NovelToon NovelToon
Jodoh Yang Dibeli

Jodoh Yang Dibeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Q Lembayun

Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.

Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.

Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.

Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Realita

Saat Arla melihat apartemen ini, ia merasa inilah yang disebut rumah. Tempat untuk pulang, tempat di mana ia diinginkan oleh seseorang. Walaupun hubungan ini tidak didasari cinta dan perasaan yang murni, serta ia juga merasa dirinya dimanfaatkan, semua itu sudah cukup membuat Arla merasa berguna. Karena itu, saat pagi menjelang, ia segera bangun dari kamarnya dan mulai mempersiapkan sarapan.

Walaupun hubungan mereka cukup baik dan tidak ada masalah meski tidur di ruangan yang sama, mereka telah sepakat untuk tidur di kamar yang berbeda demi kenyamanan bersama. Jadi, ketika Arla melihat lampu di kamar Abimana sudah menyala, ia tahu bahwa laki-laki itu telah bangun.

Saat Abimana keluar dari kamarnya, ia melihat Arla tampak begitu sumringah, sedang memotong bahan-bahan makanan dengan sangat telaten.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Membuatkan suamiku sarapan,” jawab Arla santai.

Arla mengenakan celemek berwarna krim yang lembut, membuatnya tampak jauh lebih dewasa dari usianya. Pemandangan itu membuat Abimana seolah berilusi pada sosok istri sempurna yang selama ini hanya ada dalam bayangannya.

“Wah, istriku sangat baik.”

“Berhentilah memujiku dan kirimkan aku uang bulanan,” balas Arla datar.

“Hahaha, baru dipuji sedikit saja kamu langsung menagih uang? Ckckck, wanita memang mata duitan.”

Tanpa banyak bicara, Arla meletakkan beberapa potong roti dengan telur dan saus, serta menyiapkan teh hangat dan beberapa camilan di meja.

“Berhentilah mengeluh. Cepat pergi kerja dan hasilkan banyak uang. Istrimu yang mata duitan ini ingin pergi berbelanja.”

Mendengar itu, tanpa ada bantahan sedikit pun, hati Abimana justru terasa lebih hangat. Ia merasa seperti menemukan sosok wanita yang sangat cocok dengan selera humornya.

Mereka pun akhirnya sarapan bersama dalam suasana yang sangat harmonis, layaknya pasangan yang telah bertahun-tahun bersama—padahal, seperti yang mereka sadari, mereka baru saling mengenal tidak lebih dari dua hari.

“Baiklah, karena istriku yang matre ini hanya membutuhkan aku untuk menghasilkan uang, maka sebagai suami yang bekerja keras, aku akan segera berangkat untuk mencetak uang lebih banyak untukmu.”

“Suamiku, aku akan selalu mencintaimu,” jawab Arla dengan nada yang manis namun jelas sarat akan kepura-puraan.

Mendengar jawaban itu, Abimana tertawa hingga perutnya terasa sakit. Ia benar-benar menikmati cara Arla merespons setiap perkataan dan godaannya.

Tak lama kemudian, Abimana berangkat bekerja dengan perasaan yang sangat senang. Bahkan saat tiba di tempat kerja, senyumnya belum juga hilang. Suasana hatinya yang cerah itu pun dengan mudah disadari hampir semua orang di sekitarnya.

Sementara itu, saat Arla merasa hidupnya sedang berjalan tenang dan lancar, suara dering ponsel tiba-tiba terdengar. Ia pun merasa heran, karena nomor tersebut bukan nomor yang biasa ia simpan, kecuali milik Abimana. Namun laki-laki itu baru saja pergi, jadi mustahil ia menghubunginya secepat itu, kecuali ada sesuatu yang penting atau ada barang yang tertinggal. Ketika ia melihat nomor yang tertera, ia merasa familiar, tetapi tidak tersimpan di kontaknya.

“Hallo?”

“Arla, ini aku pengasuhmu. Nomormu aku dapatkan dari Abimana.”

“Ada apa? Apakah terjadi sesuatu yang penting?”

Seorang gadis yang telah ‘terjual’ dari rumah lelang pada dasarnya telah berpindah kepemilikan secara legal. Identitas lamanya telah diganti dengan identitas baru yang sepenuhnya berada di bawah kendali pembeli. Dengan demikian, rumah lelang tidak lagi memiliki hubungan langsung dengan ‘komoditas’ yang telah mereka jual. Namun, fakta bahwa pengasuhnya sampai meminta nomor dari Abimana membuat Arla langsung merasakan ada sesuatu yang serius.

