Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Day- 1
Hari ini adalah hari pertama Emma mengajar sebagai Emina, Guru Bahasa Inggris. "Na...na...na...na," Emma bersenandung ria ketika menata rambut lurusnya dengan . Dia sengaja membuat rambut coklatnya menjadi lebih bergelombang seperti kakaknya untuk menyempurnakan penyamarannya.
Untuk kali ini dia memilih memakai blazer soft ping dengan dalaman kemeja putih. Dia juga mengenakan rok dibawah lutut dengan warna yang serasi dengan atasannya. Lalu dia biarkan make up seadanya menghiasi wajahnya yang sudah merona merah muda tanpa tambahan blush on. Dia hanya menambahkan liptint berwarna pink agar wajahnya tidak terlalu pucat.
"Ok, aku siap aku siap aku siap aku siap aku siap," Emma menggunamkan kata itu lebih dari seratus kali. Mungkin jauh di lubuk hatinya dia tidak siap sama sekali. Tentu saja... Itu maklum kan? Dia kan bukan seorang Guru. Emma sudah terbiasa menghadapi penjahat kriminal paling berbahaya, tapi dia tidak pernah menghadapi kenakalan remaja. Apalagi, dia harus menyalurkan ilmu, sungguh itu bukan dirinya.
"Oke, jangan cepat marah... Sabar... Kalau ada siswa yang bertanya, tinggal jawab dengan halus. Jangan suka bentak-bentak... Oke... Fyuh.."
Emma menarik panjang nafasnya dalu menghembuskannya perlahan untuk menentramkan hatinya.
"Aaaa......!!!" Dia meneriakkan stressnya untuk terakhir kali sebelum mulai berperang.
...****************...
Sebelum benar-benar mengajar, Emma mampir dulu ke ruangan Kepala Sekolah. Disana, dia mendapatkan bimbingan singkat tentang kelas mana saja yang akan dia ajar dan administrasi apa saja yang harus dia kerjakan. "Wah...." Celetuknya membuat Pak Surya spontan menoleh ke arahnya.
"Anda akan segera bekerja di sini, saya harap anda bisa melaksanakan tugas dengan baik," ucap Pak Surya dengan tatapan tajam seolah ingin memangsa.
"Tapi pak, mengapa saya hanya mengajar dua kelas. Bukankah ini terlalu sedikit...?" Emma memiringkan wajahnya, kebingungan dengan pembagian tugas yang terlalu longgar.
"Anggap saja, ini masa percobaan," tegas Pak Surya.
"Baiklah," lirih Emma.
"Tapi, e.... Ngomong-ngomong, Bapak tahu kelas berapa anak yang kemarin...." Lanjut Emma sedikit memelankan suaranya.
"Kemarin apa?" Pak Surya malah mengucapkannya dengan suara yang lantang.
"Yang bun*h diri....." Emma kembali berbisik.
"Memangnya kenapa anda bertanya seperti itu?" Tanya Pak Surya.
Sebenarnya Emma sudah memprediksi pertanyaan itu. Mana mungkin Kepala Sekolah berjulukan kucing betina itu dengan mudah memberikan informasi secara cuma-cuma.
"Saya hanya takut ... Arwahnya nanti gentayangan...hiiiii" Jawab Emma menaikkan bahunya untuk berpura-pura takut.
"Guru kok takut hantu, dimana logika berpikir anda? Ck ck ck!" Jawab Pak Surya.
"Tapi Pak...."
"Kelas XII 6."
Tiba-tiba Pak Surya memberikan informasi, mungkin karena beliau beranggapan kalau Emma ketakutan maka dia akan segera mengundurkan diri.
'Tunggu.. Bukankah itu salah satu kelas yang aku ampu? Keberuntungan macam apa ini?'
Tanpa sadar Emma malah tersenyum seperti orang yang mendapatkan hadiah mobil.
"Anda tersenyum?"
"Ti-tidak, saya sangat tidak percaya saya akan seapes ini. Ouh.... Apes banget ...ss ck!"
Emma meraup wajahnya untuk menyembunyikan tawanya.
'Kalau aku beruntung terus seperti ini, bisalah besok langsung mecahin kasusnya, ahay!' batinnya cekikikan.
"Apakah anda mau mengund-" Kalimat Pak Surya terpotong.
"Tentu saja sebagai pengajar kita tidak bisa mundur begitu saja karena hantu kan? Kita harus selalu bersemangat demi anak didik kita! Hidup Guru! Hidup jok...! Maaf saya terlalu bersemangat."
Emma mengepalkan tangannya dan langsung melangkah keluar kantor menuju kelas XII IPA 6 dengan hentakan kakinya yang semangat, tanpa menghiraukan Pak Surya yang melongo dengan tingkahnya.
