NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Suami Cadangan

Terpikat Pesona Suami Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

David merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam pekat berbahan logam yang berkilau mewah.

Ia menggeser kartu tersebut di atas meja makan, tepat ke hadapan Mili.

"Ini black card untuk kamu membeli sesuatu," ujar David datar.

Mili mengerutkan keningnya, menatap benda persegi berwarna hitam itu dengan kepolosan yang lugu.

Tangan mungilnya ragu-ragu menyentuh permukaan kartu yang dingin.

"Black card? Apa ini?"

David terkekeh tipis melihat ekspresi bingung istrinya.

"Nanti akan aku jelaskan saat aku pulang kerja. Dan sekarang, aku harus berangkat kerja dulu."

David bangkit dari duduknya, merapikan setelan jasnya, lalu merunduk sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Mili.

"Ingat, jangan pernah mendekati kamar rahasia itu... atau hantunya akan menggigitmu," bisiknya dengan nada misterius yang dibuat-buat, namun berhasil membuat bulu kuduk Mili berdiri.

Mili mendongak dan menganggukkan kepalanya dengan cepat.

"I-iya, David. Aku ingat."

David mengusap lembut puncak kepala Mili sebelum melangkah tegap keluar dari rumah.

Mili mengekor pelan hingga ke pintu depan, berdiri memperhatikan mobil mewah suaminya yang perlahan menghilang di balik gerbang besi raksasa.

Suasana istana megah itu mendadak hening kembali.

Sambil menunggu para guru privat yang disewa David datang, Mili teringat pada satu-satunya teman kerjanya di masa-masa kelam dulu.

Ia menoleh ke arah salah satu pelayan yang berdiri tak jauh darinya.

"Bi... bisakah tolong ambilkan Dora?" tanyanya ragu.

Pelayan wanita itu tersenyum ramah dan membungkuk hormat.

"Dora ada di taman belakang, Nyonya. Kucing itu sedang asyik bermain di sana sejak pagi."

Mendengar itu, binar bahagia memancar dari mata Mili.

Ia segera mengayunkan langkahnya menyusuri koridor kaca yang mengarah ke area belakang rumah.

Begitu pintu kaca tergeser, pemandangan taman hijau yang terhampar luas lengkap dengan gemericik air mancur memanjakan matanya.

Di atas rumput gajah mini yang terawat rapi, terlihat Dora—kucing abu-abu kesayangannya—sedang berguling-guling ceria menepuk-nepuk kupu-kupu yang lewat.

"Dora..." panggil Mili lembut.

Kucing abu-abu itu mendongak, mengeong keras, dan langsung berlari kecil menghampiri Mili, mengusapkan kepalanya yang berbulu halus ke kaki sang majikan.

Mili berlutut di atas rumput, memeluk kucingnya erat-erat dengan senyum tulus yang terkembang manis di bibirnya—sebuah momen kedamaian kecil sebelum perjuangan besarnya dimulai hari ini.

Sementara itu, di kediaman Hermawan, suasana pagi terasa dingin dan dipenuhi kecanggungan.

Gea, yang baru selesai menyiapkan sarapan sederhana dengan susah payah, kini duduk di meja makan yang panjang.

Di sana sudah ada Papa Hermawan dan Andrew—suaminya yang baru pulang ke rumah pada pukul empat subuh tadi dengan pakaian kusut dan wajah lelah.

Andrew meminum kopi buatan Gea sejenak, lalu tanpa sepatah kata pun merogoh dompetnya.

Pria itu meletakkan sebuah kartu berwarna hitam mengilap di atas meja, menggesernya tepat ke hadapan Gea.

"Ini black card untuk kamu, Gea," ucap Andrew datar tanpa melihat wajah istrinya.

Mata Gea seketika membelalak lebar. Binar keserakahan dan rasa bangga langsung meluap di dadanya.

"Untuk aku?! Boleh... boleh aku belanja pakai kartu ini?!" tanya Gea setengah berteriak girang, tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya.

Andrew menatap Gea dengan tatapan dingin dan penuh peringatan.

"Boleh. Asalkan kamu tidak bertanya apa-apa tentang aku—aku dari mana, bersama siapa, atau urusan pribadiku yang lain."

Rasa puas mengalahkan harga dirinya. Gea langsung meraih kartu itu dan mengangguk cepat.

"Iya, iya! Aku mengerti!"

Ia bersorak kegirangan, merasa dirinya kini adalah wanita paling beruntung karena mendapatkan akses kekayaan tanpa batas dari keluarga Kartajaya.

Hermawan yang menyimak dari ujung meja berdeham pelan, memecah keceriaan Gea.

Matanya menatap tajam ke arah putra sulungnya. "Hari ini kamu ada meeting dengan David," ucap Papa Hermawan tegas.

