Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?
Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.
Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Buku Catatan Tua yang Berdebu
Aku menghantamkan pintu tripleks Kamar Nomor Empat sampai berdentum keras, lalu segera memutar slot kuncinya dua kali hingga terdengar bunyi klek yang solid. Napasku memburu, naik-turun dengan kasat mata di balik jaket oranye Baron Logistics yang kini basah oleh keringat dingin. Lututku bahkan masih terasa gemetar sisa dari aksi nekat memotong rel kereta api subuh tadi.
Begitu aku membalikkan badan, hawa sedingin es langsung menyergap wajahku, mengusir sisa rasa panas dari aspal jembatan layang.
Kala terduduk di lantai semen yang lembap, bersandar pada dinding kamar yang catnya sudah mengelupas. Topi kupluk hitamnya tergeletak di samping kasur lantai yang tipis. Napas cowok itu tersengal-sengal, meninggalkan uap putih tipis di udara pengap kamar kosku. Luka robek keperakan di sepanjang lengan kiri dan dadanya kembali menganga, mengeluarkan cairan bening berkilau yang merembes menembus kain sarung kotak-kotak pembungkus badannya.
Melihat pemandangan itu, rasa takutku mendadak menguap, digantikan oleh gelombang amarah yang langsung naik ke ubun-ubun.
"Kamu bodoh atau gimana, sih?!" teriakku, melempar helm cetokku ke atas tumpukan baju kotor di sudut kamar. "Siapa yang menyuruhmu keluar dari kamar ini, hah?! Kamu tahu tidak, di luar sana pasukan berseragam hitam milik Baron sedang berkeliaran membawa alat pemindai suhu tubuh genggam? Mereka memeriksa setiap gang, mengetok setiap pintu kosan! Dan kamu dengan santainya berdiri di atas pipa besi jembatan layang seperti pahlawan kesiangan!"
Kala tidak berkedip. Pasang mata emasnya yang memiliki pupil vertikal tipis seperti kucing itu menatapku datar, dingin, dan tanpa dosa. Kedipan lambatnya justru membuatku makin naik darah.
"Kenapa diam?! Jawab!" aku melangkah mendekat, berkacak pinggang tepat di depannya.
"Kalau kamu tertangkap, aku juga yang terseret! Tempat persembunyian ini akan hancur, dan aku tidak punya uang lagi untuk membayar denda atau ganti rugi kargo Gudang Sembilan yang kamu rusakkan! Kamu itu cuma monster pembawa sial yang—"
"Aku keluar karena kamu lama," potong Kala.
Suaranya terdengar serak, parau, dan bergetar menahan getaran dingin dari dalam dadanya.
"Hah? Alasan macam apa itu?!"
Kala perlahan menegakkan punggungnya, membuat tubuh tingginya yang tegap terasa mendominasi ruangan sempit ini meski dia sedang terduduk. Mata emasnya berkilat, menembus tepat ke dalam manik mataku. "Dua orang bermotor itu menyudutkanmu. Kamu hampir jatuh ke bawah roda besi besar."
"Aku bisa mengatasinya sendiri! Aku ini anak pelabuhan, sudah biasa menghadapi bajingan-bajingan suruhan Roy!" balasku berapi-api, menolak kalah.
"Kamu tidak bisa," desis Kala, telapak tangan besarnya yang kaku bergerak mencengkeram lantai semen hingga menimbulkan bunyi derit halus. "Pergelangan tanganmu berdenyut. Aku bisa merasakannya dari sini. Luka itu... ikatannya membuatku tahu kamu sedang ketakutan."
Kala menjeda kalimatnya, menarik napas pendek yang terasa berat seolah dadanya baru saja dihantam palu godam. Dia memalingkan wajahnya sedikit ke arah jendela yang retak, lalu melanjutkan dengan suara yang melembut namun terdengar sangat jujur, "Aku tidak ingin melihat satu-satunya orang yang memegang sisikku terluka. Cuma itu."
Kata-kata itu mendarat telak di dadaku. Seketika, lidah tajamku yang biasanya sanggup memaki kondektur angkot selama setengah jam mendadak kelu. Kalimat makian yang sudah kususun di kepala runtuh tanpa sisa.
Aku terpaku di tempat, mendadak salah tingkah.
Rasa hangat yang ganjil menjalar ke pipiku, kontras dengan uap dingin yang berembus dari arah tubuh Kala. Untuk menyembunyikan kegugupanku yang mendadak menyerang, aku berdeham keras-keras dan membuang muka ke arah lain.
"B-bicara apa sih kamu? Sok tahu!" ujarku ketus, memutar badan membelakanginya. "Bilang saja kamu takut tidak ada yang memberi makan atau mengobati lukamu lagi, kan? Dasar gengsi!"
