NovelToon NovelToon
Antara Dua Dunia

Antara Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

​"Wajahnya identik dengan Ali, pacar LDR-ku yang lembut. Tapi pria di depanku ini adalah Alistair, Pangeran Agung yang siap memenggal kepalaku jika aku berani kabur lagi!"

​Lia terbangun di tubuh Aurellia, istri Pangeran Agung Ivalice yang dikenal kejam dan obsesif. Di novel aslinya, Aurellia tewas mengenaskan setelah mengkhianati Alistair demi Pangeran Yovan yang licik. Demi menghindari maut, Lia harus mengubah alur. Ia pun nekat mendekati Nenek Suri yang disegani dan mendadak jadi istri "penurut" yang membuat Alistair curiga sekaligus salah tingkah. Akankah strategi Lia menjinakkan sang tiran berhasil? Ataukah ia justru terjebak dalam obsesi gelap pria yang wajahnya terus mengingatkannya pada sang kekasih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Strategi "Suap" Penjebol Dinginnya Hati

Lia duduk bersandar di tumpukan bantal dengan wajah yang masih sedikit linglung. Tangannya sibuk menyisir rambut yang kusut, sementara otaknya masih mencoba mencerna fakta bahwa dia baru saja melakukan simulasi mati selama dua puluh jam.

"Rekor dunia banget. Kalau ada lomba tidur tingkat kerajaan, gue pasti sudah naik podium," gumam Lia pada bayangannya di cermin.

"Gue itu tidur apa lagi gladi resik buat pemakaman sih? Lama bener."

Saat ia sedang sibuk merutuki hobinya yang baru, pintu kamar terbuka. Alistair masuk dengan kursi roda hitamnya yang elegan. Di belakangnya, seorang pelayan mengekor sambil membawa nampan perak bertingkat berisi berbagai hidangan yang aromanya langsung menusuk hidung Lia.

Alistair menatap Lia dengan tatapan dingin nan tajam, tatapan yang biasanya sanggup membuat prajurit paling berani pun gemetar.

"Kamu belum makan sejak kemarin. Makan sekarang," ujarnya ketus.

Lia hanya mengangguk pelan, perutnya sudah mulai melilit. Alistair memerintahkan pelayan menghidangkan makanan itu di meja kecil dekat ranjang, lalu mengusirnya keluar dengan satu isyarat tangan.

Sepeninggal pelayan, keheningan menyelimuti kamar. Alistair diam membeku di kursi rodanya, mengawasi Lia dengan waspada. Dia sudah siap mental jika tiba-tiba piring terbang atau nampan melayang ke arah wajahnya, itulah rutinitas Aurellia jika sedang mengamuk ketika makan.

Namun, cukup lama makanan itu menganggur. Lia malah tidak menyentuh sendok sama sekali. Ia justru menatap Alistair dengan bibir yang dikerucutkan dan wajah yang ditekuk sedalam mungkin.

"Aku lapar," keluh Lia dengan nada manja yang dibuat-buat.

Alistair mengerutkan alisnya.

"Makanan ada di depanmu. Tanganmu tidak patah, silakan makan kalau tidak mau kelaparan."

Lia mendengus kesal. Duh, es kutub ini bener-bener ya! batinnya sebal.

Padahal semalam Lia sampai muntah darah demi mencabut batu pelumpuh di kaki pria ini. Setidaknya, Alistair harus menunjukkan sedikit rasa terima kasih, meskipun dia belum tahu apa yang terjadi.

Ide nakal mendadak muncul di kepala Lia. Dia harus meluluhkan pria ini agar nasibnya di Ivalice terjamin.

"Suapin," ucap Lia singkat tapi tegas.

Alistair nyaris tersedak udara. "Maksudmu?"

"Iya, kamu... Su-a-pin aku," jelas Lia sambil mengeja kata itu.

"Kalau nggak disuapin kamu, aku nggak mau makan."

"Aurellia, kamu sudah dewasa, bukan balita. Kamu punya tangan yang berfungsi dengan baik," tegas Alistair, suaranya mulai naik satu oktav.

Bukannya takut, Lia malah memajukan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Alistair. Gerakan agresif itu membuat Alistair otomatis memundurkan kepalanya hingga menempel di sandaran kursi roda.

"Dengerin ya, Yang Mulia Agung yang tampan tapi pelit kasih sayang," Lia menatap mata giok Alistair dengan tajam namun jenaka.

"Kalau bukan kamu yang suapin, aku nggak akan makan sama sekali. Baik itu sepiring, sesuap, atau sebutir nasi pun nggak akan masuk ke tenggorokan aku. Biarin aja aku mati kelaparan, biar kamu yang disalahkan karena menelantarkan DNA kejam terhadap istri!"

Alistair tertegun. Dia melihat wajah Aurellia yang biasanya dipenuhi kebencian, kini justru tampak seperti kucing yang sedang merajuk minta perhatian. Ada sesuatu yang melunak di hatinya, sebuah perasaan asing yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun pernikahan mereka.

Akhirnya, dengan helaan napas panjang yang menyerah, Alistair menarik kursi rodanya lebih dekat. Ia mengambil nampan itu, meletakkannya di pangkuannya, lalu menyendokkan nasi dan potongan daging empuk.

"Buka mulutmu. Jangan banyak bicara lagi," perintah Alistair, mencoba tetap terlihat galak padahal telinganya mulai memerah.

Lia langsung tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi.

"Gitu dong! Aaaamm!"

Lia mengunyah dengan semangat luar biasa. Dalam hati, dia bersorak kemenangan. Di cerita novel, momen seperti ini tidak pernah ada dalam sejarah hidup Pangeran Agung dan istrinya. Makan bersama saja mustahil, apalagi adegan suap-suapan yang bikin baper begini.

"Pelan-pelan makannya, tidak ada yang akan merebutnya darimu," gumam Alistair, meskipun tangannya dengan sangat telaten mengusap sudut bibir Lia yang terkena saus.

Lia yang sedang asyik mengunyah, mendadak berhenti. Dia menatap Alistair dengan tatapan haru.

Duh, kalau Ali asli di dunia nyata lihat gue disuapin pangeran ganteng begini, dia bakal cemburu nggak ya? Tapi kan mukanya sama!

"Kenapa berhenti?" tanya Alistair curiga.

"Nggak apa-apa," jawab Lia sambil nyengir.

"Cuma lagi mikir, ternyata selain jago bikin hukum yang serem, kamu jago juga ya melayani istri sendiri."

Alistair hanya bisa mendengus, mencoba menyembunyikan senyum tipis yang hampir saja lolos dari bibirnya. Kata 'melayani' itu terdengar begitu ambigu. Namun Lia tidak menyadarinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!