Mendengar nama saudaranya disebut, rahang Andrew mendadak mengeras. Wajah tampannya menggelap penuh kejengkelan.

"Iya, Pa... Menyebalkan sekali!" desis Andrew sambil mengepalkan tangannya di bawah meja.

"Karena dia memiliki saham tambahan dari peninggalan mendiang Mama, posisi sahamnya di perusahaan sekarang melampaui aku. Aku yang anak sulung... sekarang justru cuma jadi bawahannya!"

Gea yang sedang mengelus black card di tangannya seketika terpaku.

Pengakuan Andrew bagai petir di siang bolong baginya.

Kenyataan bahwa David—pria dingin yang baru saja dinikahi Mili—ternyata memegang kekuasaan tertinggi di perusahaan dan membawahi Andrew, mulai mencubit egonya dengan sangat menyakitkan.

Papa Hermawan menaruh sendoknya dengan dentang nyaring yang tegas ke atas piring porselen, memotong kemarahan Andrew.

Tangannya terkepal di atas meja. Rencananya untuk menguasai perusahaan Kartajaya secara penuh kini gagal total semenjak David resmi naik jabatan menjadi CEO.

Keberadaan David di puncak pimpinan bagaikan kerikil tajam di dalam sepatu mereka.

"Sudah, tidak usah banyak mengeluh. Bicarakan itu di kantor. Cepat berangkat sekarang," perintah Papa Hermawan dingin pada Andrew.

Andrew mengepalkan rahangnya, bangkit berdiri tanpa berpamitan, lalu melangkah lebar meninggalkan ruang makan.

Setelah kepergian Andrew, Papa Hermawan mengalihkan pandangan tajamnya, melirik Gea yang masih memandangi black card di tangannya.

"Gea," panggil Papa Hermawan tegas.

"Belilah buah-buahan dan pergilah ke rumah kakakmu, Mili."

Gea tersentak pelan, namun sedetik kemudian ia menganggukkan kepalanya dengan binar licik yang merekah di matanya.

Bagi Gea, perintah ini bukanlah sekadar kunjungan keluarga biasa, melainkan kesempatan emas yang sangat sempurna untuk memanas-manasi Mili.

Di dalam benak egoisnya, Gea membayangkan pemandangan yang begitu menyenangkan: Mili yang lusuh, memakai celemek usang, dan sedang berpeluh keringat mencuci tumpukan piring kotor bersama para pelayan di dapur rumah David.

Pria dingin seperti David mana mungkin menjadikan anak sial seperti Mili sebagai seorang ratu?

"Mili, Mili... Sehebat apa pun pernikahanmu, kamu akan tetap berada di bawah kakiku," gumam Gea sinis dengan senyum miring yang menghiasi wajah mewahnya.

Dengan rasa percaya diri yang membumbung tinggi, Gea mengayunkan langkahnya menuju kamar, bersiap mengenakan pakaian paling glamor yang ia miliki sebelum meluncur menuju rumah David demi mempermalukan sang kakak.

Di sisi lain David baru saja sampai di pelataran gedung pencakar langit Kartajaya Group.

Pintu mobil mewahnya dibukakan oleh pengawal, dan pria itu melangkah turun dengan gagah, mengenakan setelan jas hitam elegan dan kacamata hitam yang menambah aura dingin serta intimidatifnya.

Langkah tegapnya bergema tegas di atas lantai granit lobi utama.

Kehadirannya seketika menyedot perhatian dan menciptakan atmosfer ketegangan yang pekat.

Semua karyawan yang dilewatinya langsung berdiri tegap dan menundukkan kepala dengan penuh hormat saat sang CEO baru itu datang.

"Apa dia sudah datang?" tanya David datar tanpa menghentikan langkahnya, ditujukan kepada Jonas, sekretaris pribadinya yang berjalan sigap di sampingnya.

Jonas melirik jam tangannya sejenak lalu menjawab dengan nada hening teratur,

"Sepertinya Tuan Andrew belum datang, Tuan."

Sudut bibir David terangkat membentuk senyuman sinis.

Tanpa rasa ragu sedikit pun, ia memberikan instruksi tegas.

"Potong gajinya, dan ayo kita mulai rapat. Aku tidak peduli meskipun dia kakakku," ucap David dingin.

Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, David melangkah masuk ke dalam lift khusus eksekutif yang pintunya terbuka otomatis, meninggalkan aura dominan yang mencekik di lobi utama gedung tersebut.

1
Yensi Juniarti
lanjuuut ya say 😘😘
Yensi Juniarti
ayo mili tunjukan ke gea kalau km lebih dari segala galanya .... 🥰🥰🥰
Yensi Juniarti
bahagia menyertai mu Mili...🥰🥰
Yensi Juniarti
🥰🥰🥰🥰 semuanya milik Mili
Yensi Juniarti
lanjutkan 🙏🙏
Rian Moontero
lanjooott👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!