*KHUSUS PEMBACA UMUR 17+*
Pertemuan mereka berdua membuat roda takdir berputar.
Hari – hari indahnya bermula saat Dion bersama dengannya, mengawali dan menutup hari dengan mengucap namanya yang sudah terukir didalam hati. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua dari kebahagian itu, hingga suatu saat....
“Lebih baik aku tidak pernah bertemu denganmu.” Gumam Dion
Di malam hari, gelap, tanpa cahaya aku berdiri dan kembali menyesali perbuatanku. Awan besar menutupi rembulan, aku tak dapat berkata – kata lagi tanpa kusadari air mata telah mengalir.
“maafkan aku teman – teman....”
Disini, dikelas ini, diantara jasad seluruh sahabat2ku, aku menangis.
Dengan tatapan kosong dan tubuh bermandikan darah.
“anak iblis”
“Pembunuh”
“Penjahat”
Satu persatu sebutan itu terdengar ditelingaku hingga sampai membuatku lupa akan identitasku sendiri. 1 minggu kemudian Aku terbangun disebuah rumah sakit jiwa tanpa mengingat apapun dan langsung pindah ke kota Lando dan berseklah di SMA Violet
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahroni nurhafid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Arti Kesendirian
Saat kubuka
mataku ruangan sudah mulai diterangi mentari,
Terdengar kucauan
burung di balik jendela kamarku,
Malam tadi begitu
tenang, tak ada gangguan aneh lagi, bahkan bercak darah di kasur tiba – tiba menghilang
begitu saja bagaikan tak pernah terjadi.
Kubuang jauh –
jauh masalah kejadian aneh itu dan berfokus pada hal yang bisa kulakukan saat
ini.
Sebuah pesan
singkat dari Diana tadi malam,
(pesan ini bisa
kugunakan untuk membuktikan bahwa Diana masih hidup agar mereka percaya dan
bisa membantuku mencari Diana kemudian segera membawanya kembali. jika tidak
ada sesuatu yang terjadi pasti Diana sudah kembali dan datang menjemputku untuk berangkat sekolah bersama seperti
biasanya.)
Ku pejamkan
mataku dan sejenak,
(baiklah sudah
kuputuskan)
[apakah anda ingin menghapus pesan ini?]
[hapus pesan]
*Klik
[pesan telah
terhapus]
(Akan kulakukan
sendiri, karena itu sudah tugasku sabagai sahabatnya)
*tok tok tok
Ibu Dion :”Dion,
sudah saatnya berangkat sekolah cepat mandi dan segera sarapan!”
Dion :”iya bu..”
30 menit
kuhabiskan untuk bersiap – siap berangkat termasuk mandi dan sarapan, saat siap
sepenuhnya kubuka pintu rumah,
Biasanya Diana
sudah berada didepan rumah dan mengucapkan selamat pagi padaku saat ini,
Bayang –
bayangnya tak bisa lepas dari ingatanku, setiap langkah terasa berat tanpa
adanya dirinya,
Jarak kesekolah
menjadi begitu jauh tanpa canda tawa bersamanya,
Saat dikelaspun
tak ada teman bicara lagi dan membuat suasana kelas menjadi begitu membosankan,
Selama ini tak
kusangka hari – hari biasa yang kujalani ternyata begitu berwarna dan sangat
berarti saat dengannya,
Saat membolos aku
hanya bisa duduk dan tiduran di perpustakaan terkadang membaca beberapa buku,
Begitu kosong,
hampa dan membosankan.
Tiba – tiba saja
aku teringat akan ketua,
[Legenda diary
Rio]
Kutelusuri perpustakaan
dan mencari buku yang berhubungan dengan legenda itu, kuhabiskan waktu cukup
lama demi mencari buku itu. setelah 2 jam berlalu aku tak kunjung mendapatkan
hasil, ku ubah rencana dan mencarinya di tumpukan koran – koran lama, mungkin
saja ada berita tentang tragedi itu.
