🖊SEQUEL MENIKAHI SUAMI TIDAK NORMAL.
Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML007~ Bertemu Lagi
Pak Alex mengalihkan pandangan.
"Papa asal tebak,"
Axan menatap malas Ayahnya itu.
"Hari ini dia bertengkar dengan teman sekelas Xan, endingnya dia terbentur ke bagian tiang bendera yang agak runcing tapi dan membuatnya terluka."
"Siapa nama pelakunya?" tanya Pak Alex.
"Ica, postur tubuh Ayahnya tidak terlalu tinggi, rambut lurus, warna kulit sawo matang. Di tangan kanannya ada tato yang sedikit terlihat." jelas Axan, ia juga menyebutkan ciri-ciri Ayah Ica dengan mengandalkan ingatan saat hari pertama sekolah.
"Apa lagi yang dia lakukan pada Ziya?"
"Dia mengatakan apa gunanya Ziya pintar kalau Ziya tidak punya Ayah, Ziya membalas dengan membanggakan kekayaan Ibunya, hal itu berujung Ziya didorong sampai menghantam tiang bendera dan terluka dibagian kepala."
Pak Alex memasang wajah datar seolah tidak peduli.
"Kalau kamu sendiri bagaimana? Menganggunya juga?"
Axan menggeleng.
"Tidak ada hal positif dari mengganggu hidup orang lain, hanya akan menimbulkan kesan buruk."
"Bagus." puji Pak Alex.
Keesokan paginya di sekolah, Alena memperhatikan Ziya yang berjalan menuju kelasnya. Tatapannya menyiratkan rasa sedih yang tidak bisa ia ungkapkan. Beberapa detik kemudian mobil Pak Alex berhenti dibelakangnya, Axan turun diikuti Pak Alex. Axan menatap Alena sekilas kemudian sedikit membungkukkan badan tanda menyapa Alena.
"Xan, ingat kata Papa."
Axan hanya mengangguk dan mengacungkan jempol, ia pun langsung bergegas pergi ke arah kelasnya.
"Lama tidak bertemu, Alena." Pak Alex memulai obrolan.
Alena tersenyum dan mengangguk pelan.
"Iya, Kak."
Pak Alex berjalan menghampiri Alena yang masih mematung di dekat mobilnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Pak Alex.
"Seperti yang Kak Alex liat, aku baik-baik aja. Kak Alex sendiri gimana?"
"Aku cukup baik juga,"
Setelah itu hanya suara mesin kendaraan yang berlalu lalang menghiasi pendengaran mereka, keduanya sama-sama diam karena canggung.
"Siapa nama anak Kak Alex?" tanya Alena.
"Axan, panggil saja dia Xan."
"Nama yang bagus." puji Alena.
"Nama Ziya juga bagus dan jarang ada." Pak Alex balik memuji.
"Makasih."
"Sekarang sibuk apa?" tanya Pak Alex.
Alena menatap lurus ke arah gerbang sekolah.
"Jadi IRT sama ngurus kebun aja, Kak."
"Ohh, sudah resign di sekolah?"
Alena mengangguk.
"Aku mau fokus ngurus Ziya pakai tanganku sendiri, Kak."
"Mama!"
Pak Alex dan Alena sontak terkejut mendengar panggilan Ziya, mereka menoleh ke arah sumber suara dan melihat Ziya berlari ke arahnya, Pak Alex menaikkan alisnya saat melihat Axan berjalan mengikuti Ziya.
"Mama!" Ziya berhenti di depan Alena dengan napas yang tersengal-sengal.
"Kenapa? Kok lari?" tanya Alena.
"Hehehe, uang saku kan belum dikasih."
Alena menepuk jidatnya pelan, ia langsung mengambil dompetnya di dalam mobil.
"Maaf ya sayang, Mama beneran lupa." ucap Alena sembari memasukkan selembar uang berwarna biru ke dalam saku Ziya.
"Iya nggak apa-apa." Ziya tersenyum sambil menyentuh uang sakunya.
"Lalu, Xan.. Apa alasanmu kesini?" tanya Pak Alex.
"Kata Papa aku harus melindunginya? Tadi dia diincar anak-anak nakal, jadi aku mengikutinya."
Pak Alex langsung menutup mulut Axan dengan tangan kekarnya saat melihat ekspresi Ziya yang terkejut.
"Eeee itu... Xan salah dengar," Pak Alex mengelak, Axan memutar bola matanya.
"Bener Om yang nyuruh anak Om lindungin aku dari anak-anak nakal itu???" tanya Ziya dengan mata berbinar, ia berjalan dan menarik kemeja Pak Alex.
