Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Misterius
Di sisi lain...
Clare berada di apartemen Nana, di kamar terlihat Clare sedang berbaring memeluk bantal, menangis.
"Kamu sejak tadi pagi belum memakan sesuatu." Ujar Nana di dapur sedang memotong buah segar.
"Clare, jangan terus berlarut dalam kesedihan, bangkit kembali seperti waktu itu, seperti saat mamamu dan ayahmu meninggalkanmu." Lanjut Nana, Suaranya beradu dengan pisau yang sedang memotong.
"Kemarilah, makan dulu buah ini." Nana berjalan ke ranjang membawa piring yang berisi buah yang sudah terpotong rapih, ia meletakkannya di atas laci, lalu kembali lagi ke dapur. "Cepat makan! jangan sampai kamu mati karena tidak makan!" Ia mengambil wajan yang bersih, Lalu mengambil bahan masakan lainnya.
Perut Clare bersuara, ia terbangun mengusap air matanya, Lalu mengambil piring buah di atas laci.
"Apakah besok kamu bekerja?" Tanya Nana
Clare menghela napasnya, bingung, lelah. "Aku tidak tau apakah perusahaan itu masih menjadi milikku atau tidak!" Jawabnya, serak.
"Aku akan meminta tolong ayahku untuk mengakuisisi perusahaanmu, semoga ayahku mau!" Ujar Nana, ia masih tidak yakin bahwa ayahnya akan membantunya atau tidak.
"Sudahlah, jangan persulit ayahmu, aku akan berjuang untuk mendapatkan perusahaan itu kembali." Clare beranjak dari ranjang, menuju Nana.
"Tidak, aku akan bentuk jika aku bisa, jangan berjuang sendiri selagi ada aku di sisimu." Jawabnya.
Clare menatap Nana, dalam. Matanya berkaca-kaca. "Makasih." Jawabnya haru.
"Okey, waktunya makan!" Masakan Nana sudah jadi, ia menyajikannya di meja makan, Clare sudah berada di sana, menunggu.
"Silahkan menikmati." Nana duduk di depan Clare, di meja beberapa hidangan tersaji, wanginya sangat harum.
Clare mengambil sumpitnya, memakan hidangan itu lahap. "Enak sekali, aku tidak tau kamu pandai memasak!" Ujar Clare sembari mengunyah.
"Makasih, ini bukan apa-apa."
Mereka melanjutkan makannya hingga selesai, sambil mengobrol hal hal random yang terlintas di pikiran. Sore itu waktu mereka habiskan dengan damai tanpa masalah, beberapa kali ponsel Clare berbunyi, telepon dari Hans. Namun ia tak merespon nya, ia tak peduli apa yang akan terjadi nanti.
Di rumah Clare...
Di tempat biasa Hans dan seluruh keluarganya berkumpul, ia sedang marah marah tak jelas dengan ponsel, karena Clare tak menjawab teleponnya. Sore itu sudah beranjak malam.
"Sialan!" Duk!... Trang!... Krak!... Bzzz!!....
Bentak Hans, ponselnya ia banting sekuat tenaga hingga remuk tak tersisa. Lena dan yang lain kaget, namun ia tetap tersenyum puas.
*Habis kamu Clare* suara hari Lena.
"Hmph!!! Kemana perginya perempuan itu!!!" Prang!!!.... Hans menendang meja kaca di ruang tamu itu, hingga hancur, kacanya berserakan sampai ke sudut ruangan.
"Beraninya dia tidak mengangkat teleponku!!"
Ibu Hans berdiri, ia melihat ke pembantu di belakangnya. "Bereskan pecahan kaca itu!" Ujarnya keras, seolah ingin di dengar Hans.
Pembantu itu mengangguk. "Baik nyonya Letha." Ia melangkah untuk mengambil sapu.
Baru satu langkah pembantu itu pergi, namun Hans menghentikannya.
"Jangan bereskan!" Ujar Hans, nyonya Letha melirik Lena, mereka saling tersenyum miring, seolah sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Saya akan hukum wanita itu ketika dia pulang, haha..." Ia tertawa besar di ikuti Lena dan nyonya Letha.
*Tunggu aja kamu Clare*
***
Pagi hari yang cerah, matahari naik, menembus jendela melalui sela sela gorden. Clare terbangun di apartemen Nana, ia beranjak dari kasur, membuka jendela, sinar matahari langsung menyerbu ruangan yang gelap, Nana terbangun, menggosok mata, membiasakan matanya agar terbiasa dengan cahaya.
Clare melangkah menuju kamar mandi, suara air yang mengalir terdengar ke luar. Nana duduk tegak dari tidurnya, matanya masih merem.
