Gadis kecil Ella yang hidup di sebuah panti asuhan pinggiran kota yang berada di ujung kekaisaran Reis yang megah, hanya bermimpi untuk lepas dari segala kesakitan dan perundungan yang ia alami di panti.
Kehidupan yang dihantui ketakutan, kelaparan, membuatnya terus bermimpi akan sebuah kangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar. Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.
Akankah keluar dari kegelapan lama menuju kegelapan baru di depannya akan lebih baik? Atau justru, kegelapan di binar yang menyimpan keinginan untuk hidup di mata Ella, justru jauh lebih pekat dibanding yang ia tinggalkan?
♡♡♡♡♡
Jadwal Up:
Senin s/d Sabtu - Jam 20.00
Minggu - Double Up; 08.00 & 20.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba di Ibu Kota Reis, Aster
"Arghhh- Ampun, ma-maafkan kami ... Beri kami satu kesempatan lag- AKHHHH!"
"Dasar manusia tidak berguna."
Wanita itu melepaskan jubahnya yang sudah banyak terkena cipratan darah dan melemparnya sembarang. Ia melangkah mendekati meja sang tetua panti dan mengambil sesuatu dari dalam lacinya.
"Disuruh mengawasi gadis kecil bodoh itu saja tidak becus." Ia melangkah menuju pintu keluar dari dalam ruangan pribadi milik tetua panti itu dengan menginjak mayat-mayat yang baru saja ia bunuh.
"Oh, tunggu sebentar ... "
Wanita itu berbalik arah, kembali menatap 4 mayat di depannya. Kilatan hitam menyala di netra wanita itu saat melihat darah yang mengalir, ia menyunggingkan senyumnya, menghisap aura kehidupan yang baru saja matu dari keempat mayat dan merubahnya menjadi mana.
Setelah aura dari keempat tetua panti habis terhisap. Mayat mereka berubah menjadi tengkorak kering yang seolah mereka ini sudah lama meninggal.
"Hampir aku melupakan jasa terakhir yang setidaknya bisa kalian berikan."
Setelahnya, wanita itu menghilang di tengah asap hitam pekat yang melingkupi tubuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ke-3 menuju malam puncak perayaan festival cahaya kekaisaran.
Ibu Kota Kekaisaran Reis, Aster.
Derix menunjukkan plakat pada 2 orang ksatria yang menjaga pintu gerbang ibu kota. Mereka buru-buru membukakan pintu gerbang kala melihat plakat keluarga Grand Duke Luelle.
Rombongan keluarga Grand Duke akhirnya menapaki ibu kota yang sudah lama tak mereka datangi.
"Tuan, saya sudah memerintahkan Elios untuk menyiapkan mansion utama Luelle yang tidak jauh dari kastil Reis," ucap Derix menyampaikan laporan kepada Aghasa lewat samping jendela sisi kiri kereta kuda.
Aghasa mengangguk singkat. "Lebih perhatikan ruangan yang kupinta kemarin."
"Baik, Tuan."
Kembali ke posisi semula, Derix memimpin penjagaan rombongan keluarga Luelle.
Sementara itu, Ella yang tidak sadar dirinya akan mendapatkan kembali semua yang menjadi takdirnya, sibuk mengagumi betapa besar dan megahnya ibu kota dari salah satu kekaisaran di benua Astra.
Semilir angin yang menerpa wajahnya, membuat rambutnya yang tergerai sedikit berkibas keluar jendela kereta kuda.
Sebagian orang yang menunggu kedatangan salah satu anggota kekaisaran penting di sepanjang jalan kereta kuda keluarga Luelle sontak terkejut.
"Bu-bukankah itu rambut bewarna merah panjang? Tapi itu tidak mungkin baginda permaisuri yang datang bersama adiknya kan? Apa itu tetua keluarga Luelle?"
"Kau berbicara apa? Jelas-jelas tadi aku melihat postur tubuhnya seperti anak kecil! Mana mungkin itu tetua keluarga Luelle."
"A-anak kecil?! Ja-jangan bilang kalau ... "
Aghasa yang menyadari keributan di luar sana bukan lagi perihal kedatangan dirinya, melainkan kembalinya bintang kecil kekaisaran Reis, menyunggingkan senyumnya.
"Ella, apa kamu merasa lelah?"
Gadis kecil yang tadinya melihat pemandangan keluar jendela, sontak dengan cepat berpaling ke arah seseorang yang berbicara padanya. "Ti-tidak. Ella baik-baik saja."
Aghasa tersenyum lembut, mengusap kepala gadis kecil itu. Dirinya sangat mengkhawatirkan stamina gadis kecil yang memang pada dasarnya sedang tidak baik-baik saja itu namun kini harus menempuh perjalanan hampir memakan waktu 3 hari 2 malam.
'Seharusnya kami tiba kemarin sore di ibu kota,' gerutu Aghasa dalam hati.
Entah kenapa, portal teleportasi yang biasa digunakan keluarga kekaisaran untuk memangkas waktu perjalanan ke beberapa wilayah penting, sejak 3 hari lalu tidak berfungsi.
Dan hal yang lebih menyebalkan adalah disepanjang perjalanan terkadang selalu ada kabut hitam yang menghalangi pandangan kusir serta para kuda, yang alhasil selalu membuat mereka terjeda cukup lama.
