Dulu, aku adalah seseorang yang menjadi inspirasi hidupmu, Aku lah wanita yang selalu kau bangga-banggakan pada siapapun yang bertanya perihal siapa sosok di balik kesuksesan mu.
Namun sekarang, aku hanya sebuah nama yang terkubur bersama masa lalu mu. Kau sembunyikan aku jauh dari hidup mu. Semua sudah berubah, hanya karena orang-orang baru, aku tersingkirkan dari sisi mu.
Terima kasih Mas, kau pernah memeluk ku dengan erat, meski pada akhirnya kau melepaskan ku demi dia. Ya, dia yang jauh lebih sempurna di bandingkan diriku.
Dari dirimu aku belajar, pernah dibahagiakan bukan berarti tidak akan disakiti. Pernah di cintai bukan berarti tidak akan dibenci dan aku mengerti. Aku tidak akan pernah bisa selamanya menjadi orang yang berharga di hati mu. Karena aku bukanlah pelabuhan hati mu yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Seminggu sudah dari saat Bi Inah dibawa ke rumah sakit oleh Ferdy dan seminggu sudah aku membuat surat lamaran pekerjaan atas paksaan Mami. Tapi hingga kini tak ada panggilan kerja yang aku dapatkan.
Aktivitas ku selama ini hanya bolak-balik menjenguk Bi Inah saja. Jauh di dasar hati ku ingin sekali kembali bertemu dengan Ferdy. Namun pria itu seperti hilang ditelan bumi setelah kejadian malam itu, dimana aku mendaratkan ciuman untuknya.
Bi Inah yang keadaannya jauh sudah lebih baik pun akhirnya sudah diperbolehkan pulang. Aku membawanya pulang dengan mobil lama milikku yang sudah tak aku pergunakan selama aku menikah dengan Mas Doni. Mami bilang meskipun mobil ini tidak dipergunakan selama aku tak ada, tapi selalu melakukan perawatan rutinnya. Dan benar saja selama satu minggu ini aku pergunakan mobil ini tak ada kendala yang aku temui pada mobil ini.
Di dalam perjalanan pulang menuju apartemen, aku banyak terlibat pembicaraan dengan Bi Inah. Mengenai rumah tangga ku yang hanya bertahan seumur jagung. Di akhir obrolan kami, aku pun menanyakan tentang Ferdy padanya.
"Bi, Ferdy gak jenguk Bibi ya pas Bibi dirawat kemarin?" Tanyanya saat mobilku berhenti di sebuah lampu merah.
"Bukan hanya jenguk Non, tapi nungguin Bibi dari malam hingga pagi datang. Tapi sayangnya dia gak pernah ketemu Non ya? Habis mau gimana lagi Non, Den Ferdy itu orang sibuk. Pagi-pagi udah jalan kerja. Makanya Bibi tuh jam empat pagi sudah harus masak karena jam lima pagi beliau sudah bangun olahraga sebentar di bawah terus mandi dan sarapan, ya jam enam kurang kira-kira dia sudah sarapan Non, gak kaya Non sarapannya jam tujuh atau sebangunnya." Jawab Bi Inah yang membuat ku seketika manggut-manggut.
"Terus Bibi sekarang gak kabarin dia kalau udah pulang?" Tanya ku lagi. Di sini aku berharap Bibi meneleponnya dan aku bisa mendengar suaranya yang aku rindukan.
Jujur sudah seminggu tak bertemu dengannya ada rasa rindu yang selalu mencubit hatiku. Ingin sekali aku melangkahkan kakiku mengetuk pintu unit apartemennya dan berkata,"Aku merindukan mu," tapi rasa malu seakan mencekal langkahku.
"Tidak usah Non, Suster Marissa pasti akan menghubungi Den Ferdy untuk memberitahukannya." Jawab Bi Inah dengan santai.
Seketika hatiku panas mendengar suster yang seminggu ini terlihat sok perhatian dan sering memfoto keadaan Bi Inah akan menghubungi Ferdy secara langsung.
"Ughhh...." geram ku.
Bugh... Bugh... Bugh [Suara setir mobil yang ku pukul].
"Kenapa Non? Non marah? Apa ada yang salah dengan jawaban Bibi?" Tanya Bi Inah pada ku.
Namun aku mengabaikannya. Entah mengapa aku tak bisa mengontrol emosiku, saat aku mengetahui ia berhubungan langsung dengan suster cantik yang bernama Marissa.
Bi Inah menatap wajahku dengan tatapan penuh selidik, ia seperti ingin mengetahui asalan mengapa aku diam dan tak menanggapi pertanyaannya. Aku biarkan ia menatapku seperti itu.
Sepanjang perjalanan setelah aku mengetahui tentang Suster Marissa yang berhubungan langsung dengan Ferdy mengenai Bi Inah. Aku lebih banyak diam. Tak ada lagi pembicaraan diantara kami.
Mengapa apa hatiku harus kembali sakit? Sakit seperti saat mengetahui Mas Doni berselingkuh dengan wanita sialan itu. Entah dimana mereka bertemu yang pasti kehadiran wanita sialan itu adalah malapetaka bagi kehidupan rumah tanggaku.