...****************...
"Hello everyone! I am a new English teacher here..." Salam Emma di depan kelas dengan suasana yang sangat sunyi, tidak seperti apa yang dia bayangkan.
"Ehem, I am Miss Emina and..."
Semua siswa masih saja hening. Mereka hanya menatap dan menyimak apa yang dikatakan Emma tanpa mengeluarkan sepatah kata-pun.
"And, and....let's study..." Emma menyerah untuk sok asyik dan mulai membuka pelajaran.
Namun, Emma disini tidak untuk mengajar, ini sepenuhnya misi penyelidikan. Jadi Emma mulai mengamati semua siswa disana.
Karena Emma percaya ini adalah kasus bullying maka langkah pertama, cari siswa yang kemungkinan besar menjadi target bully. Lalu korek informasi darinya.
'Coba kita lihat...'
Emma menscan setiap anak yang duduk di bangkunya dengan tenang.
Semua tampak normal. Anak cewek di baris depan sepertinya cewek populer karena dia cantik, jadi pass.
Lalu, di baris tengah ada cowok yang berpakaian rapi, tapi bukan tipe bisa ditindas. Cara duduknya yang tegap menunjukkan kalau dia cukup percaya diri, jadi ... pass.
'Aduh, semua tampak normal,' batin Emma.
Kemudian matanya terfokus pada empat anak yang cekikikan tanpa sebab. Mereka menatap lurus ke arah Emma seolah sedang menantangnya.
'Apakah mereka pelakunya, biasanya pelaku bullying suka bergerombol seperti kawanan serigala,' batinnya.
Emma memiringkan kepalanya.
Masih terlalu dini untuk menyimpulkan. Tapi setidaknya sudah menandai keempat anak itu dan berencana mencari informasi dari guru wali kelasnya dengan dalih keempatnya bikin onar di kelas.
Akan tetapi, Emma belum menemukan target bully yang dicarinya. Bukankah biasanya tradisi seperti itu akan tetap bertahan selama masih ada pelaku? Biasanya mereka akan mencari target lain.
"Excuse me, miss..." Ucap salah satu siswa.
Seketika lamunan Emma teralihkan.
"Yes?" Tanya Emma.
"May I go to the rest room, please..." Jawab siswa itu.
"Oh of course..." Emma mempersilahkannya.
Anak tersebut langsung berjalan keluar dengan agak tergesa-gesa. Mungkin dia sudah terlalu menahannya.
Namun....
"Me too, miss.... Please." Ucap salah satu keempat anak yang bergerombol tadi.
"You?"
"Yes, please..." Ucapnya sok manis.
Belum juga Emma memberikan izinnya, tapi temannya yang lain mulai berteriak bersaut-sautan.
"Me too, me too, me too.."
"Stop! Just one by one, oke..."
Akhirnya Emma membiarkan serigala 1 lolos ke kamar mandi karena risih dengan teriakan ketiga serigala lainnya.
Tapi....
Emma merasa keputusannya sangat salah. Bagaimana bisa dia meloloskan tersangka yang sudah ia tandai, menyusul siswa lain yang sedang ke kamar mandi? Bodohnya...
Bergegas, Emma berjalan cepat menyusul keduanya untuk memastikan kekhawatirannya tidak terjadi.
Dia berusaha untuk melaju langkahnya. Tidak berlari atau berjalan malas-malasan, karena dia tak ingin anak lainnya mencurigai tingkahnya.
Brakkk!!
Terdengar suara berdebam dari arah kamar mandi.
Itu membuat Emma masa bodoh dengan semua taktiknya. Dia langsung berlari sekuat tenaga ke arah kamar mandi cowok, dan.....
Semua baik-baik saja.
Serigala 1 sedang membasuh tangannya dan di sampingnya, anak yang pertama keluar kelas sedang membasuh wajahnya.
'Hah?' batinnya.
"Ta-tadi bunyi apa?"
"Eh miss?" Tanya serigala 1.
"Tadi suara apa!" Emma terbawa emosi.
"Oh tadi... Tadi Rendi menjatuhkan gayung. Ya kan Ren?" Jawabnya.
"Iya miss, miss kaget ya? I am Sowry..." Jawab Rendi memiringkan senyumnya.
'An-anak ini...'
Emma tidak habis pikir, anak yang disangkanya akan menjadi salah satu korban malah tersenyum seolah sedang mengoloknya.
Lalu Emma menoleh ke arah serigala 1 untuk mencari jawaban atas rasa penasarannya.
"Sayang sekali, Miss jadi nggak mendapatkan apa-apa deh, kkkkk."