Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Peringatan
Dua hari kemudian, pagi itu langit tampak cerah. Setelah berdiskusi dengan kedua orang tua dan menghitung kembali tabungan yang mereka miliki, Arkana dan Hanifah akhirnya mengambil keputusan.
Mereka akan membeli rumah yang sempat dilihat beberapa hari lalu. Keputusan itu diambil bukan karena rumah tersebut sempurna, melainkan karena hanya itulah rumah yang sanggup mereka beli.
"Mas, semua berkasnya sudah dibawa?" tanya Hanifah sambil mengenakan helm dan merapikan jilbabnya.
Arkana menepuk tas selempang yang berada di bahunya. "Sudah. Fotokopi KTP, buku tabungan, sama uang muka juga sudah."
Hanifah mengangguk pelan. "Semoga semuanya lancar."
"Aamiin," sahut Arkana mantap.
Motor yang dikendarai Arkana kembali melaju menyusuri jalan yang sama seperti dua hari sebelumnya.
Berbeda dengan perjalanan pertama, kali ini hati mereka jauh lebih tenang. Sesekali mereka membicarakan hal-hal kecil tentang rumah yang akan segera menjadi tempat tinggal mereka.
"Mas," panggil Hanifah, sedikit mengeraskan suara di balik punggung Arkana.
"Iya?"
"Nanti kalau kita benar-benar tinggal di sana, aku mau cat kamar pakai warna putih."
"Kenapa putih?"
"Supaya kelihatan lebih luas."
Arkana tersenyum kecil. "Boleh."
"Terus dapurnya nanti kita kasih rak kecil."
"Boleh juga."
Hanifah mulai bersemangat. "Halaman belakangnya kita tanami cabai, tomat, sama daun bawang."
Arkana tertawa pelan. "Kamu sudah seperti ibu-ibu."
Hanifah langsung mencubit pelan pinggang suaminya. "Memang sekarang aku sudah jadi istrimu dan calon ibu."
"Iya, Bu," goda Arkana. Mereka tertawa bersama sepanjang perjalanan.
Sekitar satu jam kemudian, mereka tiba di rumah tersebut. Pemilik rumah tampak sedang menyapu halaman. Melihat Arkana datang, beliau langsung menghampiri dengan wajah semringah.
"Selamat pagi, Mas Arkana."
"Selamat pagi, Pak," sapa Arkana dan Hanifah hampir bersamaan.
"Silakan masuk." Pria itu kemudian mempersilakan Hanifah dan suaminya ikut masuk ke ruang tamu. "Bagaimana? Sudah dipikirkan?"
Arkana saling pandang dengan Hanifah sebelum akhirnya mengangguk mantap. "Sudah, Pak. Kami sepakat mengambil rumah ini."
Wajah pemilik rumah langsung terlihat lega. "Alhamdulillah. Terima kasih sudah mempercayai saya." Beliau segera mengambil sebuah map berwarna cokelat dari atas meja. "Ini surat perjanjiannya. Silakan dibaca dulu. Kalau ada yang ingin ditanyakan, jangan sungkan."
Arkana membuka lembar demi lembar dokumen itu dengan teliti. Sesekali ia bertanya mengenai beberapa poin yang belum dipahaminya, dan pemilik rumah menjelaskan semuanya dengan sabar.
Sementara itu, Hanifah hanya memperhatikan dari samping. Ia memang tidak terlalu mengerti urusan administrasi, tetapi ia percaya Arkana akan mengambil keputusan yang terbaik.
Beberapa menit kemudian, Arkana menutup map tersebut. "Semuanya sudah jelas, Pak."
"Kalau begitu, kita lanjut."
Mereka pun menandatangi surat perjanjian sederhana sebagai tanda kesepakatan. Arkana kemudian menyerahkan uang muka yang telah dipersiapkannya. Pemilik rumah menerimanya dengan kedua tangan.
"Terima kasih. Sisanya bisa dilunasi sesuai kesepakatan kita."
"Iya, Pak."
