NovelToon NovelToon
DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hasri Ani

Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.

Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.

Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.

Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WARGA YANG MULAI RESAH

Desas-desus dari para warga yang menceritakan kejadian demi kejadian aneh di kampung mereka pun sampai juga ke telinga Sulis.

Saat itu Sulis sedang duduk dengan keluarganya sedang membicarakan kabar yang mereka dengar dari beberapa warga yang bekerja di ladang mereka.

"apa benar yang di katakan warga itu, pak?" tanya Sulis.

"entahlah Lis, tapi semua warga mengatakan kalau mereka semua meninggal karena arwah Yusuf dan istrinya yang bangkit, untuk membalaskan dendam mereka." Anwar termangu mengingat masa dulu. Wajahnya yang penuh dengan keriputan, menampakan wajah penyesalan.

"Hemmmp!" Terdengar helaan napasnya begitu berat.

"halah..., omongan warga, nggak perlu di dengerin Pak. Mereka hanya mau bikin kita semakin ketakutan saja. Lagi pula mereka mati kan karena salah mereka sendiri, kenapa kita harus takut." jawab Sulis santai.

Saedah yang mendegar obrolan mereka ikut berbicara. "tapi Lis, Ibu kok merasa mereka itu benar ya? Apa nggak sebaiknya kita meminta bantuan dukun saja untuk keselamatan kita sekeluarga?" Saedah memberi saran.

Beni terkejut mendengar ucapan Eyangnya yang mempercayakan keselamatan kepada dukun. Segera ia taruh tas dari kebun. "Astagfirullahhalazim, jangan Eyang! Hukumnya musrik. Lebih baik kita pertebal iman, Eyang." Beni yang baru datang ikutan memberi saran.

"Ah, kamu itu, Ben! Sok tau. Biarkan orang tua yang mengurusnya, orang tua lebih paham dengan apa yang terbaik buat kita. Jangan sok tau deh kamu, Ben." Laela yang baru datang juga ikutan menyela.

Semua pun menatap Beni tidak suka. Rohmat yang awalnya nggan menanggapi pun akhirnya ikut angakat bicara juga. "Apa yang di katakan Beni itu benar. Sebaiknya jangan meminta bantuan kepada dukun."

"Kamu tu, Mas! Nggak tau apa-apa nggak usah ikut-ikutan ngasih saran. Makan minum aja masih numpang di keluargaku, mau sok paling ngerti aja. Dari pada ikut campur, mending cuci tu, piring di dapur. Pada kotor nggak ada yang bersihin! Embak Parmi lagi nggak bisa datang membantu, kan." Cletuk Sulis dengan melirik sengit suaminya.

Rohmat mengelus dada, sabar. "Saya pun ngasih saran juga atas dasar ajaran agama kita, Lis. Semoga bapak, ibu, dan semuanya paham dengan apa yang saya dan Beni, sampaikan." Rohmat lalu pergi ke belakang.

Dalam hatinya serasa remuk. Sudah puluhan tahun dia menikahi Sulis, dan tetap bersabar akan perlakuan mereka terhadapnya, tetap bersabar sekiranya Sulis benar-benar bisa menerimanya. Namun tak sekali pun mereka menghargai segala pengorbanannya. Yang dia dapat hanyalah hinaan sebagai seorang suami yang tak di anggap.

Rohmat terduduk lesu di belakang rumah. "Pak,

jangan hiraukan mereka. Bagi Beni, bapak adalah kepala keluarga yang patut di contoh. Bapak juga sangat bijak, menghadapi sikap ibu yang seperti itu saja bapak sangat sabar. Bapak adalah panutan Beni, jadi tetaplah bapak seperti bapak apa adanya." Beni memberikan semangat kepada ayahnya yang nampak lesu di matanya.

Rohmat tersenyum haru. "Terimaksih nak, bapak senang mendengarnya. Semoga Beni, mendapat kan pendamping yang sholehah."

"Amiin." Jawab Beni.

Kedua bapak dan anak itu kemudian membicarakan ladang yang sedang mereka garap.

"Hasil panen akhir-akhir ini menurun, pak. Nggak biasanya." Keluh Beni yang heran banyak tanaman yang gagal panen.

"Apa pupuknya ganti, Ben?"