"Kita sudah tiba, Tuan Grand Duke, Tuan Putri," seru Derix.
Ella melihat keluar kereta kuda. Rupanya mereka telah tiba di sebuah pekarangan luas di depan bangunan yang tak kalah megah dari kastil grand duke di Ador.
"Ayo kita turun, Ella."
Gadis kecil itu menyambut uluran tangan Aghasa yang membantunya turun dengan sedikit kaku.
Beberapa hal masih terasa asing bagi Ella. Panggilan 'Tuan Putri' serta perlakuan hati-hati dan istimewa dari orang-orang disekitarnya yang terkadang membuat Ella takut salah membalas sikap mereka yang terlihat anggun, berbeda dengan dirinya.
Elios serta para pelayan mansion grand duke Luelle di ibu kota sudah berdiri - berjajar rapih di depan pintu mansion, menyambut kedatangan sang tuan kembali ke kediaman luelle di ibu kota.
"Kami memberi salam kepada Pedang Kekaisaran Reis yang Agung, serta Bintang Kecil Kekaisaran Reis."
Seluruh pelayan serentak membungkuk. Ella yang melihat hal itu sedikit tersentak kaget dan melangkah mundur kebelakang Aghasa.
Elios yang melihat respon ketakutan dari tuan putri kecil yang kembali pun sontak merasa bersalah. "Ma-maafkan kami Tuan Grand Duke, karena kami Tuan Putri merasa ta-
"Tak apa," potong Aghasa
Aghasa mengelus kepala gadis kecil yang setengah bersembunyi di belakang dirinya. "Tuan Putri hanya sedikit terkejut dengan suara kalian yang tiba-tiba. Jadikan ini sebagai pelajaran kedepannya," ujar Aghasa kepada seluruh pelayan kediaman Luelle.
Aghasa tidak merasa marah saat ini, entah kenapa. Mungkin karena ia merasa dirinya kini dapat diandalkan saat melihat Ella yang sudah berani mendekat ke arahnya dan memilih berlindung ke arah dirinya saat gadis kecil itu merasa takut.
"Apa kamar yang kusuruh kau siapkan sudah selesai?"
"Sudah Tuan, mari saya antar," balas Elios yang dengan sigap memandu jalan ke dalam kediaman yang sudah ia siapkan sebaik mungkin sejak mengetahui kepala keluarga Luelle akan singgah untuk menghadiri malam puncak festival, serta membawa tamu yang sangat penting bagi kekaisaran.
...****************...
"Waah ... "
Ella tidak berhenti mengangumi ruangan yang mereka sebut 'kamar' ini begitu megah dengan dekorasi serta furniture serba bewarna pink pastel yang lembut di depannya ini.
"Ini adalah tempat untuk kamu beristirahat sampai menjelang pesta nanti malam oke? Dan jangan lagi merasa tidak enak untuk tidur di atas kasur ya, Ella." Aghasa dengan lembut memberi arahan kepada gadis kecil di depannya.
Ella mengangguk patuh dengan senyum di wajahnya. Tersadar sesuatu, ia berbalik ke arah pintu kamar yang dimana Elios serta beberapa pelayan kediaman sedang menunggu.
Ella lantas menundukkan kepalanya pelan. "Te-terima kasih banyak."
Elios serta beberapa pelayan lain sontak panik saat atasan mereka, ah tidak! anggota inti kekaisaran reis menundukkan kepala kepada mereka yang bernotabene hanya sebagai pelayan. Mereka sontak membungkukkan badan. "Sudah menjadi tugas kami, Tuan Putri. Suatu kehormatan bisa melayani anda hari ini."
Ella tersenyum, binar di matanya perlahan mulai menghapus aura keruh yang menutupi betapa agungnya warna emas dari Reis.
'Dari awal, memang seluruh kebahagiaan yang hanya kamu dapatkan Ella.' batin Aghasa yang menyadari perubahan warna netra gadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu memesan banyak sekali lilin aroma vanilla, Luna."
Calliope menghampiri istrinya yang tengah sibuk mendekorasi tampilan lilin aroma sembari duduk di sofa dalam kamar mereka.
"Putri kecilku menyukai aroma vanilla." Alcaluna von Reis, bergumam pelan.
Wanita yang masa mudanya terkenal dengan julukan 'Ksatria Bunga Mawar dari Reis yang menghiasi medan perang dengan darah' kini dengan sangat teliti memasangkan pita bewarna merah muda di setiap wadah berukiran mawar yang menampung setiap lilin, dengan sendu.
"Lalu kenapa kamu tidak tersenyum?"
Alcaluna menatap pria disebelahnya yang memasang raut wajah sedih.
Alcaluna Luelle, dari semasa dirinya masih menyandang nama 'Luelle' ia sudah dikenal tidak memiliki hati karena dirinya yang tidak bisa mengekspresikan bahkan merasakan perasaannya dengan baik.
"Maafkan aku."
Calliope menggeleng cepat. "Aku tidak ingin mendengar kalimat maaf dari dirimu, Luna. Aku yang seharusnya meminta maaf karena gagal menjaga senyumanmu dan berhasil membiarkan ia dibawa pergi darimu."