Suasana terasa hangat. Sebelum berpamitan, pemilik rumah memberikan satu anak kunci kepada Arkana. "Mulai besok rumah ini sudah bisa kalian tempati."
Arkana menatap kunci itu beberapa detik. Benda kecil itu terasa begitu berarti. Ia lalu menoleh kepada Hanifah. "Alhamdulillah."
Hanifah tersenyum haru. "Alhamdulillah." Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, keduanya benar-benar merasa memiliki tempat untuk memulai kehidupan baru.
Sebelum pulang, Hanifah kembali mengelilingi rumah itu seorang diri. Ia berhenti di depan jendela ruang tamu.
"Mas," panggil Hanifah saat menyadari Arkana menyusulnya.
"Iya?"
"Aku membayangkan nanti kita salat berjemaah di sini."
Arkana ikut mendekat dan berdiri di sisinya. "Insyaallah."
Tanpa mereka sadari, dari rumah yang berada tepat di seberang jalan, sepasang mata memperhatikan mereka sejak tadi. Perempuan paruh baya yang pernah mereka temui dua hari lalu meletakkan selang penyiram tanaman. Ia menarik napas panjang, kemudian berjalan perlahan menghampiri Arkana dan Hanifah.
"Nak..."
Keduanya menoleh hampir bersamaan. "Iya, Bu?"
Perempuan itu menatap anak kunci yang berada di tangan Arkana. "Jadi... kalian benar-benar memutuskan membeli rumah itu?"
Arkana mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Bu."
Perempuan itu menghela napas pelan. "Kalau begitu... boleh Ibu mengajak kalian berbicara sebentar?"
Arkana dan Hanifah saling berpandangan. Mereka tidak mengerti apa yang ingin disampaikan perempuan itu. Namun melihat raut wajahnya yang begitu serius, keduanya mengangguk pelan.
"Baik, Bu." Mereka pun mengikuti langkah perempuan itu menuju teras rumahnya.
Perempuan paruh baya itu mempersilakan Arkana dan Hanifah duduk di kursi kayu yang berada di teras rumahnya. Setelah menuangkan tiga gelas teh hangat, beliau ikut duduk di hadapan mereka.
"Maaf kalau Ibu lancang mengajak kalian ke sini," ucapnya pelan.
"Tidak apa-apa, Bu," jawab Hanifah ramah.
Perempuan itu tersenyum tipis. "Perkenalkan, nama Ibu Sulastri. Sudah hampir dua puluh tahun Ibu tinggal di lingkungan ini."
Arkana mengangguk sopan. "Saya Arkana, Bu. Ini istri saya, Hanifah."
Bu Sulastri memandang ke arah rumah yang baru saja mereka beli. "Waktu pertama kali kalian datang, Ibu sebenarnya ingin langsung bicara. Tapi Ibu takut dianggap ikut campur."
Hanifah menatap perempuan itu dengan penuh perhatian. "Memangnya ada apa, Bu?"
Bu Sulastri terdiam beberapa saat, memasukkan sedikit jeda yang membuat suasana mendadak tegang. Kemudian beliau berkata pelan, "Rumah itu... di daerah ini dikenal sebagai rumah tusuk sate."
Arkana dan Hanifah saling berpandangan. Mereka pernah mendengar istilah itu, tetapi hanya sepintas.
"Rumah tusuk sate?" tanya Hanifah.
Bu Sulastri mengangguk. "Lihat jalan di depan rumah itu." Keduanya menoleh. Dari tempat mereka duduk, terlihat jalan lurus yang mengarah tepat ke bagian depan rumah tersebut. "Orang-orang tua dulu percaya," lanjut Bu Sulastri, "rumah yang menghadap lurus seperti itu lebih sering didatangi kesialan."
Hanifah mengernyit pelan. "Kesialan bagaimana, Bu?"
"Macam-macam. Ada yang bilang rezekinya seret, ada yang bilang penghuninya sering bertengkar. Bahkan ada yang menghubungkannya dengan musibah atau kehilangan." Suasana mendadak hening. Namun Bu Sulastri segera menambahkan, "Semua itu hanyalah kepercayaan yang berkembang dari dulu. Ibu tidak pernah bisa memastikan benar atau tidak."
