(RATE18+)
📢 UPDATE : SENIN/RABU/JUMAT/MINGGU
Saat dua orang mengalami trauma dan rasa sakit dengan status hubungan, Friend With Benefit adalah salah satu opsi berbahaya yang bisa diambil agar tak terlalu merasa sepi. Tapi bagaimana jadinya jika hubungan tersebut justru menjerumuskan mu kedalam lubang hubungan paling berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maraa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
closer
Eris menahan senyumnya melihat Leon yang terlihat sibuk diruangannya.
Akhir - akhir ini mereka sangat dekat, bahkan Leon sering menjemputnya walaupun Eris harus turun agak jauh untuk menghindari gosip para staff andromade.
Eris meregangkan badannya. Setumpuk note dan revisi akhirnya selsai walaupun ia harus lembur.
"Ris gue cabut duluan. Lu gapapa sendiri?" Eris mendongak pada Samuel lalu memperhatikan sekitarnya yang agak gelap karna lampu yang sudah dimatikan.
"Eh tungguin, Sam. Gue juga mau balik"
"masih lama ga? Gue harus jemput cewe gue soalnya" Samuel menghela nafas sambil melihat jam tangannya.
"Lo balik aja. Eris sama gue"
Eris menghentikkan grasak grusuk nya membereskan meja saat Leon berada dibelakang Samuel.
Akhirnya negur duluan juga. Batin Eris karna Leon yang jarang mulai pembicaraan saat di kantor.
"eh belom balik lo, Yon?" Samuel mengusap tengkuk nya melihat Leon yang menaikkan sebelah aslinya.
"Katanya lo mau balik."
Leon menimpali nya dengan dingin, membuat Samuel langsung mengangguk lalu membalikkan badan nya dan buru buru pergi meninggalkan mereka.
Leon tersenyum, mengacak rambut Eris lalu memeluknya.
"Lo belom makan? Sibuk banget kayanya. "
Eris menggeleng, menjauhkan badan nya lalu melihat kearah Leon yang hari ini terlihat berantakan.
"ko bengong aja sih? Gue berasa ngomong sama tembok "
Leon menarik Eris menaiki anak tangga dan masuk ke sebuah ruangan paling ujung.
Ruang itu terlihat cukup luas dengan rak buku yang tinggi, karpet bulu,sofa dan sebuah CD game.
"Dulu gue sama Rey sering ngabisin waktu disini buat mikir kedepannya perusahaan ini bakal gimana"
Leon berjalan ke karpet bulu,duduk di sofa kecil dekat tumpukan buku yang dibiarkan berserakan. Ia memperhatikan langit ruang sambil mengingat kembali perjuangannya membangun perusahaan dengan Rey.
"Gue sama Rey dikasih challenge bangun perusahaan baru yang bisa nandingin perusahaan Wyllie. Karna waktu itu perusahaan papa hampir bangkrut. "
Leon terdiam, dia menceritakan sebuah rahasia besar tentang keluarga nya. Tentang dia dan Rey, tentang keluarga wyllie. Leon melihat kearah Eris yang masih memperhtikannya lalu mendekat ke sofa merah tempat Leon duduk saat ini.
" Lo percaya ga,ca. Kalo cowo bisa insecure juga? "
Leon membalas pelukan Eris menenggelamkan wajahnya di dada Eris sambil menanyakan sesuatu yang serius tapi mungkin konyol untuk sebagian orang.
"Insecure itu bisa dirasain sama siapa aja tanpa mandang gender atau jabatan. Dan itu bukan hal yang harus dihindarin, tapi justru harus lo jadiin acuan buat jadi lebih baik. "
"Bisa bijak juga ya" Leon tertawa lalu mengeratkan pelukannya yang dibalas elusan kepala oleh Eris.
"Lo udah berhasil ko, bukti nya perusahaan ini bisa lebih unggul. Look at me! Lo harus bisa teken rasa insecure lo, lo ga sendiri. Lo cuma satu, Yon. Lo sempurna"
Eris menempelkan dahinya pada Leon memejamkan mata lalu mencium bibir laki - laki itu. Tak ada yang bisa Eris bantu atau rubah, ia hanya bisa melakukan ini untuk membuat Leon lupa sejenak dengan masalah nya.
"You're my mood" Leon berkata lemah di sela ciumannya.
Eris menghentikan ciumannya, teringat satu botol vodka di apartement nya yang baru ia beli kemarin. Berniat menghabiskannya sendiri tapi akhirnya mengajak Leon karna laki laki itu terlihat tertekan sekarang.
"wanna vodka? "
Leon tertawa mendengar penawaran Eris, lalu mengangguk mengikuti Eris yang menahan senyum didepannya.
