintu rumahnya. Telinga Blue rasanya ingin pecah. Jika dibiarkan terus menerus seperti ini maka tetangganya akan berkumpul ke rumahnya karena keributan yang Hope buat.

“Apa yang kau inginkan!” geram Blue sambil membuka pintu rumahnya.

Tangan Hope yang tampak ingin mengetuk pintu rumah Blue seketika menggantung di udara. Hope pun buru-buru menarik tangannya, berdehem dan mengeluarkan cengiran lebarnya.

“Maaf. Kupikir terjadi hal buruk padamu makanya kau tidak membuka-buka pintu rumahmu,” jelas Hope dengan raut wajah seperti tidak merasa bersalah sama sekali.

Blue membuang napasnya kasar. “Jika aku tidak membuka pintu untukmu, itu artinya aku tidak ingin bertemu denganmu. Apa kau tidak mengerti isyarat manusia, hah?” seru Blue kesal.

Blue hendak menutup pintu rumahnya sebelum Hope menanggapi perkataannya. Karena memang ia berbicara kepada Hope bukan untuk menerima tanggapan dari gadis itu. Menunggu tanggapan Hope sama saja bersiap diri untuk bergadang hingga larut malam. Sebab gadis itu pasti tidak akan berhenti dengan ocehannya.

Namun bukan Hope namanya jika tidak menganggu Blue. Tangan Hope menahan daun pintu yang hendak ditutup oleh Blue. “Pokoknya kau harus ikut denganku. Atau aku akan menggedor dan berteriak seperti tadi hingga para tetangga menghampiri kita,” ancam Hope yang tentu saja berhail membuat Blue menyerah.

Blue membuang napasnya kesal. “Apa yang kau inginkan?”

Hope mengenggam pergelangan tangan Blue. “Ikut saja denganku,” ucap Hope sambil menarik paksa Blue. Hingga akhirya mereka tiba di depan mobil Hope yang terparkir di bawah lampu jalan di halaman rumah Samuel.

Blue mengerutkan dahinya. “Kau mau mengajakku bepergian?” tanya Blue bingung.

Hope menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tunggu saja di sini sebentar. Aku akan kembali. Jangan coba-coba kabur atau aku akan menggedor pintu rumahmu seperti tadi,” ancam Hope sebelum ia kembali masuk ke dalam rumah kakeknya.

Tak lama kemudian, Hope kembali dengan membawa sebuah nampan dan selimut tipis yang ia sampirkan di lengannya. Blue menatap Hope tanpa ekspresi. Ia memperhatikan gerak-gerik Hope.

Hope meletakkan nampan berisi dua potong kebab dan dua gelas coklat angat ke atas kap mobilnya. Begitu pula dengan selimut di lengannya. Kemudian gadis itu segera naik ke atas kap mobilnya. Ia menoleh ke arah Blue yang masih mengamatiya. Hope lalu menepuk kap mobilnya yang kosong. Memberi isyarat agar Blue mengikutinya.

“Naiklah!” seru Hope tak sabaran.

Blue pun akhirnya menuruti Hope dan segera duduk di samping gadis tersebut. Hope lalu meletakkan selimut tipis di kaki Blue. Tentu saja Blue hendak menolaknya. Tangannya menahan tangan Hope.

Hope melotot ke arah Blue. “Pakai saja, kau bisa terserang flu,” paksa Hope, “aku baru membelinya tadi. Anggap saja sebagai hadiah sambutan tetangga baru. Tak perlu sungkan, aku mendapatkan banyak uang pesangon setelah dipecat dari pekerjaanku.”

Lagi-lagi, Hope berhasil membuat Blue menuruti permintaannya. Hope lalu meletakkan kebab ke tangan Blue. “Kebab?” gumam Blue sambil menatap makanan di tangannya.

“Mm,” gumam Hope tak jelas karena mulutnya sudah terisi penuh dengan satu gigitan besar kebab.

Hope menelan bulat-bulat makanan di mulutnya. Ia menatap ke arah Blue yang tak kunjung memakan makanan pemberiannya. “Makan saja! Aku tak memasukkan racun di dalamnya. Ini adalah satu-satunya makanan yang bisa aku buat. Dulu, saat masih berkuliah aku mempunyai seorang teman yang merupakan keturunan Turki dan keluarganya mempunyai kedai kebab paling enak di dunia. Karena sudah akan lulus kuliah, aku merasa sedih karena harus kembali ke London setelah lulus. Jadi, ia mengajariku cara membuat kebab dan membari resep kelurganya untukku. Pokoknya keluarganya benar-benar baik kepadaku,” celoteh Hope panjang lebar.