“Ya. Orang tuamu datang ke sini dan membuat keributan.”

Mendengar itu, perasaan Arla seketika goyah. Bibirnya tanpa sadar terangkat, dan harapan yang sempat padam di dalam dirinya kembali tumbuh, meski rapuh.

“Apakah mereka mencariku?” tanya Arla dengan nada penuh harap.

“Ya, mereka mencarimu. Tapi bukan untuk menebusmu. Mereka datang untuk meminta uang, karena mereka kembali gagal dalam permainan saham yang tidak jelas itu.”

Kalimat itu membuat hati Arla seperti runtuh. Harapannya yang baru saja tumbuh kembali langsung hancur dalam sekejap. Ia sempat berpikir orang tuanya datang untuk menebusnya dan membawanya pulang, tetapi kenyataannya mereka hanya datang untuk membuat keributan karena kehilangan sumber uang yang selama ini menghidupi mereka.

“Arla, kamu sekarang sudah tinggal bersama Abimana, dan aku sengaja memilihkan dia untukmu. Aku sudah memeriksa riwayat hidupnya yang bersih dan latar belakang keluarganya yang baik. Jadi aku harap kali ini kamu benar-benar bisa memutuskan hubungan dengan keluargamu. Hiduplah dengan baik dan jalani harimu bersama Abimana. Jika kamu bertemu mereka lagi, kamu cukup berpura-pura tidak mengenal mereka. Dokumen identitasmu sudah diganti secara resmi oleh negara, dan secara hukum mereka bukan lagi keluargamu. Aku menghubungimu kali ini untuk mengingatkan agar kamu tidak berubah pikiran dan kembali naif seperti dulu. Sadarlah… keluargamu tidak pernah benar-benar menginginkanmu. Meskipun itu menyakitkan, itulah kenyataannya.”

Arla terdiam lama. Ia memahami setiap kata yang disampaikan pengasuhnya. Pengasuhnya adalah saksi bagaimana ia terus menggantungkan harapan, berharap dijemput dan dicintai oleh orang tua yang sebenarnya tidak pernah benar-benar hadir untuknya.

Namun kenyataan selalu datang seperti tamparan keras, dan harapan terakhir itu kini benar-benar hilang.

“Terima kasih… aku akan mengingatnya.”

“Baguslah. Ini akan menjadi terakhir kalinya aku menghubungimu. Aku harap kamu bisa menjalani hidup barumu dengan tenang dan bahagia. Dan… aku senang pernah mengasuh mu.”

Mendengar itu, air mata Arla jatuh tanpa bisa ia tahan. Ia selalu tahu bahwa pengasuhnya memiliki cara memperlakukan dirinya yang berbeda, lebih lembut, lebih penuh pertimbangan—mulai dari mengizinkannya bertemu orang tua, menunda proses pelelangan, hingga memilihkan pembeli yang dianggap paling ‘aman’ untuknya.

Namun selama ini, ia selalu menolak untuk mengakui bahwa kasih sayang itu nyata. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa cinta orang tua tetap lebih besar daripada siapa pun. Tapi kenyataan kembali membuktikan sebaliknya.

“Aku juga ingin mengatakan sesuatu… terima kasih karena sudah membesarkan ku. Aku akan menghargai pilihanmu yang telah mencari pembeli untukku seseorang yang baik. Aku akan hidup dengan baik bersamanya, jadi kamu tidak perlu khawatir. Jika suatu saat kita bertemu lagi, aku akan menunjukkan rasa terima kasihku dengan sebaik mungkin.”

Percakapan itu berakhir dengan senyum di antara air mata. Tidak ada yang benar-benar bisa memahami betapa besar harapan seorang anak terhadap orang tuanya. Dan tidak ada yang bisa sepenuhnya memahami betapa campur aduknya perasaan seseorang yang justru menemukan sedikit ketenangan dari orang yang secara ‘bisnis’ membesarkannya.

Apa pun itu, Arla memutuskan satu hal: ia tidak akan lagi menggantungkan harapannya pada orang tua yang tidak pernah benar-benar menjadikannya prioritas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!