NovelToon NovelToon
Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan

Status: tamat
Genre:Pelakor / Suami amnesia / Tamat
Popularitas:64.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mari Ani

Jodoh, maut, rezeki semua pasti sudah ada yang mengaturnya. Begitu juga dengan biduk rumah tangga Airin dan Wiksa, pernikahan yang sudah berjalan selama lima tahun dengan penuh kemesraan meskipun mereka belum di karuniai seorang momongan. Namun, di balik kebahagiaan mereka petaka terjadi saat mereka berdua mengalami kecelakaan dan rumah tangga mereka yang menjadi taruhannya.


Airin tidak menyangka jika kecelakaan yang di alami suaminya akan merubah sikapnya menjadi kasar serta melupakannya. Kedatangan Wina, wanita masa lalu Wiksa, semakin membuat rumah tangga Wiksa dan Airin berada di ujung tanduk. Akankah Airin sanggup bertahan, berjuang dan menyelesaikan prahara rumah tangganya atau sebaliknya Airin akan menyerah dan mengaku kalah begitu saja?



Jangan lupa klik komen, like, faforiit juga hadiahnya.

Ikuti cerita ini terus ya readers.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mari Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Penolakan Wiksa

"Apa? Kamu benar-benar istriku?" Wiksa tidak yakin dengan pertanyaannya.

"Benar. Aku Airin, istri Mas, maaf ... istri Tuan," jawab Airin yakin meralat panggilannya.

Akan tetapi, lagi-lagi Airin melihat perubahan dari raut wajah tidak suka Wiksa, tanpa berbicara sepatah kata, wajahnya langsung melengos dan berbaring. Airin yang melihat perubahan sikap Wiksa hanya bisa tersenyum kecut. Airin berdiri dan langsung mendekat saat melihat Wiksa k memukul pelan kepalanya. “Tuan, sabar. Tuan pasti akan mengingat semuanya dengan berjalannya waktu.” Airin meraih tangan sang suami dan memegangnya penuh kasih. Akan tetapi, kembali Airin kecewa, Wiksa dengan kasar menepis tangan Airin menghempas dengan keras.

“Asshh ....” Airin mendesis menahan sakit, saat tangannya mengenai sudut meja.

“Agh ... sakit.” Airin memilih menjauh dan kembali duduk di sofa.

Malam makin larut, hati Airin benar-benar merasa sakit, kala Wiksa kembali memperlakukannya dengan kasar, menyusut air mata yang tiba-tiba turun begitu saja. ‘Kenapa, Mas Wiksa begitu membenciku.’ Airin membatin sembari mengatur napas untuk meredakan sesak yang saat ini sudah menguasai dadanya.

“Sabar Airin, sabar ....” Airin berusaha untuk menenangkan hatinya.

"Kamu!" teriaknya memanggil dan sudah duduk di ranjang.

"Ya," jawab Airin cepat dengan tubuh terlonjak kaget.

"Kemari! Cepat!"

Airin tidak menyangka jika suaminya akan kembali memanggilnya meskipun dengan cara yang kasar. Mendekati ranjang Airin masih berdiri menunggu titah Wiksa. "Mendekatlah! Dekatkan wajahmu!" titah Wiksa pelan.

Airin sedikit ragu mendengar titah Wiksa, perlahan Airin mendekatkan wajahnya, dekat ke wajah suaminya, memindai wajah yang hampir tiga minggu ini dirindukannya. Manik mata mereka saling beradu, menatap satu dan yang lainnya cukup lama. Airin sedikit terkejut saat melihat bibir Wiksa tersenyum aneh. "Mendekatlah, lagi," pinta Wiksa saat melihat Airin sedikit menjaga jarak.

"Tu-Tuan, sakit ...." Airin mengadu kesakitan dengan kasar tangan Wiksa mencengkeram wajah Airin penuh amarah.

"Sakit?" Wiksa semakin kencang mencengkeram wajah Airin.

"Sa-sakit, Tuan." Airin mengadu lirih.