"Beneran itu??" tanyanya lagi.
Pak Alex menggaruk tengkuknya.
"Yah, beneran dia cuma salah denger ya?" Ziya tampak kecewa.
Alena menatap Pak Alex dengan tanda tanya besar, mungkinkah Alena masih menjadi adik tingkat kesayangannya?
Ziya melepas tangannya dari kemeja Pak Alex, meski sudut bibirnya tetap ditarik membentuk senyum, namun matanya jelas menyiratkan rasa kecewa dan sedih.
"Ziya tidak marah kalau Xan benar-benar jadi teman kamu?" tanya Pak Alex.
"Ziya pilih-pilih temen, kalau nakal nggak mau Ziya temenin." jawab Ziya, kemudian ia menoleh ke arah Axan.
Ziya mengingat Axan pernah mendukungnya untuk tidak lemah, hal itu berhasil mengubah sudut pandang Ziya pada Axan.
"Tapi aku mau jadi temennya dia," lanjut Ziya.
Masih dengan tatapan sendu, Ziya merapikan poninya. Entah mengapa ia sangat bersemangat jika berkaitan dengan Om-Om yang mendadak akrab dengan dirinya itu.
"Ziya ke kelas dulu ya." pamit Ziya, langkahnya terhenti saat tangan besar Pak Alex menahan tangan mungilnya.
"Kedepannya Axan akan jadi teman Ziya, Om akan minta dia menjaga Ziya."
Ziya menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Pak Alex yang sedang berjongkok.
"Om terpaksa kan?"
Pak Alex menggeleng, ia menyentuh luka di kepala Ziya, ternyata meski perbannya dibuka tidak langsung membuat lukanya mengering, terlihat jelas lukanya cukup dalam.
"Om benar-benar mau melakukan ini tanpa dipaksa siapa-siapa."
"Beneran?"
Pak Alex mengangguk, senyum Ziya merekah, tanpa aba-aba ia langsung berhambur ke dalam pelukan Pak Alex.
Sedangkan Axan menatap Ayahnya dengan beribu pertanyaan yang ingin keluar dari mulutnya. Alena melihat Axan yang hanya diam, sungguh seperti Pak Alex yang banyak diam dengan wajah datar.
"Mama! Ziya ada temen baru!" kata Ziya sambil menarik tangan Axan dan mengenalkannya pada Alena.
"Selamat ya, kalian harus akur dalam berteman." ucap Alena.
"Siap Mama!"
"Baik, Tante."
Tidak berselang lama, bel sekolah berbunyi tanda kelas pertama akan dimulai. Ziya berlari sembari menarik Axan.
"Eeee kemarin Xan bilang kalau Ziya diganggu sampai terluka, jadi aku memintanya supaya menjaga Ziya. Aku tidak punya maksud lain," Pak Alex langsung menjelaskan sebelum Alena memiliki sudut pandang yang lain.
"Makasih, Kak." ucap Alena dengan ramah.
"Alena, kamu tidak keberatan kalau Ziya akan lebih akrab dengan Xan? Mereka laki-laki dan perempuan." tanya Pak Alex.
Alena menatap Pak Alex.
"Dia anakmu, Kak. Aku yakin, meski anak kecil sekarang sifatnya lebih dewasa dibanding saat zaman kita kecil dulu, tapi Axan tidak akan melakukan hal buruk. Karena dia anakmu, dia tidak akan jauh beda denganmu."
Alena mengingat, meski Pak Alex diam-diam menyukainya sejak di bangku kuliah, mereka juga sering berinteraksi namun Pak Alex tidak pernah sembarangan menyentuh Alena, ia pun yakin darah dagingnya akan mewarisi hal itu.
"Ziya," panggil Axan saat Ziya sedang menyiapkan pensil.
"Ya?" sahut Ziya sambil menoleh ke belakangnya.
"Orang tua kita saling mengenal ya?"
Ziya mengangguk.
"Mama bilang, Om ganteng itu temen Mama."
"Oh,"
"Kenapa emang?" tanya Ziya.
Axan menggeleng.
"Tidak, hanya penasaran." jawab Axan. Ziya pun kembali menghadap ke depan karena gurunya sudah masuk ke kelas.
Axan terdiam sambil mengingat sesuatu.
"Papa tidak pernah dekat dengan perempuan selama ini, apa dia benar-benar teman Papa? Kenapa Papa sampai sangat peduli pada anaknya?" batin Axan.
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin