Raisya Putri jatuh cinta pada gurunya sendiri ketika masih menempuh pendidikan sekolah menengah atas, namun sang guru yang tampan rupawan ternyata mempunyai kekasih yang sangat dicintainya.
Ketika sang Ayah sakit keras Raisya diminta menikahi seorang Pria pilihan orang tuanya. Raisya ingin menolak tapi tidak memiliki keberanian, alhasil Ia pun menerima lamaran itu.
Ikuti kisah kelanjutannya dalam karya cinta setelah menikah, semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di tuduh cari perhatian
Pagi-pagi pagi Sya sudah bertempur dengan peralatan masak, karena memang mereka tidak memakai jasa asisten rumah tangga jadi semua pekerjaan di kerjakan sendiri oleh sya.
Sya naik kekamar setelah semua hidangan tersaji di meja, Ia mendapati suaminya masih tertidur. Dengan perlahan Sya membangunkan suaminya itu.
" Assalamu'alaikum Mas, waktunya bangun. "
Hasan membuka mata pelan, jantung nya berdetak kencang melihat seorang wanita cantik di depannya.
" Bangun Mas, mandi dan turun. Kita sarapan bersama di bawah. "
Hasan buru-buru lari ke kamar mandi, terus berada disana membuat jantung nya tidak sehat.
Sya menyiapkan kemeja dan juga jas suaminya, tidak ketinggalan juga sepatu dan dasi, semua sudah siap disana.
Hasan keluar dan melihat semua yang Ia butuhkan sudah ada di atas ranjang, senyumnya terbit di bibirnya tanpa Ia sadari.
" Hm... boleh juga. " Gumam Hasan.
Ia melangkah keluar setelah memastikan penampilannya sudah rapi. Sya tersenyum dan menarik kursi yang akan di duduki suaminya.
Sya melayani suaminya dengan setulus hati, ketika sedang makan ponsel Hasan berdering. Dari raut wajahnya Hasan sudah bisa di tebak, siapa yang sudah menghubunginya.
" Ha, iya sayang ada apa hm.... ! "
Hasan melirik Sya yang tengah asyik menikmati sarapan nya.
" Iya sayang, Mas lagi sarapan. Tunggu saja di tempat biasa ya. "
Lagi-lagi Hasan mengakhiri sambungan telpon dengan kata-kata mesra. Hasan segera menyudahi sarapan nya, Ia meraih tas kerjanya dan bersiap berangkat.
Sya mengulurkan tangannya, mencium punggung dan juga telapak tangan suaminya.
" Hati- hati di jalan Mas. "
Hasan hanya bergumam dan buru- buru keluar, Ia tidak mau kalau sampai Lusi terlalu lama menunggunya.
" Mas. " Panggil Sya sambil melangkah menyusul Hasan.
Hasan menghentikan langkahnya dan menoleh.
" Hari ini aku ijin ke rumah Umi, ngambil mobil aku. Setelah itu aku juga mau kerumah sakit buat jenguk Ayah, tidak apa- apa kan. "
Hasan melambaikan tangannya kedepan, tadinya Ia berpikir Sya mengatakan sesuatu yang penting ternyata hanya ijin keluar.
" Lakukan apapun sesukamu, aku tidak akan melarang mu. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. "
Sya terkejut mendengar jawaban Hasan, mulutnya sampai melongo membentuk huruf O. Sebagai seorang Istri yang baik, Ia harus ijin ketika akan keluar rumah, itu yang Ia dapatkan dari Uminya namun ternyata Hasan tidak mempermasalahkan nya.
" Oh, Oke. "
Hasan berlari keluar, Ia geleng-geleng kepala mengingat sikap Istrinya.
" Begitu saja harus pamit, bilang saja mau cari perhatian. Nggak akan, cintaku hanya untuk Lusi, hanya Lusi satu- satunya wanita yang akan mengisi hatiku. "
Sya memakai pakaian yang lebih rapi dan mengunci pintu rapat- rapat, Ia menggunakan jasa taksi untuk pulang kerumahnya.