Tak kusangka dari
koran – koran ini aku mendapat banyak sekali informasi tentang tragedi
tersebut,
Sebuah tragedi
pembunuhan dengan motif dan pola yang belum terpecahkan, korban dari kejadian
ini itu juga beragam – ragam tak ada persamaan apapun, sampai suatu hari
ditemukan sebuah korban baru sebuah anak SMA bernama Rio jasadnya ditemukan
dibangku taman pagi – pagi sekali oleh warga yang sedang jogging, setelah
pemeriksaaan ternyata kematiannya disebabkan oleh percobaan bunuh diri.
Ditemukan sebuah
buku diary milik Rio dalam pelukannya, buku itu menceritakan bahwa sebelum ia
terbunuh ia sudah diterror selama 1 minggu tanpa mengetahui motif ataupun
identitas penerror tersebut. Pihak kepolision mengambil kesimpulan kemungkinan
dibalik kejadian pembunuhan ini dari penerror itu.
Setiap video CCTV
diperiksa sesuai waktu dan tempat yang disebutkan dalam diary tersebut namun
tak ada sama sekali orang disekitar Rio pada saat itu.
Dalam Diary itu
disebutkan bahwa penerror mengirimkan sebuah surat kepada korban, pihak polisi
sudah menelusuri namun tak menemukan surat apapun. Didalam diary ditulis bahwa
surat itu dimasukkan kedalam buku diary tersebut namun tak ada satupun surat didalamnya. Polisi
mengambil kesimpulan bahwa surat itu sudah diambil oleh penerror.
Malam sebelum
kejadian, Rio mengunci dirinya didalam kamar dan tak mau keluar sama sekali. Adik
kecilnya menjaganya dari luar pintu kamar, dan ia pun tak melihat atau
mendengar kakaknya yang keluar dari kamar namun tiba – tiba tetangga mereka
berkata menemukan Rio ditaman, saat itu pihak keluarga mendobrak kamar Rio dan
ternyata kamar itu sudah kosong, tidak mungkin bila keluar lewat jendela karena
kamar Rio berada dilantai 3.
Tim penyidik
khusus telah dikerahkan demi menghentikan tragedi ini.
1 bulan kemudian,
tim penyidik menutup kasus tersebut tanpa alasan yang jelas bahkan beberapa
anggota dari tim penyidik menghilang secara misterius saat menelusuri kasus
tersebut.
Tentu saja hal
itu membuat warga semakin khawatir.
Setelah kejadian
itu korban terus bertambah sampai beberapa tahun, saat diselidiki kematian
seluruh korban ditemukan kesamaan yaitu si korban memiliki sebuah luka
berbentuk hati dibagian tubuhnya.
Kucoba mencari
berita yang lain namun berita tentang tragedi itu sudah menghilang 2 tahun yang
lalu tanpa mengetahui alasannya namun yang jelas masyarakat bisa tenang.
(aneh sekali,
kenapa tiba – tiba saja tragedi itu terhenti? Kemana perginya pelakunya? Apakah
dia sudah mati? Atau dia sudah berhenti? Tapi tetap saja walau aku sudah
mencari tau tentang tragedi semua ini tak dapat menjelaskan tentang misteri
dari ketua...)
Saat terfokus
memikirkan segala kemungkinan tak kusadari hari sudah menjelang sore, para
siswa pasti sudah pulang.
Dion :”Baiklah
saatnya aku bergerak sekarang.”
Saat kembali,
seluruh murid telah pulang kecuali Imelda yang duduk dibagian paling belakang
sambil membaca sebuah buku.
Dion :”hi....apa
kau tidak pulang imelda?”
Tak ada jawaban,
ia terus terfokus pada bukunya,
Ingin sekali aku
duduk dan bicara dengannya, namun sekarang ada hal lebih penting yang harus
kulakukan.
Ku ambil tasku
dan langsung meninggalkan sekolah,
Setelah cukup
lama berjalan akhirnya sampai juga,
Di rumah Diana.
*tok tok tok
Dion :”Permisi!”
