Kecelakaan membawa Rein bertemu dengan jodohnya. Ia merasa terjebak karena harus menikah dengan seorang polisi, sedangkan dirinya adalah seorang pencuri. Rein menerima pernikahan itu karena merasa berhutang budi.
Bagaimana perjalanan hidup Rein bersama suaminya tersebut. Apakah mereka akan tetap hidup bersama, walaupun suaminya tahu jika Rein adalah penyebab kakaknya meninggal dunia? Ikuti kisah mereka ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amih_amy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Polisi?
...Happy Reading...
...****************...
Beberapa menit menyusuri pinggir sungai, Rein pun tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berdiam diri sejenak.
"Apa apa?" tanya Aska yang merasa heran, lalu mengikuti arah telunjuk Rein. Di sana dia melihat Abian tengah duduk sendirian. Di samping sebuah batu besar. Tubuhnya yang kecil membuatnya terhalang. Ternyata Bian bersembunyi di balik bebatuan.
"Tunggu!" Rein menahan tubuh Aska yang hendak menghampiri Bian, "biar aku yang bujuk dia. Kamu tunggu di sini saja," imbuhnya.
Aska tidak keberatan, dia pun hanya memperhatikan dari kejauhan.
...***...
"Bian."
Abian menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya dari arah belakang. Kedua matanya hanya mendelik, lalu berpaling lagi menatap air sungai yang mengalir.
"Pulang, yuk! Ini udah mau Magrib," ajak Rein dengan lembut. Dia ikut duduk di sebuah batu di dekat Abian.
"Bian kangen sama mama, papa, dan adek. Bian mau nunguin mereka jemput Bian di sini," seloroh Abian.
Rein tercekat, kemudian berdiri. "Bian nggak boleh ngomong gitu! Mama papa Bian udah tenang di Surga sana. Kalau mereka tahu Bian terus sedih, mereka juga pasti sedih," ujar Rein sambil mengusap kepala anak kecil itu.
"Kenapa mereka nggak ajak Bian ke Surga juga. Mereka nggak sayang Bian. Mereka cuma ajak adek aja. Di sini nggak seru, Kak. Bian kesepian." Air mata Abian kembali berlinang.
"Ya ampun, Bian." Rein lantas merengkuh tubuh Bian untuk dia peluk, "selama ada Kak Rein, kamu nggak akan kesepian lagi, Sayang," tambah Rein lagi.
"Tapi Kak Rein mau pergi," lirih Bian. Air matanya semakin deras mengaliri pipi, bahkan berhasil membasahi baju bagian depan Rein.
Rein menggelengkan kepalanya. "Enggak, Bian. Kak Rein nggak jadi pergi. Malahan Kak Rein bakalan jadi anggota keluarga kamu. Kak Rein akan menikah sama Om kamu."
"Beneran?" Kepala Abian langsung mendongak memastikan ucapan Rein barusan. Rein mengangguk mengiyakan.
Senyum cerah seketika terbit di bibir Abian. Ia pun kembali memeluk tubuh Rein dengan kencang. "Makasih, Kak," ucap Abian senang.
...***...
Pagi yang cerah diiringi nyanyian burung kecil yang bertengger di pepohonan. Mereka seolah melakukan paduan suara untuk memeriahkan hari pernikahan Rein.
Ya, Rein dan Aska pun akhirnya menikah siri terlebih dahulu. Sebelum mereka kembali ke kota dengan status baru.
"Sah!" Ucapan dua orang saksi menjadi penentu keabsahan ikatan pernikahan yang terjadi. Semua orang yang menghadiri berucap syukur bersamaan. Sedangkan kedua mempelai terlihat begitu muram. Tidak ada rona bahagia tercetak di wajah mereka. Kendatinya hati dan pikiran mereka masih tidak bisa menerima, jika harus menikah tanpa cinta.
Serangkaian do'a pernikahan pun dilantunkan oleh penghulu, dan semua orang mengaminkan dengan penuh haru.
"Selamat, ya, Aska, Rein. Kalian sudah sah menjadi suami istri. Nanti jangan lupa kalau udah sampai di kota, surat nikahnya diurus juga." Ranti memberikan selamat kepada Rein dan Aska, saat para tamu yang hadir menyaksikan pernikahan sudah pulang. Mereka hanyalah kerabat dekat keluarga Ranti dan Bahar, juga para tetangga yang berada di sekitar.
Rein dan Aska memasang senyum palsu di bibir mereka. Tidak ada niat untuk membuat pernikahan itu jadi sah juga menurut negara. Dengan begitu mereka akan lebih mudah untuk bercerai jika Abian sudah sembuh dari traumanya. Pun tidak mudah untuk mendaftarkan Rein sebagai istri dari abdi negara. Apalagi Aska tidak mengikuti prosedur pernikahan sesuai peraturan. Aska pasti mendapatkan hukuman.
"Iya, Ambu," ucap Aska hanya untuk membuat ibunya senang.
