Pernikahan yang didasari cinta belum tentu selamanya akan abadi. Akan ada badai yang akan menghampiri, apakah sang nahkoda bisa mengatasinya atau tidak tergantung kesiapan diri.
Begitu juga dengan rumah tangga Ima, kebahagian yang ia nikmati hancur lebur saat suaminya punya Wanita lain dan lebih menyakitkan mertuanya ikut andil atas pengkhianatan putranya.
Ima yang sakit hati bertekad dalam hati akan membalas semua pengkhianatan suami dan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Sedari pagi Ima sebenarnya sudah bangun tapi ia malas untuk turun kebawah melihat wajah - wajah munafik. Ima mengambil ponselnya dan membuka medsos untuk melihat berita - berita viral saat ini.
"Hari ini aku akan pergi kesana, lebih baik aku mandi dulu baru bersiap - siap ." gumam Ima seorang diri. Sudah seminggu lamanya ia tak di temani oleh suaminya, lelaki itu sibuk memadu kasih dengan istri barunya di kamar tamu. Ima malah bersyukur lelaki itu tak mengganggu waktunya.
Setelah mandi Ima memilih pakain yang pantas dan yak lupa ia memoles wajah pucatnya dengan sedikit sentuhan make up. Di saat itulah pintu kamar Ima terbuka, rupanya suaminya yang datang. Ima tak menyapa dan bersikap acuh tak acuh.
"Mau kemana kamu udah rapi gini?" tanya Aldi sambil duduk di tepi ranjang memperhatikan Ima.
"Keluar, main." jawab Ima singkat.
"Sama siapa?" tanya Aldi.
"Siapa kalau bukan Ratna, mas kan tau temenku cuma Ratna." jawab Ima ketus.
"Tumben."
"Apanya yang tumben?"
"Keluar gitu sama Ratna, biasanya juga sama mas." tanya Aldi heran.
"Apa mas punya waktu? ga usah sok gitu deh, kemana aja mas selama ini? Mending mas urus ulat bulu sono, aku ga mau pagi - pagi ribut cuma karna mas kemari." usir Ima.
"Maafin mas, mas janji setelah ini mas akan bersikap adil." uajr Aldi sambil mengakat tanganya sebelah.
"Adil dalam apa? Mas tau ga apa itu adil? makanya belajar dulu baru bilang adil." emosi Ima meletup - letup mendengar perkataan bodoh suaminya.
"Iya maaf. Ga usah dandan cantik - cantik napa?" protes Aldi mengalihkan pembicaraan.
"Trus aku keluar denagn wajah kucel dan kaya gembel gitu. " ucap Ima ketus.
"Bukan gitu, ma. Dandanya tipis aja."
"Kenapa takut aku dilirik lelaki lain?cemburu?" cibir Ima.
"Kamu itu milik aku, ga boleh satu orang pun mendekati kamu."
"Kamu aja selingkuh masa aku ga boleh, ga adil dong." Ima tertawa pelan sambil menatap Aldi dengan tatapan yang mematikan. Aldi bergidik ngeri melihat tatapan Ima.
"Itu beda Ima."
"Bedanya dimana?"
"Mama pengen punya cucu, tapi kamu ga bisa beri mama cucu. Jadi terpaksa aku nikah lagi." ujar Aldi membela diri.
"Dengan membohongi aku."
"Mas lagi cari waktu yang tepat untuk memberitahu kamu. Tapi..."
"Tapi apa? ketahuan duluan ." kembali Ima tertawa garing.
"Maafi mas Ima." Aldi mengulang kata - kata maaf tapi ujungnya tetap saja menyakiti.
Ima menyudahi dandanannya dan berjalan keluar di ikuti Aldi.
"Eh tuan putri baru bangun ya. Hebat ya, harusnya kamu yang layani kami bukan kami yang layani kamu."
"Emang saya undang kalian kemari? ga kan, jadi ga usah protes. " Ima duduk di meja makan dan mengambil selembar roti dan mengolesinya dengan selai coklat kesuakanya. Ima tak peduli dengan sekitarnya, ia asik menikmati sarapanya. Ia butuh tenaga untuk menghadapi manusia tak tau malau seperti mereka.
"Ga sopan, sarapan itu mesti nungguin yang lain." oceh mama.
"Ini rumah siapa?" tanya Ima.
"Aldi."
"Aku ini siapa?"
"Ìstrinya Aldi."
"Nah itu mama tau, sudah ga usah ribut. Kalau mau sarapan, monggo." Ima cuek menikmati sarapanya tanpa peduli ocehan mama mertuanya yang panjang.
"Alhamdulilah, mas aku pergi dulu." pamit Ima berusah masih menghormati suaminya.
"Mau kemana pula kamu pagi - pagi gini. Bukanya di rumah beberes malah kluyuran."
"Beberes apa, ma? Buat apa bayar pembantu kalau aku harus capek juga beresin rumah."
"Gini nih kalau ga punya etika, ngomong sama orang tua asal jeblok aja."
"Ga kebalik, ma." sindir Ima.
Tangan mama terulur hendak menjambak rambut Ima tapi di halangi Aldi.
"Sudah, ma. Ima kalau mau pergi, udah sana. Ingat janagn pulang malam - malam."
"Ok! Bye." Ima melengang sambil melambaikan tanganya dengan senyum mengejek membaut emosi mertunya mengelegak.
...****************...
Assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 👍🙏🙏