“iyaaa....” suara
anak kecil
Saat pintu
terbuka ternyata suara itu dari adiknya Diana.
Adik Diana :”akhirnya
kamu datang juga, kak Dion.”
Dion :”dari mana
kau tau namaku?”
Adik Diana :”tentu
saja aku tau, karena saat SMP kakak begitu terkenal.”
Dion :”kau?! Jangan
– jangan?!”
Adik Diana :”yup,
aku adalah adik kelas kakak saat itu. kakak sangat terkenal saat itu ya....satu
– satunya murid kelas B yang tersisa.”
(pantas saja aku
tak asing dengan seragam yang ia kenakan kemarin)
Dion :”tolong
jangan bicarakan hal itu lagi.”
Adik Dion :”baiklah
– baiklah! Silahkan masuk dulu....”
Kulepaskan sepatuku
dan masuk mengikutinya,
Adik Dion :”oh
iya, perkenalkan namaku Lina sekarang masih kelas 3 SMP. Ngomong – ngomong kedua
orang tuaku sedang keluar, jadi kusarankan jangan melakukan tindakan bodoh ya.”
Dion :”TIDAK
AKAN!”
Lina :”hahaha
tentunya ya....tidak mungkin kakak bisa seberani itu..”
Sesampainya diruang
tamu aku dipersilahkan untuk duduk,
Lina :”anggap
saja rumah sendiri, aku siapkan minumnya dulu ya.”
Kulihat kesekitar
tak ada apapun yang aneh, dimana – mana ada foto Diana jadi keluarganya sangat
menyayangi Diana, tapi kenapa ia melarangku datang kerumahnya? Dan mengapa ia
selalu terlihat begitu kesepian dan sedih?
Lina :”maaf
menunggu.”
Lina datang
membawakan 2 buah gelas teh dengan nampan, tiba – tiba Lina terpeleset,
*Bruak
Seluruh minuman
itu tumpah mengenai seragamku,
Lina :”Maaf kak,
maafkan aku.”
Lina langsung
melucuti pakaianku.
Dion :”A-Apa yang
kau lakukan!”
Lina :”tentu saja
mencegah kakak agar tidak masuk angin.”
Dion :”Truss aku
haru bugil gitu?!”
Lina langsung
mengeluarkan sebuah pakaian dari balik punggungnya,
(hah? Dari mana
pakaian itu muncul?)
Dion :”Biarkan
aku lakukan sendiri dan kau sebaiknya –“
Lina mengeluarkan
sebuah kain panjang dari sakunya dan menutup matanya,
Lina :”baiklah
kalau begitu aman kan kak?”
Dion :”Lina?”
Lina :”iya kak? Ada
apa? Aku sudah tidak bisa melihat kakak!”
Dion :”lalu untuk
apa kamera ditanganmu itu?”
Lina :”oh jangan
khawatirkan kamera ini kak, aku hanya ingin memegangnya saja.”
(dilihat dari
manapun kamera itu jelas – jelas mengarah padaku)
Dengan perlahan
aku bergeser arah menghindari tatapan kamera namun Lina juga mengikutiku dan
terus mengarahkan kamera padaku.
Dion :”Cukup! Aku
pinjam kamar mandimu dulu!”
(apa – apa coba
dia, dia terlihat seperti sudah merencanakannya saja)
Setelah keluar
dari ruang tamu aku beranjak mencari kamar mandi hanya beberapa langkah saja
aku sudah berhasil menemukannya, entah ini baju milik siapa tapi ukurannya bisa
pas denganku aneh sekali,di keluarga Diana setauku tak ada orang yang seukuran
denganku bahkan Diana lebih kecil dariku.
Saat keluar aku
tak langsung kembali ke ruang tamu, melainkan berkeliling mencari petunjuk
tentang Diana.
(Aneh!)
Seluruh ruangan
sudah kulihat, tapi aku tak menemukan kamar milik Diana.
ISTRI MUDAKU MAFIA
kalo seru saya supor
kalo enda seru saya like