\*\*\*
"ko kearah sini sih? Apart gue kan belok ke kanan, Yon" Eris mengerutkan dahi sambil melihat kearah Leon yang fokus mengemudi.
"Ke apart gue. Bosen main di apart lo terus" Leon melirik kearah Eris sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Katanya mau vodka" Eris mengalah, membuka ponsel nya dan melihat beberapa notif pesan masuk dari sahabatnya dan beberapa grup.
Sekitar 10 menit lebih mereka saling diam. Leon yang fokus pada jalan, dan Eris yang mulai terlelap karna tak kuat menahan kantuknya.
Leon tersenyum melihat Eris yang masih tidur di mobil nya. Mengelus rambut wanita itu, pandangan Leon beralih pada wajah Eris. Mata nya yang terpejam makin menambah kesan seksi nya, apalagi bibir manis yang selalu Leon inginkan.
"Hubby, bangun" Leon mencubit pipi Eris membuatnya sedikit mengernyit dan membuka mata sedikit.
"ini dimana? "
Suara serak khas bangun tidur Eris yang selalu membuat adik kecil Leon terbangun. Ya, fikiran Leon yang mesum apalagi ditambah dengan Eris yang polos. Membuat Leon selalu ingin menerkam nya dimana pun.
"di basement. Kita mau masuk atau main di mobil lagi? "
Dengan tampang serius Leon memperhatikan Eris membuat Eris sepenuhnya membuka mata dan mundur sampai ke ujung pintu mobil.
Eris buru buru membuka pintu dan meregangkan badannya diluar. Mengedarkan pandangannya kemanapun. Lalu menatap sebal saat Leon keluar mobil dengan senyum menyebalkannya.
"apart lo?"
Leon mengangguk, berjalan mendekati Eris lalu merangkulnya. Menuntun Eris segera masuk, menaiki lift dan sampai di depan pintu room Leon.
Eris sama sekali tak bisa melihat apapun karna lampu yang masih di padamkan. Tapi wangi maskulin tercium saat pintu terbuka,
"Saklar lampu dimana lagi? Masih gelap ini" Eris melihat Leon yang hanya menghidupkan lampu kecil di meja kerja nya.
"Enak gelap. Kamu mau mandi dulu? Atau langsung-"
"Vodka." Leon tersenyum melihat Eris yang menagih minuman pada nya, dengan tampang polos Eris duduk sendiri di sofa merah besar. Menunggu Leon yang mengambil minuman di pantry nya.
"1 botol absolute vodka"
Leon memberikan 1 botol vodka pada Eris dan menyimpan gelas kecil layaknya bartender.
"Woa. Bukain, Yon" mata Eris berbinar tak sabar dan langsung mengambil gelas kecil di tangan Leon.
"loh, tumben? Gamau minum langsung di botol kaya biasa? "
Eris menggeleng, lalu segera mengambil botol yang sudah dibuka di tangan Leon dan menuangkannya digelas.
"Sini, sini! "
Baru saja Eris menempelkan bibirnya pada gelas, Leon hanya memperhatikan Eris sambil berdiri di depannya. Membuat Eris kembali menyimpan gelas lalu menarik Leon duduk.
"Aaah seenak ini vodka sultan"
Eris tertawa, memejamkan matanya sambil mengecap absolute vodka yang ia tau harga nya selangit.
"Nih" Eris memberikan botol di meja pada Leon, yang di balas gelengan kepala.
"Lo aja yang minum" Leon tersenyum, sambil mengusap rambut Eris.
"Yakin gamau? Gue bisa abisin ini loh"
Leon mengangguk. Diam sebentar lalu tersenyum usil dan mendekatkan wajahnya pada Eris.
"Gue mau minum dengan cara yang beda malam ini. "
Leon sedikit memiringkan kepalanya mengelus pipi Eris lalu turun ke bibirnya, beralih menyentuh telinga dan leher Eris yang membuat wanita itu memejamkan matanya.
"lets play one game. "
Leon menarik Eris keatas pahanya, menahan wanita itu lebih dekat lalu mulai menyusuri setiap inci tubuh Eris dengan bibirnya.
o...o...o...
maksudnya udah tamat apa blom😊😊🙏🏻🙏🏻🙏🏻
sumpah gereget tau,,,,
"HEY,,,,,,, LO LO LO NGGA TAU MASALAHNYA JADI NGGA USAH BANYAK B*COD,,,,, URUS AJAA HIDUP LO B*NGSRUD,,, "!!!
ini teh mereka saling suka apa gimana? pernah pacaran,,,?
sungguh membuatku bertanya sendiri,,,,, 🥴🥴
Kutunggu kedatanganmu.
Terima kasih