"Clare!" Teriak Nana.
Clare keluar dengan wajah yang masih basah, ia mengambil handuk kecil yang tergantung di tembok.
"Apa?" Jawabnya, ia membereskan barang, mengambil tas di ujung ranjang. "Aku akan kembali sekarang!" Ujarnya, tangannya menaruh handuk lagi, lalu memakai sepatu.
Nana langsung membuka mata, terkejut. Ia beranjak dari ranjang, berlari menghentikan Clare yang sudah memakai sepatu.
"Tunggu! Sebaiknya kamu jangan pulang dulu sekarang." Ujar Nana, Badannya mengahalang di pintu. "Aku takut si Hans bajingan itu berbuat aneh padamu!"
Clare tersenyum melihat kepedulian Nana yang tinggi terhadapnya, walaupun dulu ia pernah berselisih sedikit dengannya, karena Nana melarang Clare untuk menikah dengan Hans.
Clare meraih lengan Nana. "Jangan khawatir, aku bisa jaga diri." Jawabnya halus. Clare mengalihkan pandangan *aku udah siap mental mengahadapi hari baru ini, yang mungkin tidak akan mudah* ujar hatinya.
"Tapi Clare, Hans semalam telepon kamu berkali-kali tapi tidak kamu angkat, bayangkan sekarang dia akan se gila apa!" Ujar Nana, gelisah.
"Tidak usah merasa gelisah, aku akan baik-baik saja Nana!!" Clare mendorong Nana pelan dari pintu, lalu ia membuka kuncinya.
"Clare! Yasudah kalau kamu tetap kekeh ingin pulang aku temani, tunggu aku sebentar untuk bersiap!" Nana sudah ingin bersiap namun Clare menghentikannya.
"Tidak usah! Kamu bukan tidak ada urusan hari ini kan? Aku bisa mengatasinya sendiri! Kamu sibuk saja dengan urusanmu!" Clare membuka pintu yang sudah tak terkunci, Nana pun tak ada pilihan lagi, ia hanya bisa percaya kepada Clare.
"Okey, tapi hati hati ya!" Dengan berat hati Nana melepaskan Clare.
Clare pergi menutup pintunya pelan.
Di bawah gedung, Clare berdiri tak jauh dari apartemen menunggu taxi terlihat. Nana melihat Clare dari atas, hatinya masih belum tenang membiarkan Clare pergi sendiri.
Tak lama, taxi terlihat. Clare melambaikan tangan untuk menghentikannya.
Bump... Pintu mobil tertutup.
"Kita Kemana nona?" Tanya supirnya pelan, suaranya serak. Supirnya sudah lansia.
"Ke perumahan Tarasana, kek" jawab Clare. Kake supir diam sebentar, seperti memikirkan sesuatu yang berat, lalu ia mengangguk ragu, mobil berjalan perlahan, lalu kencang. Suasana di mobil hening. Tapi Sepanjang perjalanan kakek supir itu batuk batuk.
"Kakek kenapa?" Clare melirik kakeknya.
"Saya tidak apa-apa, apa nona terganggu?" Tanya kakeknya, merasa bersalah.
"Saya lihat kakek sudah tua, mengapa masih bekerja, orang seusia kakek seharusnya sudah pensiun!" Tanya Clare.
"Saya harus menafkahi cucu saya satu satunya, istri saya baru saja meninggal, kalau saya tidak bekerja kami tidak akan makan." Kake itu terus batuk batuk, lalu Clare menawarkan kake itu untuk berhenti saja.
"Saya turut berdukacita atas kepergian istrinya" kakek itu mengangguk.
"Sebaiknya kakek istirahat, saya turun saja tapi saya akan tetap bayar." Clare meraih tasnya, di dalamnya hanya ada uang beberapa ratus rupiah saja, ia mengambil semuanya lalu di serahkan kepada kakek.
"Ini, saya hanya mempunyai sedikit, maaf." Kakek nya tidak menerima uang itu, ia terus menolak.
"Bagaimana saya bisa menerima uang jika saya tidak bekerja!" Ujarnya, tegas.
"Tidak apa-apa saya ikhlas, saya bisa pesan taxi lagi!" Jawab Clare, ia terus kekeh memberikan uang itu.
"Tidak perlu, nona. Saya akan tetap mengantarkan nona hingga sampai tujuan dengan selamat. Ngomong-ngomong perumahannya nomor berapa nona?" Tanya kakeknya lagi.
"Baiklah kalau kake tetap ingin mengantarkan saya, rumahnya nomor 01"
Mobil berhenti tiba-tiba hingga terhentak, kakeknya terdiam, lama...