"Ya, udah. Ambu tinggal beres-beres dulu, ya." Ranti beralih pada Rein, "Rein kalau mau istirahat di kamar Aska saja. Mulai sekarang itu kamarmu juga," ucap Ranti kepada menantunya.
Rein membulatkan kedua matanya. Senyumannya sungguh terpaksa. "Ehm ... aku nggak apa-apa tidur di kamar kemarin aja, Ambu."
"Eh, nggak boleh, atuh! Sekarang kamu udah jadi istrinya Aska. Jadi harus sekamar sama dia," seru Ranti.
"Kalau nggak mau jangan dipaksa, Ambu. Mungkin Rein belum terbiasa." Aska ikut membela istrinya.
"Kamu juga, bukannya ngajak istrinya langsung ke kamar buat istirahat. Gimana, sih?" Ranti memukul pelan lengan Aska. Lelaki itu mendengus kesal. Lalu menarik paksa tangan istrinya untuk dia bawa ke kamar.
"Ayo, ikut!" ajak Aska. Rein terkesiap, tubuhnya terasa ringan oleh tarikan Aska yang begitu kencang. Langkahnya dibuat panjang agar bisa mengikuti jejak kaki Aska yang jenjang.
"Pelan-pelan, Aska!" Ranti mengomel lagi walaupun anaknya sudah pergi.
"Biarin, atuh, Ambu. Mungkin Aska udah nggak sabar belah duren sama si Rein," celetuk Bahar yang baru saja datang. Ranti menoleh pada suaminya.
"Emangnya Aska beli duren?" tanya Ranti dengan polos.
"Idih, si Ambu. Bukan duren yang itu, tapi yang anu, loh ...." Bahar mengedipkan sebelah matanya genit. Tatapannya tertuju pada pintu kamar Aska, "bikin cucu buat kita," bisiknya di telinga Ranti sambil menahan tawanya.
"Oh, anu ...." Ranti pun ikut menahan tawa.
"Abah mau ngintip, ah."
"Eits!" Tubuh Bahar tertahan ketika kerah baju belakangnya ditarik oleh Ranti, "mau ngapain? Udah tua juga masih aja kayak anak kecil. Ayo, bantuin Ambu beres-beres rumah!" titah Ranti.
Bahar mendengus. Ia terpaksa mengikuti perintah istrinya.
...***...
Sedangkan di dalam kamar, Rein merasa canggung ketika berduaan bersama laki-laki yang baru saja menjadi suaminya tersebut. Setelah beberapa menit mereka masuk ke dalam kamar, keduanya hanya duduk terdiam. Rein duduk di sisi ranjang, sedangkan Aska duduk di kursi tunggal.
"Rein."
"Mas."
Keduanya bersuara hampir bersamaan.
"Kamu dulu aja!" seru Aska memberikan kesempatan pada Rein.
"Aku nggak bisa berpura-pura terus di depan orang tua kamu. Aku mau kita segera ke kota," ujar Rein.
"Itu juga yang mau saya katakan sama kamu. Besok kita kembali ke kota."
"Yes, gue bisa bebas kalau di sana, tapi ...." Rein bergumam dalam hati, tetapi raut wajahnya langsung murung manakala ia mengingat kedua temannya yang tidak selamat saat kecelakaan itu.
"Kamu mikirin apa?" tanya Aska heran.
Rein tercekat. Cairan bening yang hampir menetes di ujung matanya buru-buru dia seka. "Nggak mikirin apa-apa," elak Rein sambil mengembangkan senyuman pelik.
"Ada satu hal yang ingin saya katakan sama kamu. Sepertinya kamu belum tahu," ucap Aska serius.
"Apa?" Rein mendongakkan kepalanya ketika Aska berdiri, lalu berjalan mendekati.
Rein memperhatikan Aska yang mengeluarkan sebuah dompet dari dalam saku celananya, lalu mengeluarkan tanda pengenal di dalamnya.
"Ini adalah tanda pengenal saya. Saya seorang anggota polisi di unit Sat-reskrim."
"Hah? Polisi?" Tentu saja Rein terkejut mendengar itu. Kedua matanya membulat sempurna, seolah mau keluar dari tempatnya, "ka–kamu becanda, kan?" tanyanya sambil meringis gugup.
"Kenapa kamu begitu terkejut mendengar profesi saya? Apa kamu sebelumnya seorang penjahat?" Aska malah balik bertanya. Menatap Rein dengan penuh curiga.
Rein sadar sikapnya terlalu berlebihan. Hal itu akan membuat Aska tahu dengan pekerjaannya yang bertolak belakang dengan profesi Aska.
"Eh, nggak apa-apa. Aku cuma kaget aja. Soalnya Ambu nggak pernah cerita," kilah Rein. "Mampus, masa gue nikah sama polisi!" umpat Rein dalam hati.
...****************...
To be continued....
Jangan lupa dukungannya, pembaca tercinta ☺