"Diterima ya, Mba. Dijalani saja dulu, banyak shalat dan baca Qur'an. Semoga tugas akhirmu, lekas selesai. Insya Allah, ini keputusan yang baik, Mba. Sepertinya Mas Akbar, anak yang shaleh."
"Iya, Pak, Bu. Saya jalani. Makasih restu dan doanya."
Aku berdiri, pamit. Masuk ke kamar. Kututup pintu, segera sujud syukur kepada Pemilik Semesta.
"Bismillah, semoga aku bisa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilinur m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akbar Zafran Sanjaya
"Mas, kapan kamu pulang ke rumah? Sudah mau lebaran, kok kamu belum beli tiket. Kamu nggak kangen dengan Bapak dan Ibu?" Tanya Bu Suryo.
Agenda rutin Bu Suryo sehabis shalat Isya yaitu menelpon anak pertamanya yang sedang bekerja di Kalimantan. Tiap malam seperti itu. Ada saja yang dibicarakan. Mulai dari tadi makan apa, mengajarnya bagaimana, teman-temannya baik tidak. Pokoknya banyak dan runtut.
Akbar Zafran Sanjaya. Anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya laki-laki bernama Fatih Reinaldi Suryo. Mereka seperti anak kembar. Selisih umur mereka tidaklah jauh, 3 tahun. Usia Akbar sekarang masuk 28 tahun. Laki-laki dengan tinggi 179 cm ini masih betah menjomblo setelah ditinggal tunangannya menikah, pada saat Akbar akan wisuda. Akbar hanya pasrah, saat Cika, tunangannya memberikan undangan pernikahan lewat teman kuliahnya. Masalahnya apa, sampai Cika menghianati kepercayaan Akbar. Keluarga Cikapun malah mendukung keputusan Cika untuk meninggalkan Akbar dan memilih Doni sebagai teman hidup Cika.
Kesalahpahaman dan komunikasi.
Hampir dua tahun, Akbar tinggal di kota Amoy itu. Beberapa kali menjalani hubungan, Akbar belum bisa melupakan sakit hati yang didapatnya. Cika salah paham dengan Akbar, karena salah satu teman Akbar menggunggah foto mereka di media sosial dengan 'kebersamaan.' Foto mereka tidak hanya berdua, tetapi bersama dengan teman-teman.
Ya, Akbar merasa senang karena bertemu dengan teman dari daerah. Temen seperjuangan.
Tapi Cika salah mengartikan, dikira Cika, Akbar ada hati dengan Melda. Keputusan Cika untuk memutuskan Akbar pun semakin bulat. Komunikasi jarang karena Cika mendapat tempat magang di daerah terpencil. Kurang terbukapun menjadi faktornya.
Sudah dua tahun. Lama juga, ya. Aku harus mencari teman hidup. Kudoakan dia dan Doni bahagia.
"Bu, rencananya, Mas mau pulang besok. Mau dibawakan apa, Bu?" Kata Akbar pada Ibunya.
"Alhamdulilah, hati-hati ya Mas. Besok udah H-4, pasti ramai. Barang yang penting disimpan yang baik di tas." Pesan Ibu Suryo yang sedang mengaduk teh.
"Nggak usah bawa apa-apa, Ibu pesen, sampai rumah selamet, sehat, Nak." Begitulah pesan Ibu sambil melirik ke Bapak Suryo.
"Bapak bilang, kamu harus segera menikah, kakekmu juga pesan begitu." Kekeh Bu Suryo.
"Iya Bu, tolong carikan makmum shalat yang terbaik ya, Bu." Kata Akbar pelan tapi meresap di hati Bu Suryo.
"Tentu, Nak. Ibu sudah siapkan malah. Tinggal kamu yang memilih. Ibu sudah melihat dari bobot, bebet dan bibit-nya." Kata Ibu serius.
"Ibu dan Bapak, serius?"
"Iya, Bapak sudah setuju dengan calon yang diajukan oleh Ibumu." Gantian Bapak yang tertawa terkekeh.
"Ibu, milihnya nggak aneh-aneh kan, Pak?"
"Kamu kira, Ibumu ini tukang bohong, Akbar?" Bu Suryo menjawab sambil berkacak pinggang. Pak Suryo yang melihat hanya tertawa.
"Lihatlah, Mas. Ibu bahkan sudah tak sabar ingin punya menantu, haha. Sampai-sampai dideketinya calon besan supaya diterima lamarannya." Pak Suryo menutup mulut. Lari dan membawa gawainya.
Ibu Suryo mengambil gawai dari Pak Suryo, "Sudah ya, Nak. Besok lihat saja gadis pilihan Ibu, manis dia, Mas. Sekarang istirahat, Assalamualaikum.."
"Walaikumasalam, Bu."
Kuletakan gawai di atas meja bersandingan dengan laptop. Bunyi notifikasi dari gawai. Segera kugeser kunci layar, kuketik sandi angka 9494. Lalu terlihat chat paling atas dari Ibu.
Mas Akbar, gimana menurutmu kalau dia jadi makmum kamu?.
Ku klik dan gambarpun mulai terlihat. Aku kaget.
"Lho, dia kan...."