"Nggak, pak. Obat pembasmi hama pun tetap menggunakan obat herbal yang saya racik sendiri yang seperti bapak ajarkan kepada Beni dulu. Dan terbukti sangat ampuh." Jelas Beni.

"Ya sudah, nanti bapak ikut ngecek di ladang." Ujar Rohmat menepuk pundak Anaknya.

***

"Bapak kamu itu cuma kesurupan demit kuburan saja. Makanya, jangan mau kalau di ajak mengantar jenazah malam-malam. Jadi begini kan akibatnya." Oceh Parmi saat suaminya sudah di ijinkan pulang oleh bidan puskesmas.

"Tapi kan, Pak Imam juga yang menolong kita Bu."

Sahut Fika, yang langsung mendapat tatapan tajam oleh Ibunya. Fika pun berangsur menundukan kepalanya.

"Sudah-sudah! Ribut aja. Bapak pengen istirahat. Jangan ribut terus!" Sela Seno kesal, sambil menahan nyeri di mulutnya.

Randi yang awalnya ingin menceritakan sosok aneh yang ia lihat subuh tadi pun dia urungkan. Dia pun hanya menghela napas kasar lalu keluar rumah.

"Tiap hari, ribut terus. Lama-lama bosen aku di rumah. Huh!" Keluhnya di serambi rumah.

Baru saja menyandarkan punggung di dinding luar rumah. Terlihat para warga berlarian. Randi yang penasaran menghampiri salah satu warga yang larinya tak secepat yang lainnya.

"Embah Rofik! Ada apaan Lari-lari?" Tanya Randi.

Yang di tanya pun seketika berhenti. "Walah Ren, masa nggak dengar. Itu si Heri kesurupan, sambil kejang-kejang. Kejadiannya, katanya mirip si Yudi yang meninggal malam kemarin." Embah Rofik menjelaskan.

"Astaga. Yang bener Embah?" Rendi mengelus dadanya.

"Walah! Nggak percaya yo wes. Saya mau kesana, mau lihat." Embah Rofik pun segera melanjutkan jalannya.

"Eee...! Tunggu saya Embah! Saya juga mau lihat." Rendi segera menyusul Embah Rofik.

Di kediaman Heri. Terlihat keluarganya menangis tersedu.

"Bu! Panas Bu. Tolong aku!" Teriak Heri yang terlihat sekujur tubuhnya memerah. Dia menggosok-gosokan kain ke tubuhnya berharap mengurangi hawa panas yang benar-benar seperti di dalam kobaran api yang besar.

"Ibu...! Bapak! Tolong aku. Ini panas sekali! HAAA! Panas...! Ampunn! Huhu..!" Tiba-tiba kulit Heri mengelupas. Dia pun segera pergi ke belakang menuju sumur, tak perduli semua tetangga sedang menatapnya heran.

"Her, mau kemana, Nak!" Ibu nya Heri mengejar anaknya yang ternyata langsung berendam di bak mandi yang saat itu penuh air.

"Panas... panas... Bu!" Teriak Heri sambil terus mengulangi menyelam di dalam bak mandi yang terbuat dari semen sambil terus mengusap-ngusap seluruh tubuhnya.

Semua orang tercengang melihat keadaan Heri. Rambutnya tiba-tiba mulai berjatuhan, kulit-kulitnya mengelupas berwarna merah. Namun Heri masih saja sibuk menyelam lalu memgangkat tubuhnya. Bau anyir pun mulai menyeruak! Para warga mulai menutup hidung.

"Nak, dosa apa yang telah kamu perbuat. Sampai kamu seperti ini?" Ibunya Heri menangis memegangi baju dasternya tak tega.

"Heri! Hentikan! Hentikan, Heri! Lihat! Kulitmu semua mengelupas." Seru Ayahnya yang terlihat sudah renta.

"Panas Pak! Panas! Bantu aku. Jangan cuma bisa

bertanya saja. Dasar tua nggak berguna!" Seru Heri yang sangat dis ayangkan oleh para tetangganya yang mendengar ucapan Heri barusan.

"Astaga, Heri-Heri. Udah seperti itu masih saja mulutnya tidak bisa sopan keapda orang tuanya."

"Iya! Pantaslah dia mendapatkan karma seperti itu. Kualat sama orang tuanya." Bisik-bisik mulai terdengar di telinga Heri.