" Assalamu'alaikum Umi. " Sya mengheka nafas sebelum menyapa Uminya.
" Waalaikum salam, eh sayangnya Umi. Sama siapa kesini Nak. Tanya Umi
Sya dengan senyum mengembang di wajahnya mengatakan maksudnya datang kerumah Uminya.
" Sya sendiri Umi, mau ambil mobil Sya sekalian kita jenguk Ayah di rumah sakit. "
" Oh gitu, apa sudah ijin pada suamimu Nak. "
Sya mengangguk karena memang Ia sudah ijin sebelum pergi. Kedua Ibu dan anak itu berangkat kerumah sakit menggunakan mobil Sya.
" Nak, bagaimana hubungan mu dengan Hasan, kalian baik- baik saja kan. "
Sya sedikit terkejut dengan pertanyaan sang Umi.
" Tentu Umi, Sya dan Mas Hasan baik- baik saja. Memangnya kenapa Umi bertanya seperti itu. "
Umi mencoba tersenyum meskipun ada kesedihan mendalam, Ia khawatir kalau Putri nya tidak bahagia dengan perjodohan itu.
" Nak, maafkan Umi dan juga Ayah yang sudah menjodohkan mu dengan Hasan......! "
" Sudah Umi, tidak ada yang perlu dimaafkan. Sya dan juga Mas Hasan baik- baik saja, kita sedang mencoba membuka hati satu sama lain. Umi do'akan saja yang terbaik untuk kami, saat ini hanya do'a dari Umi yang kami harapkan. "
Umi mengangguk mengiyakan
" Tentu saja sayang, do'a Umi selalu buat kebahagiaan kalian. Semoga pernikahan kalian langgeng dan segera dapat momongan. "
Sya mengaminkan dalam hati, meskipun Ia ragu akan hal itu. Bagaimana bisa ada cinta kalau suaminya saja mencintai orang lain, bagaimana bisa punya momongan sedangkan disentuh juga tidak.
Sya dan Umi tiba di ruangan sang Ayah yang terbaring lemah, hidupnya bergantung pada alat - alat medis.
" Assalamu'alaikum Ayah, bagaimana kabar Ayah. Ini Sya datang, Ayah masih istrahat ya. "
Sya mencoba mengajak Ayahnya berbicara namun tidak ada reaksi apapun.
" Bagaimana kondisi Ayah saya Dok. " Tanya Raisya.
" Seperti biasa Bu, belum ada peningkatan yang signifikan. Kita sama- sama berdoa saja, semoga pasien memiliki semangat hidup yang tinggi sehingga pemulihannya berjalan dengan baik. "
Sya mengangguk, Ia menggenggam erat tangan Uminya, sama-sama mereka menyalurkan kekuatan.
" Sudah Umi, kita harus percaya kalau Ayah pasti mampu melewati semuanya. "
Satu jam Sya menemani sang Umi di rumah sakit, Umi kemudian meminta Sya untuk kembali. Ia ingat bahwa Putrinya sekarang bukan lagi anak gadis seperti dulu, melainkan sudah menikah dan mempunyai tanggung jawab mengurus suaminya.
" Nak, sebaiknya kamu kembali saja kerumah. Umi takut kalau sampai Hasan kembali dan mendapati Istrinya tidak ada dirumah, siapa tau Dia butuh sesuatu. "
Sya mengangguk, Ia enggan membahas perkataan Umi nya. Takut Umi nya akan berprasangka buruk padanya.
" Iya Umi, apa Umi mau langsung di antar pulang. "
Umi menggeleng, hari ini Ia memutuskan menemani suaminya di rumah sakit.
" Umi disini saja Nak, besok saja Umi pulang. "
Sya kemudian berpamitan pada Umi nya, sebenarnya Ia masih betah disana, karena dirumah pun Ia sendirian. Namun Sya tidak ingin membuat Umi nya sampai berpikir macam- macam
bener Sya kamu harus tegas terhadap ulet keket macam Lusi biar kamu nggak selalu diremehkan