"Ingat, ini peringatan terakhir jika kamu berusaha terus meyakinkan jika aku suami kamu. Kamu paham!" Wiksa melepas cengkeramannya, mendorong wajah Airin kasar.

"Tuan." Airin memegang wajahnya yang kesakitan, wajahnya yang putih kini memerah meninggalkan beberapa jejak tangan Wiksa.

"Paham!" teriak Wiksa, tanpa merasa bersalah.

"Sa-saya, paham Mas. E ... a-anu, Tuan," jawab Airin terbata, menunduk kemudian mundur beberapa langkah.

"Bagus!" Wiksa sembari tersenyum puas dan merebahkan tubuhnya di ranjang.

Airin bergegas menuju kamar mandi, menguncinya rapat. Membuka air dengan kencang, air mata Airin kini tidak bisa lagi di bendung, suara tangisnya beradu dengan suara air yang mengucur deras. Tangis kesedihan yang sekarang terlampiaskan dengan sempurna. Kekecewaan hatinya makin menjadi saat dirinya berkali-kali mendapat penolakan dari suaminya. "Mas, salah apa yang sudah aku lakukan di masa lalu, hingga aku mendapat hukuman yang seperti ini," ujarnya tersedu dengan suara serak, berulang kali tangannya mengikis air matanya.

"Huuff ...." Air memutus semua tangisnya, memindai wajahnya di kaca, mengusap perlahan wajahnya yang memerah. Tertegun untuk beberapa saat mematut dirinya di depan kaca.

"Mas, Wiksa ...." Airin menyusut netranya yang kembali berkaca-kaca.

"Bagaimana aku keluar, jika mataku sembab seperti ini?" Airin berusaha mengikis matanya yang terus berair.

"Airin, kamu pasti bisa," lirihnya pelan, menyemangati dirinya sendiri.

Perlahan Airin membuka kenop pintu, mengintip untuk memastikan keadaan, berjalan berjingkit keluar dari kamar mandi, menuju sofa yang tidak jauh dari ranjang. Netranya sedikit menyipit untuk menyamarkan bengkak di matanya, berbaring perlahan agar tidak menganggu tidur suaminya.

"Mas ...." Airin lirih, sesekali manik matanya menatap wajah yang terlelap.

Namun, kesenangan Airin terusik saat suaminya menggeliat dan tiba-tiba terbangun. Airin dengan cepat menutup matanya, karena bagaimanapun juga satu kesalahan yang di buatnya akan semakin membuat tubuh dan batinnya terluka. Tubuhnya makin menegang, mendengar kaki Wiksa turun dari ranjang, berjalan menghampiri sofa di mana dia tidur.

Saat ini Airin hanya bisa berpasrah dengan sikap suaminya nanti, cukup lama Airin menunggu, tetapi Airin tidak merasa atau mendengar apa pun, hanya napas suaminya yang berhembus menerpa wajahnya untuk sesaat tangannya perlahan mengusap wajah Airin dan kemudian yang terdengar hanya suara tubuh yang berbaring dengan keras di atas ranjang.

Ada rasa lega untuk sesaat, hingga di pertiga malam yang tersisa hanya sepi dan dengkuran suaminya yang terdengar. 'Terima kasih, Mas. Bagaimanapun juga, Mas masih menyisakan perasaan iba untuk Airin.' Batinnya tangannya mengusap wajahnya, sebelum dirinya benar-benar terlelap.

Pagi ini, ada yang aneh dari sikap suaminya, bibirnya sedari tadi terdiam, umpatan-umpatan kasar yang sering Airin dengar hilang bagai di telan bumi. "Airin," sapa sang ibu mertua mengejutkan saat dirinya keluar dari kamar mandi.

"Ya, Bu," jawab Airin menunduk takut.

"Airin," tegur sang ibu khawatir, mendekat dan menangkup wajah Airin penuh tanya.

"Kenapa dengan wajahmu?" tanya sang ibu curiga.

Airin tidak kunjung menjawab, menunduk untuk menghindari tatapan tajam Wiksa. "Airin baik, Bu," jawabnya berusaha tenang.