"Dasar tetangga nggak ada ot*k! Orang sakit malah di katain." Ucap Heri penuh amarah. Namun, baru saja ia hendak melanjutkan memaki orang, matanya terbelalak kala melihat sesosok yang menatapnya tajam.

Heri tiba-tiba merasakan lehernya tercek*k, lidahnya terasa di paksa di tarik keluar, kala melihat sosok berbaju serba hitam menatapnya tajam dengan seringai aneh.

"AKH...!!!" Heri memegangi lehernya sendiri walau dalam hati ingin mengeluarkan banyak kata, namun lidahnya benar-benar di kendalikan seseorang yang tak nampak di matanya.

Kedua orang tua Heri berlari menghampiri Heri, kala melihat keanehan kepada anaknya.

Namun tiba-tiba

BRAAAKKK!!!

Heri kemudian jatuh sambil kejang-kejang satu menit kemudian tubuhnya tak lagi bergerak dengan mata yang melotot seperti hendak keluar, lidah yang menjulur dan tubuhnya yang melepuh mengeluarkan asap tipis seperti habis terbakar.

Sosok misterius itu tersenyum lalu keluar dari kerumunan warga.

"HERI!!!" Teriak ibunya histeris lalu menghambur memeluk tubuh Heri. Ibunya Heri meratap kala tak lagi merasakan detak jantung anak semata wayang yang belum menikah, dan harus meninggal di hadapannya dengan cara yang mengenaskan.

"Siapa yang menyantet anakku! Akan aku balas kamu! Aku tidak terima anakku meninggal seperti ini! Huhu...! Heri, bangun, Nak! Bangun...! Ibu akan carikan dukun supaya kamu bisa sembuh. Huhu... Heri, jangan tinggalin Ibu." Ibunya Heri meraung-raung meratapi nasib anak tersayangnya.

Ayah dari Heri hanya bisa mematung sambil menatap kepergian anaknya.

"Astagfirullahhalazim, innalilahiwainnailaihiroziun. Sungguh mengerikan menyaksikan meninggalnya si, Heri." Ucap salah satu warga yang merasa ngeri.

"Desa kita kenapa ya, Mang? Banyak tetangga kita yang meninggal dengan cara yang tidak wajar." Tanya Prapto kepada Karim.

"Ini pasti perbuatan orang yang sirik dengan desa kita ini, Prap! Selama ini desa kita aman dan makmur. Panen selalu melimpah. Tapi sejak bulan ini, banyak sekali kejadian aneh, dengan terror dan kematian yang tidak wajar." Karim mengusap janggutnya yang sudah memutih.

"Kita harus selidiki masalah ini, Rim. Kita harus lapor sama Pak Anwar."

"Betul kamu, Prap! Ayo, kita lapor sekarang juga."

Keduanya pun bergegas menuju rumah termewah yang berada di desa mereka. Namun, baru saja mereka berbalik, mereka melihat rombongan seseorang yang ingin mereka temui. Keduanya gegas mendekat.

"Eh, Pak Anwar, Embak Sulis, dan Mas Beni. Baru kami hendak ke rumah njenengan tadi."

Pak Anwar yang kini sudah terlihat sangat renta, matanya terus menelisik kerumunan warga, juga mempertajam telinga dengan gumaman warga saat menyaksikan tubuh Heri yang melepuh dan masih mengeluarkan asap tipis.

"Bawa saya melihat keadaan si mayit, Rim." Ujar Pak Anwar yang kini di nobatkan sebagai sesepuh di desa itu.

"Nggeh! Monggo, Pak Anwar." Karim dan Prapto membungkuk sambil membimbim Pak Anwar supaya mengikutinya. Sulis dan Beni hanya diam.

Ibunya Heri terus menangisi kepergian anaknya.

"Kamu kenapa to, Le. Kenapa meninggal dengan seperti ini? Huhu...!"

"Sudah Bu, kita doakan saja yang terbaik buat anak kita." Ayah Heri mengelus punggung istrinya berusaha tegar.

"Aku nggak ikhlas, Pak!? Huhuh...! Anak kita sangat baik. Kenapa ada orang yang begitu tega membun*h anak kita dengan cara seperti ini."

"Sabar, ya Bune, sabar."

Kedua orang tua Heri hanya bisa saling menguatkan.

Romli dan Jaka yang baru datang terbelalak melihat

keadaan Heri yang baru saja selesai di mandikan.

"Jaka! A-apa kamu berpikir sama dengan apa yang aku pikirkan?" Romli bertanya dengan wajah ketakutan.

"Kamu mikir apaan sih, Rom! Jangan bilang lagi ini karma. Dia itu meninggal karena penyakit. Lihat saja bentuknya. Emang dia kan orang nya jorok. Main sama perempuan asal-asalan aja. Ya begitu jadi nya." Jawab Jaka santai.

Namun, bagi Romli yang merasa itu ada kaitannya dengan masa lalu, rasa takutnya pun membuncah, hingga terlihat raut wajah paniknya.

"E-nggak, Jaka. Kita harus meminta maaf kepada arwah Seruni. Aku nggak mau meninggal dengan cara mengenaskan seperti itu, Jaka. Ayo, Jaka. Kita datangi lahan yang dulunya rumah Seruni. Kita minta maaf di sana. Ayo, Jak! Sebelum kita dapat giliran." Romli menarik-narik lengan Jaka.

Jaka yang tidak percaya akan karma, langsung mengibaskan tangan Romli. "Lepasin! Apaan sih kamu, Rom! Itu hanya kematian biasa. Nggak ada sangkut pautnya dengan apa yang kita lakukan dulu. Orang mati nggak akan bangkit lagi. Arwah orang mati nggak akan gentayangan. Kalau pun memang ada arwah penasaran, ngapain takut? Manusia itu lebih tinggi derajatnya ketimbang setan! Cemen, Lo!" Gertak Jaka lalu pergi meninggalkan Romli yang masih terpaku menatap mayat Heri yang saat di kafani mengeluarkan cairan nanah yang berbau busuk.

UEEEK!!!

Tiba-tiba, perut Romli merasa mual karena bau busuk tersebut. Dia pun segera berlari panik menuju rumahnya.

"Astagfirullahhalazim. Ini hampir sama dengan kematian si Yudi, ya?" Ujar Sobirin.

"Rin, apa benar seperti ini, kematian Yudi?" Tanya balik Rendi.

"Eh iya, kamu nggak liat ya, yang kemarin lalu. Iya Ren, seperti ini. Mirip sekali! Bapak kamu kalau ada di sini sekarang, pasti bakal ngomong sama seperti aku."

Rendi terdiam, mengingat kembali saat Ayahnya kesurupan saat baru pulang dari pemakaman.

Pak Anwar terdiam menyaksikan tubuh Heri yang sedang di bungkus kain kafan oleh para warga.

"Pak, tolong amankan desa kita ini, Pak. Sepertinya ada orang yang ingin kan desa kita ini hancur." Ucap Bu Supri Ibunya Heri, sambil terisak.

"Hem..., yang tenang nggeh, Bu. Akan saya usahakan." Mereka pun membicarakan hal-hal aneh yang terjadi akhir-akhir ini.

Sulis yang sejak tadi hanya terdiam dan mendengarkan. Tiba-tiba matanya menatap sosok perempuan menatap kearahnya sambil tersenyum sinis, dengan tatapan penuh kebencian ke arahnya. Membuat bulu kuduk Sulis meremang, sosok itu lalu terdengar mengucapkan sesuatu.

Tunggulah giliranmu, Sulis...! Hihihi....! Iya, giliranmu! Haha...!

Tiba-tiba wajah sosok itu berubah menjadi lelaki

dengan wajahnya yang penuh dengan luka bakar mengerikan.

Sulis dengan seketika terpaku, wajahnya memucat.

"Se-Seruni?! Yusuf?!" Lirihnya dengan napas tersengal. Dan gumamnya itu masih bisa di dengar oleh orang di dekatnya.

Anwar menoleh ke arah Sulis. "Kamu sebut nama siapa, Lis?" Tanya Anwar.

Sulis seketika tersadar, dia pun menunjuk ke arah yang dia lihat barusan. "Di-di sana ada Seruni, dan Latif, Pak." Namun, saat di lihat kembali, sosok itu telah menghilang.

"Wong lagi keadaan seperti ini, pikiran itu harus tenang, Sulis." Ucap Anwar lalu kembali berbicara kepada Ibunya Heri.

Sulis tiba-tiba merasa tak nyaman. Dia pun membuang napas kasar. Lalu menenangkan diri kembali.

Beni menatap curiga kepada Ibunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!