Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Arga berkutat dengan laptop di kantornya, ia senyum-senyum sendiri membayangkan kejadian tadi malam. Ia berhasil mencuri first kiss Sintia. Arman, teman dekat Arga menyadari ada yang tidak biasa. Spontan ia menggebrak meja mengangetkan laki-laki yang sejak tadi asyik tersenyum.
"Kenapa lo? Abis—" tangan Arman membentuk seperti orang yang sedang berciuman, "Ya, sama cewek lo?"
Arga melempar bolpoin yang ada didekatnya ke arah Arman, tapi pria itu berhasil menghindar.
"Ngaku deh! Sama cewek bocil lo itu, kan?"
"Dia bukan bocil." Arga tidak terima.
"Yaelah, Ga. Kita sama dia itu jauh... Dia gen z anak jaman now. Nah Lo jaman baheula," ledeknya.
Arga mengancam akan merobek mulut Arman kalo pria itu masih membuka mulut. Arman keluar ruangan Arga dengan tangan diangkat ke atas.
Arga mengambil ponsel yang sejak tadi ia letakkan. Kemudian mengirim pesan kepada Sintia.
To Sintia:
Nanti malam dinner yuk!
***
Ara mencari Sintia kemana-mana namun tak kunjung ketemu. Gadis itu celingak-celinguk ke arah koridor kampus, tapi nihil tidak ada batang hidung sahabatnya itu. Dia malah ketemu dengan Jefry membuatnya memutar arah. Jefry menyapa, ia abaikan terus berjalan menghindari dari manusia satu ini.
"Sintia kemana lo tau, nggak?"
Ara diam tak membuka suara.
Sampai akhirnya ada satu perkataan yang membuat ia berhenti.
"Mungkin Sintia lagi pacaran sama papa lo."
"Maksud lo, apa?!" ucapnya tidak terima.
Jefry tersenyum penuh kemenangan ia bisa membuat Ara berbicara.
"Ah—jadi lo belum tau, ya? Gue nggak ada hak sih buat kasih tau lo. Mending langsung tanya aja sama bokap lo dan Sintia."
Jefry pergi dari sana, Ara mengepalkan tangan. Ia harus mencari Sintia dan meminta penjelasan apa maksud semua ini.
Ara menemukan Sintia sedang belajar di taman. Ia buru-buru mendekati gadis itu dan menarik buku yang berada dipangkuan Sintia. Sintia kaget, ia memegangi dadanya.
"Ra, aku pikir siapa kamu tadi," ucapnya.
"Jelasin sama gue sekarang apa hubungan lo dan bokap gue?" tanyanya to the point.
Sintia yang ditanya seperti itu menjawab terbata-bata, ia bingung ini terlalu mendadak.
"A—aku nggak ada ap—apa sama Papa kamu."
"Gue tanya sekali lagi Sintia lo ada hubungan apa sama Papa gue?!"
Ara berteriak membuat semua mahasiswa disana melihat mereka berdua. Kini mereka menjadi pusat perhatian. Ada yang sebagian nguping untuk mendengar obrolan selanjutnya, ada yang cuek dan meneruskan tugas mereka. Bahkan ada yang mendokumentasikan untuk diviralkan.
Sintia melihat sekeliling, ia memutuskan untuk membawa Ara pergi dari sana karena terlalu banyak orang.
"Jelasin sekarang!"
Mereka kini berada diparkiran belakang. Sepi tidak ada orang.
"Ak—aku—"
Ara yang mendengar Sintia menjawab dengan terbata-bata, merebut ponsel Sintia. "Lama," komentarnya.
Ia membuka ponsel milik Sintia, untung tidak ada password. Membuka aplikasi hijau, ia menemukan ada chat dengan nama 'Love'. Setelah mencocokan nomor dengan yang ada diponselnya. Ia yakin itu nomor Papa. Ara menelfon dengan ponsel Sintia.
"Halo." Suara diseberang sana. Dan itu suara yang sangat Ara kenal. Papanya, Arga.
Air mata Ara menetes, Sintia yang melihat itu ingin menenangkan namun tangannya ditepis oleh Ara.
"Halo, Sin. Ada apa?"
Ara menyeka air matanya. Ia lalu membuka suara. "Sejak kapan Papa pacaran sama temen aku?"
Dan hening, tidak ada respon malah telfon itu dimatikan sepihak oleh Arga. Ara mengembalikan ponsel milik Sintia. Gadis itu menatap sahabatnya dengan marah dan menampar pipi Sintia membuat tubuh Sintia oleng dan jatuh. Ara langsung pergi dari sana.
"Maafin aku, Ra. Aku bisa jelasin."
Sintia bangun dan mulai mengejar Ara. Untung ia bisa menyamakan langkah sahabatnya itu.
"Ra, tunggu dulu. Aku bisa jelasin."
"Jelasin apa lagi? Jelasin kalo lo yang bikin gue mikir selama ini kalo Papa gue punya cewek dan ternyata itu lo. Gue curhat sama lo selama ini tapi lo pura bodoh, pura-pura cuek. Dasar jalang lo, dibayar berapa lo sama Papa gue buat jadi pacar dia!"
Sintia tidak menyangka Ara akan bersikap seperti itu setelah mengetahui semuanya. Yang dipikiran ia saat ini dari mana Ara tahu? Apa mungkin diam-diam selama ini Ara mengikuti Arga? Entahlah.
"Aku tulus cinta sama Arga. Dan kami pacaran sehat."
Suara ponsel Ara bergetar. Ada sebuah chat masuk dan pengirimnya membagikan ia sebuah foto. Foto itu diambil dari samping. Disana memperlihatkan Sintia dan juga Arga sedang....
Ciuman?
Hal itu sontak membuat Ara semakin marah, ia menarik rambut Sintia sampai gadis itu kesakitan.
"Sakit ya lo! Ngapain lo ciuman sama bokap gue?!"
Ada seseorang yang tidak jauh dari tempat mereka, mengintai dengan senyum kemenangan.