Lanjutan dari ZARA, Aku Mencintaimu. Kisah anak dari Juna dan Zara.
Menceritakan masa remaja Queen Nara yang biasa di panggil Nara. Dengan gayanya yang tomboy jago karate juga karena sahabat-sahabatnya semua laki-laki.
Di pertemukan dengan Raja Prasaja Putra kakak kelasnya di bangku SMA yang juga jago karate tapi begitu dingin cuek dan keras kepala seperti es batu. Tapi ternyata Raja adalah teman masa kecil Nara yang dulu pergi tanpa pamit pada Nara.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Bisakah si es batu mencair?
Apakah Nara akan tahu kalau Raja adalah Suga teman masa kecilnya?
Happy reading 🥰🥰
Hanya kisah fiktif jauh dari kenyataan ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyebab Arfan jadi dingin
Waktu pulang sekolah tiba, Ar, Er dan Al sudah menunggu Nara di depan kelasnya mencoba melindungi Nara dari gangguan Antonio.
"Ayo kita pulang." Ajak Ar pada Nara yang baru keluar.
"Aku akan ekskul basket dulu. Kalian duluan" ucap Er.
"Apa perlu aku jemput lagi?" Tanya Er.
"Nanti pulang bersamaku, soalnya ekskulku juga hari ini." Jawab Al.
"Iya udah ayo kita kesana Al." Ajak Fika yang juga sama ekskul menulis.
"Bye ...." teriak Al.
Nara melihat Raja dengan kaos tim basketnya.
Apa kak Raja ikut basket juga?.
Pikir Nara.
"Emmmh sebaiknya kita menunggu mereka saja Ar, sepertinya aku juga akan bete di rumah kalau pulang sekarang." Bujuk Nara.
"Baiklah." Ar setuju karena tidak mungkin meninggalkan Nara. Er dan Al tidak akan bisa di andalkan untuk menjaga Nara.
"Lagian aku juga ingin melihat Er beraksi di lapangan, selama ini tidak pernah menemaninya latihan." Ucap Nara.
"Iya baiklah."
"Kita beli cemilan sama minuman yu ke kantin, masa nontonin aja." Nara menarik tangan Ar.
Di kantin ada Antonio yang memang anak basket juga tapi tangannya masih cidera dan tidak ikut latihan.
Antonio sudah sumbringah melihat Nara tapi raut wajahnya berubah saat Nara bersama Ar dan menggandeng tangannya.
"Ayolah, kamu ingin apa?" Tanya Nara pada Ar.
"Apa saja terserah kamu." Jawab Ar.
"Baiklah." Nara mengambil beberapa cemilan dan beberapa botol air mineral kemudian membayarnya.
Ar hanya mengekor pada Nara. Nara melihat Antonio yang senyum-senyum padanya dan mengacungkan jari tengahnya merasa kesal.
"****!" Nara mengacungkan jari tengahnya.
Ar yang mendengar itu melirik juga pada Antonio. Tapi Antonio membuang muka saat Ar menatapnya.
"Sudahlah ayo pergi." Ajak Ar.
"Sebal sekali aku melihatnya." Ucap Nara.
"Tapi tadi dia tidak mengganggumu?" Tanya Ar.
"Mana berani dia, apalagi kalau ada kamu karate sabuk hitam. Dia emang cemen." Jelas Nara.
"Sudahlah!"
Mereka duduk di pinggir lapangan memperhatikan Er latihan.
"Nara ambil videoku saat aku bermain basket." Suruh Er.
"Oke ...." Nara setuju. Sedangkan Ar hanya terdiam sambil membaca bukunya.
Nara memvideo Er bermain basket dan seketika tatapan Nara terhenti pada Raja yang bermain begitu cool dan elegan.
Kak Raja keren juga main basketnya ternyata, emang segala bisa, pinter juga iya. Idaman ....
Hati Nara.
"Sadar Nara, jangan berpikiran begitu. Mana mungkin sekali bisa dekat dengan si Es." Gumam Nara.
"Si es siapa?" Tanya Ar yang pokus pada bukunya.
"Aku pikir kau baca buku?" Tanya Nara.
"Emang baca buku. Kamu gak lihat emangnya?" Jawab Ar.
"Iya aku melihatnya."
Di sisi lain para cheerleaders juga latihan berbarengan dengan latihan basket begitu heboh dan berteriak-teriak juga. Grace dan Indri juga ikut cheerleaders Grace sebagai pemimpinnya.
Nara hanya pokus pada ponsel Er yang sedang merekam sesekali melihat ke arah Raja juga.
Duuug.
Bola basket mengenai kepala Nara dan kemudian Nara terjatuh pingsan.
"Nara ...." Ar melemparkan buku yang di bacanya dan menghampiri Nara yang pingsan.
"Makanya kalau ada bola minggir dong." Teriak Ziel.
Raja berlari dan menghampiri Ar. "Nara pingsan Ar bawa ke UKS." Suruh Raja.
Ar membopong Nara ke UKS dengan wajah paniknya.