"Kamu, bilang baik!" sang ibu sembari menoleh ke arah Wiksa.

"Bukan Tuan Wiksa Bu, tetapi Airin jatuh," bohongnya takut.

"Kamu, yakin?"

Airin kembali mengangguk, menepis semua praduga sang ibu mertua. Airin terkejut saat sang ibu mertua memeluknya erat, menatap iba, tetapi bibirnya menahan tangis. "Ibu, minta maaf Airin, jika Wiksa yang melakukan, Ibu minta maaf," tuturnya lirih dengan tangis yang di tahan, tangannya tidak luput mengusap wajah putih Airin yang kini berubah menjadi merah matang.

"Bu, Airin sudah memaaf'kan, Mas Wiksa," jawab Airin jujur.

"Bu, Airin mohon. Mas Wiksa menatap kita marah, biarkan saya menyelesaikan pekerjaan saya," bisik Airin melepas pelukan sang ibu.

Mereka sama-sama menoleh saat pintu kamar terbuka, senyum ramah seorang Perawat menghangatkan suasana kamar yang sedari tadi mencekam.

"Pagi, Tuan Wiksa dan Nyonya," sapa Perawat ramah, " Ada kabar baik, besok pagi Tuan sudah boleh pulang, tetapi Nyonya sebaiknya menemui Dokter Frans lebih dulu," saran Perawat sembari menyodorkan beberapa berkas yang perlu di tanda tangani.

Setelah menanda tangani beberapa berkas Airin bergegas mengekor langkah Sang Perawat, tetapi begitu mereka berada di luar pintu, langkah mereka terhenti. Airin seketika menunduk saat mendapat tatapan menelisik dari Sang Perawat. "Saya terjatuh," cerita Airin sebelum Sang Perawat bertanya.

Sang Perawat hanya tersenyum meskipun manik matanya terus menelisik dan memindai wajah Airin teliti. "Mari, Nyonya!" ajak Sang Perawat agar mengikuti langkahnya.

Sementara itu, selepas kepergian Airin, Wiksa terlihat cemas dan bingung. "Bu, Wiksa tidak sengaja," cerita Wiksa menyesal.

Mendengar kejujuran Wiksa, sang ibu mendekat, mengusap wajah yang telah banyak berubah. "Meskipun kamu menganggap Airin, asisten kamu, tolong hargai dia Nak, Dia tidak pantas kamu perlakukan seperti itu. Airin baik dan hanya satu harapan Ibu, suatu saat kamu tidak menyesal dengan sikapmu itu," nasehat sang ibu bijak.

"Ta-tapi Bu ...." Wiksa sembari melihat tangannya.

"Bu, boleh Wiksa menunjukkan sesuatu?" tanyanya ragu sembari mengambil sesuatu dari balik sakunya.

Tangannya perlahan terulur menyerahkan sesuatu kepada sang ibu, tetapi belum juga niatnya terlaksana, pintu kamar terbuka lebar.

Mereka berdua seketika menoleh dan terkejut saat melihat beberapa wajah-wajah ramah muncul dari balik pintu tersenyum senang saat melihat Wiksa.

"Assalammualaikum, wr, wb." Mereka menyapa serentak, satu persatu masuk menghampiri ranjang dan bersalaman kemudian berdiri rapi di samping ranjang dan duduk di sofa.

Wiksa yang masih bingung dengan kedatangan mereka sedikit terusik saat mendengar nama-nama mereka. "Kamu, masih mengenal kami?" salah satu dari mereka memberanikan diri untuk bertanya.

Wiksa sesaat menyengitkan dahi, menatap mereka satu persatu dan tidak lama tersenyum lebar. "Sial, bagaimana aku bisa melupakan kebejatan kalian," seloroh Wiksa sembari tertawa lebar.

Suasana kamar seketika berubah ramai, sang ibu yang sedari tadi memperhatikan semakin bingung dengan sikap Wiksa, terus memperhatikan setiap gerak gerik sang anak, hingga kedatangan Airin membuyarkan tawanya dan tatapan berubah secepat kilat, saat beberapa teman mereka menyapa Airin hormat.