Sementara Blue sudah mengigit kebab miliknya dan menganggukkan kepalanya. “Lumayan,” komentarnya.

“Jika kau makan kebab dari kedai milik keluarga temanku langsung, aku yakin kau akan sangat ketagihan. Rasanya jauh lebih enak dari buatanku,” kata Hope dengan bangga sebelum ia mengigit kebab miliknya lagi.

“Memangnya di mana mereka membuka kedai?” tanya Blue asal. Ia sebenarnya tidak tertarik dengan cerita Hope. Namun, ia masih memiliki sopan santun terhadap orang yang memberinya makan.

“O-ox-f-ford,” gumam Hope tak jelas karena mulutnya dipenuhi dengan makanan.

“Oxford?... jangan bilang kau juga berkuliah di Universitas Oxford,” tanya Blue yang merassa tak yakin.

Hope menganggukkan kepalanya. “Mm,” namun ia hanya bergumam karena mulutnya masih dipenuhi dengan makanan.

“Memangnya aku tidak terlihat seperti lulusan Universitas Oxford, ya?”

“Tidak,” jawab Blue jujur sambil memasukkan kembali sepotong kebab ke mulutnya.

Hal itu sontak membuat Hope mencibir. “Biarpun terlihat bodoh seperti ini. Tapi, aku ini benar-benar lulusan Universitas Oxford tahu!” Hope menggembungkan pipinya dan mengigit kebab di tangannya dengan penuh kekesalan.

“Ternyata kau sadar kalau kau terlihat bodoh,” komentar Blue sambil tersenyum mengejek.

Mereka makan dalam keheningan malam. Ditemani oleh semilir angin musim gugur yang menerpa tubuh mereka. Langit malam tampak cerah karena bulan tak sendirian. Para bintang menemaninya agar langit tak menangis malam ini.

“Nih,” Hope menyerahkan segelas coklat hangat kepada Blue. “Aku tidak dapat memberimu kafein atau pun susu karena kaau pasti harus meminum obatmu.”

“Aku tidak meminum obat,” jawab Blue dengan wajah yang tidak menunjukkan ekspresi sama sekali.

“Kenapa?” tanya Hope penasaran. Bagaimana bisa laki-laki dihadapannya ini tidak meminum obat sama sekali padahal ia sedang mengidap penyakit mematikan. Apakah ia serius ketika mengatakan kepada Hope bahwasannya ia ingi mati?

Blue mengangkat bahuya acuh. “Karena tidak ada gunanya. Aku tetap akan mati,” Blue mengatakan kalimat tersebut dengan santai seperti kematian merupakan hal yang biasa.

Namun tidak demikian dengan Hope. Hope merasa terganggu dengan pernyataan Blue. Ia mengerutkan dahinya dan menatap Blue lamat-lamat.

“Kau serius saat mengatakan bahwa kau ingin mati di hari ulang tahunmu?” tanya Hope.

Blue mengabaikan pertanyaan Hope sebagai jawaban untuk Hope bahwa ia benar-benar serius dengan perkataannya. Ia menerima gelas plastik dari tangan Hope dan segera menyesap coklat hangat di dalamnya sembari menikmati belaian angin di tubuhnya. Entah mengapa ini menenangkan. Sepertinya ia harus lebih sering keluar dari kamarnya yang pengap dan lebih banyak menghirup udara segar.

Hope menghangatkan kedua telapak tangannya. Mug yang ia balut dengan telapak tangannya menghantarkan panas yang berasal dari coklat hangat di dalamnya. Hope memejamkan kedua matanya dan membiarkarkan helaian rambutnya dibuat berantakkan oleh angin malam yang terus menyerang tubuhnya.

Hope meletakkan mugnya di atas nampan di sampingnya, dan merebahkan tubuhnya. Menatap kemerlap langit malam di atasnya. Ia lalu kembali memejamkan matanya sambil menepuk wilayah kosong di sampingnya. “Berbaringlah, ini menenangkan.”

Namun, Blue tak menanggapi perintah Hope. Ia hanya bergeming dan meniti wajah polos Hope yang sedang menikmati suasana malam ini. Matanya yang memejam dan bibirnya yang berhenti mengoceh membuat wajahnya enak dipandang. Jika, ia bertemu Hope beberapa tahun lalu saat ia belum mengidap HIV bukan tidak mungkin ia akan naksir dengan Hope. Sayangnya mereka bertemu di waktu yang tidak tepat. Blue tak ingin jatuh cinta lagi. Ia tak ingin merasa kecewa sebelum kematiannya. Setidaknya ia harus menciptakan memori yang tidak terlalu buruk sebelum ia pergi ke alam baka.

