NovelToon NovelToon
Hilang Ingatan, Aku Ganti Calon Suami

Hilang Ingatan, Aku Ganti Calon Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadia

Viola Denada Danuarta, itulah namanya, seorang gadis berparas cantik memiliki darah keturunan Belanda. Ia adalah anak kedua dari keluarga Danuarta yang cukup berpengaruh.

Namun, memiliki ekonomi yang serba berkecukupan tak bisa membuat seorang Viola bahagia. Karena ujian nya ada di kisah asmara nya.

Di kali kelima dia menunggu sang kekasih, tepatnya didepan kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan, dia kembali di bohongi dan di hianati oleh sang tuanangngan.

Setelah dia memutuskan untuk melupakan segalanya tentang laki-laki itu dia malah mengalami kecelakaan hebat, pada akhirnya kecelakaan tersebut merenggut ingatan Viola selama tiga tahun terakhir, tak hanya itu dia juga di nyatakan lumpuh sementara.

****

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab #07

Pertemuan Tak Terduga

Mobil mewah milik Pandu kini terparkir rapi di halaman depan Mansion Danuarta.

"Hati-hati, Nak," ucap Arman lembut sambil membantu putrinya duduk di atas kursi roda.

"Pa... kenapa rasanya aku sudah sangat lama sekali tidak kembali ke sini?" tanya Viola sambil menatap sekeliling bangunan megah itu dengan perasaan campur aduk.

"Nona Muda! Akhirnya Nona kembali..." seru seorang wanita paruh baya yang segera menghampiri. Wajahnya berseri-seri penuh kebahagiaan.

"Bi Sirah!" Viola tersenyum lebar. Wanita itu adalah pengasuhnya sejak bayi, sosok yang paling ia sayangi selain keluarga.

"Bik Sirah, tolong antar Nona ke kamar," titah Arman.

"Aku ke kamar dulu, Pa," sahut Pandu singkat, berniat langsung berlalu pergi.

"Kakak!" panggil Viola kesal. Kenapa kakaknya itu selalu bersikap dingin seolah tidak terjadi apa-apa?

Pandu berhenti, lalu menatap tajam ke arah Bi Sirah.

"Bik, kau ingat kan apa yang sudah aku jelaskan? Pastikan kau ingat itu," ucapnya dengan nada peringatan.

"Baik, Tuan Muda. Saya mengerti," jawab Bi Sirah sambil menunduk hormat, terlihat sedikit gugup.

"Huh, tatapan macam apa itu. Menyebalkan sekali," gerutu Viola dalam hati.

"Sudahlah Viola, ayo cepat naik ke kamar," kata Arman sambil menggelengkan kepala melihat tingkah kakak beradik itu yang tak pernah akur.

Bi Sirah pun mendorong kursi roda Viola perlahan menuju lantai atas. Sesampainya di kamar, Viola mengerutkan kening. Kamar itu sangat bersih, namun terasa begitu sepi dan seolah tak pernah tersentuh selama bertahun-tahun.

"Bi, kenapa rasanya sudah sangat lama sekali aku tidak menginjakkan kaki di sini?" tanyanya penasaran.

'Ya Tuhan, apa yang harus saya jawab? Nona memang sudah setengah tahun tidak pulang, tapi Tuan Muda Pandu...' batin Bi Sirah bingung.

"Koma tujuh hari, dirawat hampir sebelas hari. Wajar kalau kau merasa waktu berjalan begitu lambat," sahut sebuah suara yang tiba-tiba memecah keheningan.

Pandu muncul di ambang pintu.

"Tuan Muda..." Bi Sirah tampak lega karena tak perlu menjawab pertanyaan Viola.

"Kau keluar dulu," perintah Pandu.

"Baiklah Nona, kalau begitu Bibi pamit dulu. Jika butuh sesuatu, panggil saja ya," kata Bi Sirah lalu segera undur diri.

Kini tinggal berdua. Kamar itu sangat luas, diisi dengan ranjang ukuran king size, ruang ganti yang penuh dengan tas, sepatu, dan pakaian bermerek. Di sudut ruangan, lemari kaca memajang koleksi boneka dari butik terkenal, serta meja rias yang dipenuhi perhiasan berlian. Segala sesuatu di sana melambangkan kemewahan yang tak terhingga.

"Kenapa kau datang ke kamarku?" tanya Viola.

"Hanya membantu kau menjawab pertanyaan-pertanyaan konyolmu," jawab Pandu santai sambil duduk di tepi ranjang.

"Aku sudah sembuh, Kak. Sekarang kembalikan gelang itu!" pinta Viola untuk kesekian kalinya. Gelang itu adalah satu-satunya benda yang terhubung dengan ingatan masa lalunya.

"Nanti. Istirahatlah dulu. Aku keluar," sahut Pandu acuh, lalu berjalan meninggalkan kamar tersebut tanpa menoleh lagi.

