Ashilla tidak pernah menyangka jika di hari itu ia harus merelakan masa lajangnya, menikah dengan sosok yang tidak pernah ia kenal sebelumnya hanya karena ancaman dari sang paman yang akan menghentikan pengobatan adiknya yang tengah berjuang dalam masa kritisnya.
Hidupnya hancur, semakin hancur ketika ia mengetahui fakta sebenarnya mengenai alasan mengapa laki-laki itu memilih menikahinya.
Mampukah Ashilla menjalani biduk rumah tangga yang jelas-jelas tidak ada kata cinta didalamnya?
IG : reinata_ramadani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Jakarta
°°°~Happy Reading~°°°
Tak terasa, seminggu telah berlalu. Seperti biasa, Shilla terbangun dengan badan remuk redam. Suaminya itu bahkan tak membiarkannya beristirahat barang semalam pun, membuat perempuan itu selalu terbangun dengan tubuh tak bertenaga.
Satu persatu kedua kaki telanjangnya kini berangsur menuruni ranjang dengan gerakan perlahan. Tubuhnya yang masih tak berpakaian pun kini ia belit dengan selimut tebal yang semalaman membalutnya, melindunginya dari dinginnya malam.
Baru saja beranjak, terdengar pintu kamar mandi digeser dari dalam, membuat pergerakannya terhenti. Seketika Shilla membeliak saat bola matanya kini menangkap siluet sang suami yang baru saja selesai membersihkan diri.
Tubuh bagian atas yang dibiarkan terbuka begitu saja, sontak membuat Shilla gelagapan. Perempuan itu salah tingkah.
"Mas-- belum berangkat kerja?"
Pertanyaan bodoh, bahkan adzan subuh baru saja berakhir. Shilla hanya tertegun, tak menyangka jika pagi itu akan mendapati sang suami berada di kamarnya. Karena ia tahu, setelah menghabiskan malam bersama, suaminya akan pergi meninggalkan dirinya, memilih tidur di ruangan lain seolah enggan berbagi ranjang dengannya.
"Saya harus kembali ke Jakarta."
Sepenggal kalimat itu sontak berhasil meruntuhkan hati Shilla. Jika suaminya itu kembali ke Jakarta, lalu-- bagaimana dengan dirinya.
"Mas--berangkat sendiri?" selidik Shilla, berharap laki-laki itu akan turut mengajaknya. Bagaimanapun, ia tetap istrinya bukan? Jadi wajar saja jika ia berharap bisa selalu menemani suaminya dimanapun laki-laki itu memilih tempat singgahnya.
"Dengan Carl. Jadi kamu di sini saja sama bi Asih dan mang Asep."
Seketika harapannya pupus begitu saja saat suaminya itu memilih meninggalkannya. Meninggalkan dirinya yang hanya sang istri sewaan penghasil keturunan.
"Mas sampai kapan disana, apa lama?" cicit nya berusaha menahan segala gejolak tak nyaman yang melanda hatinya.
Meski selalu saja mendapatkan kekecewaan, namun nyatanya perempuan itu tetap saja berharap akan memiliki tempat di hati suaminya. Meski satu minggu itu terasa begitu singkat, namun tanpa terasa kini hatinya mulai terikat.
"Sebisa mungkin, saya akan berkunjung kesini saat senggang."
Shilla tertunduk lesu, itu berarti suaminya mungkin tak akan kembali dalam waktu singkat. Laki-laki itu bahkan bisa jadi melupakannya, melupakan semua kenangan indah yang selama ini mereka rangkai di atas ranjang kamarnya.
"Saya harus pergi sekarang. Kamu jaga diri baik-baik. Dan ingat, jangan pergi kemanapun termasuk menemui adikmu di rumah sakit."
Shilla bahkan tak sadar jika suaminya kini sudah berpakaian lengkap dengan setelan jas mewahnya. Selama mereka berbincang, rupanya laki-laki itu turut mengenakan pakaiannya di hadapan Shilla tanpa rasa malu yang menyeruak. Dan Shilla tak menyadari itu, saking sulitnya ia menerima kenyataan akan kepergian suaminya.
" Saya pergi."
Cup... .
Satu kecupan mendarat di bibir piech itu, membuat Shilla seketika membeliak tak percaya.
"Saya menunggu kabar baik darimu, Silla."
Senyuman lembut itu, nyatanya membuat hatinya terpanah. Usapan hangat yang kini menjalar di helaian rambut yang masih berantakan itu, bahkan membuat hatinya menghangat.
Tidak bisakah suaminya itu tetap berada di sana, menemaninya meski hanya di waktu malam mereka bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama?
Seketika Shilla merasa hampa saat sentuhan itu menghilang dari tubuhnya. Dengan gerakan cepat, perempuan itu kembali menyaut tangan kanan sang suami, membuat selimut yang ia kenakan pun tak sengaja terlepas dari cengkramannya.
"Jangan berusaha menggodaku, Shilla."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy Reading All
Saranghaja 💕💕💕