"Ash ... kenapa kalian, menyapa asistenku!" sentak Wiksa mengejutkan mereka.

"Wiksa ... dia istri kamu," tegas salah satu dari mereka.

"Bukan, dia bukan istriku, tetapi asisten di rumahku," jawab Wiksa tegas sembari melihat ke arah sang ibu, seakan ingin menyakinkan argumennya.

Mendengar perdebatan Wiksa, Airin segera berdehem untuk menengahi dan mengiyakan semua perkataan suaminya, bagaimanapun juga dirinya tidak ingin mendebat ucapan suaminya, setelah mendengar pejelasan Dokter Frans. "Maaf, atas keadaan tidak nyaman ini, tetapi untuk saat ini beginilah keadaaannya," putus Airin pelan.

Tanpa persetujuan dari sang ibu mertua dan Wiksa, Airin memilih meninggalkan kamar yang tiba-tiba menjadi lengang. Namun, tidak lama terdengar tawa Wiksa keras saat Airin sudah berada di luar kamar. Airin hanya bisa mengurut dadanya yang sesak, kenyataan yang tidak bisa di pungkiri lagi. 'Semoga, Mas Wiksa segera sembuh dengan beberapa terapi dan pengobatan rutin, sesuai dengan saran Dokter Frans.' Batin Airin sembari menatap langit-langit lorong rumah sakit di mana dia berdiri.

15 menit kemudian, satu per satu teman Wiksa mulai keluar, tersenyum ramah pada Airin memberikan pelukan hangat sebagai bentuk dukungan pada Airin. "Semoga, Wiksa segera pulih, semangat Airin," ujar Naka sahabat dekat Wiksa.

"Terima kasih Naka," balas Airin ramah, menghantar mereka hingga beberapa langkah.

Akan tetapi, Airin tidak mengira jika di dalam kamar masih ada satu teman laki-laki Wiksa yang sedang sibuk menggulir ponsel, sesekali netranya melirik ke arah Airin dan sang ibu mertua secara bergantian. Airin sedikit terusik saat melihat Wiksa suaminya tersenyum ceria, netranya berbinar cerah. Laki-laki ini memeluk Wiksa, menepuk punggungnya dan membisikkan sesuatu yang menurut Airin aneh.

"Oke, aku pulang," pamitnya dengan suara sedikit keras, mengerlingkan satu netranya memberi kode pada Wiksa.

Sepeninggal beberapa temannya ada tingkah aneh Wiksa, turun dari ranjang merapikan piyama yang di kenakan dan menyisir rambutnya asal dengan jari-jemarinya. Menepuk wajahnya beberapa kali yang memerah. "Bu, ada apa?" Airin bertanya bingung.

1
sari. trg
beruntungnya Airin terus ketemu dengan ibu yang baik
sari. trg
Wah, seperti ada sesuatunya
sari. trg
Selamat Airin. Tapi sayangnya, Wiksa masih melupakanmu
sari. trg
Syukurlah Adam menyelamatkan Airin
Hera sasuwe
👍🏻👍🏻👍🏻
sari. trg
Aku jadi deg deg kan, apakah itu Airin?
sari. trg
Bagus, keren Bu
sari. trg
GK tahu malu
sari. trg
Semoga Wiksa segera sadar
sari. trg
keren kamu, Airin/Grin/
sari. trg
GK tahu malu /Angry/
sari. trg
aturan GK usah di tutupi airin
💞Amie🍂🍃
bunga untukmu thor
sari. trg
Seharusnya lebih dari menampar wajahmu. Gerem, aku/Angry/
sari. trg
Wina ini dalangnya
💞Amie🍂🍃
mawar berduri buat othorr
💞Amie🍂🍃
Iklan juga buat othor
💞Amie🍂🍃
Gara2 kamu
💞Amie🍂🍃
🌹for you thor
💞Amie🍂🍃
Gak bakal, yakin deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!