"Arghhhh! Menyebalkan! Tidak ada kasih sayang sama sekali! Papa bohong, dia sama sekali tidak sayang padaku!" umpat Viola kesal sambil mencengkeram kain gaun yang dikenakannya.

Setelah kesabarannya habis, Viola mulai menggerakkan roda kursinya mengelilingi kamar. Ia berhenti di depan jendela besar, menarik tirai panjang itu ke samping. Matanya menatap taman indah di bawah sana.

"Huh... mungkin benar hanya sepuluh hari. Karena aku kehilangan ingatan tiga tahun terakhir, jadi semuanya terasa asing," gumamnya pelan.

Bayangan masa lalu muncul kembali... dirinya yang sering duduk di ayunan taman itu saat merasa kesepian. Namun senyumnya pudar saat ia menunduk melihat kedua kakinya yang terbalut gips hingga ke lutut. Kakinya tak bisa merasakan apa-apa.

'Dengan kaki seperti ini, mana mungkin aku bisa bermain ayunan lagi,' batinnya sedih.

Meski dokter bilang ini hanya sementara, proses penyembuhannya akan memakan waktu berbulan-bulan, bahkan mungkin sampai satu tahun. Ia harus menjalani terapi berat hingga benar-benar pulih.

Malam Harinya...

Suasana di ruang makan terasa hangat, namun segera berubah saat Pandu bersiap pergi.

"Pandu, kau mau ke mana?" tanya Arman yang sedang duduk berhadapan dengan Viola, siap menyantap makan malam.

"Keluar," jawab Pandu singkat.

"Dengan pakaian serapi ini? Ke acara apa?"

"Reuni."

Seperti biasa, jawabannya selalu pendek, dingin, dan datar.

"Jadi kau tidak makan malam di rumah?" tanya Arman lagi.

"Tidak."

Viola menatap punggung kakaknya dengan tatapan memohon. Ia sangat bosan berdiam diri di rumah. Dengan kondisi kakinya yang seperti ini, mustahil baginya untuk pergi sendiri.

"Pa..." Viola menarik lengan baju sang Ayah.

Arman tersenyum, seketika mengerti keinginan putrinya. "Tunggu dulu, Pandu!"

Pandu yang sudah di ambang pintu terpaksa berhenti dan berbalik dengan wajah kesal. "Ada apa lagi sih, Pa?"

"Bawa adikmu ikut. Dia bosan di rumah terus. Tidak ada salahnya kan mengajaknya jalan-jalan sebentar?" pinta Arman.

"Apa? Nggak! Dia cuma bakal jadi beban dan merepotkan!" tolak Pandu tegas.

"Aku janji nggak bakal ngerepotin, Kak! Aku cuma ingin keluar sebentar. Nanti pas pulang kita bisa mampir ke mall, aku mau beli beberapa barang," rengek Viola dengan wajah memelas.

"Astaga... menyebalkan," gerutu Pandu.

"Pandu..." Tatapan Arman kali ini penuh penekanan, seolah berkata 'jangan membantah'.

"Oke, oke! Ayo!" sahut Pandu akhirnya menyerah. Ia lalu mendorong kursi roda Viola dengan kasar namun tetap hati-hati.

"Makasih Pa! Dadaaa!" teriak Viola girang.

"Manja sekali," celetuk Pandu. 

Di tempat lain...

Suasana di ruangan VIP sebuah bar sangat ramai. Tawa dan obrolan terdengar bersahutan, diiringi dengan bunyi gelas wine yang berbenturan.

"Eh, mana si Pandu? Semua sudah pada datang nih, kok dia belum kelihatan batang hidungnya?" tanya salah satu dari mereka.

"Ya elah, dia kan CEO sibuk. Mana mungkin on time," sahut yang lain.

"Itu Zehan juga sibuk, tapi dia datang paling awal," kata pria itu sambil menunjuk ke arah pojok ruangan.

Di sana, duduk seorang pria tampan dengan setelan jas hitam, kemeja putih, dan dasi hitam yang rapi. Penampilannya memancarkan aura dingin, misterius, dan sangat berwibawa. Ia memilih duduk sendirian di sofa pojok, sesekali menyesap minuman dan menghisap rokok, tak terlalu peduli dengan keramaian di sekitarnya.

"Zehan, kan teman dekatnya Pandu. Dia nggak hubungi kamu? Acara kan belum bisa dimulai kalau belum lengkap," tanya seorang teman yang mendekat.

"Entahlah," jawab Zehan singkat tanpa menoleh, matanya tetap menatap gelas di tangannya.

"Sikap apaansih sih, cuek banget," gumam temannya kesal lalu pergi meninggalkannya.

Kembali ke Viola dan Pandu...

"Kak, ini tempat apa?" tanya Viola bingung saat mendengar suara musik dan tawa dari dalam.

"Bar," jawab Pandu santai.