Jauh kembali ke masa lalu ku, dimana aku dan Mas Doni masih menjadi sepasang suami istri. Aku memang berhenti kuliah saat aku menikah dengan Mas Doni, tapi tidak dengan Mas Doni. Dia tetap melanjutkan kuliahnya saat itu.
Iya, dia melanjutkan kuliah dengan dibantu biaya oleh ibunya yang hanya seorang tukang jamu tradisional. Ibunya ingin sekali melihat putra sulungnya dari kelima anaknya ini menjadi seorang sarjana, yang kelak nanti ia berharap Mas Doni dapat membantu biaya pendidikan adik-adiknya jika sudah mendapatkan pekerjaannya nanti.
Namun belum sempat Mas Doni menyelesaikan kuliahnya, ibunya jatuh sakit hingga tak kuat lagi berjualan keliling menjajakan jamu tradisionalnya yang sudah memiliki banyak pelanggan, terutama pegawai pabrik di dekat tempat tinggal kami.
Perekonomian yang merosot dan Mas Doni yang bekerja sambilan sebagai pegawai part time di sebuah perusahaan, sama sekali tak mencukupi kebutuhan kami sehari-hari.
Dengan berbekal pengetahuan bisnis yang sedikit, aku mencoba memasarkan jamu buatan adik-adik Mas Doni yang rasanya sama dengan buatan Ibu Mertua ku.
Mereka membuatnya pagi-pagi buta sebelum mereka berangkat ke sekolah. Setelah Mas Doni dan adik-adiknya berangkat kuliah dan sekolah. Awalnya aku memasarkan jamu itu datang langsung ke pabrik dimana tempat ibu mertuaku mangkal setiap harinya. Lama kelamaan aku menjualnya melalui aplikasi online dan hasilnya cukup lumayan. Cukup untuk memenuhi kebutuhan kami yang berjumlah delapan orang dalam satu rumah.
Miris memang demi sebuah cinta aku meninggalkan semua kenyamanan ku dengan fasilitas mewah yang aku punya dari kedua orang tuaku. Hidup dengan kepayahan yang kadang membuat tubuhku terlihat lusuh tak terawat.
Perjuangan aku dan adik-adik Mas Doni berhasil mengantarkan Mas Doni hingga menyelesaikan kuliahnya. Kami datang mensupport Mas Doni yang di wisuda kala itu. Aku bahagia dan aku bangga pada diriku sendiri. Karena kerja keras ku dan adik-adik Mas Doni tak sia-sia.
Setelah lulus kuliah Mas Doni membantu kami mengembangkan bisnis jamu tradisional milik keluarganya ini. Tapi selain membantu bisnis ini Mas Doni juga tak berdiam diri. Ia tetap mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya.
Hingga suatu hari Mas Doni di terima bekerja di perusahaan besar yang entah namanya apa aku tak tahu, karena Mas Doni sama sekali tak memberitahu ku saat itu.
Aku mendapatkan uang bulanan yang cukup besar kala itu. Mengingat Ibu Mertua ku yang sering sakit-sakitan dan Ayah mertuaku yang entah kemana. Aku memutuskan untuk menyimpannya, aku khawatir jika kalau-kalau kami membutuhkan uang, bisa menggunakan uang tersebut.
Dalam waktu satu tahun pernikahan kami usaha jamu tradisional milik keluarga Mas Doni maju dengan pesatnya. Kami sampai memiliki dua puluh karyawan. Meski usaha jamu milik keluarganya sudah maju. Mas Doni tetap tak ingin keluar dari perusahaan dimana ia bekerja saat ini.
Mas Doni mengatakan padaku jika perusahaan tempatnya bekerja adalah perusahaan bonafit dan lebih besar dari perusahaan milik keluargaku. Aku menyadari betul jika Mas Doni sakit hati pada keluarga ku yang sama sekali tak datang apalagi merestui pernikahan kami. Ia seakan ingin menunjukkan kesuksesannya pada keluarga ku.
Mas Doni mulai berubah ketika ia sudah naik jabatan di perusahaannya. Ia sudah menjadi general manager pemasaran di perusahaannya. Ia sudah tak lagi mengindahkan ku. Ia sering tak pulang sampai berhari-hari lamanya. Aku mengadukan hal ini pada ibu mertuaku, tapi apa yang aku dapat, beliau juga mengabaikan ku. Aku tak mengerti dimana letak kesalahanku. Hingga seluruh anggota keluarga Mas Doni berubah pada ku.
Hingga suatu hari seorang wanita cantik berpakaian seksi datang kerumah kami yang baru. Ya, rumah baru yang ku beli dari hasil keuntungan penjualan jamu. Rumah yang lebih besar sepuluh kali lipat dari rumah lama milik mereka.
Wanita itu masuk ke dalam rumah kami dengan begitu anggunnya dan tak tahu diri. Benar saja aku mengatakan dia tak tahu diri, bagaimana tidak dengan percaya dirinya, dia memperkenalkan dirinya sebagai calon istri dari suami ku. Ya. Dia calon madu ku yang bekerja sebagai sekertaris pribadi suamiku.