Arkana mengangguk pelan. "Berarti memang hanya cerita turun-temurun?"
"Iya. Ibu juga tidak bisa membuktikannya."
Hanifah menghela napas lega. "Saya kira ada sesuatu yang lebih serius."
Bu Sulastri tersenyum kecil. "Ibu hanya merasa kalian berhak mengetahui cerita yang berkembang di lingkungan ini."
Arkana menatap rumah yang kini sudah menjadi miliknya, lalu ia kembali menghadap Bu Sulastri. "Terima kasih sudah mengingatkan kami, Bu. Tapi terus terang... saya tidak terlalu percaya kalau letak rumah bisa menentukan nasib seseorang."
Bu Sulastri tidak tampak tersinggung. Beliau justru mengangguk pelan. "Itu hakmu, Nak."
"Saya percaya," Arkana melanjutkan, "rumah hanya tempat berteduh. Bahagia atau tidaknya sebuah keluarga bergantung pada orang yang tinggal di dalamnya."
Hanifah menoleh kepada suaminya lalu tersenyum. "Aku juga berpikir begitu. Selama kami saling menjaga, insyaallah semuanya baik-baik saja."
Bu Sulastri memandangi pasangan muda itu cukup lama. Sorot matanya dipenuhi rasa iba sekaligus harapan. "Ibu senang kalian berpikir positif. Tetapi..." Beliau berhenti sejenak. "...rumah tangga bukan hanya tentang cinta. Di dalamnya ada kesabaran, pengorbanan, dan saling menguatkan."
Arkana mengangguk hormat. "Kami akan mengingat nasihat Ibu."
Bu Sulastri tersenyum tipis. "Bagus."
Beliau berdiri, lalu mengantar mereka hingga ke halaman. Sebelum Arkana menghidupkan motor, Bu Sulastri kembali memanggil.
"Arkana. Hanifah."
"Iya, Bu?" sahut keduanya.
Perempuan itu menarik napas pelan. "Kalau suatu hari nanti kalian benar-benar menghadapi cobaan... jangan langsung menyalahkan rumah itu."
Arkana tampak sedikit terkejut. "Bu?"
"Banyak orang lebih mudah menyalahkan tempat daripada memperbaiki dirinya sendiri." Kalimat itu membuat keduanya terdiam. "Dan satu lagi," Bu Sulastri menatap mereka bergantian, "apa pun yang terjadi nanti... jangan pernah saling melepaskan."
Hanifah menggenggam tangan Arkana, menyalurkan rasa yakin. "Insyaallah, Bu."
Arkana mengangguk mantap. "Terima kasih atas nasihatnya."
Mereka pun berpamitan. Motor perlahan melaju meninggalkan lingkungan tersebut. Di tengah perjalanan, Hanifah memecah keheningan.
"Mas..."
"Iya?"
"Mas benar-benar tidak percaya?"
Arkana tersenyum kecil. "Aku percaya setiap rumah punya cerita. Tapi bukan berarti rumah itu yang menentukan hidup kita."
Hanifah mengangguk pelan. "Aku juga. Yang penting kita berusaha menjadi keluarga yang baik."
Arkana melirik sekilas ke arah istrinya lewat kaca spion. "Lagipula... kalau kita terus memikirkan cerita itu, kapan kita mulai bahagia?"
Hanifah tersenyum. "Iya juga."
Angin sore berembus lembut menemani perjalanan mereka pulang. Sementara itu, dari kejauhan, Bu Sulastri masih berdiri di depan rumahnya.
Beliau memandangi jalan yang mulai lengang, lalu berbisik lirih kepada dirinya sendiri, "Semoga kalian mampu melewati setiap ujian... karena yang paling berbahaya bukanlah rumah itu. Melainkan ketika dua hati yang saling mencintai mulai berhenti saling memahami."