"Kenapa ke sini?"

"Kira-kira kami bakal reuni di taman bermain?" sahut Pandu sinis sambil terus mendorong kursi roda menuju pintu ruangan VIP.

"Bukan begitu, aku cuma..."

"Sudah sampai. Ingat pesan Kakak, diam saja. Jangan banyak bicara," bisik Pandu memberi peringatan.

"Iya..."

Pandu pun membuka pintu lebar-lebar. "Maaf teman-teman, aku terlambat."

Seketika...

Suasana yang tadinya riuh rendah, mendadak hening total. Bahkan suara jarum jatuh pun mungkin bisa terdengar.

Semua mata tertuju tepat pada sosok Viola yang duduk di kursi roda. Gadis itu merasa sangat malu dan tidak nyaman, tangannya mencengkeram lengan kakaknya erat-erat.

"Kak..." panggilnya pelan.

Pandu menyadari ketakutan adiknya, namun ia justru ingin Viola terlihat kuat. "Sudah kubilang diam," bisiknya tegas.

"Siapa dia?"

"Lho, kok Pandu bawa cewek?"

"Wah, baru pertama kali nih lihat Pandu bawa orang ke sini."

Desas-desus mulai terdengar. Wajah mereka tampak bingung karena tak pernah mengenal gadis itu.

Sementara itu, Zehan yang sejak tadi diam, perlahan menoleh. Saat matanya menangkap sosok Viola, pria itu seketika terpaku. Pandangannya tak bisa lagi dialihkan. Ada sesuatu yang membuat jantungnya berdegup tak beraturan melihat gadis di kursi roda itu.

"Semuanya, perkenalkan. Dia adikku, Viola," kata Pandu memperkenalkan dengan bangga.

Glek!

Semua orang di ruangan itu saling berpandangan, mulut mereka ternganga tak percaya.

"Adik lo? Sejak kapan lo punya adik secantik ini, Bro?" seru Miko, yang tadi paling keras mengomel karena menunggu lama.

Viola tersenyum kecil, meski matanya sesekali melirik takut melihat orang-orang yang memperhatikan kakinya.

"Halo semuanya. Maaf ya aku bikin Kakakku terlambat," sapanya ramah.

Bersambung ....

1
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kesian Zehan sih udah suami istri malah udah cinta tapi gak bisa nyentuh Viola...
Felycia R. Fernandez
good Hans👍👍👍
👑公爵夫人🪷: hihihihihi
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
Disini Viola gak bisa jadi istri yang punya firasat ke suami.malah ngerti Hani.walaupun bisa dikatan hani udah lama kenal Zehan,tapi kan sebagai istri seharusnya lebih peka
👑公爵夫人🪷: betul banget 🤭🤭
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
Sundel bolong 😠
Felycia R. Fernandez
ini ngapain lagi sekretaris ikut campur urusan boss nya
Felycia R. Fernandez: siiip kk Thor...
aku pembaca setia mu 😆😆😆
total 4 replies
Felycia R. Fernandez
jangan ragu,kamu bisa kerja di perusahaan Pandu
Felycia R. Fernandez
udah tau adik sepupu butuh biaya untuk Tante nya malah di pecat,gak profesional lho ...😠
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
duuuh nona muda,mulut nya lho
😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
Langsung terlacak ke Zehan ya,bukan ke Pandu lagi
Felycia R. Fernandez
Berarti disini Liam tidak tau ya kalau viola anak orang kaya???🤔
Felycia R. Fernandez
makanya gak usah sok nolak suami deh Vio, akhirnya kamu butuh Zehan juga kan 😆
Felycia R. Fernandez
Semoga infonya gak setengah setengah ya,biar Liam tau kalau Viola sudah kembali ke keluarga dan sudah menikah.bukan hanya kecelakaan dan lumpuh
Felycia R. Fernandez
ho'oh...
semua perhatian mu selalu di terima lain ma Viola...
Sabar ya Zehan...tunjukan terus niat tulus mu ma Viola,lama lama ntar vio luluh juga
Felycia R. Fernandez
naaah itu...
sama pikiran kita Zehan 😆😆😆
Felycia R. Fernandez
Zehan
Felycia R. Fernandez
Perasaan Viola nethink Mulu ke Zehan...😞
Dulu dengan Liam kok cupu bener sampai bolak balik di kibulin
Felycia R. Fernandez
Lah,kenapa pisah kamar Ze??? 🤔
Felycia R. Fernandez
wow 6 lantai ...
Felycia R. Fernandez
kamu nya aja yang cerewet 😅😅😅
Felycia R. Fernandez
Dulu juga kamu ninggalin papa dan kk mu demi pacar,sekarang ninggalin papa dan kk demi suami malah keberatan... jalani hidupmu sebagai istri Vio,tau diri.Zehan juga gak kejam kejam amat,mulut nya aja yang pedes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!