Netra Blue menangkap helaian rambut Hope yang menutupi wajah gadis tersebut. Blue mengulurkan tangannya hendak menyingkap rambut yang menganggu pemandangannya tersebut. Akan tetapi, seketika ia tersadar. Ia mengepalkan tanganya.

“Apa yang kau lakukan, Blue!” rutuknya dalam hati.

Blue menyingkirkan selimut di pangkuannya dan melompat turun dari atas mobil Hope. Suara pijakkan kaki Blue membuat Hope membuka matanya dan segera mengubah posisinya menjadi duduk.

“Apa kau sudah mau pulang?” tanya Hope.

Blue mengambil selimut yang tadi diberikan oleh Hope. Ia menganggukkan kepalanya. “Ya. Terimakasih atas makan malamnya.” Blue mengangkat selimut di tangannya. “Dan juga terima kasih untuk hadiahnya,” katanya tulus.

“Selamat tinggal,” imbuh Blue sambil berbalik dan berjalan menuju rumahnya.

Sementara itu Hope melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. “Sampai jumpa, Blue.”

Blue menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Hope. “Ngomong-ngomong kau tak perlu melakukan hal seperti ini lagi mulai besok,” tegas Blue.

“Seperti ini bagaimana?” tanya Hope dengan menampilkan tak mengerti.

“Kau mengerti maksudku. Berhentilah mengurusi hidupku.”

“Ini baru permulaan. Aku bahkan belum mulai benar-benar menganggumu,” ujar Hope sambil melompat turun dari atas mobilnya dan membersihkan kekacauan yang ia buat. “Jadi… seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, nikmati saja gangguanku,” imbuhnya lalu pergi menuju rumah kakeknya sebelum Blue sempat melontarkan kalimat protesnya.

1
Ira arif
sedih sih, tapi realistis juga
buat author nya, terimakasih untuk karya cantiknya
Ira arif
ya ampun, mulutnya William.... Lakban, mana lakban....
Ira arif
katanya gak ada orang yang benar-benar sibuk, yang ada cuma prioritas. Kalo lama gak menghubungi ya berarti memang bukan prioritasnya
Ira arif
baru ngeh, ternyata cerita ini sudah lama ya. Bagus kok 👍
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
cerita paling sedih yang pernah kubaca
huwaaa hu-hu-hu 😭😭😭😭😭🤧😤
Sin Cera 😉: Halo kak ^^ maaf baru bisa balas komen kakak. Makasih yaa kak udah baca novelku sampai selesai dan memberikan komentar² positif. Jujur komentar² kakak naikkin mood-ku banget. Big hug from me 🤗 and have a nice day 😊
total 1 replies
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
merinding aku ka
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
hiks hiks hiks hiks hiks
😭😭😭😭😭😭😭🤧🤧🤧🤧🤧
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
sediiih... 😭😭😭😭😭🤧🤧🤧
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
blue benar banget hope, memainkan peran sebagai kekasihmu.
masa' iya datang ke pernikahan mantan cuman ajak teman atau ngaku bw tetangga, hi-hi-hi. nggak lucu atuh Hope, ketahuan jomblo nya, wkwkwk 😂🤣🤣🤣
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
lanjut thor, seruu
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
baguslah...
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
i hope you'll be together with love
💕💕💕

can't we wish them together with love
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
suka karakter nya Hope, nice 👍👍😘🥰
semangat ya ka💪💪👍
Sin Cera 😉: Huaaa 😭 iyaa dia karakter fav aku juga sejauh ini selama nulis novel online 😅
total 1 replies
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
ha-ha-ha, 🤣🤣🤣
baperrr kok marah-marah neng....
🤪🤪🤪
auto ngakuin perasaannya sama Blue ☺️🙈🙈🙈
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
Hope : "woah... kau penangkap yang hebat."
Blue : "tentu Hope... jika aku masih punya waktu dan harapan, tentu aku akan menangkap hatimu." 💕💕💕🥰
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
may be yes Hope
i hope so
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
aQ kok sedih bacanya ya
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
jiahahaa... yang mutusin sapa... yang disalahin sapa... Hope... Hope...🤪🤪🤦🤦🤦
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
sudah kuduga.
Will punya kekasih baru dan sekarang pasti memutuskan hubungan dengan Hope
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
iya hope, belum tentu kau yang akan dilamar William, secara terlihat dari komunikasi yang jarang dan hubungan LDR-an pula.
jangan-jangan dia sudah punya pacar yang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!