Aku berjalan cepat menuju lemari pakaian tripleks satu-satunya di sudut kamar. Lemari tua peninggalan almarhum ayahku, Ibrahim, yang baunya selalu mengingatkanku pada campuran kapur barus dan minyak kayu putih. Aku perlu mencari kain bersih atau kaos oblong bekas untuk mengganti balutan luka Kala yang sudah basah kuyup oleh cairan perak.
"Duduk diam di situ, jangan bergeser sesenti pun. Aku cari kain dulu," perintahku tanpa menengok.
Aku membuka pintu lemari yang berderit nyaring.
Kutepis tumpukan jaket kerja dan celana kargo dekil milikku di rak atas, lalu beralih membongkar bagian paling bawah, tempat pakaian lama milik Ayah disimpan sejak beliau tinggal beberapa tahun lalu. Tanganku meraba-raba ke sudut paling dalam yang gelap, mencari potongan sarung bekas yang sekiranya bisa dirobek menjadi perban darurat.
Pluk.
Jemariku malah menyentuh sesuatu yang keras, tebal, dan bertekstur kasar di bawah tumpukan kain usang. Menariknya keluar dengan sekali sentak, kepulan debu tebal langsung membuatku terbatuk-batuk beberapa kali.
Itu sebuah buku catatan tua bersampul kulit binatang yang sudah pecah-pecah dimakan usia.
Pengait besinya sudah berkarat hitam, dan aroma kertas lembap langsung menyeruak dari sela-selanya. Di bagian sampul depan, ada guratan tinta hitam yang sudah agak luntur, membentuk inisial nama Ayah: Ibrahim AS.
"Buku catatan Ayah?" bisikku lirih. Setahuku, semua barang kerja Ayah sebagai mandor dermaga lawas sudah dibersihkan saat beliau meninggal. Aku tidak pernah tahu ada buku ini terselip di bagian bawah lemari pakaian tripleksnya.
Didorong rasa penasaran, aku duduk bersila di lantai, memunggungi Kala, lalu perlahan membuka halaman pertama buku tersebut.
Lembarannya berwarna kuning kecokelatan, dipenuhi oleh tulisan tangan Ayah yang rapi namun ditulis dengan tergesa-gesa menggunakan tinta pena hitam.
Mataku menyusuri baris demi baris tulisan di halaman tengah.
> ...Baron terus menggali bagian hulu. Mereka tidak mencari batu bara atau minyak bumi, melainkan jalur air purba yang terkunci di bawah akar-akar pohon nipah tua. Sesuatu yang berdarah dingin sedang tertidur di sana, menjaga keseimbangan aliran air tawar sungai Asahan agar tidak mati keracunan belerang laut...
>
Jantungku berdegup kencang. Aku membalik halaman berikutnya dengan jemari yang mendadak dingin. Di lembar ketiga belas, terdapat sebuah gambar sketsa berukuran besar yang digambar menggunakan coretan arang dan tinta luntur.
Sketsa itu menampilkan sesosok makhluk meliuk anggun berbentuk naga raksasa dengan lapisan pelindung tebal di sepanjang punggungnya.
Namun, yang membuat napasku benar-benar terhenti adalah detail di bagian bahu dan dada makhluk dalam sketsa tersebut. Ayah menggambar pola robekan geometris yang rumit, meliuk-liuk seperti aliran petir purba di atas kulit sang naga.
Aku tersentak. Pola sketsa arang itu... bentuknya sama persis.
Refleks, aku menoleh ke belakang, menatap tajam ke arah dada Kala yang bidang. Di bawah remang cahaya lampu teplok kamar kos yang temaram, luka robek keperakan di tubuh Kala memancarkan pendaran cahaya samar yang membentuk pola geometris yang identik dengan gambar di buku catatan Ayah. Garis-garis luka itu tidak acak; mereka adalah segel atau tanda struktur tubuh yang hanya dimiliki oleh penunggu hulu sungai Asahan yang melegenda dalam cerita dongeng para nelayan tua.
Buku di genggamanku bergetar. Misteri tentang apa yang sebenarnya dicari oleh imperium logistik Baron, dan kenapa luka di pergelangan tanganku bisa merespons kehadiran Kala, mendadak terasa jauh lebih besar dan berbahaya daripada sekadar urusan paket nyasar atau utang sewa kosan nomor empat.
"Kala..." aku memanggil namanya dengan suara lirih, hampir berupa bisikan. "Sebenarnya... kamu ini apa?"
Kala tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menatap buku tua di tanganku dengan kilat mata emasnya yang meredup, membiarkan uap dingin dari tubuhnya kembali memenuhi ruangan, mengunci kami berdua dalam keheningan yang mencekam.