"Nara bangunlah ...." Ucap Ar.
"Ini dekatkan pada hidungnya minyak kayu putih." Ucap Raja.
Ar menurut dan melakukan apa yang Raja suruh.
"Maafkan aku Nara, aku ceroboh aku tidak bisa menjagamu." Ucap Ar.
"Tenanglah sebentar lagi dia juga akan sadar." Ucap Raja.
Tidak lama kemudian Nara tersadar dan memegangi kepalanya.
"Aww kepalaku sakit sekali ya ampun." Lirih Nara.
"Kau sudah sadar Nara?." Ar memeluk Nara dengan erat.
"Kepalaku pusing."
"Ekhemmm ...." Kode Raja kalau disana tidak cuman hanya berdua.
Ar melepaskan pelukannya. "Maaf kak."
"Kamu tidak apa-apa Nara?" Tanya Ar.
"Kepalaku pusing banget, siapa sih lempar bola sembarangan." Ketus Nara yang tidak ada manis-manisnya.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja." Ucap Raja.
"Eh kak Raja." Tengok Nara.
"Ini Nara minumlah." Ucap Er yang baru datang membawakan tas Nara dan Ar.
Ar memberikan Nara minum.
"Biar aku bawa pulang Nara saja, kamu nanti pulang sama kak Raja atau Alki." Ucap Ar.
"Baiklah, sana bawa pulang Nara biar istirahat di rumah." Suruh Er.
Ar menggendong Nara ke mobilnya. "Awas pelan-pelan." Ar begitu protektif.
"Kalian hati-hati di jalan." Ucap Er.
Er dan Raja kembali kelapangan sambil mengobrol.
Kenapa Ar begitu protektif pada Nara? Aku jadi merasa bersalah telah membuat Nara pingsan. Dan dia juga belum memaafkanku.
Hati Raja.
"Emmh sepertinya Ar begitu protektif pada Nara?" Raja memberanikan diri bertanya.
"Bukan hanya pada Nara tapi padaku juga Alki, Ar memang begitu orangnya dewasa dan peduli pada kita jadi kita juga selalu merasa aman kalau ada Ar di samping kita." Jelas Er.
"Oh ...." Singkat Raja.
Oh aja, benar-benar es.
Hati Er.
"Sebenarnya karena ada suatu hal juga sih, jadi waktu kita SD kita berenang bersama, tapi Nara belum pernah berenang sebelumnya sedangkan Ar malah mengerjainya dan mendorong Nara sampai Nara tenggelam." Tambah Er.
"Terus" Raja makin penasaran.
"Ya Nara sampai di rawat di rumah sakit dan Ar merasa bersalah dan berjanji akan selalu melindungi Nara. Itu juga yang menjadikan Ar pendiam dan tidak banyak tingkah." Jelas Er panjang lebar.
"Emmmh begitu, menarik juga ternyata persahabatan kalian." Ucap Raja.
"Ya begitulah kak. Karena orangtua kita bersahabat jadi nular deh ke kita jadi ikutan bersahabat karena sering berkumpul." Senyum Er.
"Jadi kalian menuakan Ar diantara kalian?" Tanya Raja.
"Iya, kita sangat menghormatinya dan juga harus nurut padanya. Padahal kalau usia lebih tua Nara." Ucap Er.
"Nara?"
"Iya, Nara sebentar lagi udah mau 17 tahun harusnya seangkatan dengan kak Raja." Senyum Er.
"Oh ...."
Udah cape bicara panjang lebar jawabnya cuman oh aja? Ya ampun mana tahan aku berteman dengan kak Raja. Di kepalaku masih banyak sekali sebenarnya yang ingin aku bicarakan, tapi kak Raja gak nanya padaku.
Hati Er.
"Gabung lagi sana sama yang lain." Suruh Raja.
"Baik kak." Angguk Er.
Aku harus meminta maaf pada Nara, aku masih merasa bersalah padanya.
Pikir Raja.
Antonio menghampiri Raja.
"Gimana Nara? Katanya tadi dia pingsan?" Tanya Antonio.
"Sudahlah kamu jangan deketin Nara lagi, kasian dia di bully terus sama si Grace." Ucap Raja.
"Ah bukan urusanmu." Antonio berlalu pergi.
"Dasar badboy." Ketus Raja.
Waktu sudah menunjukan pukul 05 sore dan waktunya semua orang pulang.
"Ayo aku antar kamu." Ajak Raja pada Er.
"Baiklah kak, lagian Alki juga sudah pulang. Apa tidak merepotkan kak Raja?" Tanya Er.
"Tidak sama sekali. Lagian aku ingin meminta maaf juga pada Nara." Ucap Raja.
"Uhuk .... Uhuk ...." Er yang sedang minum keselek karena kaget.
"Kenapa?" Tanya Raja.
"Ti-tidak kak."
"Kau maukan mengantarkan ku ke rumah Nara?" Tanya Raja.
"Iya kak aku antarkan nanti." Senyum Er.
⬇️⬇️
hadir ni thoor
semangat berkarya yaaa😚😚